
Rumah-rumah pohon dengan atap kerucut menggantung indah di puncak pepohonan. Sulur merambat memenuhi dinding rumah kayu tersebut dengan bunga-bunga merah jambu yang cantik. Iolas mendaratkan lompatan terakhirnya di atas sebuah jembatan kayu yang menjadi penhubung antar rumah. Jembatan itu bergoyang pelan saat rombongan mereka satu per satu mendarat di sana.
Arael turun dari dekapan Iolas dan menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru. Arsitektur bangsa elf selalu indah untuk dilihat. Atap-atap kerucut rumah pohon itu sepenuhnya tertutup dedaunan dengan bunga-bunga peony menghiasi seluruh pemukiman bagaikan rose quartz di hamparan zamrud.
Suara musik merdu terdengar sayup-sayup. Arael menerka bahwa musik itu berasal dari suara harpa dan seruling yang dimainkan secara harmonis. Aroma kayu yang kuat bercampur harumnya bunga-bunga peony, menambah kesan magis hutan tersebut. Di kejauhan, Arael melihat beberapa elf berkulit biru dengan rambut perak tengah memainkan alat musik sambil menari. Rupanya dari sana suara musik itu berkumandang.
Kedatangan rombongan Arael tampaknya sedikit menarik perhatian para elf bintang ini. mereka menghentikan nyanyian dan aktivitas mereka begitu saja dan berubah waspada. Namun ketika mendapati Rangwe serta para elf liar lain, kewaspadaan mereka segera sirna. Salah satu elf bintang terdekat mendatangi mereka dan menyapa.
“Diberkatilah dalam cahaya Ingwë,” sapa elf perempuan berkulit biru dengan mata perak itu pada Rangwe.
“Diberkatilah dalam cahaya Ingwë,” balas Rangwe sopan.
“Apa yang membawamu kemari, Rangwe?” tanya sang elf bintang.
“Sesuai ramalan para Centaur, aku membawa Putri Sion untuk bertemu dengan kalian, Quenya,” jawab Rangwe sembari mundur beberapa langkah dan memperkenalkan Arael pada sang elf bintang.
Quenya sedikit menyipit menatap Arael yang dua jengkal lebih pendek darinya itu. Para elf memang rata-rata bertubuh tinggi. Namun elf bintang sedikit lebih tinggi dari elf kebanyakan. Bahkan Quenya yang adalah seorang elf perempuan memiliki postur yang lebih tinggi dari Iolas dan Bryen.
“Salam, Putri Sion,” sapa Quenya kemudian.
Arael lagi-lagi hanya bisa mengangguk sopan. Tidak yakin harus mengucapkan kata-kata sapaan yang tepat untuk membalas salam tersebut.
“Anda di sambut di sini. Tapi perlu diketahui, Ruar-Tel-Quassir tidak terpikat pada pertempuran. Kami hanya hidup untuk music dan bintang-bintang,” ujar Quenya pada Arael. “Anda mungkin lebih baik meminta bantuan dari Sy-Tel-Quassir,” lanjut sang elf.
Ruar-Tel-Quassir adalah nama kaum elf bintang menurut bahasa mereka, sementara Sy-Tel-Quassir adalah panggilan untuk para elf liar.
“Ramalan Centaur itu mengatakan bahwa seluruh suku elf akan membatu Putri Sion, Quenya. Begitulah yang tertulis hingga kedamaian bisa kembali di tanah ini,” sela Rangwe.
“Kalian sudah terlalu lama hidup bersama para Centaur,” desah Quenya menanggapi.
“Sebagai pembaca bintang, seharusnya kau lebih peduli tentang ramalan itu dibanding siapa pun.” Rangwe kembali menimpali.
“Bintang-bintang sudah kian meredup, Rangwe. Kami tidak lagi bisa bernyanyi bersama mereka.” Quenya berkata dengan muram.
“Karena itulah bangsa elf harus membantu Putri Sion. Untuk melepaskan kutukan dari tanah ini. Manusia lalim itu telah membawa terlalu banyak pernderitaan. Ia mengundang roh-roh jahat dan membuat segalanya menjadi buruk. Bahkan bintang-bintang pun meredup karena tertutup kegelapan tanah ini,” desak Rangwe terus berusaha meyakinkan.
Quenya menarik napas panjang yang berat. “Sebaiknya Anda beristirahat dulu, Putri Sion. Kita bisa membicarakan masalah ini dengan sang Ratu,” tutupnya kemudian.
Quenya membungkuk singkat pada Arael, gestur yang mengindikasikan permintaan agar Arael berjalan mengikutinya. Arael balas mengangguk tanda mengerti. Quenya pun berbalik memunggungi Rangwe dan berjalan menyusuri jembatan gantung. Hanya Iolas dan Bryen yang mengikuti Arael. Sementara Rangwe dan para elf liar lain sudah kembali melompat turun ke bawah pohon tanpa berpamitan.
“Mereka lebih nyaman kalau tinggal di bawah sana, Putri. Kaum Sy-Tel-Quassir akrab dengan energi tanah. Mereka tidak akan meninggalkan Anda begitu saja. Rangwe bahkan mungkin akan terus mengikuti Anda sampai seluruh ramalan Centaur terpenuhi,” ujar Quenya yang menyadari arah pendangan Arael.
“Aku mengerti,” sahut Arael melongok ke bawah jembatan. Batang-batang pohon dan permukaan tanah sudah tidak terlihat lagi saking tingginya tempat itu. Beruntung Arael tidak punya phobia ketinggian.
Arael tak lantas menjawab. Elf bintang itu seolah tahu segalanya tentang Arael, padahal ia tidak menunjukkan kemampuannya di tempat itu.
“Bintang-bintang memberi tahu kami tentang Anda, Putri,” ujar Quenya seolah membaca pikiran Arael.
“Begitukah?” ujar Arael mencoba mencerna kata-kata Quenya entah apa pun maksudnya.
“Para Centaur meramalkan masa depan dengan bantuan bintang-bintang. Sementara kami membaca panduan bintang untuk mengetahui tentang kehidupan seseorang,” jelas Quenya tanpa ditanya.
“Apa itu semacam astrologi?” tanya Arael yang pernah mendengar mengenai konsep tersebut lama berselang.
“Ya semacam itu. Tanda zodiak memberi lebih banyak informasi dari yang bisa diterjemahkan oleh bangsa lain. Suku kami mendapat berkah bintang untuk bisa membaca dengan lebih terperinci pesan-pesan mereka.”
“Tapi bukankah kegelapan tanah ini membuat kemampuan kalian berkurang? Hal yang sama terjadi pada suku-suku elf lain. Kita melemah karena kegelapan mulai menguasai benua ini,” pancing Iolas menimpali.
Quenya tak membalas ucapan Iolas. Gadis elf itu hanya melanjutkan langkahnya dalam diam. Sekitar lima menit kemudian, mereka di salah satu rumah pohon mungil berhiaskan bunga peony merah muda.
“Anda bisa beristirahat di sini. Ratu Amarië masih melakukan ritual. Saya akan menjemput Anda jika sang ratu sudah memiliki waktu,” ujar Quenya.
“Baik. Terima kasih, Quenya,” sahut Arael.
Elf bintang itu pun meninggalkan Arael, Iolas dan Bryen di sebuah pondok kecil yang nyaman. Arael membuka pintu kayu oval dan memasuki pondok tersebut. sebuah ruangan berlantai dan dinding kayu mengilap menyambut Arael. Terdapat sebuah meja bundar dengan tempat duduk kayu yang mengitarinya membentuk huruf U di tengah ruangan, lengkap dengan karpet bulu berwarna coklat muda. Sebuah tangga ke lantai dua tampak menempel di seberang ruangan. Sepasang jendela oval menempel di sisi dinding yang lain.
“Tempat ini nyaman,” gumam Arael sambil menghirup aroma kayu yang manis.
“Sepertinya di atas adalah kamar tidur. Silakan Anda beristirahat di atas, Putri. Saya dan Iolas akan berjaga di sini,” kata Bryen menyela.
“Kalian juga harus beristirahat,” tukas Arael.
“Kami baik-baik saja. Kau dengarkan saja kata-kata Bryen,” perintah Iolas kemudian.
Arael menghela napas pendek. Kedua elf itu memang keras kepala. Tidak ada gunanya mendebat. Sebaiknya dia mengikuti saran Bryen dan menghemat tenaga sebelum bertemu dengan Ratu penguasa tempat ini.
“Baiklah,” ujar Arael mengalah.
Gadis itu pun berjalan menaiki tangga kayu menuju lantai dua. Di atas sini, sebuah ranjang dengan kasur bulu domba tampak tertata dengan rapi. Sebuah meja kayu kecil dengan kursi bulat berdiri di sisi ranjang. Berbeda dengan ruangan bawah, dinding di kamar tidur ini berupa rak-rak kayu yang berisi banyak perkamen dan alat musik. Sebuah sitar bahkan diletakkan di pojok ruangan.
Arael tidak ingin menjadi manusia yang lancang dan menyentuh barang milik orang lain. Namun rasa penasarannya begitu menggugah hingga membuat gadis itu tidak bisa menahan diri. Ia pun mencoba membuka salah satu gulungan perkamen. Sebuah peta langit tergambar di atas perkamen tersebut dengan titik-titik bintang yang membentuk suatu pola. Sayangnya, keterangan dalam peta tersebut menggunakan aksara dan bahasa elf yang tidak bisa dimengerti oleh Arael. Ia belum belajar mengenai tulisan bangsa elf.
Arael mencoba membuka perkamen lain, dan isinya nyaris sama. Semua tentang peta bintang. Entah siapa pemilik pondok kecil ini, yang jelas elf itu pasti sangat suka melihat langit malam.
Arael akhirnya merebahkan tubuhnya di atas kasur bulu domba berwarna kerm pucat itu. Semenjak meninggalkan Ljósálfar, rasa lelahnya seperti berlipat ganda. Energi murni di suku elf cahaya memang tiada duanya. Sambil membayangkan tempat tersebut, Arael pun mulai memejamkan mata. Tak berapa lama kemudian, gadis itu pun terlelap.