
Chapter 37
Setelah selesai penyerangan dari pasukan kavaleri yang dipimpin oleh tiga kapten milik Shin, medan perang menjadi hening, hanya ada suara angin yang berhembus dengan kencang menyapu debu di tanah lapang yang kosong itu tapi tidak sampai menghilangkan noda darah yang menempel pada tanahnya.
Kini kedua belah pihak saling memperhatikan, apalagi para Jendralnya. Shin yang termasuk ke dalam jajaran para Jendral menatap tajam ke arah pihak lawannya, ia juga sesekali memperhatikan gerak gerik dari ke 2 Jendral musuh itu, apalagi Jendral Lu Ye. Ia sangat mengkhawatirkan keberadaan Jendral Lu Ye yang tidak membalas penyerangan tadi.
…
.
.
Disisi lain, diperjalanan prajurit baru yang telah direkrut, mereka sedang di pimpin oleh seseorang dari pihak kamp militer pusat. Pihak kamp milter pusat mengirim 1 atasan untuk memantau langsung situasi perang yang terjadi supaya mereka bisa mempercayai keakuratan informasi walaupun pembawa pesan juga selalu memberikan informasi yang akurat.
Mereka hanya ingin nantinya ada sebuah cerita yang bisa mereka dengarkan tentang apa yang terjadi di medan perang dan bukan hanya informasi singkat saja. Itu merupakan hal wajar, dimana para atasan selalu disibukkan dan kurang mempunyai waktu kosong.
…
.
.
Disisi lain juga ada beberapa ribu prajurit yang sedang menuju ke ibu kota kerajaan Yan. Mereka merupakan pasukan bantuan yang berasal dari kota kota yang tidak mendapatkan serangan dari kerajaan Ming.
Mereka langsung bergegas ketika mendapatkan informasi bahwa ibu kotanya dalam bahaya. Mereka tidak dipimpin oleh seorang Jendral, mereka hanya di pimpin oleh seorang kapten biasa yang mempunyai nilai lebih dari kerajaan Yan makanya mereka diberi suatu wilayah.
Mereka merupakan pasukan yang kuat dan hebat hanya saja tidak mempunyai pemimpin yang berpangkat Jendral. Tapi itu tidak menjadi suatu kelemahan bagi mereka mengingat mereka hanyalah prajurit yang siap menerima perintah.
…
.
.
.
Keadaan di medan perang masih hening, matahari yang awalnya berada di tengah tengah kini sudah mulai bergerak dan menuju ke arah barat juga mulai sedikit sedikit tenggelam yang menandakan sore hari akan berakhir. Matahari yang tenggelam dengan indah itu seperti mengucapkan ‘sampai jumpa besok’ dan tak lama setelah matahari tenggelam kini muncul bulatan indah yang tak kalah indah dan terangnya dari matahari, bulatan putih yang indah itu muncul seperti mengucapkan ‘selamat datang di malam hari’.
Keindahan dan terang nya sinar bulan menerangi malam hari yang gelap menemani heningnya medan perang. Para pasukan kini yang sedang beristirahat pun menengadahkan pandangannya ke arah atas berniat menikmati keindahan bulan.
Para pasukan yang sedang menikmati indahnya bulan tak henti hentinya berpikiran dan bergumam dalam hatinya bahwa mereka sangat senang menikmati indahnya bulan malam ini, entahlah mungkin besok aku sudah tidak bisa menikmati keindahanmu lagi. Itulah yang mereka pikirkan dan gumamkan dalam hatinya.
Para pasukan itu tidak tahu apakah besok malam mereka masih bisa menikmati indahnya bulan lagi atau tidak. Mereka tidak tau kapan mereka mati dimedan perang, setidaknya mereka ingin sekali saja menikmati hidupnya yang terakhir sebelum kematian menjemput.
Aktivitas para pasukan malam hari itu rata rata melakukan hal yang sama. Mereka tidak tau kenapa mereka melakukan itu, hanya saja mereka merasakan bahwa esok akan menjadi peperangan yang sangat berat bagi mereka.
Shin yang sedang berada dalam tendanya dan mengetuk ngetuk jari nya ke bagian kepala pun di datangi oleh ke dua adiknya. Adiknya menanyakan kapan kakaknya akan melakukan penyerangan total dan mengakhiri peperangan.
Jika hal itu terjadi makan mengakusisi kerajaan Yan menjadi milik kerajaan Ming akan menjadi mudah. Shin menjelaskan dan mengungkapkan apa yang dipikirkannya saat ini pada ke dua adiknya. Ia juga meminta kedua adiknya untuk menjaga istrinya jika dirinya mati dimedan perang.
Shin mengatakan semuanya karena ia merasakan firasat buruk untuk peperangan esok hari. Ia awalnya tak mau menitipkan pesan pada kedua adiknya, namun firasat buruk itu terasa menghantui perasaan dan pikirannya.
Kedua adiknya Shin hanya bisa mengiya iyakan ucapan Shin, mereka berdua merasa bahwa kakaknya terlalu banyak pikiran dan beban makanya menjadi begini.
“Kakak, jangan terlalu dipikirkan! Kami akan membantu kakak mau itu sulit atau muda.” Ucap Duan yang di respon dengan anggukan dari Huang.
Kedua adiknya itu merasa bahwa Shin adalah sosok penting bagi hidup mereka. Bagaimana tidak, Shin menyelamatkan mereka dari jurang kemiskinan dan kelaparan. Sekarang mereka bisa hidup dengan layak tapi jika ada tugas dan perintah kematianlah yang membayangi mereka. Tapi bagi mereka itu bukan masalah, pasalnya mereka juga harus membalas budi pada kakaknya yang sudah menolong mereka.
Yang mereka khawatirkan sekarang adalah keadaan kakaknya yang murung dan tidak bersemangat. Mereka ingin sekali ingin menghibur kakaknya hanya saja takut malah semakin memperburuk keadaan kakaknya.
“Kakak, ingat kakak ipar dirumah dan calon anakmu!” ucap Huang yang spontan karena merasa kakaknya semakin parah termenung dalam beratnya beban dan banyaknya pikiran.
“I-iya aku tau.” Ucap Shin dengan singkat dan dengan nada datar.
Shin yang mendengar ucapan adiknya Huang itu langsung memikirkan keadaan Hua dan kandungannya. Pasalnya dia sudah seminggu lebih tidak melihat wajahnya yang cantik, tidak menemaninya tidur dimalam hari, tidak menemaninya menyesap teh ditaman ketika siang hari dan menemaninya mengobrol.
Kini Shin terlarut memikirkan keadaan istrinya dan calon anaknya. Seketika, Shin berdiri dan mengagetkan kedua adiknya.
“Kakak kenapa? Apakah aku mengucapkan kalimat yang salah?” Tanya Huang takut kakaknya marah.
Shin langsung memandangi wajah kedua adiknya dan tersenyum lalu menepuk ke dua pundak adiknya menandakan bahwa sekarang ia sudah baik baik saja dan tidak perlu khawatir.
Kedua adiknya yang melihat senyuman di wajah kakaknya merasa lega karena sekarang kakaknya sudah kembali bersemangat dan tidak terlarut dalam pikirannya.
“Terima kasih sudah membantuku tenang.” Ucap Shin.
“Besok jangan mati, dan berperanglah dengan baik dan teliti!” lanjut Shin mengingatkan kedua adiknya dan memberikan semangat.
“Baik kakak.” Balas keduanya dengan penuh senyuman diwajahnya.
Shin yang melihat itu pun semakin senang karena adiknya selalu ada untuknya, bahkan mendukungnya saat dirinya susah. Ia tak merasakan dan melewati hal ini dikehidupan sebelumnya.
Ia pun akhirnya menyuruh ke dua adiknya untuk kembali ke tenda dan beristirahat karena esok akan menjadi penyerangan yang hebat dan peperangan hebat. Ia juga melakukan itu agar kedua adiknya dalam posisi dan stamina yang cukup dan tidak drop.
Setelah menerima perintah dari kakaknya, keduanya pun keluar dan segera kembali ketenda nya masing masing. Di dalam, Shin juga segera merebahkan badannya karena merasa badannya berat sekali.
**Jangan lupa komen dan like nya ya:)
1 hari update 3 chapter.
Pengen banyak? bisa, banyakin dulu komen dan likenya. fufufu**:)