
“Cassandra,” seru Arael seraya menghambur masuk dan memeluk ibu perinya. “Tunggu, aku akan melepaskan ini,” lanjutnya lantas menghancurkan rantai besi yang mengikat Cassandra.
“Kau sudah menjadi sangat kuat, Anakku. Maafkan aku karena tidak bisa segera menemuimu,” ucap Cassandra lemah.
“Aku yang seharusnya meminta maaf, Cassandra. Aku terlambat menjemputmu. Sekarang, ayo kita keluar dari sini,” kata Arael kemudian. Gadis itu lantas memapah ibu perinya keluar dari dalam sel.
Tak lama kemudian Iolas dan Bryen datang membawa Ylyndar yang ternyata juga sudah ditangkap. Keadaan Ylyndar jauh lebih parah. Elf itu sudah tidak sadarkan diri dengan luka terbuka di seluruh tubuhnya.
“Ylyndar … ,” bisik Arael penuh kepedihan.
“Kau benar. Guru juga ditangkap. Kami menemukannya setelah membuka banyak sel. Sayangnya kita tidak bisa menyelamatkan para tawanan yang lain. Aku merasa tidak nyaman meninggalkan mereka begitu saja,” kata Iolas tampak sangat menyesal.
“Kita tidak punya pilihan, Iolas,” ujar Arael sembari menahan kegetiran hatinya sendiri.
“Kita bisa menyelamatkan mereka saat semuanya sudah siap, Putri,” hibur Bryen kemudian.
Arael hanya mengangguk pelan. Ia semakin berharap dirinya bisa menjadi cukup kuat untuk memimpin perlawanan pada Charles.
Setelah menemukan Cassandra dan Ylyndar, mereka pun keluar melalui jalan yang sama seperti saat mereka masuk tadi. Akan tetapi, gua labirin yang sebelumnya dilalui dengan bantuan Luca, kini ternyat sudah runtuh. Pintu masuknya terhalang oleh bebatuan. Sepertinya ada sihir tua yang membuat jalan labirin itu hancur dalam sekali pakai. Setidaknya begitu menurut analisis Bryen.
Maka mau tidak mau, mereka harus melalui jalan yang biasa melewati ruang para penjaga. Cassandra dan Ylyndar sudah begitu lemah dan tidak bisa lagi melakukan sihir perubahan wujud. Karena itu mereka harus membunuh para orge penjaga yang berdiri di pintu keluar penjara tersebut. setidaknya ada empat orge bertubuh besar yang berdiri di lorong penjara. Iolas menembakkan panah pertamanya ke kepala salah satu orge, diikuti sihir air Bryen yang menenggelamkan dua lainnya. Arael muncul secepat kilat untuk memenggal orge yang tersisa.
Sejauh ini perjalanan mereka masih lancar. Beberapa orge yang mereka temui setelah itu pun berhasil diringkus dalam waktu kurang dari satu menit. Mereka unggul karena para orge itu tidak menyadari kedatangan mereka dengan cepat. Meski begitu, keberuntungan tidak bisa terus menerus datang. Tantangan yang sebenarnya adalah ketika mereka harus melewati aula utama untuk keluar.
Selain para orge, beberapa penyihir manusia juga berlalu lalang di tempat itu. Tidak ada cara yang aman untuk melalui aula tersebut tanpa ketahuan. Mereka sekarang bersembunyi di sebalik lemari kayu tua yang berisi pajangan perunggu. Arael sedang memutar otak ketika mendadak sebuah suara teriakan membahana di aula itu.
“Penyusup!” seru seseorang penjaga bertubuh gempal.
Arel, Iolas dan Bryen saling menatap satu sama lain. Mereka ketahuan!
“Putri, sebaiknya saya memanggil gelombang air kemari. Saya yakin kekuatan saya cukup untuk menenggelamkan kastel ini,” kata Bryen kemudian.
Arael menghela napas pelan. “Berhenti memikirkan hal-hal konyol Bryen,” komentarnya pendek.
Kepala Arael sudah hampir pecah karena berpikir terlalu keras. Rasaya mereka seperti terjebak. Tidak ada jalan keluar.
“Aku akan menjadi umpan. Kalian pergilah keluar sementara aku mengalihkan perhatian mereka,” kata Iolas kemudian.
“Jangan pernah mengatakan hal seperti itu, Iolas. Aku sudah dua kali membuat orang yang melindungiku tersiksa seperti ini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun tertangkap lagi gara-gara aku,” geram Arael tajam.
“Tapi kita tidak punya cara lain,” desak Iolas tak sabar.
“Kita masih punya senjata rahasia,” gumam Arael sembari memindahkan tubuh Cassandra pada Bryen.
Detik selanjutnya, Arael memanggil bayangannya. Skiroff kembali muncul menanti perintah.
“Pengaruhi orge itu dan suruh dia memberi petunjuk yang salah tentang keberadaan kita,” perintah Arael kemudian.
“Arael, kau mau menggunakan bayangan lagi? Energi sihirmu akan … .”
Kata-kata Iolas terpotong oleh gerakan tangan Arael yang menyuruhnya diam. Arael perlu konsentrasi agar bayangannya bisa mempengaruhi monster itu. Dan benar saja, setelah orge yang dipengaruhi Arael menunjuk arah yang salah, para penjaga yang lain pun berbondong-bondong lari ke tempat yang ditunjuk. Arael bersyukur bahwa orge adalah makhluk yang bodoh.
“Ini kesempatan kita,” ucap Arael bersiap keluar dari persembunyian. Namun mendadak, rasa sakit luar biasa menyerang jantung Arael. Gadis itu terbatuk keras dan mengeluarkan banyak darah segar dari mulutnya
“Anda terlalu memaksakan diri, Putri,” ucap Bryen khawatir. Ia sudah bersiap untuk memulihkan kondisi Arael tetapi gadis itu menolak.