The Soldier's Eyes

The Soldier's Eyes
Pertarungan melawan Jendral (2)



Chapter 21


Shin dan pasukannya menyerbu dari arah pinggir, karena posisi kedatangan Shin yang memang dari pinggir. Pasukan Shin turun dari sebuah bukit kecil dan menyerbunya, itu bagaikan ombak besar yang menyapu tanah.


Pasukan Shin menyerbu pasukan musuh dari pinggir. Pasukan musuh yang tidak mengira akan adanya bantuan dari pihak lawan pun kaget, apalagi pasukannya yang menyerbu dari arah pinggirnya berjummlah besar. Mereka yang ditengah fokus pada pertahanan yang akan diserbu oleh bantuan yang datang, sedangkan pasukan depan mereka fokus menyerang benteng.


Shin dan pasukannya terus merangsek maju ke kumpulan pasukan musuh, tak henti hentinya pasukan Shin terus menyerang. Jendral musuh yang melihat itu menghkhawatirkan pasukannya. Dia meyuruh pasukannya yang ada dibelakang untuk merusak formasi serangan musuh dengan memotongnya, tapi sayang itu tidak terjadi karena kecepatan pasukan Shin yang cepat dan solid membuat mereka tidak mendapatkan ruang untuk memotong.


Pasukan belakang musuh yang berniat memotong malah terkena imbasnya, mereka juga di serang pasukan Shin yang menyerang dengan cepat, tapi karena mereka hanya diberi perintah untuk terus maju dan tidak berhenti walaupun ada gangguan pun hanya menyerang yang mereka lihat saja.


Shin yang didepan tak memperhatikan bagian belakangnya, dia percaya bahwa pasukannya akan menuruti perintahnya. Shin yang sudah maju paling depan pun langsung mengambil ancang ancang untuk menghentakan tebasannya, dia berniat untuk langsung membuat ruang yang cukup luas agar pasukannya bisa berputar balik.


Melihat kekacauan didepan bentengnya, Jendral Huang tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia melihat anaknya membantu dirinya melakukan perlawanan. Tak berhenti disitu, kini Jendral Huang yang melihat adanya harapan pun langsung meminta pasukan pemanah untuk menembak pasukan yang ada dibawahnya. Karena dia tahu bahwa anaknya dan pasukannya akan berputar balik.


Jendral musuh yang berniat memotong pasukan bantuan tidak percaya bahwa dirinya tidak bisa memisahkan pasukan bantuan itu.


Dia pun hanya bisa terdiam melihat pasukannya dari tengah kedepan dibantai habis. Tapi dia tak berhenti disitu, dia meminta pasukan pemanah yang tersisa dibelakangnya untuk menembakkan panahnya kedepan.


Sayang sekali tembakan panah itu walaupun sudah terkena pada musuhnya, musuhnya tak berhenti dan masih melaju yang membuat dia semakin tak percaya bahwa pasukan bantuan itu seperti monster yang tidak memiliki kelemahan.


Kini bagian paling depan sudah terlihat oleh Shin. Shin bisa bernafas lega karena dirinya bisa sampai pada tujuannya yaitu menerobos pasukan musuh, dia lalu menebaskan pedangnya kepada pasukan pasukan yang tersisa didepan dan segera melaju ke arah pintu masuk yang masih ada sebagian pasukan musuh sedang mendobrak pintu.


Pasukan Shin yang paling depan kini mereka sedang memutar arah keluar kiri dan kanan agar pasukan yang ada dibelakang bisa terus merangsek maju dan tidak terhambat oleh adanya perputaran arah dari pasukan depan.


Para kapten yang ada dipasukan Shin, mereka membuat barisan dikiri berada dua kapten dan dikanan berada dua kapten. Mereka mengosongkan bagian tengah, supaya pasukannya yang masih berada dibelakang bisa terus maju dan mengikuti barisan setelah berputar arah.


Shin tidak percaya bahwa pasukannya kini telah berkembang dengan cepat tanpa ada perintah lanjutan mereka bisa membuat barisan yang begitu rapi. Tapi Shin tidak langsung memberikannya pujian, karena dia tahu ketika mereka dipuji mereka akan berleha leha dalam latihannya.


“Jendral?” teriak Shin dari bawah yang sudah membersihkan pasukan musuh yang ada didepan pintu masuk. Jendral yang mendengar itu langsung melihat ke arah bawah.


“Ada apa anakku?”


“Sekarang mau bagaimana?”


“Bertahan atau langsung menyerang pihak musuh yang tersisa?”


Jendral yang mendengar itu langsung mengalihkan pandangannya kedepan ke arah musuh yang masih tersisa. Dia harus mengambil keputusan apakah akan menyerang atau bertahan. Dia berpikir keras karena pasukan yang dimilikinya tersisa sedikit dan juga kelelahan karena bertahan terus menerus dari gempuran musuh.


Shin yang melihat bahwa Jendral tidak bisa mengambil keputusan pun langsung meminta untuk dibukakan gerbang karena dirinya ingin mengobrol langsung. Gerbang dibuka dan Shin langsung masuk dan segera menghampiri Jendral.


“Bagaimana ayah kau sudah putuskan?”


“Aku tidak tau. Pasukanku tersisa sedikit dan mereka kelelahan juga.”


Shin yang mendengar itu tersenyum karena dia tau bahwa keadaan pasukan ayahnya tidak memungkinkan untuk menyerang balik. Shin langsung berteriak:


“WOI PASUKAN KERAJAAN YAN! LANJUT ATAU TIDAK?”


Jendral musuh yang mendengar itu langsung mengernyitkan dahi nya karena suara yang begitu keras, tak hanya dia semua pasukan yang ada disana juga sama mereka merinding mendengar teriakan itu. Tapi sayang, bukan hanya pasukan musuh saja yang merinding.


Jendral musuh yang mengerti tujuan dari teriakan itu tersenyum. Pasalnya jika dia mundur, dia akan dirugikan karena pasukan kerajaan Ming sudah kelelahan dan tersisa sedikit.


“LANJUT!”


Dia memilih lanjut walaupun pasukannya sendiri sudah kelelahan. Shin yang mendengar itu tersenyum puas karena dia tidak sia sia datang kesini. Dia tidak hanya berniat membantu memotong pasukan musuh dan membersihkannya, dia juga berniat membawa kepala Jendral itu.


“HAHA BAIKLAH.”


Shin langsung menggunakan kemampuan matanya terlebih dahulu untuk mengetahui musuhnya apakah ada kelemahan atau tidak.


[Yan Luo]


[Emosian, berani, bodoh]


Shin yang melihat itu hanya tersenyum, lalu berteriak lagi:


“HEI JENDRAL BODOH, SUDAH SIAPKAH?”


Jendral musuh yang mendengar umpatan itu pun langsung membalasnya tanpa pikir panjang.


“KAU!”


“KAU INGIN BERDUEL ATAU BERPERANG PASUKAN?” teriak Shin memprovokasi.


“HAHA, BERDUEL!”


“BAIKLAH, TUNGGU DIDEPAN!”


Shin langsung membalikan badannya, dan meminta kepada ayahnya agar Shin diizinkan berduel. Ayahnya tidak bisa berkata apa apa lagi. Dia merasa bahwa dirinya kini sudah tidak berguna karena kini pasukannya tersisa sedikit dan bentengnya sudah hancur. Shin langsung turun dan segera menaiki kudanya setelah diberi izin dan segera keluar.


“Apakah Jendral akan melakukan duel?”tanya kapten pada kapten 1 nya lagi.


“Ya sepertinya. Aku juga ingin melihat bagaimana kemampuan Jendral kita.”


Para kapten itu semua berbincang bincang tentang bagimana kekuatan Jendralnya dan memikirkan banyak hal apakah Jendral bisa menang atau tidak. Shin tidak tau karena tidak mempunyai kemampuan pendengaran, dia belum mencapai tahap selanjutnya dari teknik pernafasan sehingga pendengarannya belum ada kemajuan yang signifikan.


Shin yang kini tengah keluar dari gerbang langsung menuju ketengah ke bagian yang kosong. Jendral musuh yang melihat itu langsung maju kedepan dan mensejajarkan dirinya dengan Shin.


“Bagaimana kau sudah siap bodoh?”


“KAUU! Tentu. Ayo mulai!”


“Baiklah!”balas Shin.


Mereka pun melaju dengan cepat dan saling menebaskan senjata mereka. Jendral musuh yang menggunakan tombak mempunyai keuntungan dalam jarak tapi sayang Shin yang mengetahui bahwa kelemahannya ada dalam jarak pun segera mendekat dan tidak memberikan ruang untuk musuhnya.