The Story Of Luteria

The Story Of Luteria
Pembebasan Perekemahan



Arkeem tertegun sejenak. “Menarik … ini benar-benar menarik. Tapi apa kau tidak sadar kalau sedari tadi, kekuatanku adalah mengendalikan angin. Tindakanmu sekarang justru membantuku untuk membuat angin dingin yang bisa membekukanmu, Putri,” cela Arkeem sembari tertawa penuh ejekan.


Akan tetapi, Arael tidak sebodoh itu. Ia melakukan hal ini bukan tanpa alasan. Musim dingin yang dibawa Luca membuat matahari yang terik sedikit meredup, tertutup oleh kabut. Memanfaatkan hal itu, Arael memanggil Skiroff, bayangannya. Dalam kondisi yang gelap, Skiroff bekerja lebih efektif menangkap bayangan Arkeem. Tak berapa lama kemudian Arkeem berhasil ditankap.


Pria itu tampak terkejut saat menyadari tubuhnya tidak bisa digerakkan. Ia berniat memanggil angin lagi dengan menjentikkan jari. Namun karena bayangannya sudah dikendalikan oleh Arael, Arkeem pun tidak bisa melakukan apa-apa.


“Apa yang … ,” gumam Arkeem dengan ekspresi ngeri. Kata-katanya terpotong karena kini Arael sudah menguasai benaknya.


“Turun dari atas sana lalu lepaskan sihir Necromancy,” perintah Arael sambil bangkit berdiri dengan tubuh penuh luka.


Ia semata-mata bergantung pada keberuntungan. Iolas pernah menjelaskan bahwa sihir bayangan tidak bisa mempengaruhi kemampuan orang yang dia kendalikan. Meski begitu Arael memberi perintah dengan segenap hatinya. Mayat orge-orge itu harus berhenti hidup kembali.


Tanpa disangka, ternyata perintah Arael tersebut berhasil mempengaruhi Arkeem. Masih dengan ekspresi ngeri, Arkeem mengangkat sebelah tangannya lantas menarik kembali aura gelap yang dia keluarkan tadi. Suara detuman terdengar susul-menyusul. Arael memastikan bahwa itu adalah suara yang timbul dari tubuh-tubuh para orge yang mati.


Setelah berhasil membuat sihir hitam Arkeem terhenti, gadis itu pun meraih pedangnya yang terjatuh di tanah. Ia mendekati Arkeem yang kini sudah berlutut tanpa daya. Kedua mata Arkeem mengikuti gerakan Arael dengan diliputi ketakutan. Pria itu sepertinya tahu bahwa ajalnya sudah dekat.


Arael mengangkat pedangnya, bersiap membunuh Arkeem. Namun gerakannya menjadi ragu saat melihat air mata mulai menetes di wajah musuhnya itu. Biar bagaimana, Arkeem juga adalah manusia. Pria itu bahkan tidak bisa bicara karena masih berada di bawah pengaruh sihir bayangan.


“Kenapa kau berhenti?” Sebuah suara terdengar dari balik punggung Arael. Iolas.


Gadis itu menurunkan pedangnya. Seluruh tubuhnya kini dipenuhi luka dan darah mengalir higga merembes ke bajunya yang terkoyak-koyak. Namun, melihat Arkeem, orang yang membuatnya terluka parah itu, menangis tanpa daya membangkitkan belas kasihan Arael.


“Pilihan bagus, Putri. Manisnya kemenangan tidak dicecap dari nafsu akan kekerasan,” sahut suara lainnya. Rangwe.


“Saya akan membuatnya pingsan. Setelah itu, Anda bisa memutuskan untuk melakukan apa saja terhadap orang ini.” Bryen menyeruak ke sebelah Arael.


Pemuda elf itu tampak sama kacaunya. Pipinya berdarah karena tergores duri dari gada orge. Seluruh tubuhnya juga lebam-lebam.


Tanpa menunggu lama, Bryen mengeluarkan gelembung airnya, lalu melingkupi wajah Arkeem hingga pria itu tersedak sesak dan pingsan.


Arael menarik Skiroff dan Luca. Musim dingin yang menutupi matahari pun lenyap. Pemandangan gurun kembali ke hadapan mereka, berikut mayat-mayat orge yang bergelimpangan. Iolas, Bryen dan Rangwe sama compang campingnya dengan Arael. Namun mereka semua selamat. Hal itu sudah cukup membuat Arael merasa bersyukur.


“Apa yang akan kau lakukan padanya?” tanya Iolas berjalan mendekat.


Tubuh Arkeem sudah terkulai lemas. Kepalanya basah kuyup hingga turbannya terlepas, menampakkan rambut hitam yang bergelombang.


“Kau melakukannya dengan baik, Putri. Tanpa bantuan kami, kau berhasil mengalahkannya. Jadi jangan pernah meragukan dirimu lagi,” komentar Rangwe yang turut berjalan mendekat.


Arael tersenyum tipis. Sejak awal, mungkin memang ini yang direncanakan oleh Rangwe. Elf itu ingin membuat Arael kembali mendapatkan kepercayaan diri. Tak heran suku elf liar mengangkat Rangwe sebagai pemimpin. Ia punya kemampuan untuk membuat orang di sekitarnya merasa kuat.


“Terima kasih, Rangwe,” ucap Arael tulus. “Orang ini … sebaiknya kita bawa ke perkemahan. Para penduduk mungkin bisa membantu kita memutuskan,” lanjut Arael sembari berjongkok dan menatap wajah Arkeem lekat-lekat. Pria itu manusia, sama seperti dirinya. Namun kenapa bisa menjadi begitu keji dan jahat? Pertanyaan Arael itu pun terjawab tak lama setelahnya.