
“Kita tidak punya waktu, Bryen,” ujar Arael sembari menyeka mulutnya yang penuh darah. Ia pun lantas kembali memimpin pelarian mereka keluar dari istana.
Aula tampak lengang karena semua penjaga sudah diarahkan oleh Arael menuju tempat yang sebaliknya. Mereka sudah hampir mencapai pintu keluar ketika mendadak pintu itu menjeblak tertutup dengan sendirinya.
“Lihat siapa tikus kecil yang datang ini. Ternyata aku tidak perlu repot-repot mencarinya. Kau sudah datang sendiri ke sini, putri kecil.” Sebuah suara dingin dan jahat yang sangat dikenal Arael terdengar dari balik punggung mereka.
Arael menoleh dengan cepat dan mendapati pria yang paling dibencinya kini tengah melayang turun dari lantai dua aula istana tersebut. Ya, Charles adalah seorang penyihir hitam yang bisa memanipulasi seluruh elemen alam, termasuk angin. Karenanya ia bisa terbang dengan mudah.
Arael menggeretakkan gigi saat melihat Charles mendarat di lantai batu dan mulai berjalan mendekatinya. Di belakang Charles, dua orang penyihir bejubah gelap turut mengikutinya.
“Apa kau tidak merindukan rumahmu, Arael. Sudah cukup bermain-mainnya. Sekarang kembalilah ke bawah tanah dan membusuk di dalam penjara,” desis Charles dengan mata berkilat jahat.
“Aku bukan lagi anak kecil lemah seperti sebelumnya, Charles,” geram Arael sembari menghunus Attila.
Tawa Charles meledak keras. Ia tertawa penuh ejekan sembari menjentikkan jarinya. Tak berapa lama kemudian puluhan orge berbondong-bondong datang mengerumuni aula. Arael dan yang lainnya sudah terjepit. Apakah ini akhir dari perjuangannya?
“Aku ingin tahu sudah sehebat apa putri kecil ini. Cobalah kabur dan melawan mereka semua, Arael,” desah Charles dengan ekspresi menghina.
Amarah Arael sudah memuncak. Ini pertama kalinya ia merasa marah. Setelah melihat kondisi Cassandra, juga para tawanan lain di penjara, lalu kenyataan bahwa Charles telah menyengsarakan seluruh penduduk Luteria dengan pajak tak masuk akal, termasuk perburuan makhluk sihir. Tidak ada alasan bagi Arael untuk menyerah saat ini. Maka dengan ketetapan hati yang tak tergoyahkan, gadis itu pun memulai pertempuran melawan puluhan orge yang menyerang secara bersamaan.
Iolas dan Bryen turut bertarung bersamanya. Namun jumlah para orge itu begitu banyaknya sementara Arael sudah kehilangan banyak energi sihir dan staminanya. Ia tidak bisa memanggil Luca maupun Skirrof. Selama beberapa waktu mereka bertiga begitu terdesak dan nyaris menjadi bulan-bulanan para orge bawahan Charles. Akan tetapi, Arael tiba-tiba mendapat ide. Dengan seluruh sisa kekuatannya, Arael menerjang langsung ke arah Charles yang sedari tadi hanya berdiri melihat pertempuran sambil menyeringai jahat.
“Jangan menguji kesabaranku, anak kecil. Aku bukan paman baik hati yang akan menoleransi kenakalanmu,” kata Charles sembari membuat bola api berukuran sedang di tangan kirinya.
Arael hanya bisa menggigit bibir melihat ketidakmampuannya melawan Charles. Detik berikutnya, sang raja lalim itu melemparkan bola api merahnya ke arah Arael. Gadis itu tidak sempat menghindar dan hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Arael, panggil Kaladrius!” Mendadak Iolas muncul dan menyambar pinggang Arael hingga berguling. Bola api Charles akhirnya hanya membentur lantai batu tanpa berhasil melukainya.
Arael melihat Iolas sudah kepayahan membopongnya di satu tangan. Tangannya yang lain membawa tubuh Ylyndar yang pingsan. Bryen muncul di dekat mereka dan membawa tubuh Cassandra yang ternyata juga sudah tidak sadarkan diri.
“Cepat! Panggil Kaladrius! Bryen akan memanggil gelombang air!” seru Iolas sekali lagi.
“Apa? Ah, baik! Kaladrius!” seru Arael kemudian.
Bunyi koak keras diikuti deru air yang mendekat mengiringi drama pertempuran itu. Iolas dan Bryen susah payah melompati kepala-kepala para orge yang berusaha menggapai mereka. Gerakan lincah para elf sangat sulit untuk ditangkap. Bryen bahkan bisa memanggil gelombang air sembari menghindari banyak serangan yang mengarah padanya. Charles dan dua penyihirnya pun turut melempari Arael dengan mantra-mantra jahat. Namun Arael berhasil menangkis seluruh serangan sihir itu dengan Attila. Sihir elf mampu melindunginya dari ilmu hitam.
Setelah beberapa menit, suara deru air itu sudah terdengar begitu dekat. Arael tidak pernah membayangkan kejadian seperti itu sebelumnya. Namun, kini ia melihat tembok-tembok istana mulai retak, lalu hancur dan membuat arus besar air setinggi tiga meter masuk ke dalam tanpa terkendali. Dari celah rubuhnya tembok tersebut, Kaladrius dalam wujud raksasanya meluncur masuk dan menyambar tubuh Arael, Iolas, Bryen beserta dua orang yang mereka selamatkan, Cassandra dan Ylyndar. Kedua cakar besar Kaladrius mencengkeram mereka begitu kuat hingga rasanya tulang rusuk Arael nyaris remuk.
Kaladrius berputar mengitari aula kerajaan yang luas itu sebanyak dua kali lalu kembali terbang keluar melalui atap istana yang sudah hancur oleh gelombang air yang dipanggil oleh Bryen. Dari balik cakar-cakar Kaladrius, Arael sekilas melihat Charles yang murka tengah menlindungi dirinya dengan menghalau air bah yang mendadak muncul. Di detik terakhir sebelum Arael membumbung terlalu tinggi, Charles menatap ke arahnya dengan penuh kebencian. Suatu saat nanti, Arael pasti akan kembali. Ia akan mengancurkan raja lalim itu dengan tangannya sendiri. Arael berjanji dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri.