The Soldier's Eyes

The Soldier's Eyes
Pertarungan melawan Jendral (3)



Chapter 31


Shin yang berada dibawah mendengar kepanikan tersebut dan tersenyum lalu menyuruh pasukan pemanah menembakan panah biasa ke atas benteng tersebut. Ketika ribuan panah melesat ke arah musuh terdengar banyak suara yang merintih kesakitan.


Shin yang mendengar itu menyuruh pasukan utamanya yang kini berada dibelakang untuk menajamkan pendengarannya untuk mendengarkan suara erangan. Para pasukan Shin tidak percaya bahwa apa yang dikatakan Jendralnya benar, mereka mendengar banyak suara erangan dari atas benteng.


“JANGAN BERHENTI TERUS TEMBAK!" Teriak Shin mengalihkan pendengaran musuh supaya tidak sadar dengan pasukan yang sedang mendekat kesana.


Suara erangan terus terdengar, semakin lama semakin banyak karena banyaknya anak panah yang menuju ke arah musuh. Ketika kepulan asap semakin menipis Shin memerintahkan pasukan pemanah untuk berhenti menembak.


“ARGGGH” teriakan dari atas benteng.


Kini diatas benteng sudah banyak pasukan Shin yang sudah berhasil menaiki benteng itu.


Tapi karena kejelian dan kepintaran Jendral musuh. Para pasukan Shin juga berhasil dibersihkan. Shin yang melihat itu terlihat datar dan tidak berkspresi karena sesuai ekspektasinya.


Berhubung peperangan sudah berlanjut lama, Shin menarik pasukannya mundur yang membuat pasukan musuh sedikit lega. Shin juga menarik pasukan berniatan untuk membuat musuhnya lengah. Tapi karena kepintaran Jendral musuh yang mengetahui strategi Shin, para pasukan musuh tetap berada dibenteng terus menjaga. Shin menyuruh beberapa pasukan untuk memantau keadaan benteng. Ketika mengetahui bahwa masih banyak pasukan, Shin memerintahkan pasukannya untuk beristirahat dan bersantai saja.


“Jendral kenapa kita tidak melanjutkan?”


“Rencana harus sukses, kita buat mereka menunggu dan kelelahan.”


“Ohh apakah akan berhasil?”


“Tentu.”


2 hari kemudian


Pasukan musuh yang terus berjaga di atas benteng pun merasa bosan karena tidak adanya serangan. Mereka pun mulai membubarkan diri. Para pemantau yang melihat itu langsung melaporkan hal tersebut kepada Shin. Tapi Shin masih santai dan tidak memberikan perintah apapun. Dia tahu bahwa


Jendral musuh pintar maka itu pasti dari rencananya untuk menyembunyikan pasukannya dibawah benteng.


“Tunggu nanti saja, para Jendral lain juga belum ada tanda tanda akan sampai ibukota.”


Shin terus menunggu sampai 1 hari pun berlalu, ketika 1 hari sudah berlalu Shin yakin bahwa pasukan musuh sudah menarik diri secara total karena tidak adanya penyerangan daalam 3 hari.


“BERGERAK!”


Para pasukan langsung bangkit dan segera berangkat ke arah depan kota. Tak mebutuhkan waktu lama mereka sudah berada didepan benteng kota lagi. Para pasukan musuh yang melihat kehadiran pasukan musuh langsung berteriak lagi:


“PENYERANGAN PENYERANGAN!”


Kekacauan terjadi didalam kota karena baru saja mereka bisa sedikit bernafas lega karena penyerangan berakhir. Tapi sayang itu adalah strategi Shin. Shin berniat menghabisi pasukan musuh hari ini dan merebut kota itu hari ini.


“Baiklah 100 kuda maju dan berikan salam pembuka dengan kepulan asap. Pasukan kavaleri dan pasukan penyerang biasa bersiap untuk maju!”


100 kuda pun melesat maju dengan cepat yang menghasilkan kepulan asap pekat. Shin tidak menyuruh pasukan pemanah untuk menembak.


Ketika pasukan 100 kuda sudah selesai pasukan yang lain segera maju dan memberikan serangan, kini pintu sudah mulai diperbaiki walaupun belum 100 persen. Shin menyuruh pasukannya untuk tetap diam didalam kota dan membunuh prajurit bukan warga.


Ketika peperangan terjadi lagi, Disisi lain Jendral musuh sedang khawatir karena perkiraannya salah. Kini dia buru buru kembali ke depan dan segera membereskannya tapi sayang didalam kota dekat benteng semua pasukan Shin sudah bersiap. Shin juga sudah mulai masuk kedalam kota bersama pasukan utamanya. Shin lalu naik ke atas benteng dan melihat keadaan sekitar.


“Shin yang telah selesai melihat keadaan sekitar langsung menyuruh pasukannya untuk menyerang kekamp musuh supaya cepat selesai.”


Pasukan langsung menyerbu kedalam tengah kota. Shin yang belum melihat Jendral musuh bergerak merasa khawatir.


“Huang Duan, kalian cari dimana keberadaan Jendral musuh. Jika sudah beritau aku.”


“Baik kakak.”


Ditempat lain, dimedan perang para Jendral yang lain. Kini mereka tengah membereskan dan menyelesaikan pertarungan terakhir nya dan segera menuju ibukota.


“Beri tau Jendral Shin, kita sekarang menuju ibukota!”


“Baik Jendral.”


Pengirim pesan langsung menjalankan perintahnya dan segera ketempat Shin.


Huang dan Duan kini sedang mengitari kota itu, para warga masuk kedalam rumah karena takut dibunuh oleh prajurit Shin padahal Shin menyuruh agar pasukannya tidak menyerang warga biasa.


“Baiklah kita selesaikan dengan cepat saja.” Ucapnya.


Shin turun dari benteng dan segera menaiki kudanya dan menuju ke arah kamp militer dimana itu berada ditengah kota. Shin langsung menyuruh pasukannya untuk minggir karena dia ingin segera mengakhiri perang ini dengan membunuh Jendral musuh langsung.


Shin terus menyusuri kota itu dan sekarang dia sudah sampai di depan kamp militer. Benar saja seperti perkiraannya kini banyak pasukan sedang bersiap disana bersama Jendralnya yang sudah menaiki kuda.


“Sungguh rencana yang hebat.” Sapa Jendral musuh.


“Terima kasih.”


“Kau masih muda dan sudah menjadi Jendral.”


“Sebuah kehormatan dan tanggung jawab besar bagi saya menyandang pangkat Jendral.” Balas Shin basa basi dengan sopan.


“Kau akan bertarung habis habisan atau duel denganku?”


“Merupakan kebanggan bagi saya untuk melakukan duel.” Balas Shin.


“Baiklah mari berduel disini?”


“Disini? Sempit disini.”


“Lebih baikkan?”


“Ya memang, tapi aku khawatir nanti kau tidak bisa kabur kaburan Jendral.” Provokasi Shin.


“HAHAHA baru kali ini aku menemukan seorang anak muda dengan pangkat Jendral yang sombong.”


“Itu adalah suatu hal yang wajar.”


“Melihat kau sudah tua, stamina mu pasti buruk bukan?”


“Tenagamu juga sudah melemah.”


“Baiklah jika kau ingin ditempat sempit, tapi jangan menyesal ya?”


Segera semua pasukan berkumpul ditempat yang sempit itu. Shin langsung mengeluarkan pedang dari sarungnya yang sedari tadi tergantung dipinggangnya.


“Baiklah, tolong bersihkan leher anda Jendral.” Provokasi Shin.


“KAUUU-.” Belum selesai berbicara Shin langsung melesat maju dengan kudanya. Kini serangan Shin ditahan, aduan antara pedang membuat percikan percikan kecil. Suara aduan senjata yang terdengar nyaring karena kekuatan yang dikeluarkan dari setiap serangan sangat kuat. Mereka masih saling menyerang dan belum ada yang terhempas.


Triiiiiing.


Tebasan Shin masih ditahan, Shin yang melihat itu tersenyum karena Jendral musuh kuat.


“Kau kuat Jendral, aku salah menilaimu. Baiklah mari serius!” ucap Shin sambil tersenyum.


Shin kembali melesat ke arah musuh. Serangan demi serangan terjadi tidak ada yang berniat bertahan mereka terus saling menyerang. Shin disini hanya mengulur stamina musuh agar cepat habis. Dia tau bahwa musuh nya pintar, walaupun tak sabaran dan emosian tetap saja pintar ya pintar pikir Shin.


Aduan pedang terus terjadi yang membuat semua pasukan baik lawan atau kawan memasang muka melongo karena pertarungan antar Jendral yang memukau.


**Untuk para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur, mohon berikan sarannya dikolom komentar dan jika suka dengan cerita tolong di like, vote dan tekan tombol favorit supaya ketika saya update kalian tidak ketinggalan.


Saya meminta sarannya dikomen supaya saya bisa mengoreksi karya saya. Saya meminta like dan vote supaya saya tambah semangat dalam melanjutkan ceritanya.


Saya tidak bermaksud memaksa, hanya saja saya masih pemula yang masih memerlukan dukungan penuh kalian dalam memperbaiki diri.


Semoga para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur ini menikmati karya saya.


Maaf bila banyak kesalahan, nanti akan saya betulkan supaya enak dibaca lagi. Terima kasih juga buat kalian yang sudah mendukung karya saya.


Salam hormat.


-cain**-