
Chapter 8
Pria tua itu pergi dan mengambil kertas serta alat tulisnya. Tak berselang lama dia kembali dengan membawa apa yang Shin inginkan.
“Ini Tuan.”
Shin lalu menggambar sebuah dagger dengan gambar yang jelas dan mudah dimengerti, dia juga menambahkan pola pola pada daggernya terus menuliskan namanya di dagger itu.
“Begini pak tua, apakah bisa?”
“Oh akan saya usahakan Tuan, jika bisa tolong buatkan senjata seperti ini 2. Jika bahannya ada sisa itu untukmu. Dan untuk biaya senjata yang digambar itu, akan kubayaar ketika sudah selesai semuanya.”
“Baik Tuan. Tuan tunggu beres saja.”
“Ohiya, dipedangnya juga tuliskan nama ku sama dengan yang digambar itu.”
“Tentu Tuan.”
“Baiklah nanti 2 bulan lagi aku akan kesini lagi.”
Pria tua itu mengangguk ngangguk mengerti dan tak henti hentinya tersenyum melihat keramahan Shin. Tiba tiba pria tua itu memanggil Shin.
“Tunggu Tuan, Tuan berasal darimana?”
“Aku berasal dari kediaman Fei.”
“Oh dari kediaman Jendral Fei, pantas saja aku merasa familiar dengan gadis disamping Tuan, haha.”
“Haha baiklah, kalo begitu aku pergi dan akan kembali 2 bulan lagi. Jika sudah selesai tolong jaga senjataku.”
Shin dan Hua keluar dari toko itu dan segera menyuruh kusir itu untuk menunggu di gerbang saja, karena mereka akan jalan jalan terlebih dahulu. Mereka juga berpikir sayang jika langsung pulang karena sudah jauh jauh datang ke ibukota, kusirnya pun mengangguk dan segera pergi ke gerbang kota.
Shin dan Hua berjalan jalan mengelilingi ibukota menikmati keindahan ibukota.
“Apakah kamu lapar?” tanya Shin pada Hua.
Hua hanya mengangguk karena malu jika harus menjawab, Hua berpikir bahwa wanita harus menjaga citranya didepan pria agar menjadi menarik dipandangannya.
“Baiklah, mari kerumah makan itu dulu untuk makan siang.”
Shin dan Hua pergi menuju rumah makan yang berada didepannya tak jauh dari mereka berdiri sekarang, jaraknya hanya sekitar 70m.
Setibanya didepan mereka pun masuk dan langsung duduk di kursi dan meja yang masih kosong, kebetulan itu dekat dengan jendela jadi mereka bisa menikmati ramainya ibukota.
“Permisi Tuan dan Nyonya, kalian ingin memesan apa?”
“Yang terbaik disini saja, minumannya juga sama.”
Pelayan itu mengerti dengan pesananan mereka lalu meninggalkan mereka tanpa melupakan ucapan:
“Silahkan ditunggu pesanannya.”
Pelayan itu melaporkan pesananannya pada para tukang masak di rumah makan itu.
15 menit kemudian, pelayan itu kembali dengan membawa piring dan gelas gelas. Dia melakukannya sebanyak 3 kali putaran karena dia tidak sanggup membawa banyak pesananan sekaligus.
“Selamat menikmati Tuan Nyonya.”
Shin dan Hua tidak menanggapi ucapan pelayan itu yang memanggil mereka dengan Tuan dan Nyonya layakanya suami istri. Mereka pun langsung menyantap makanannya.
20 menit kemudian, setelah mereka menghabiskan makanannya mereka hendak berdiri dan membayar pesanannya. Namun, ada sekelompok orang yang mencoba merayu Hua.
“Ahaha, ada kecantikan disini rupanya.” Ucap seorang pemuda yang berpakaian rapi dan bagus layaknya Tuan muda dari sebuah keluarga bangsaawan.
Shin dan Hua hanya diam dan tidak menanggapinya. Tapi tiba tiba keramaian di rumah makan terjadi, banyak yang melihat ke arah Shin dan Hua.
“Ahh kasian wanita itu, dia pasti akan bawa oleh Tuan muda Lin kekamarnya.”
“Laki lakinya juga sama, dia bakal di hajar habis habisan.”
Itulah ucapan ucapan yang terdengar oleh telinga Shin. Shin yang mendengar itu langsung menggunakan kekuatan matanya untuk mengidentifikasi sifat orang yang bernama Lin itu.
[Lin Feng]
[Mesum, licik, sombong, pintar]
Shin yang melihat itu sekali lagi dibuat jijik dengan sifatnya.
“Gadis cantik kemarilah kepelukan Tuan muda, aku akan membuat mu bahagia, kita akan melakukan hal hal menyenangkan.” Ucapnya sambil tertawa dan memasang wajah mesumnya.
Hua tidak menjawab dia hanya ketakutan, Hua merupakan gadis yang polos karena jarang keluar dari rumahnya jadi tidak tau seberapa kejamnya diluar. Hua ketakutan dan meraih tangan Shin lalu memeluk lengannya.
Lin Feng yang melihat itu merasa kesal dan marah karena biasanya wanita yang dia rayu akan mudah jatuh kepelukannya tapi yang ini berbeda. Disamping marah dan kesal dia malah semakin tertarik.
“Haha, baru kali ini aku ditolak, biasanya para gadis akan bergantian menungguku mengajaknya bermain. Dan sekarang? Wanita ini malah menolaknya. Menarik menarik.”ucapnya
“Kemarilah gadis cantik, jangan khawatirkan pria disamping itu yang miskin.”
Shin masih diam karena dia belum melakukan tindakan yang melewati batas hanya kata kata saja yang terus terucap. Shin juga memikirkannya dengan baik, jika dia melakukan tindakan fisik baru aku akan melawannya.
Lin Feng yang kesal karena tidak ada respon dari keduanya pun marah.
“HAHH, SINI GADIS CANTIK.” Teriaknya sambil berjalan ke arah Hua dan mencoba menariknya. Tapi sayang Shin langsung menghentikan tangannya.
“Mau apa kau mendekati dan menarik lengan istriku?” ucap Shin spontan agar mereka percaya dan tidak menganggunya lagi.
Hua yang mendengar itu pipinya memerah karena malu tapi disisi lain dia senang bahwa Shin mengucapkan dirinya istrinya.
“A-a-aku Istrinya? Shin bilang bahwa aku istrinya?”gumam Hua yang kesenangan.
“Kau ini ya pria miskin, tidak pantas dengan kecantikan ini. Berikan dia padaku akan kubayar kau. Tidak apa apa jika dia sudah pernah melakukan itu, malah aku senang berarti dia berpengalaman.”ucapnya yang terus mendesak Shin.
“Sudah kubilang dia istriku, kita suami istri. Kau ini mau merebut istri orang hah?” ucap Shin ketus.
“Iya aku akan merebutnya, aku sungguh tertarik. Apalagi bentuk tubuhnya yang bagus, wajahnya yang cantik, dia pasti jago dalam ranjang nantinya.” Ucapnya sambil melihat ke arah Hua dan membayangkan hal hal mesum.
Shin yang melihat itu segera menarik bajunya dan berkata.
“Lebih baik kau langkahi mayatku dulu sebelum berpikiran mesum.” Ucapnya mengancam
“Haha kau ini terlalu lemah, jangan so jago mentang mentang didepan wanitamu.”
“Kau ini hanya bbisa mengancam, berbeda denganku.” Lanjutnya Lin Feng dan segera meninju muka Shin. Shin yang wajahnya ditinju langsung menatap tajam Lin Feng, berbeda dengan Hua yang menutup mulutnya karena terkejut dan khawatir dengan Shin.
“Haha baiklah kau yang mulai. Kau jual aku beli.”ucap Shin dan langsung melayangkan tinjunya ke arah Lin Feng yang membuatnya langsung terhempas dan terjatuh ke arah pengikutnya.
Lin Feng tidak menyangka kekuatan Shin sangat kuat. Dia lalu berdiri dan berkata:
“Kau kuat ternyata, tapi sayang kau hanya sendirian. Aku punya banyak orang disini yang bisa membantuku memukulimu.”
“Tak masalah, suruh mereka maju semuanya.”balas Shin dengan datarnya.
Lin Feng yang melihat kesombongan Shin pun geram dan menyuruh pengikutnya untuk menyerang. Keramaian dirumah makan ini menarik banyak perhatian oraang orang diluar dan mereka pun melihat kejadian ini. Sorak sorai saat Shin berkelahi pun terus terdengar. Shin hanya fokus dengan pertarungannya.
Untuk para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur, mohon berikan sarannya dikolom komentar dan jika suka dengan cerita tolong di like, vote dan tekan tombol favorit supaya ketika saya update kalian tidak ketinggalan.
Saya meminta sarannya dikomen supaya saya bisa mengoreksi karya saya. Saya meminta like dan vote supaya saya tambah semangat dalam melanjutkan ceritanya.
Saya tidak bermaksud memaksa, hanya saja saya masih pemula yang masih memerlukan dukungan penuh kalian dalam memperbaiki diri.
Semoga para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur ini menikmati karya saya.
Maaf bila banyak kesalahan, nanti akan saya betulkan supaya enak dibaca lagi. Terima kasih juga buat kalian yang sudah mendukung karya saya.
Salam hormat.
-cain-