
Kaladrius membawa Arael dan yang lainnya terbang membelah awan-awan di angkasa. Arael tidak bisa memastikan bagaimana kondisi rekan-rekannya karena ia berada dalam cengkeraman Kaladrius hanya bersama Iolas. Dari kejauhan ia hanya melihat Bryen yang masih sadar bersama dua orang lainnya yang sudah terkulai lemah dengan mata terpejam, Cassandra dan Ylyndar.
Kaladirus terus membumbung tinggi, terbang dengan sangat cepat hingga permukaan tanah kini tidak terlihat lagi karena tertutup awan-awan tebal. Arael ingat bahwa dia tidak memberi perintah apa pun pada Kaladrius. Karena itu, ia tidak bisa menerka kemana burung raksasanya itu akan membawa mereka.
“Apa burungmu berniat membawa kita ke tempat elf bersayap?” seru Iolas bertanya.
“Aku tidak tahu. Aku tidak memberinya perintah apa pun. Ini pertama kalinya aku punya burung raksasa. Haruskah aku memberitahunya?” jawab Arael sambil berteriak demi mengalahkan suara deru angin yang kencang.
“Cobalah!” sahut Iolas yang sudah mulai pegal karena perjalanan udara yang cukup memakan waktu.
“Aku tidak tahu apakah akan berhasil. Tapi kemana aku harus menyuruhnya terbang?”
“Setidaknya suruhlah dia untuk hinggap. Aku sudah mulai mual! Ketinggian tidak cocok denganku!”
Arael pun merasakan hal yang sama. Cengkeraman Kaladrius jauh dari kata lembut. Alih-alih seluruh rusuk hingga punggungnya seperti dilumat oleh penjepit yang sangat kuat. Belum lagi ia harus saling menempel dengan tubuh Iolas. Rasanya benar-benar tidak nyaman. Maka setelah mempertimbangkan perintah yang tepat, Arael pun segera menyerukannya pada Kaladrius.
“Kaladrius, mendarat di tempat tinggi yang sepi!” seru Arael dengan satu-satunya pikiran yang terlintas. Ia juga hanya ingin melepaskan diri dari keterhimpitan yang membuat seluruh tubuhnya pegal itu.
Akan tetapi, Kaladrius sama sekali tidak mendengarkan perintah Arael. Entah karena suara Arael terlalu kecil atau memang karena Kaladrius punya agenda sendiri untuk membawa tuannya beserta rombongan itu. Arael kembali berteriak sekali lagi. Namun alih-alih menukik, Kaladrius justru terbang semakin tinggi dan semakin tinggi lagi.
Arael sudah nyaris menyerah ketika akhirnya di kejauhan, ia melihat pemandangan yang cukup mengejutkan. Sebuah pulau yang terbang di langit! Sebongkah tanah yang sangat luas melayang di atas mega-mega. Semakin dekat Kaladrius terbang ke sana, Arael dapat melihat dengan lebih jelas permukaan pulau tersebut.
Hamparan pemandangan taman yang sangat asri menyapa penglihatan Arael. Seluruh pulau tersebut tampak bercahaya dengan berbagai warna yang sangat mencolok. Hijau dedaunan jauh lebih terang dibanding pohon-pohon di bawah sana, bunga-bunga aneka warna juga tampak lebih mencolok. Bangunan-bangunan berkubah yang terlihat agung memenuhi pulau itu lengkap bertatahkan Kristal yang mengkilau.
Setelah awan-awan tersibak, ternyata pulau itu memiliki kawanan yang cukup banyak. Pulau-pulau terbang lain tampak melayang dan dihubungkan dengan jembatan gantung yang bercahaya keperakan. Arael segera melupakan segala rasa sakit di tubuhnya dan hanya bisa merasa terpukau oleh pemandangan tersebut. Nampaknya Iolas pun merasakan hal yang sama karena tak lama kemudian Arael mendengarnya berceletuk.
“Tidak mungkin … Kaladrius membawa kita ke tempat suku elf cahaya,” gumam Iolas yang samar-samar bisa didengar oleh Arael.
“Elf cahaya?” tanya Arael menanggapi.
“Sepertinya burung raksasamu secara instingtif membawa kita ke sini karena melihat ibu perimu yang terluka. Para peri terlahir dari cahaya elf di tempat ini,” terang Iolas dengan suara lebih cepat.
Arael segera mengingat kata-kata Ratu Esthaenie tentang Kaladrius yang bisa membawa mereka ke tempat para elf cahaya. Arael curiga bahwa sang ratu telah dengan sengaja memberi perintah pada Kaladrius untuk membawa mereka kemari setelah berhasil menyelamatkan dua sandera dari istana Charles yang lalim. Gadis itu hanya bisa berterimakasih pada Ratu Eshaenie dalam hati. Bagaimanapun, bangsa elf selalu menjadi yang paling bijak di antara ras yang lain.
Setelah terbang berputar di atas pulau, Kaladirus pun akhirnya mendarat di salah satu bongkahan yang terbesar. Ia menurunkan Arael dan yang lainnya selembut yang bisa dilakukan oleh seekor burung raksasa. Arael tidak mengharapkan pendaratan yang mulus, tetapi tetap saja lontaran kaki Kaladrius membuat tubuhnya nyaris terjungkal. Namun ia berhasil mendarat dengan baik tanpa tersungkur ke tanah berumput lembab itu.
“Apa mereka baik-baik saja?” tanya Arael kemudian.
“Keadaan mereka buruk. Tapi kalau Kaladrius membawa kita kemari, maka masih ada harapan untuk Ylyndar dan ibu perimu,” ujar Iolas menjelaskan.
Arael menarik napas lega. Meskipun pedih, tetapi kemungkinan akan adanya harapan membuatnya lebih tenang. Gadis itu lantas mengedarkan pandangannya ke area itu. Kaladrius sudah kembali ke wujud kecilnya sebagai burung merpati putih. Ia kini bertengger di lengan seorang elf cahaya yang wujudnya benar-benar di luar dugaan Arael.
Sosok-sosok yang menghuni pulau itu ternyata memiliki tubuh cahaya. Benar-benar hanya cahayan yang membentuk siluet tubuh serupa elf bertelinga runcing. Arael tidak bisa menerka bagaimana wajah mereka, atau sekedar warna rambut mereka karena semua elf di sana hanya bercahaya begitu saja. Mereka semua memiliki cahaya yang sama yaitu putih terang dengan sedikit semu biru. Ada sekitar sepuluh elf yang melihat kedatangan rombongan Arael. Salah satu dari mereka, yang membawa Kaladrius di lengannya, berjalan mendekat.
“Apakah kalian adalah orang-orang yang dikirimkan Ratu Esthaenie kepada kami?” tanya elf itu tanpa ada raut wajah yang bisa dilihat oleh Arael.
“Benar. Ratu Esthaenie memberikan Kaladrius kepada saya untuk menemui para elf cahaya yang Agung,” jawab Arael tanpa ragu.
“Kulihat kalian membawa seorang peri yang terluka. Biarkan anak-anakku merawatnya. Juga elf dari Or-Tel-Quassir itu,” kata sang elf cahaya.
“Terima kasih,” sahut Arael.
Tak lama kemudian dua elf cahaya yang lain datang mendekat dan mengambil Cassandra serta Ylyndar pergi menjauh. Arael menatap mereka berdua dengan gamang. Rasanya dia ingin mengikuti kedua elf cahaya itu dan melihat bagaimana pemulihan Cassandra dan Ylyndar. Namun Arael tahu bahwa ia harus mempercayai para elf cahaya itu.
“Kalian pasti lelah. Aku akan mengantar kalian ke istana Ljósálfar untuk beristirahat. Yang Mulia sudah menunggu kedatanganmu, Putri Sion,” kata elf cahaya itu.
Arael menurut. Ia mengikuti sang elf cahaya bersama Iolas dan Bryen yang sudah tampak kelelahan. Setelah apa yang mereka bertiga alami, sepertinya beristirahat di istana elf cahaya yang penuh vitalitas ini bisa cukup membantu.
“Namaku Haldir. Mungkin kalian akan kesulitan membedakan kaum kami. Kalau tingkat vibrasi jiwamu sudah selaras, nantinya kau akan bisa melihat wujud kami yang sebenarnya. Para makhluk dunia bawah, termasuk manusia memiliki kegelapan yang terlalu besar di jiwanya. Karena itu kami memisahkan diri dan enggan untuk ikut campur dengan kehidupan bangsa lain.
“Namun ramalan tentang Putri Sion cukup menggerakkan Yang Mulia Raja Glóredhel, raja kami suku Ljósálfar. Beliau sudah menantikan kedatangamu kemari. Betapa senangnya beliau ketika Ratu Esthaenie mengirimkan kabar tentang kalian,” terang elf cahaya itu sembari berjalan membimbing mereka ke sebuah bangunan berkubah paling indah, istana suku elf cahaya.
“Apakah Yang Mulia Raja telah mengetahui tentang saya?” tanya Arael penasaran.
“Kami bisa mengetahui segala hal yang paling tersembunyi kalau kami mau. Tapi lebih dari itu, Ibu Perimu mengirim secuil informasi tentang keberadaanmu. Akan tetapi karena kami terikat sumpah untuk tidak mengintervensi kehidupan di bawah sana, maka kami tidak bisa menolongnya begitu saja. Kami hanya bisa menunggu hingga momentumnya tepat. Semua sudah digariskan sesuai dengan ramalan itu.”
Arael mendengarkan dengan seksama. Ia bersyukur telah sampai pada titik ini. Kata-kata Haldir membuatnya semakin yakin bahwa para elf cahaya pun akan bersedia membantunya.