The Soldier's Eyes

The Soldier's Eyes
Kunjungan ibu dan ayah



Chapter 28


Matahari terbit dari timur menandakan bahwa hari sudah mulai pagi. Orang orang yang berada di kediaman Shin mereka sudah bangun. Shin dan kedua adik laki lakinya kini tengah berlatih dihalaman belakang untuk memperkuat tubuh mereka. Kedua adiknya memiliki tugas ketika pelatihannya sudah selesai yaitu memantau para pasukannya untuk berlatih dan meningkatkan kualitas tubuh dan stamina mereka.


Shin hanya menganjurkan pelatihan fisik saja, dia belum memberikan pelatihan pernafasan karena itu akan berbahaya untuk keseimbangan kerajaan jika pasukan Shin lebih kuat dari pasukan lain. Hanya orang orang terpercaya Shin saja yang diberi latihan pernafasan.


Shin juga berencana membuat pasukan elitenya ketika dia berhasil menembus tingkatan selanjutnya dari teknik pernafasannya dan akan membuatkan teknik pernafasan buatannya sendiri yang dimana akan digunakan untuk pasukan elitenya.


Ketika pelatihan sudah selesai, Shin langsung masuk untuk sarapan ditemani oleh kedua adik lakilakinya. Di meja makan sekarang sudah bertambah 1 orang yang tidak lain adalah adik perempuan Shin, Yue. Mereka menyantap makanan bersama bertujuan menjalin hubungan yang lebih dalam.


Selesai sarapan, Shin menemani istrinya untuk mengobrol walaupun tidak ada pembahasan yang begitu penting. Shin dan istrinya berada di taman belakang tempat dimana Shin berlatih tadi, disana terdapat kursi dan meja. Mereka berdua duduk sambil mengobrolkan apa yang mereka ingin obrolkan. Yue yang sedang bermain ditaman belakang terlihat bahagia karena dia seperti mendapatkan kehidupannya kembali. Shin senang akan hal itu, karena dia tidak ingin orang orang disekitarnya merasakan apa yang ia rasakan dikehidupannya dulu.


Aktivitas Shin dan kedua adik laki lakinya sangat berbeda, Shin keenakan dia hanya menyuruhh nyuruh adiknya untuk memantau dan melakukan tugas yang harusnya dia lakukan sendiri.


Siang harinya, Shin pergi melihat proses pembangunan rumah yang dia bangun. Dia tidak ada kegiatan apapun maka dari itu dia menyibukkan diri dengan memantaunya.


Kadang kadang dia juga pergi ketempat pelelangan yang diadakan setiap hari walaupun tidak ramai. Ramainya hanya hari minggu saja karena banyak orang dari luar kota yang ingin melihat bagaimana proses pelelangan dan barang apa yang dilelang.


3 minggu kemudian


Shin sudah menerima surat dari kediaman Fei, bahwa ayah dan ibunya akan berkunjung untuk melihat putrinya dan ingin melihat situasi kota yang dipimpin Shin. Hua senang karena orang tuanya akan datang berkunjung. Dia juga ingin segera cepat cepat melahirkan karena dia sudah tidak sabar menimang bayinya.


Ketika Shin dan Hua sedang menyesap teh di taman belakang, dia menerima laporan bahwa orang tuanya sudah ada di gerbang kota. Shin pun mengajak Hua untuk menyambutnya didepan pintu.


Tak butuh waktu lama bagi orang tuanya sampai karena mereka di tuntun oleh pihak keamanan kota karena diberi perintah oleh Shin jika orang tuanya datang tolong tunjukan rumahnya.


“Selamat datang ayah ibu.” Ucap mereka berdua.


“Haha sungguh kota yang bagus, aku tidak menyangka kau bisa merubahnya sampai begini.”


“Hahaiya ayah, mari masuk dulu.”


Yue yang mendengar bahwa kedua orang tua kakaknya akan datang pun sudah bersiap dengan pakaian yang rapi ditemani oleh Huang dan Duan. Shin dan ketiganya masuk kedalam, dimana mereka sudah disambut oleh Huang, Duan dan Yue yang masih berdiri di ruangan utama.


“Aduhh ini siapa si cantik kecil ini?” ucap ibunya.


“Dia adikku ibu, aku menolongnya dan membawanya.”


“Haha kamu ini kebiasaan.”


“Iya ibu. Jika nanti aku ceritakan tentang bagaimana Yue hidup, ibu takkan kuat menahan tangis.”


“Haha menarik, coba ceritakan!”


“Baiklah, mari duduk dulu nanti kuceritakan.”


Mereka semua duduk dan Shin menceritakan tentang bagaimana Yue hidup sebelumnya, Shin baru saja bercerita, ibunya sudah mengeluarkan air mata. Ibunya langsung memanggil Yue untuk duduk dipangkuannya dan memeluknya. Yue merasa senang karena dia kini mempunyai keluarga. Mereka pun bercerita dan mengobrol ngobrol.


“Ohiya ayah, bagaimana hasil laporan dari pensiunnanmu itu?”


“Sudah selesai, kini aku sudah tidak menjadi Jendral.”


“Terus bagaimana dengan pasukanmu? Kan nanti akan ada penyerangan 1 minggu lagi?”


“Aku meminta pihak militer untuk memberikan setengah pasukanku untuk bergabung dengan pasukanmu. Kira kira berjumlah 20 ribuan lah.”


Shin yang mendengar itu kaget karena dia saja sekarang sudah memimpin pasukan dengan jumlah 25 ribu kini ditambah dari ayahnya 20 ribu. Dia menghitung menggunakan tangannya berpura pura berhitung.


“Jadi aku akan memimpin 45 ribu pasukan?” dengan wajah kaget.


“Tapi ayah akan sampai kapan tinggal disini?”


“Aku berencana menyiapkan kepindahan ku kesini bersama dengan anggota keluarga yang lain. Mereka juga setuju.”


“Tapi ayah, rumahnya masih kecil dan pembangunannya belum selesai.”


“Aku tau.”


“Kalau bisa bolehkah ayah dan ibu tinggal disini dulu ketika aku pergi bertugas?”


“Tentuu, aku mengerti apa yang kamu pikirkan.”


“Iya ayah, soalnya aku akan membawa Huang dan Duan.”


“Baiklah nanti biar istrimu dan Yue diurus oleh ibumu.”


“Biarkan mereka saling akrab.”


“Baik terima kasih ayah.”


“Apakah kau masih ada yang ingin ditanyakan lagi?”


“Sekarang belum ada ayah nanti saja.”


“Baiklah.”


Mereka pun melanjutkan obrolannya dan berjalan jalan disekitaran rumah. Mereka masuk kerumah ketika makan malam sudah disiapkan oleh para pelayan.


Di ruang makan, mereka kini tengah menyantap makan malamnya. Mereka makan dengan lahap karena lelah sehabis berjalan jalan disekitaran rumah. Mereka melanjutkan mengobrol walaupun bahasan mereka sudah habis tapi ada saja bahasan yang muncul secara spontan yang membuat obrolan itu tidak berhenti. Obrolan itu berhenti ketika Yue tertidur dimeja makan.


Mereka akhirnya bubar dan memilih untuk


menghentikan aktivitas dengan tertidur. Para pelayan mengantarkan kedua Tuan dan Nyonya besar kekamar yang ukurannya besar seperti ukuran kamar Shin dan Hua. Ibu asalnya memilih untuk tidur dikamar Yue karena kasian gadis kecil tidur sendirian tapi karena permintaan yang Shin minta untuk membuat


Yue mandiri tentu saja permintaannya diterima oleh ibunya.


Kini mereka semua sudah memasuki kamarnya masing masing. Shin dan Hua juga menghentikan aktivitasnya dan segera pergi ke alam mimpi mereka masing masing. Hua yang tertidur sembari memeluk Shin adalah kebiasaan dia ketika tidur. Shin senang karena istrinya selalu memeluknya hanya saja sekarang mereka terhalang oleh perut nya Hua yang sudah lumayan membesar.


1 minggu kemudian


Hari dimana peperangan akan terjadi, Shin bangun sangat pagi karena harus latihan terlebih dahulu dan menyiapkan barang barangnya. Dia seperti biasa ditemani kedua adiknya, kedua adiknya juga sekarang sudah mempunyai senjata yang bagus karena mereka memesan dari penempa yang sama dengan Shin walaupun bahannya berbeda.


Diruang makan mereka bertiga sudah ditunggu oleh anggota keluarga lainnya untuk sarapan, mereka bangun lebih pagi agar bisa sarapan bersama.


**Untuk para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur, mohon berikan sarannya dikolom komentar dan jika suka dengan cerita tolong di like, vote dan tekan tombol favorit supaya ketika saya update kalian tidak ketinggalan.


Saya meminta sarannya dikomen supaya saya bisa mengoreksi karya saya. Saya meminta like dan vote supaya saya tambah semangat dalam melanjutkan ceritanya.


Saya tidak bermaksud memaksa, hanya saja saya masih pemula yang masih memerlukan dukungan penuh kalian dalam memperbaiki diri.


Semoga para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur ini menikmati karya saya.


Maaf bila banyak kesalahan, nanti akan saya betulkan supaya enak dibaca lagi. Terima kasih juga buat kalian yang sudah mendukung karya saya.


Salam hormat.


-cain**-