The Story Of Luteria

The Story Of Luteria
Racun



Hari mulai gelap ketika akhirnya Iolas memutuskan agar rombongan mereka beristirahat. Ketiganya sudah menyusuri seluruh sudut kota hingga ke dalam setiap rumah penduduk yang sudah kosong. Akan tetapi baik Iolas maupun Bryen tidak menemukan jejak gerbang sihir. Satu-satunya hal yang pasti adalah bahwa seluruh kota tersebut kini sudah dilingkupi oleh kekuatan sihir yang pekat. Karena itu tekanan energinya begitu berat dan menguras tenaga.


Kabut tipis yang menggantung di udara adalah salah satu pertanda bahwa kekuatan sihir memang sengaja dirapalkan di kota tersebut untuk menyembunyikan sesuatu. Setidaknya satu hal itu bisa menjadi petunjuk bagi Arael bahwa ia memang berada di tempat yang tepat. Hanya bangsa elf yang bisa memunculkan kekuatan sihir sebesar itu untuk menyembunyikan kerajaan mereka.


Saat malam tiba, Arael, Iolas dan Bryen memutuskan untuk beristirahat di hutan perbatasan kota. Mereka tidak mau mengambil resiko untuk berdiam diri di dalam kota yang dipenuhi kekuatan sihir elf. Para elf bayangan bisa-bisa mencurigai mereka sebagai penyusup.


Tidak ada binatang buruan di sekitar sana. Hewan-hewan sepertinya terusir akibat tekanan energi sihir yang melingkupi kota. Beruntung Arael mendapat banyak bekal yang dia dapat dari Tuan Eliot dan para manusia di Blarani. Arael sudah hendak menggigit bannocknya – semacam kue gandum kering yang berbentuk pipih – ketika tiba-tiba darah mengalir dari hidungnya.


“Putri, anda berdarah!” seru Bryen yang terkejut melihat darah Arael yang tak kunjung berhenti.


Arael mengusapnya pelan  dengan ibu jarinya. Selama beberapa waktu ia tidak merasakan apa-apa selain bau anyir darah yang menusuk. Namun, perlahan-lahan kepalanya tiba-tiba merasa pusing. Tubuhnya juga menjadi lemas tak berdaya. Bryen dan Iolas segera membaringkan Arael di atas tumpukan mantel mereka. Iolas bertugas membasuh darah Arael yang kini sudah meluber hingga mengotori pakaian gadis itu. Akan tetapi darah Arael tidak juga berhenti.


Bryen di sisi lain, mulai memeriksa kondisi tubuh Arael. Mulai dari denyut nadinya, hingga pupil mata gadis itu. Bryen lantas mengeluarkan beberapa serbuk beraroma kuat dari kantong kulitnya. Selama beberapa saat pemuda elf tersebut mencampurkan berbagai bahan yang terlihat seperti bubuk rempah.


“Cepatlah. Darahnya keluar banyak sekali! Sekarang kedua mata dan telinganya juga mengeluarkan darah!” seru Iolas tak sabar.


Bryen masih berkutat dengan usahanya membuat ramuan. Arael sudah berada di ambang kesadarannya. Ia merasa pusing dan sangat lemah. Rasa kantuk yang kuat membuat Arael mendambakan tidur yang panjang. Ia bahkan berharap untuk bisa tertidur selamanya. Tidak perlu bangun lagi.


“Hei! Arael! Jangan tidur! Kau harus tetap sadar! Kuatkan dirimu dan lawan rasa kantukmu!” seru Iolas yang berlutut sambil memeluk kepala Arael.


Suara Iolas terasa begitu jauh dan semakin jauh. Arael ingin bisa menggapainya. Namun seluruh tenaganya seperti sudah dihisap habis hingga tak bersisa.


Mendadak Bryen menyeruak di ambang kesadaran Arael. Pemuda elf itu meminumkan suatu cairan pahit yang beraroma sangat kuat. Seperti aroma kayu cedar bercampur rempah. Ramuan itu terasa begitu dingin dan pahit saat masuk ke mulut Arael. Tapi gadis itu gagal menelannya. Ia sudah kehilangan daya bahkan untuk menelan cairan obat.


“Berikan padaku!” seru Iolas kasar.


Iolas lantas meninum ramuan obat dari Bryen tersebut lantas memasukkannya ke mulut Arael dengan menggunakan mulutnya sendiri. Selama beberapa waktu Iolas bertahan dalam posisinya yang mencium Arael, demi agar dapat membuat gadis itu menelan obatnya. Arael mulai kehabisan napas karena ciuman Iolas, akhirnya berhasil menelan ramuan tersebut secara otomatis.


Iolas segera menarik wajahnya menjauh sambil mengusap bibir dengan punggung tangan. Seluruh wajahnya kini terkena darah Arael yang keluar dari seluruh lubang di wajah gadis itu.


“Sudah. Sekarang bagaimana?” tanyanya pada Bryen.


Bryen tampak sedikit shock dengan tindakan nekat Iolas. Namun ia segera menguasai diri.


“Itu adalah ramuan penawar racun. Setelah ramuannya bekerja, darah dari tubuh Putri akan berhenti keluar. Dan racun yang sudah terhirup bisa dinetralkan,” terang Bryen kemudian.


“Jadi kita cuma bisa menunggu? Aku ceroboh. Aku tidak mempertimbangkan kemampuan tubuhnya dalam menyerap energi elf bayangan. Kabut itu yang meracuni para manusia di sini,” ujar Iolas tampak marah.


“Karena kita berdua adalah elf, jadi kabut itu tidak terlalu mengganggu kita. Karena itu kita tidak menyadarinya, Iolas. Sihir racun mereka memang ditujukan untuk kaum di luar bangsa elf, termasuk manusia,” kata Bryen menanggapi.


“Kau sudah sadar?” tanya Iolas yang masih memeluk setengah tubuh Arael.


“Terima kasih, Iolas, Bryen,” ujar Arael bangun dari pelukan Iolas sambil menyeka wajahnya yang penuh darah.


“Mohon permisi sebentar, Putri,” kata Bryen sembari membuka botol airnya.


Dengan gerakan ringan, Bryen lantas mengontrol air dari dalam botol tersebut untuk membersihkan wajah Arael. Aliran air lembut menyeka wajahnya hingga bersih dan kering tanpa ada noda darah yang tersisa.


“Terima kasih sekali lagi, Bryen,” ucap Arael sembari tersenyum.


“Kau tidak melakukannya untukku? Wajahku juga penuh darah,” protes Iolas sembari mengernyitkan dahi.


“Itu … ,” desah Bryen ragu.


Arael mendengkus pelan sembari tertawa geli. “Maaf karena aku yang membuatmu kotor, Iolas. Biar aku yang membersihkan wajahmu,” kata Arael berusaha menyeka wajah Iolas dengan lengan bajunya.


Iolas menepis tangan Arael. “Tidak perlu. Aku hanya bercanda,” ujarnya tersipu.


Arael hanya tersenyum kecil menanggapi.


“Jadi aku terkena racun dari elf bayangan?” tanya Arel kembali ke topik semula.


“Itu benar, Putri. Setelah melihat gejala yang anda alami barusan, itu memang adalah teknik racun para elf bayangan. Racun itu menggantung di udara seperti kabut tipis yang mengandung energi sihir. Anda menghirupnya sejak pagi tadi, karena itu efeknya cukup berat hingga membuat anda nyaris pingsan,” jelas Bryen.


“Tapi kau termasuk kuat. Kalau orang biasa yang menghirupnya, tidak sampai setengah hari mereka pasti meninggal,” komentar Iolas blak-blakan.


“Kuanggap itu pujian Iolas,” sahut Arael menanggapi. “Kabar baiknya, kita ternyata sudah berada di tempat yang tepat. Setelah ini kita harus segera menemukan pintu masuk ke kerajaan mereka,” lanjut Arael serius.


“Kerajaan siapa yang kau maksud?” tanya Iolas yang mendadak suaranya berubah parau.


Arael dan Bryen sontak menoleh ke arah Iolas dengan kebingungan.


“Kau bicara apa Iolas?” sergah Arael.


Akan tetapi Iolas tak menjawab. Alih-alih pemuda tersebut justru menyeringai jahat dan bangkit berdiri dengan gontai.


“Iolas, ada apa … ?” Pertanyaan Arael terputus karena detik berikutnya, Iolas mendadak menyerang gadis itu tanpa peringatan.