
Arael bertahan lebih lama di suku elf cahaya. Tempat tersebut memiliki energi yang murni sehingga Arael dapat melakukan lebih banyak latihan dan mengolah tubuhnya. Kekalahannya saat menghadapi Charles beberapa hari yang lalu membuat Arael menyadari besarnya perbedaan kekuatan mereka berdua. Charles adalah seorang penyihir gelap yang sudah menggunakan berbagai ilmu terlarang untuk memperkuat kemampuannya dan mengendalikan para orge. Arael yang selama ini tidak punya lawan bertanding menjadi kesulitan untuk mengukur kemampuannya sendiri.
Akan tetapi, selama berada di Ljósálfar, energi murni terus membanjiri tubuh Arael hingga ia dapat berlatih lebih lama dari biasanya. Haldir dan beberapa elf cahaya lain pun turut membantunya menyelaraskan seluruh titik energi jiwanya hingga terbuka dengan sempurna. Kondisi tersebut berhasil meningkatkan kekuatan Arael hingga beberapa kali lipat. Tebasan pedangnya kini memiliki aura cahaya yang dapat membelah tanah sepanjang sepuluh meter jauhnya dengan kedalaman yang tidak main-main. Arael semakin giat berlatih untuk bisa mengendalikan kekuatannya yang berlipat ganda tersebut.
Hal yang sama juga dialami oleh Iolas dan Bryen. Iolas bahkan mendapatkan sebuah busur baru yang cemerlang bagaikan mutiara laut dalam. Ia juga tidak perlu lagi membawa-bawa kantong anak panah karena Haldir menganugerahinya kemampuan membuat panah cahaya dari energi sihirnya.
Kemampuan penyembuh Bryen pun meningkat pesat. Pemuda elf itu berperan aktif dalam penyembuhan Cassabella dan Ylyndar. Para elf cahaya adalah andil terbesar untuk peningkatan kemampuan Bryen tersebut. Energi sihirnya yang berelemen air mendapat berkat cahaya hingga bisa mencapai potensi maksimalnya.
Di sela-sela latihannya, Arael selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Cassabella dan Ylyndar. Kondisi mereka membaik dengan cepat. Sang ibu peri begitu gembira melihat Arael sudah tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sehat. Berkali-kali ia meminta maaf karena telah meninggalkannya selama sepuluh tahun di penjara istana. Arael tak henti-hentinya meyakinkan Cassandra bahwa itu bukanlah kesalahan sang peri. Justru Cassandra-lah yang sudah menyelamatkan Arael dan mengorbankan diri demi gadis itu.
“Semua sudah digariskan oleh takdir. Perjalanan hidup Putri Sion memang tidak mudah. Namun semua sudah direncanakan jauh sebelum ia turun ke dunia,” pesan Haldir setiap kali menemukan adegan penuh air mata antara Cassandra dan Arael.
Kalimat itu pada akhirnya membuat kedua perempuan itu menjadi lebih tenang. Ylyndar juga tampak sangat bersyukur karena semuanya berjalan dengan baik. Iolas begitu gembira karena gurunya berhasil diselamatkan. Meski begitu, Ylyndar memutuskan untuk secepatnya kembali ke desa suku elf hutan. Ia tidak ingin membuat kaumnya cemas. Selain itu juga Ylyndar merasa bertanggung jawab karena meninggalkan posisinya sebagai pengintai terlalu lama.
Maka, setelah tiga puluh hari mereka menetap di Ljósálfar, rombongan Arael pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka dan berpisah dengan Ylyndar serta Cassandra. Ylyndar harus kembali ke Or-Tel-Quassir, sementara Cassandra harus menunggu lebih lama di Ljósálfar untuk menumbuhkan sayap perinya yang rusak parah. Butuh waktu lebih lama untuk menumbuhkan sayap baru.
“Aku akan langsung menemuimu begitu sayap periku tumbuh dengan sempurna, Arael. Seluruh kekuatan periku hilang bersama rusaknya sayap itu,” kata Cassandra ketika harus melepas rombongan Arael yang hendak pergi menungganggi Kaladrius.
Akhirnya, dengan diiringi oleh para elf cahaya dan Cassandra, Kaladrius pun terbang membumbung membawa Arael, Iolas dan Bryen di punggungnya. Perjalanan mereka selanjutnya adalah menemui suku elf bintang yang tinggal di hutan lembah Ylustriel. Haldir sendiri yang memberinya peta sihir untuk menemukan mereka, temasuk kelima suku elf lain yang tersisa. Sisa perjalanan Arael sepertinya akan jauh lebih lancar dari sebelumnya.
“Para elf bintang adalah kaum yang menyukai keindahan. Mereka cenderung menghindari peperangan dan kekerasan. Mungkin tidak akan mudah meyakinkan mereka untuk membantumu melawan Charles,” kata Iolas saat mereka sedang menikmati perjalanan terbang di punggung Kaladrius yang nyaman.
“Saya setuju, Putri. Alangkah baiknya kalau kita mengunjungi suku elf liar terlebih dahulu. Mereka tinggal bersama para centaur di hutan yang tak jauh dari Ylustriel. Mereka mungkin bersedia untuk membantu Anda, mengingat para centaur sendiri yang membuat ramalan mengenai Putri Sion,” usul Bryen menanggapi.
“Alasan kalian cukup masuk akal. Tapi aku tetap merasa harus menemui para elf bintang ini sebelum pergi ke kerajaan suku yang lain,” sahut Arael bersikeras.
“Baiklah kalau itu maumu. Hutan Ylustriel berada dekat dengan pemukiman manusia. Kita harus mencari tempat untuk mendarat yang aman jika tidak ingin menarik perhatian,” nasehat Iolas kemudian.
“Sepertinya kalian cukup sering bertualang mengelilingi benua,” komentar Arael menanggapi.
“Kau lupa kalau kami sudah hidup ratusan tahun. Saat para elf hidup berdampingan dengan manusia dan makhluk sihir lain dengan damai, kami bisa pergi kemana pun dengan bebas tanpa khawatir akan diburu,” sahut Iolas.
Arael merebahkan punggungnya di sandaran tempat duduk lantas menarik napas panjang sambil menatap awan-awan yang berarak. “Akan kupastikan untuk mengembalikan kedamaian itu di Luteria,” gumamnya kemudian.