
Chapter 35
1 minggu sudah berlalu semenjak suaminya pergi. Hua sebagai istri dari Shin merasa cemas karena suaminya sedang larut dalam peperangan besar. Meski ayahnya sudah mengingatkan dan mengatakan untuk tidak cemas, namun tetap saja yang namanya suami istri pasti akan ada suatu ikatan yang membuat hatinya terus merasa gelisah.
Dikediamannya, Hua ditemani oleh ibu dan ayahnya juga adik kecilnya dari Shin, Yue. Para pelayan juga ada di rumahnya, namun mereka merasa segan jika ingin membantu mengingatkan nona mereka. Para pelayan hanya bisa bersikap tenang agar tidak menambah beban untuk nona nya yang sedang memikirkan suaminya.
Keadaan kota berjalan lancar karena adanya 4 divisi yang dibangun dan dipimpin oleh Shin. Mereka bekerja dengan sangat baik. Sebelum sebelumnya juga para pembunuh dan pengintai dilatih langsung oleh Shin. Sedangkan untuk para keamanan kota dilatih oleh Huang dan Duan. 2 Divisi lainnya yang tidak bekerja secara fisik namun menggunakan otaknya, mereka tidak dilatih atau dibimbing oleh siapapun, hanya saja jika ada suatu masalah mereka harus melaporkannya terlebih dulu.
Shin menyuruh 2 divisi lainnya untuk tetap fokus dan teliti karena mereka merupakan otak dari kemajuan dan kemakmuran kota. Shin selalu memberikan apresiasi pada setiap divisinya jika mereka bekerja dengan baik.
Kadang juga, Shin mengajak para pemimpin dari setiap divisi untuk makan malam dirumahnya supaya saling mengeratkan hubungan. Walaupun ia sudah melihat karakternya mereka, tetap saja, waspada selalu harus dilakukan. Shin tidak mau dirinya dikhianati lagi.
…
.
.
Di ibukota, tepatnya di kamp militer pusat. Mereka sibuk dengan laporan laporan yang diterima dari pembawa pesan yang rutin bergantian datang, para pembawa pesan itu datang 5 jam sekali untuk melaporkan situasi di medan perang.
Walaupun penyerangan sudah berhasil dilancarkan, tetap saja kemenangan belum tentu bisa diraih. Para atasan memerintah bawahannya untuk menyebarkan informasi bahwa akan ada perekrutan prajurit.
Perekrutan prajurit merupakan hal yang ditunggu tunggu oleh para warga termasuk para pria, ntah itu masih muda berumur 16 tahun atau pria yang sudah tua. Mereka banga menjadi prajurit kerajaan, apalagi jika mereka ditempatkan di pasukan Jendral yang mereka ketahui.
Para warga yang ingin menjadi prajurit itu tidak memikirkan kematian mereka, mereka hanya memikirkan rasa bangga dan yang paling terpenting mereka bisa mengangkat martabat keluarga. Keluarga dari prajurit akan mendapatkan sebuah kredit khusus dari kerajaan walaupun berbeda beda.
Para atasan melakukan perekrutan prajurit guna bersiap untuk hal terburuk bila terjadi hal yang paling tidak mereka inginkan. Para atasan juga memerintahkan bawahannya untuk langsung mengirim prajurit rekrutan yang baru ke medan perang.
Walaupun membutuhkan waktu untuk sampai, apalagi fisik dan stamina mereka yang tidak terlatih tapi ada juga sebagian yang berlatih karena mereka benar benar menunggu momen perekrutan itu. Mereka ingin memberikan suatu kontribusi pada kerajaannya walaupun kecil.
…
.
.
Di lapangan yang coklat kini penuh dengan noda darah dan mayat, para pasukan dari kedua belah pihak sudah menderita banyak korban. Melihat situasi itu, kerajaan Yan juga memanggil prajurit yang tersisa di kota lain yang tidak terkena penyerangan untuk datang ke ibukota. Walaupun jumlah pasukannya sedikit, namun itu merupakan penambahan jumlah yang dimana membuat mereka sedikit untung.
Para Jendral kerajaan Ming termasuk Shin mereka tidak memikirkan penambahan jumlah, mereka hanya memikirkan bagaimana cara tercepat untuk segera menerobos benteng itu.
Mereka merasa peperangan terlalu lama.
Matahari juga sudah mulai terbenam, peperangan hari ke 7 pun usai. Para prajurit memasang wajah cemas karena para Jendral belum mempunyai strategi baru untuk menerobos benteng musuh. Para prajurit dari Jendral lain merasa kesal kepada Jendral Shin, karena sudah 4 hari dirinya dan pasukannya belum bergabung dalam penyerangan hanya memperhatikan saja.
Shin yang sadar akan perubahan suasana itupun diam dan tidak menanggapi apapun, menurutnya momen yang sangat penting harus segera dibangun untuk membalikan moral dan semangat para prajurit yang mulai cemas.
..
.
Malam hari, para Jendral yang lain memutuskan untuk datang berkunjung ke tendanya Shin dan menanyakan kenapa dirinya belum bergabung juga padahal sudah 4 hari. Mereka melakukan itu supaya bisa menjawab pertanyaan prajuritnya yang selalu mendesak mereka. Para Jendral lain juga tidak tahu alaasan Shin melakukan itu.
“Jendral Shin, kenapa kamu belum ikut bergabung juga?” Tanya ketiganya.
Shin yang mendengar itu tidak bisa menjawab dan malah diam seribu bahasa. Ia sedang berpikir keras untuk memikirkan jawaban yang dapat meyakinkan para Jendral lainnya.
Membutuhkan waktu 1 menit untuk Shin berpikir dan akhirnya dia mengungkapkan alasannya.
“Jendral, sebelumnya saya minta maaf. Saya disini yang paling muda tapi malah menyusahkan dan merepotkan kalian yang sudah tua. Aku melakukan ini karena sedang memperhatikan setiap celah dari strategi strategi yang akan ku gunakan nantinya. Aku sebenarnya was was melihat salah satu Jendral musuh yang mengenakan zirah biru dengan tombak panjang itu. Aku bisa saja melaakukan penyerangan besok dan melakukan penerobosan, hanya saja aku takut pasukan kalian tidak dapat mengimbangi kecepatan penerobosan pasukanku, yang mana itu akan sangat berdampak pada pasukan lainnya.” Jelas Shin panjang lebar.
Jendral lainnya melongo mendengar penjelasan Shin yang panjang lebar namun mereka juga mendengarkannya dengan baik. Mereka pun melanjutkan diskusinya lagi, dan membahas bagaimana cara tercepat menerobos.
“Baiklah Jendral, begini saja. Besok kalian simpan tenaga kalian juga pasukan kalian dan jangan menyerang. Kalian istirahat 1 hari, biarkan pasukanku yang menyerang secara sedikit sedikit. Aku juga tidak berniat melakukan penyerangan panjang esok hari melihat pasukanku yang sedikit. Aku hanya akan mengalihkan perhatian mereka saja. Nah untuk hari ke 9 kita akan melakukan penyerangan bersama, aku akan memimpin pasukanku langsung dalam penyerangan nantinya.” Jelas Shin yang membuat wajah para Jendral lainnya memasang senyuman.
Shin memilih melakukan itu karena dirinya merasa bersalah karena sudah mengorbankan 4 Jendral tua. Ia juga merasakan apa yang dirasakan oleh 4 Jendral lainnya. Mereka harus pulang dengan selamat agar keluarganya bahagia dan tidak mengalami duka. Shin merasakan itu sangat, mengingat dirinya yang baru bereinkarnasi, mendapat istri, mempunyai adik, mempunyai keluarga dan akan mempunyai anak.
…
.
.
Keesokan harinya, sesuai diskusi kemarin malam, pasukan dari ke 4 Jendral tidak ikut menyerang. Mereka beristirahat menuruti perintah Jendralnya. Padahal 4 Jendral lainnya juga mengikuti saran dari Shin.
**Jangan lupa tinggalkan komen dan likenya oke?
1 hari update 3 chapter.
pengen banyak ? bisa, hanya saja dukungan komen dan likenya juga harus banyak. fufu**:)