
Luell menjadwalkan pertemuan dengan kaum Ssri-Tel-Quassir pada malam selanjutnya. Tanpa diduga Arael, kaum elf gelap itu rupanya tinggal di bawah tanah kediaman Luell. Menurut penjelasan Luell, elf gelap itu tidak tinggal di wilayah yang sama. Mereka hidup terpencar dengan mendiami tempat-tempat tergelap yang di seluruh benua.
Salah satu dari klan elf gelap itu kebetulan tinggal bersamanya karena sebuah insiden di masa lalu. Luell tidak ingin menjelaskan secara rinci. Karena itu Arael juga tidak bertanya lebih lanjut.
Ruang bawah tanah kediaman Luell berada sangat jauh di bawah tanah. Mereka harus melewati ratusan anak tangga yang melingkar spiral hingga tidak ada lagi cahaya yang bisa menembus masuk. Luell tampak membenci api, karena itu ia menolak saat Rangwe berinisiatif membawa obor untuk masuk ke bawah tanah. Meski begitu, dengan bujukan dan sedikit paksaan, akhirnya mereka pun datang dengan sebuah obor besar yang dibuat atas keterampilan Rangwe. Arael tidak punya kepekaan mata seperti kaum elf, sehingga bantuan cahaya obor itu sangat berarti baginya untuk bisa melangkah melewati anak-anak tangga yang curam.
Bau anyir darah menyeruak ketika mereka akhirnya sampai di dasar ruangan. Jeruji besi dengan sel-sel kosong menyambut Arael dalam suasana yang mencekam. Tempat itu seperti bekas pembantaian yang sudah lama ditinggalkan. Jejak-jejak darah kering juga berceceran di seluruh dinding dan lantai batu.
“Skylar,” panggil Luell begitu sampai di tengah-tengah ruangan berdinding batu yang kosong.
Sekonyong-konyong segumpal asap hitam pekat mewujud dari kegelapan. Asap itu lantas membentuk sosok seorang pria tinggi bewajah tirus yang pucat. Rambut panjangnya yang berwarna hitam tergerai begitu saja dan telinga elf runcing menyeruak di antaranya. Setelah gumpalan pertama mewujud menjadi sesosok elf, asap-asap hitam lain pun turut muncul. Total ada tujuh elf yang kini hadir begitu saja dari dalam kegelapan. Mereka semua memiliki ekspresi yang sama: mata menggantung dan wajah pucat. Seolah-olah mereka sudah tidak tidur selama satu minggu penuh. Kantong mata tebal menggantung di wajah mereka, memberikan kesan malas dan kelelahan.
“Kenapa kau membangunkan tidur panjang kami, Luell?” tanya sosok elf pertama yang muncul.
“Kalian sudah tidur selama sepuluh tahun dan sekarang kau kesal karena aku datang setelah sekian lama kita tidak bertemu, Skylar?” tukas Luell dengan wajah tersenyumnya yang biasa. Namun senyumannya kini terlihat lebih sadis.
Sementara itu Arael justru tidak habis pikir. Mereka sudah tidur selama itu tetapi wajah mereka masih tampak kelelahan.
“Kau membawa tamu,” ujar Skylar melirik ke arah Arael dan tiga rekannya. “Kenapa banyak ras berkumpul bersamamu? Apa kalian sedang merencanakan pemberontakan?” lanjutnya mulai terlihat tertarik.
“Ya, ya. Aku tahu kau sangat menyukai medan pertempuran berdarah. Karena itu aku membangunkanmu. Sekarang mungkin kau bisa mengasah lagi pedangmu. Kita akan bertempur,” ujar Luell menjelaskan.
Kalimat itu memantik antusiasme Skylar dan para pengikutnya. Hal itu terlihat dari rona wajah pucatnya yang mulai muncul kembali.
“Apa kita akan membantai para goblin itu lagi?” tanya Skylar bersemangat.
“Kaum Goblin sudah punah saat perang besar seratus tahun yang lalu, Sky. Musuh kita yang sekarang adalah para orge. Sihir jahat membuat manusia terpenjara di tanahnya sendiri. Sementara ras lain diburu dan harus bersembunyi selama kalian tidur di ruang bawah tanah rumahku.”
Skylar tertawa hampa. “Ah, jadi orang yang telah memecah belah kaumku masih hidup rupanya. Apa anak manusia ini adalah anak Peter? Dia mati dengan mengenaskan. Kabarnya putrinya selamat dan dikurung di istana. Itu adalah hal yang kuingat sebelum tidur panjang,” tanyanya sembari mengamati Arael.
Biasanya para elf menyebutnya keturunan Sion, semata-mata karena raja kaum mereka hanya mengenal kakek moyangnya itu sebagai raja manusia pertama yang menyatukan seluruh benua. Ia tidak menyangka bahwa ternyata ada elf yang mengenal ayahnya, Raja Peter.
Skylar kembali tertawa. “Kaum kami adalah yang paling dekat dengan sihir hitam. Orang yang telah mengkhianati bangsamu, Charles, dia menjalin kerja sama dengan salah satu dari kami untuk mendapatkan sihir-sihir terlarang. Kekuatan kuno yang bahkan sudah tidak boleh digunakan lagi oleh kaum kami sejak lama.
“Aku mengenal elf itu, yang sudah terperosok jauh dalam kegelapan jiwanya, Amatuhep. Saat perang besar sepuluh tahun yang lalu, aku sendiri yang membunuhnya. Tapi kekuatan terlarang sudah terlanjur diwariskan pada manusia itu, dan Amatuhep mengutuk seluruh kaum elf gelap agar kehilangan raga kami. Sejak saat itu Ssri-Tel-Quassir terpecah belah.
“Kami tidak bisa mempertahankan wujud solid kami lagi. Tertidur selama bertahun-tahun di dalam kegelapan tanpa cahaya. Kekuatan kami hanya bisa kembali jika kutukan Amatuhep dipatahkan. Orang yang mewarisi kekuatannya harus mati. Dengan begitu suku kami bisa kembali,” jelas Skylar sembari menatap nanar ke arah Arael. Kepedihan tersirat dari kedua matanya yang bermanik hitam.
“Panggilah kaum Ssri-Tel-Quassir, Skylar. Sebentar lagi kalian akan bisa melihat matahari,” kata Luell kemudian.
Skylar tersenyum tipis. Senyuman yang justru membuat wajahnya semakin tampak kelu.
Ia lantas mengangkat tangannya ke udara dan sekonyong-konyong sebuah pedang muncul dari asap hitam yang datang dari kegelapan.
“Tidak banyak yang bisa kami bantu, wahai penerus Peter. Kekuatan kami lenyap karena kutukan. Tapi aku akan memberimu pedang ini. Scimitar. Itu namanya. Pedang ini bisa mematahkan sihir gelap. Dulu aku membunuh Amatuhep dengan pedang ini. sekarang, kuharap kau bisa membunuh orang yang telah mewarisi kekuatannya, lalu membebaskan kaum kami dari kutukan,” kata Skylar sembari menyerahkan sebilang pedang panjang berwarna hitam pekat.
Pedang itu tidak memiliki sisi tajam di pinggirnya. Namun Arael merasakan kekuatan sihir yang besar ketika menyentuhnya. Energi yang sangat gelap hingga membuat Skiroff serta Luca muncul tanpa dipanggil. Kemunculan Luca yang mendadak membuat semua elf yang ada di tempat itu sedikit terkejut. Luca bahkan menggeram marah ke arah pedang yang kini berada dalam genggaman Arael.
“Kau menggunakan sihir gelap,” desis Skiroff di kepala Arael.
“Pedang ini akan membantuku mengalahkan Charles,” gumam gadis itu menenangkan dua makhluk penjaganya.
“Berhati-hatilah saat menggunakannya. Sihir gelap memikat siapa pun yang berjiwa lemah,” nasehat Skiroff lantas kembali menghilang ke dalam tubuh Arael.
Luca agak sedikit sulit ditenangkan. Tampaknya sihir gelap dari Scimitar mempengaruhi keseimbangan energi di dalam tubuh Arael. Gadis itu juga merasakan gejolak ketidaknyamanan yang sama.
“Kau sudah menerima berkat cahaya dari Raja Glóredhel. Untuk sementara waktu, tubuhmu akan membutuhkan penyesuaian dengan pedang itu. Kedua energi tersebut berlawanan,” ucap Iolas sembari mengawasi kondisi Arael.
“Belajarlah menggunakannya. Scimitar adalah satu-satunya senjata yang bisa kau gunakan untuk membunuh orang itu,” kata Skylar yang kini tubuhnya kembali menguap, berubah menjadi gumpalan asap sedikit demi sedikit.
“Waktuku sudah habis, Luell. Setelah ini aku akan meninggalkan kediamanmu dan mencari sisa-sisa kaumku yang masih hidup. Semoga kita bisa bertemu lagi.” Skylar pun akhirnya menghilang, bersamaan dengan enam pengikutnya yang sedari tadi hanya berdiri diam di belakangnya.