The Soldier's Eyes

The Soldier's Eyes
Peperangan besar



Chapter 33


Sesampainya di gerbang kota, Huang telah menunggu kedatangan Shin. Huang langsung masuk ke barisan lagi karena tau mereka akan berangkat. Shin yang melihat Huang sudah masuk dalam barisan langsung maju diikuti para pasukannya.


Pasukannya berbaris rapi. Shin kehilangan 15 ribu pasukan selama peperangan 3 hari ini. Dia merasa masih kurang dalam memimpin karena banyak pasukannya yang mati. Diperjalanan Shin hanya bisa melamun memikirkan kekurangannya.


Dalam peperangan, strategi adalah hal penting. Apalagi untuk seseorang dengan pangkat Jendral, mereka harus memikirkannya dengan matang karena mempunyai tanggung jawab yang sangat besar. Beda cerita jika Jendralnya merupakan tipe insting yang langsung memburu dengan semua pasukannya. Rata rata Jendral seperti ini mempunyai kekuatan yang sedikit lebih besar dari pada Jendral yang menggunakan strategi.


Shin merupakan tipe strategi tapi dia juga memperkuat kekuatannya agar tidak kewalahan ketika bertarung melawan Jendral tipe insting yang mempunyai kekuatan sedikit lebih besar darinya.


Diperjalanan, Shin dan pasukannya melaju dengan perlahan sembari mengisi lagi tenaga dan staminanya yang terkuras. Ia juga tidak mau menjadi satu satunya orang yang sampai duluan ke ibu kota.



Di ibu kota kerajaan Yan, para pembawa pesan sudah melaporkan semua kejadian yang terjadi di berbagai kota yang sudah selesai diserang dan kini tengah dalam perjalanan menuju ibu kota.


Para atasan di kerajaan Yan memutuskan untuk menunggu para pasukan musuhnya di luar gerbang. Mereka mengkhawatirkan warga yang berada dalam benteng. Mereka berniat menahan musuhnya di luar dilapangan yang luas.


Kini para pasukan kerajaan Yan berlarian buru buru menuju luar gerbang untuk bersiap menunggu kedatangan musuhnya. Para atasan juga menyuruh warganya untuk meninggalkan ibu kota, tetapi mereka memaksa para lelaki mau itu anak anak atau orang tua untuk tetap berada di dalam kota. Para atasan memikirkan segala kemungkinan yang ada.


Pasukan musuh hanya membutuhkan waktu untuk bersiap. Banyaknya pasukan membuat mereka sedikit lambat untuk bersiap karena pintu gerbangnya yang tidak bisa langsung dimasuki ribuan orang.


45 menit kemudian,


Para pasukan musuh kini sudah bersiap di lapangan yang kosong dengan jumlah 200 ribu pasukan termasuk dengan pasukan yang berada di atas benteng. Jendral kerajaan Yan hanya memiliki 2 Jendral lagi, 3 Jendral lainnya dibunuh oleh Shin semua.


Kini masing masing Jendral harus memimpin 100 ribu pasukan, yang dimana merupakan itu tanggung jawab yang besar.


Warna langit mulai menguning, matahari mulai terbenam yang menandakan bahwa sore akan berakhir dan memasuki malam. Pasukan Shin dan Jendral lainnya belum datang. Pasukan kerajaan Yan yang melihat situasi sekarang merasa sangat kecewa karena lamanya kedatangan pasukan musuh.



Diperjalanan Shin dan pasukannya sudah sampai, hanya saja Shin memilih tidak muncul.


Untung saja jalan yang di tempuh Shin terdapat banyak pepohonan yang besar dan tinggi jadi mereka bisa bersembunyi. Shin juga memerintahkan pasukannya untuk berisitirahat karena peperangannya akan di laksanakan esok hari.


Para Jendral lain yang tidak tau bahwa Shin dan pasukannya sudah datang langsung masuk ke lapangan kosong itu. Mereka kini sudah berhadapan dengan pasukan musuh.


Para Jendral yang lain memerintahkan pasukannya untuk memasang tenda agar bisa istirahat.


Larut malam, kira kira pukul 11 malam. Shin ditemani kedua adiknya menuju tenda Jendral.


Dia berniat untuk mendiskusikan rencana yang akan dilakukan besok. Setibanya di dekat tenda, para pasukan kaget dengan kedatangan Shin dari belakang, mereka mengira itu musuh yang berniat membunuh secara diam diam.


Shin menjelaskan pada pasukan penjaga itu bahwa dirinya hanya ingin mendiskusikan rencana saja. Diskusi rencana merupakan hal yang wajar ketika peperangan terjadi apalagi melibatkan banyaknya pemimpin tertinggi dilapangan.


Itu dilakukan bertujuan agar semuanya berjalan lancar. Kadang ada Jendral yang ingin menunjukan kehebatannya dan pasukannya mereka biasanya memilih untuk menyerang di awal.


Dari 4 Jendral lainnya, mereka sekarang hanya mempunyai pasukan berjumlah 40 ribu masing masing. Shin yang mendengar itu masih merasa lega karena jumlah yang cukup banyak.


190 ribu pasukan kerajaan Ming akan melawan 200 ribu pasukan kerajaan Yan. Jumlah yang terbilang normal untuk kedua pasukan bila termasuk perang besar. Biasanya untuk kerajaan yang besar dan sangat berkuasa mereka akan menurunkan semua pasukannya yang kira kira berjumlah 500 ribu pasukan lebih.


Di dalam tenda, Shin sudah mulai berdiskusi dengan 4 Jendral lainnya. Mereka juga memutuskan siapa yang akan memberikan serangan pembuka. Disini Shin tidak ingin banyak bertindak, Shin ingin menilai kemampuan lawan terlebih dulu. Ia memutuskan untuk Jendral lain saja yang bertindak sebagai pembuka.


Banyaknya rencana dalam diskusi itu membuat mereka lupa bahwa waktu sudah dini hari.


Mereka tidak bisa beristirahat cukup. Tapi karena Jendral yang berada di dalam tenda merupakan para orang tua, mereka juga tidak khawatir karena pasukannya yang akan terjun dilapangan, mereka hanya memberikan perintah dan mengatur.


Shin yang keluar dari tenda melihat kedua adiknya masih setia menunggu.


“Mari kembali!” ucap Shin mengajak kedua adiknya kembali ketenda. Shin kasian pada kedua adiknya. Tak membutuhkan waktu lama bagi Shin untuk sampai di tenda milik pasukannya. Ia melihat para pasukannya yang tertidur nyenyak karena kelelahan.


“Beristirahatlah dengan santai!” ucap Shin pelan.


Ia kemudian masuk ketenda miliknya sendiri dan berpisah dengan mereka berdua. Shin mulai memejamkan matanya berupaya untuk tidur walaupun hanya sebentar tapi lebih baik.



“Kakak bangun!” ucap Duan yang langsung ke tendanya Shin karena dirinya sudah berteriak dari tadi tapi tidak ada jawaban.


“Kakk!!” teriaknya di dekat telinga Shin. Shin yang mendengar itu langsung terbangun dan berdiri. Duan menjelaskan kepada kakaknya bahwa dirinya tidak bangun walaupun sudah dipanggil dari tadi. Shin kelelahan karena peperangan yang panjang. Ia juga tidak tau kapan ini selesainya.


Shin yang sudah memakai kembali zirahnya pun keluar dari tendanya dan disambut pasukannya yang sudah rapi. Ia menunjukan telunjuknya ke arah depan yang mengartikan maju kedepan. Para pasukan yang mengerti pun langsung maju kedepan dengan rapinya.


Kebanyakan pasukan depan adalah prajurit yang tidak memakai kuda. Mereka merupakan pasukan yang membawa senjata dan tameng.


Untuk dilapisan keduanya berada pasukan kavaleri yang didukung dari belakang oleh pasukan pemanah.


Pasukan pasukan itu terdiri dari 5 barisan besar yang dipimpin oleh kaptennya masing masing. Shin kehilangan 3 kaptennya dipeperangan sebelumnya. Kapten tersebut merupakan seorang kapten yang memimpin barisan depan. Tapi melihat masih adanya beberapa kapten, Ia tidak putus asa dan masih merasa tenang. Butuh waktu 10 menit untuk


Shin dan pasukannya masuk ka lapangan kosong itu.


****Untuk para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur, mohon berikan sarannya dikolom komentar dan jika suka dengan cerita tolong di like, vote dan tekan tombol favorit supaya ketika saya update kalian tidak ketinggalan.


Saya meminta sarannya dikomen supaya saya bisa mengoreksi karya saya. Saya meminta like dan vote supaya saya tambah semangat dalam melanjutkan ceritanya.


Saya tidak bermaksud memaksa, hanya saja saya masih pemula yang masih memerlukan dukungan penuh kalian dalam memperbaiki diri.


Semoga para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur ini menikmati karya saya.


Maaf bila banyak kesalahan, nanti akan saya betulkan supaya enak dibaca lagi. Terima kasih juga buat kalian yang sudah mendukung karya saya.


Salam hormat.


-cain****-