The Soldier's Eyes

The Soldier's Eyes
Strategi Shin



Chapter 38


Sinar mentari di pagi hari menyorot ke dalam setiap tenda dari arah timur, membangunkan umat manusia yang terlelap dalam mimpi indahnya. Mereka adalah para prajurit perang, mereka membakar semangatnya dengan menikmati hangatnya mentari pagi.


Hanya dalam hitungan detik para prajurit sudah berbaris rapi dengan kelompoknya, mereka berdiri di atas tanah kosong sembari memegangi senjata mereka. Kenikmatan indahnya malam hari yang mereka rasakaan dan hangatnya sinar matahari pagi menjadikan mereka ingin sekali lagi merasakan hal itu sampai membuat mereka menjadi pasukan yang tak takut pada lawannya.


Shin yang sudah memakai zirah lengkapnya, keluar dari tenda untuk menyapa para pasukannya. Para Jendral yang lain sudah menunggu di depan medan perang. Shin yang sedang berjalan menghampiri pasukannya dikagetkan dengan kedatangan pasukan baru dari arah belakang.


Ia langsung menghentikan langkahnya untuk menunggu siapa yang mengantarkan pasukan baru itu ke medan perang. Tak butuh waktu lama, kini atasan itu sudah ada didepan Shin dengan menunggangi kudanya. Atasan itu menjelaskan kedatangannya dengan pasukan baru, ia juga memberi tahu bahwa dirinya akan tetap disini dan memantau peperangan.


“Jendral Shin, bagaimana keadaan perang?” tanya nya.


“Semuanya sesuai seperti yang kuperhitungkan dan rencanakan bersama Jendral lainnya. Hari ini kita berniat mengakhirinya, walaupun tidak berakhir hari ini, ini akan menjadi peperangan besar yang dimana akan merugikan kedua belah pihak.” Jelas Shin.


Atasan yang mendengar itu pun senang karena para Jendralnya tidak membuang buang waktu dalam peperangan melawan kerajaan Yan. Tapi yang ia khawatirkan adalah apakah pasukannya akan menang atau tidak, apakah kerugiannya akan besar atau tidak. Ia mengkhawatirkan itu karena dia harus memberikan laporan pada kamp militer.


“Apakah pihak kita akan menerima kerugian yang besar?” tanya atasan itu memastikan.


“Saya tidak tau, jika rencanaku dan para Jendral lainnya berhasil, mungkin kerugian akan lebih sedikit. Sejauh ini, Jendral musuh belum turun langsung, mereka hanya memantau peperangan. Inilah yang menjadikan saya khawatir sampai membuat Jendral lainnya.” Jelas Shin.


Shin menjelaskan semua kekhawatirannya pada atasan itu tentang kedua Jendral musuh yang sudah seminggu lebih hanya bertahan dan belum mengambil tindakan apapun.


“Aku mendengar informasi bahwa pasukan bantuan musuh juga sudah datang.” Jelas atasan itu memberi tahu Shin bahwa pasukan musuh juga menerima bantuan.


Shin yang mendengar itu menjadi semakin kepikiran, pasalnya kekuatan mereka kemarin sudah seimbang. Walaupun kini pasukannya mendapatkan pasukan baru tapi mereka adalah prajurit yang baru diangkat berbeda dengan pihak musuh yang merupakan seorang prajurit dari dulu.


“Baiklah, tunggu sebentar. Saya akan memanggil Jendral lainnya terlebih dulu untuk memastikan rencana yang akan kita lakukan hari ini.” Ucap Shin.


Atasan itu hanya mengangguk dan menunggu Shin yang kini tengah melangkah ke arah Jendral lainnya untuk memberi tahu informasi.


.


.


Shin dan para Jendral lainnya kini tengah berkumpul bersama atasan itu untuk membahas informasi yang baru didapat dan rencana yang akan mereka jalankan. Mereka fokus sekali dalam membahas itu karena jika mereka tidak detail dan tidak teliti dalam merencanakannya mereka akan menerima nasib buruk yang akan langsung berdampak pada kerajaan.


Disisi lain, didalam ibu kota kerajaan Yan. Pasukan bantuan yang dipimpin oleh para kapten sedang memberi laporan pada kedua Jendralnya, para kapten memberi tahu bahwa pasukan kerajaan Ming juga menerima pasukan baru untuk peperangan kali ini. Kedua Jendral itu tidak begitu tertarik mendengar informasi itu, yang membuatku mereka tertarik hanya 1 yaitu Shin.


Tak memperpanjang hal itu, Kedua Jendral itu memberi perintah pada kapten itu untuk segera bergabung dengan pasukan lainnya yang sudah berada di depan benteng. Para kapten itu segera pergi untuk melaksanakann perintah Jendralnya.


“Sepertinya hari ini akan menjadi sangat menarik!” ucap Lu Ye yang tersenyum sembari memandang Ren Pa.


Ren Pa yan sadar akan ucapan Lu Ye hanya tersenyum dan langsung tertawa. Ia langsung segera meninggalkan Lu Ye dan menuju ke atas benteng. Lu Ye pun langsung mengikuti Ren Pa yang pergi menuju atas benteng.


.


.


Hanya sedikit dari pasukan baru yang bergabung dengan pasukan Shin. Shin tidak mempermasalahkan hal itu, justru ia berharap bahwa tidak ada yang bergabung dengan pasukannya karena ia tidak ingin pasukan baru yang belum terlatih menghambat pasukannya.


“Apakah kau tidak akan menyesal memilih Jendral muda ini untuk memimpin kita?” ucap pasukan baru.


“Tak tau lah, aku tidak keburu untuk memilih Jendral lain.”


Para pasukan Shin yang sudah lama bergabung dengannya mendengar obrolan pasukan baru itu, ia hanya tersenyum lalu menghampirinya.


“Kalian telah memilih pasukan yang benar. Jendral Shin sangat hebat, kuyakin kau tidak akan kecewa. Hanya saja kau harus mengikuti perintahnya dengan baik supaya kau tetap hidup!” jelas pasukan Shin yang sudah lama bergabung. Ia tidak ingin pasukan baru itu merusak moral dan semangat pasukan lainnya yang sudah bergabung.


Kini pasukan yang mengobrol tadi saling menatap aneh kepada orang yang memberitahu sebuah fakta pada mereka. Pasalnya mereka hanya mendengar kehebatan Jendral Shin yang masih muda dan belum tau tentang kebenaran kehebatannya.


Balik lagi kepada Shin yang kini tengah berada di tengah tengah pasukannya yang besar. Shin masih memandang ke arah depan, dimana pihak lawan berada. Tak lama, ia mengalihkan pandangannya ke arah para Jendral lainnya. Ia memberikan sebuah isyarat untuk segera melakukan penyerangan.


Para Jendral lainnya yang mengerti isyarat Shin langsung memerintahkan pasukannya untuk segera menyerang. Shin memberi tahu pada Jendral lainnya untuk melakukan serangan yang terbagi bagi agar tidak menimbulkan kerumunan yang akan menguntungkan pihak lawan.


Ia ingin setiap Jendral mengerahkan pasukan biasanya untuk menyerang sesuai lintasannya dan di lintasan itu, Shin ingin pasukan biasa itu terbagi lagi menjadi 2 kelompok agar memberikan tekanan pada musuh yang akan membuat mereka berpikir bahwa pasukan yang menyerangnya sangat banyak.


Para Jendral yang sudah mengetahui rencana yang dijelaskan Shin tadi langsung memberikan perintah pada kaptennya untuk memimpin pasukan penyerang biasa yang dibagi 2 kelompok. Ia memberikan perintah agar kaptennya tidak perlu memperdulikan lintasan lain dan fokus saja pada lintasannya dan menerobosnya.


Kapten kapten itu mengerti perintah Jendralnya dan segera kembali kepada pasukannya untuk segera menjalankan perintah Jendralnya. Kini mereka sudah maju menyerang sesuai lintasan dan terbagi menjadi 2 kelompok. Shin yang melihat itu tersenyum karena mereka mengerti penjelasannya.