The Story Of Luteria

The Story Of Luteria
Centaur



Arael terbangun saat hari sudah gelap. Kamarnya kini diterangi lentera yang menyala remang-remang. Arael menggeliat pelan lantas bangkit dari tempat tidurnya. Rasa lapar muncul seirama dengan bunyi perutnya yang keroncongan. Dia belum makan sejak siang tadi.


Gadis itu turun dari tempat tidur, berpikir untuk mencari buah-buahan di sekitar hutan. Seharusnya hutan elf memiliki pohon buah yang bisa dimakan. Namun langkahnya terhenti saat melihat sekeranjang buah-buahan segar sudah tersedia di meja samping tempat tidur.


Arael mendengkus kecil. Mungkin Iolas atau Bryen yang membawakannya. Ia pun mengambil sebutir apel dan menggigitnya lalu turun ke bawah untuk menemui dua rekannya itu.


“Kau sudah bangun?” sapa Iolas yang tengah mengasah mata anak panah.


“Bukankah kau tidak perlu menngunakan anak panah lagi, Iolas?” tanya Arael sambil duduk di dekatnya. Bryen sementara itu sedang memeras sari buah citrus dengan kemampuan pengendali airnya. Ia membuat jus jeruk tanpa perlu mengotori tangannya.


“Aku terbiasa melakukannya saat senggang. Rasanya memuaskan mengasah mata panah,” jawab Iolas.


“Silakan Putri, Iolas. Saya membuat minuman untuk kalian,” sela Bryen sembari menyodorkan dua gelas bambu berisi jus jeruk pada Arael dan Iolas.


“Terima kasih, Bryen,” ujar Iolas yang langsung menegak minumannya. Sepertinya elf itu memang sedang kehausan.


“Quenya datang beberapa saat yang lalu dan membawakan buah-buahan. Dia bilang kita bisa bertemu Ratu Amarië setelah kau bangun nanti,” ujar Iolas setelah menghabiskan jus jeruknya.


“Kalau begitu ayo pergi sekarang,” ajak Arael kemudian.


“Apa Anda tidak mau menyelesaikan makan malam dulu?” tanya Bryen cemas.


“Apel ini sudah cukup untukku. Ah, dan jus jerukmu juga,” sahut Arael lantas turut menegak jus jeruk dari Bryen.


“Sebaiknya kau bersiap-siap dulu. Kau terlihat sedikit … berantakan,” komentar Iolas jujur.


Benar juga. Arael baru bangun tidur. Sebaiknya ia mandi dan berganti pakaian lebih dulu.


“Elf bintang itu menyediakan baju bintang untukmu,” lanjut Iolas memberi tahu.


“Baju bintang?”


“Kau akan tahu setelah melihatnya. Sebaiknya kita menggunakan pakaian itu untuk menemui sang ratu,” saran Iolas kemudian.


Arael melakukan yang disuruh oleh Iolas. Gadis itu kembali ke lantai atas dan mencari baju bintang yang ternyata diletakkan di rak lemari kayu. Arael heran bagaimana bisa ia melewatkan benda semencolok itu tadi. Baju bintang merupakan sebuah jubah biru gelap yang dihiasi dengan manik-manik berkilau di seluruh sisinya. Meski berwarna gelap, tetapi jubah itu jelas mengeluarkan pendar energi yang serupa aura di sekelilingnya. Entah sihir apa yang digunakan oleh para elf bintang ini, tetapi jubah ini benar-benar terlihat cantik.


Arael membawa jubah itu ke bawah. Iolas dan Bryen sudah menunggunya dengan membawa jubah yang sama.


“Ayo kita turun,” ajak Iolas kemudian.


“Turun?” tanya Arael.


“Iya. Kau bisa membasuh tubuhmu dulu di sungai bawah. Selaligus bertemu dengan para elf liar,” terang Iolas sembari mengulurkan tangannya.


Gadis itu turun dari dekapan Iolas lantas berjalan di belakang pemuda elf tersebut menyusuri setapak. Hutan itu sangat gelap saat malam. Barisan pepohonan nyaris tidak terlihat karena cahaya bulan maupun bintang tidak bisa menembus dahan-dahannya yang lebat. Beruntung Arael sudah menguasai kemampuan bayangan. Skiroff ternyata memiliki kemampuan lain yaitu penglihatan dalam gelap.


Sensasi yang sama seperti saat berada di kerajaan elf bayangan kembali dialami oleh Arael. Ia bisa melihat melalui pikirannya. Perspektifnya terbatas pada hal-hal yang dia pikirkan saja, kali ini hal tersebut ialah jalan setapak yang menembus hutan.


“Para elf liar tinggal di sini?” tanya Arael memecah keheningan.


“Ya. Mereka ada di kaki hutan.” Iolas menjawab sambil menggenggam tangan Arael agar gadis itu tidak tersesat. Padahal Arael sebenarnya sudah bisa melihat dalam gelap.


“Kalau begitu, ada dua kerajaan elf di sini?”


“Secara teknis tidak begitu. Suku elf liar tidak memiliki raja. Mereka tinggal bersama para centaurus dan kurasa pemimpin mereka sekarang adalah Rangwe, elf yang menjemput kita kemarin,” terang Iolas.


Tak lama setelah itu, Arael mulai melihat titik-titik cahaya di tengah hutan. Sebuah pemukiman tampak di kejauhan. Rumah-rumah berbentuk segitiga runcing berdiri berbalut jerami. Di atas masing-masing rumah itu menggantung sebuah bola cahaya berwarna kuning yang serupa lentera. Akan tetapi, Arael tahu bahwa cahaya itu merupakan gumpalan energi sihir yang dibuat sebagai penerangan dalam desa.


Iolas membawa Arael semakin dekat dengan desa tersebut. Sementara itu Bryen mengikuti di belakang. Saat sudah hampir mencapai pintu masuk desa yang berupa gerbang bambu sederhana, suara derap kaki kuda menghampiri mereka.


Sudah lama sekali sejak Arael terakhir kali melihat Centaurus. Sosok pria gagah yang dari pinggang ke bawah memiliki tubuh kuda. Pria itu bercambang tebal dengan rambut gelap dan manik mata serupa langit malam. Di belakang centaur bercambang tebal itu, beberapa ekor lainnya turut berderap dan berhenti di depan Arael.


“Selamat datang, Putri Sion. Anda tiba sesuai dengan yang sudah di ramalkan Pada malam bintang-bintang bersinar terang, sang putri berbincang dengan bintang-bintang. Keajaiban datang pada siapa pun yang berani berkorban.” Centaurus itu merapalkan sepotong mantra seperti mendendangkan lagu yang syahdu.


Setelah mengatakan hal itu, sang centaur pun membungkuk sopan pada Arael. “Nama saya Kiros, putra dari Karos, tetua kaum centaur yang telah melafalkan ramalan sepanjang hidupnya.”


“Terima kasih sudah menyambut kami di hutan Anda. Saya Arael, Putri Sion,” jawab Arael turut membungkuk sopan. “Ini Iolas dari Or-Tel-Quassir, dan ini Bryen dari Alu-Tel-Quassir,” lanjut Arael memperkenalkan rekan-rekannya.


Iolas dan Bryen hanya mengangguk singkat. Para elf berada setingkat lebih tinggi dibanding kaum Centaur.


“Selamat datang putra-putra Cahaya,” sahut Kiros menyapa Iolas dan Bryen. “Saya akan mengantar Anda menemui Rangwe.” Kiros menawarkan.


Arael melirik Iolas sekilas. Pemuda elf itu hanya mengangguk samar.  Tujuan utama mereka sebenarnya adalah ke sungai yang ada di seberang desa elf liar. Namun demikian, sebaiknya mereka memang mendatangi Rangwe lebih dulu sebelum melanjutkan tujuan mereka.


“Baiklah. Terima kasih Kiros,” ucap Arael.


Suara derap kuda mengiringi sisa perjalanan Arael memasuki desa. Setidaknya ada lima ekor Centaur yang mengikuti mereka. Para centaur itu membaur dengan sangat alami bersama para elf liar yang ada di dalam desa. Elf-elf berpakaian daun dan bulu domba memerhatikan rombongan Arael yang datang dalam kawalan centaur.


Desa suku elf liar dibangun di sebuah tanah lapang yang cukup luas. Pepohonan hanya tumbuh di sekeliling desa. Langit dapat terlihat dengan jelas dari bawah sana, dan membuat Arael akhirnya bisa memastikan tinggi pohon purba di hutan tersebut. Batang-batang pohon tersebut menujulang dengan tinggi sekurang-kurangnya delapan puluh hingga seratus meter ke atas. Pepohonan itu mungkin lebih tinggi dari menara yang ada di kastil istana Luteria.


Arael masih mengagumi hutan tersebut ketika akhirya mereka bertemu dengan sebuah api unggun besar yang menyala di tengah desa. Lidah api menari-nari dan mengeluarkan hawa hangat di sekitar. Arael pun mengalihkan pandangannya dari pepohonan raksasa menuju api unggun  yang menyala terang. Rangwe muncul dari balik kerumunan elf yang tengah berpesta mengelilingi api unggun tersebut.


“Kiros, kau datang terlambat, Kawan. Kami sedang berpesta untuk bintang-bintang dan terpenuhinya ramalan kalian,” sapa Rangwe mendatangi kawanan Centaur.


“Putri Sion datang bersamaku,” ungkap Kiros sembari berderap ke belakang, memperlihatkan sosok Arael yang berdiri sambil memeluk baju bintang.