The Story Of Luteria

The Story Of Luteria
Penyelamatan



Tidak ada lagi yang membantah perintah Arael. Mereka bertiga lantas berpencar dan Arael pun mengendap-endap sendirian di balik semak-semak. Sesuai dengan petunjuk yang diberikan Bryen, dua orge penjaga sedang duduk di atas batu besar sambil saling bercakap-cakap. Ia harus membunuh keduanya sekaligus lalu mencari satu orge yang lainnya.


“Skiroff,” bisiknya pelan.


Bayangan Arael segera muncul di bawah kakinya. Arael memerintahkan Skiroff untuk menyerang dua orge yang duduk itu diam-diam dan membuat mereka saling membunuh satu sama lain. Bayangannya menurut. Arael berkonsentrasi penuh agar energi sihirnya tidak bocor. Skiroff sudah berhasil mempengaruhi mereka dan kini kedua orge itu saling memukul dengan gada berduri mereka. Beberapa menit kemudian keduanya ambruk dengan kepala yang hancur.


Arael sedikit terengah setelah menggunakan Skiroff. Tapi tenaganya masih cukup untuk melanjutkan penyelundupannya. Selanjutnya, ia menghampiri orge satunya yang berdiri sendirian dengan wajah melongo. Sepertinya ia sedang melamun. Kesempatan baik itu segera dimanfaatkan oleh Arael untuk memerintahkan Luca menyerang. Dalam sekali terkam, Luca berhasil memutuskan leher orge tersebut. Tugas Arael sudah purna. Saatnya mencari dua rekannya yang lain.


Iolas dan Bryen muncul tak lama kemudian. Mereka bertiga berhasil membunuh sembilan orge tanpa ketahuan. Meski begitu, cepat atau lambat kematian orge-orge yang tidak wajar itu mungkin akan menimbulkan kegaduhan. Teman-teman mereka akan menemukan mayat itu tak lama setelah ini. Karenanya, Arael segera membawa rombongannya memasuki kastel melalui pintu belakang yang berbatasan langsung dengan hutan. Mereka tidak perlu melewati halaman rumput yang akan membuat kedatangan mereka terlihat mencolok.


Pintu belakang kastel hanya dijaga oleh sembilan orge yang sudah ditumbangkan tadi. Mereka bisa masuk dengan aman melewati lorong-lorong gelap yang biasa digunakan sebagai tempat penyimpanan. Sudah sangat lama sejak Arael terakhir kali berkeliling di kastel itu. Ia masih sangat kecil waktu itu. Untungnya Arael samar-samar masih mengingat arah menuju penjara bawah tanah. Penjara tanpa sihir juga berada di bawah sana.


Tidak banyak orang tinggal di kastel itu sejak Charles memerintah. Berbeda dengan masa kejayaan ayahnya, Peter, para dayang manusia semuanya terlalut takut untuk bekerja di sana. Karena itu kastel tersebut pun sepi dan tidak terawat. Charles hanya mempekerjakan para penyihir gelap untuk membantu urusannya. Ia juga hanya memiliki sedikit dayang pribadi saja.


“Berhenti,” bisik Bryen tiba-tiba.


Arael dan Iolas langsung menghentikan langkahnya.


“Penyihir manusia. Dia kuat. Kita harus memutar balik,” bisik Bryen tampak tegang.


Arael menduga siapa penyihir yang dimaksud Bryen. Ia tidak pernah bertemu dengan sesama manusia di kastil ini. Akan tetapi, jika seorang elf kuat seperti Bryen saja memilih untuk mundur, maka penyihir ini benar-benar berbahaya. Ia harus berhati-hati. Arael tidak ingin kehilangan siapa pun lagi dalam misi ini.


“Ayo kembali,” bisik Arael memberi perintah.


Mereka pun berbalik pergi. Ada satu jalan rahasia menuju penjara bawah tanah yang pernah Arael ketahui, tapi jalan itu sangat rumit dan nyaris berupa labirin menyesatkan. Arael pun hanya mengetahuinya melalui pembicaraan para dayang saat ia masih kecil.


Tidak ada salahnya mencoba. Pikir Arael.


Maka gadis itu pun membawa kedua rekannya menuju sebuah pintu kayu usang yang ada di bagian istana yang sudah terbengkalai. Tidak ada siapa pun di sana selain serangga dan sarang laba-laba yang memenuhi seluruh langit-langit. Pintu itu berderit nyaring saat dibuka. Arael sedikit was-was jika ada yang mendengar suara tersebut. Namun tampaknya kekhawatiran Arael tidak terjadi.


“Ini … labirin?” tanya Bryen yang menyadari kondisi ruangan tersebut bahkan sebelum mereka masuk.


“Kau tahu?” tanya Arael.


“Saya merasakan energi sihir yang kuat dari dalam. Bukan energi yang baik,” terang Bryen tampak fokus menatap ruangan gelap yang tersembunyi itu.


“Benar. Tempat ini berbahaya,” timpal Iolas sepakat.


“Kalau begitu kita harus minta bantuan teman kita. Luca,” ucap Arael memanggil spirit serigalanya.


Luca muncul dengan bulu putihnya yang tampak bersinar dalam gelap.


“Luca, tolong antarkan kami ke penjara bawah tanah. Kami mencari seorang peri dan seorang elf yang dikurung dalam penjara tanpa sihir,” perintah Arael kemudian.


“Bau orge di mana-mana,” gumam Iolas sembari membekap mulutnya dengan ekspresi jijik.


Bryen di sisi lain, telah menggunakan gelembung air di seluruh kepalanya. Tanpa diduga elf air itu memiliki insang yang dapat membuatnya bernapas dalam air.


“Dasar curang,” gerutu Iolas yang melihat Bryen bisa bernapas dengan aman tanpa terganggu bau orge yang menyengat.


Arael sudah terbiasa dengan suasana tersebut. Ia lantas menghunus pedangnya untuk membuka pintu besi itu.


“Kalian mundurlah,” kata Arael sembari mengangkat Attila.


Iolas dan Bryen menurut. Dalam satu tebasan, pintu besi itu pun patah jadi dua. Jeruji besinya yang sudah tua membuat Arael mudah menghancurkannya.


“Ayo,” ajak gadis itu kemudian.


Suasana dalam penjara itu gelap dan berbau tajam. Suara rintihan memilukan sesekali terdengar dari dalam sel-sel yang tertutup pintu besi. Arael ingin sekali membebaskan semua tawanan. Namun dalam keadaannya yang sekarang, ia tidak bisa melindungi mereka setelah bebas nanti. Itu hanya akan menjadi perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Karena itu Arael pun memilih untuk fokus mencari sel yang mengurung ibu perinya.


Penjara tanpa sihir berada di ujung terdalam ruang bawah tanah itu. Biasanya yang dikurung di tempat itu adalah para makhluk sihir yang kuat dan bisa membebaskan diri dengan kemampuannya. Penjara tanpa sihir dilapisi oleh mantra ilmu hitam yang menyerap seluruh energi sihir siapa pun yang berada dalam jangkauan mantra tersebut. Karena itu para tahanan dalam penjara tanpa sihir itu akan berangsur melemah bahkan mungkin mati jika terlalu lama terjebak di dalamnya.


“Kita hampir sampai,” ucap Arael.


Mendadak gelembung air Bryen terjatuh ke lantai, menimbulkan kecipak keras. Arael dan Iolas sontak menoleh ke arahnya.


“Ah … mantra penyerap energi sihirnya sudah bereaksi. Saya tidak bisa mengendalikan air lagi di sini,” kata Bryen sembari meringis tanpa rasa bersalah.


Arael hanya menarik napas panjang lantas kembali menyusuri lorong demi lorong. Semua sel penjara tertutup rapat oleh pintu besi. Bagaimana cara menemukan Cassandra di dalam sana?


“Kita harus berpencar untuk mencari Cassandra dan Ylyndar,” usul Arael kemudian.


Kedua rekannya pun setuju. Mereka akhirnya berpencar menuju arah yang berbeda-beda. Arael menyusuri bagian terdalam penjara tersebut. Suasana semakin gelap dan dingin di dalam sana.


“A … rael … .” Mendadak sebuah suara rintihan terdengar dari salah satu sisi sel penjara. Arael segera menoleh dan mendekat ke salah satu pintu asal suara tersebut.


“Cassandra?” tanya Arael memastikan.


“Anakku … Arael. Sudah … kuduga. Ikatan di antara kita … membuatku merasakan … kehadiranmu,” suara lemah Canssandra terdengar dari dalam ruangan sel tersebut.


“Tunggu, Cassandra. Aku akan menghancurkan pintunya,” ujar Arael sembari menghunuskan Attila sekali lagi.


Kekuatan pedang Arael kembali berhasil menghancurkan pintu sel. Di dalam ruangan gelap tanpa jendela itu terlihat Cassandra sudah tersungkur lemah dengan kedua tangan diikat menggunakan rantai besi. Kedua sayap Cassandra rusak parah dan patah di posisi yang menyakitkan. Tubuhnya penuh luka bakar dan luka gores. Entah kejadian mengerikan apa yang sudah dialami peri itu.