
Chapter 40
Lu Ye yang berada dipinggir Ren Pa terkejut dan langsung memasang wajah kecutnya karena merasa Ren Pa bodoh dan termakan strategi Jendral musuh. Lu Ye pun langsung memarahi Ren Pa tapi Ren Pa tetap pada pemdiriannya yang ingin membantu sisi kiri. Ren Pa merupakan tipe insting dengan kekuatan monsternya, ia mencium bau yang sangat berbahaya jika sisi paling kiri terus dibiarkan makanya ia memilih berteriak dan menyuruh pasukannya untuk membantu.
Dibawah benteng sisi paling kiri, dimana Duan berada. Ia mendengar teriakan itu dan terus saja menyerang, pasalnya pasukan tengahnya belum sampai ke sisi kiri. Ia mencoba memancing pasukan tengah itu agar lebih cepat meninggalkan posisinya.
Disisi tengah, kedua kapten melihat sedikit celah yang ditinggalkan pasukan musuh, mereka berdua langsung menyerang dengan sekuat tenaga agar posisi pertahanan musuh hancur. Benar saja, kini celah terbuka lebar dan membuat pasukan penyerang biasa lebih ganas dalam menyerang ke arah dalam dan beriiringan dengan pasukan lainnya.
Duan yang sedang menyerang pun tak henti hentinya memerhatikan keadaan medan perang, ia melihat bahwa pasukan tengah sudah berhasil menerobos. Ia pun segera membelokan serangannya ke arah kiri luar agar bisa keluar dari kerumunan musuh. 200 pasukan yang melihat arah serangan berubah pun segera mengikutinya dan membantunya.
Dikejauhan dimana Shin duduk di atas kudanya sedang tersenyum karena strateginya berhasil lagi. Sembari menunggu kepulangan Duan dan pasukannya. Ia memanggil ketiga kapten kavaleri dari pasukan biasanya.
Ketiga kapten itu menghampiri Shin yang berada dibelakang. Ketiga kapten yang sudah berada didepan Shin pun langsung menunggu perintah Jendralnya.
“Aku ingin kalian bertiga menyerang kedua sisi dari segitiga yang sudah dibentuk oleh kedua kapten penyerang biasa itu. Kalian bertiga bersihkan kedua sisi itu dan jaga pasukan penyerang biasa. Sekarang laksanakan!” ucap Shin.
Sontak ketiga kapten itu langsung menerima perintah Jendralnya, pasalnya menurut mereka Jendralnya masih muda tapi sangat teliti, detail dan juga cerdas. Ketika ketiga kapten itu sudah pergi meninggalkan Shin. Shin memanggil Huang.
Huang yang dipanggil pun segera menghampiri kakaknya, tak butuh waktu lama bagi Huang datang dan berada disisi kakaknya.
“Huang, aku ingin kamu berikan perintah pada pasukan pemanah untuk menembakan anak panah ke arah paling kanan. Awasi mereka dan berikan perintah untuk terus menembak. Nanti tunggu perintah selanjutnya!” pinta Shin.
Huang pun segera menerimanya dan bergegas ke arah pasukan pemanah biasa berada. Duan yang sedang terus menyerang kini menemukan celah keluar karena pasukan paling kiri luar sudah melemah. Ia pun langsung menghancurkan pertahanan mereka dan segera keluar diikuti 200 pasukannya. Duan dan 200 pasukannya segera kembali ke barisan dengan memacu kudanya lebih cepat karena takut tertembak dari atas benteng.
Diperjalanan Duan kembali, ketiga kapten itu sedang memacu kudanya ke arah musuh yang berniat membersihkan kedua sisi dari bentukan segitiga itu. Duan yang teliti dengan keadaan perang pun tak henti hentinya tersenyum melihat gerakan ketiga kapten kavaleri itu.
“Kakak memang hebat!” ucap Duan sembari memacu kudanya agar lebih cepat.
Disisi Huang, Huang segera melaksanakan perintah kakaknya dan memberikan perintah pada pasukan pemanah untuk menembakkan anak panahnya pada sisi paling kanann dari lintasan dimana Shin berada.
Pasukan pemanah itu segera menghadapkan badannya ke arah kanan dan mengambil posisi menembak.
“TEMBAKK!!” teriak Huang.
Kini pasukan pemanah pun langsung melapaskan anak panahnya, beribu ribu anak panah menerjang ke arah paling kanan pasukan musuh. Pasukan musuh yang berada disisi paling kanan itu tidak siap dengan serangan panah, mereka pun banyak yang terbunuh karena tidak siap dan tidak memasang tamengnya.
Lu Ye yang berada di atas hanya bisa terdiam melihat kekacauan dan pembantaian habis disisi kirinya. Ia pun tidak menyalahkan Ren Pa karena kesalahan tadi karena ia sudah tau karakter Ren Pa yang mudah emosi. Kini Lu Ye hanya harus memikirkan cara untuk mengurangi kerugian sisi kiri dan harus segera mengambil tindakan.
Kini di lintasan Shin serangan berjalan lancar karena strategi Shin. Ke 4 Jendral lain bersama pasukannya yang tidak ikut menyerang hanya bisa melongo melihat pergerakan di lintasan Shin yang berjalan lancar. Mereka juga sampai lupa pada lintasannya dan tidak memberikan perintah lebih lanjut.
Pasukan pasukan dari ke 4 Jendral itu tidak terlalu memikirkan lintasannya karena pasalnya itu merupakan tanggung jawab Jendralnya yang harus memberikan peritah lebih lanjut. Mereka hanya terus memperhatikan sisi kiri karena tidak percaya dengan gerakan dan strategi Jendral Shin yang awalnya mereka ledek.
Pasukan pasukan baru yang berada di bawah kepemimpinan Shin tidak percaya bahwa Jendralnya mempunyai strategi yang begitu hebat. Mereka kini sudah merubah pandangannya kepada Jendral Shin. Mereka juga percaya dengan ucapan pasukan tadi yang memberikan peringatan.
Kini di lintasan ke 4 Jendral, penyerang begitu monoton karena tidak adanya perintah lebih lanjut dari Jendral mereka. Mereka terlihat kesusahan menerobos pasukan pertahanan musuh. 4 Jendral yang sudah sadar dan melihat lintasannya tidak ada kemajuan pun segera memikirkan strategi lain supaya penyerangannya berhasil.
.
.
Di paling belakang, dimana disebuah gundukan yang tinggi. Seorang atasan yang sedang memantau penyerangan itu terus melihat lintasan milik pasukan Shin. Pasalnya lintasan milik pasukan Shin lebih berkembang dari pada lainnya.
“Aku tidak percaya, Jendral muda ini benar benar hebat.” Ucapnya sembari fokus memperhatikan lintasan milik Shin ia juga menikmati penyerangan itu.
Ia juga tidak henti hentinya melirik ke arah lintasan lain tapi hanya sebentar karena menurutnya tidak menarik perhatian. Ia juga merasa kecewa pada ke 4 Jendral itu karena kalah dengan seorang Jendral muda.
“Apakah mereka sudah tua dan otaknya sudah tidak berfungsi lagi?” ucapnya heran.
Atasan itu hanya mengira ngira tentang keanehan yang terjadi pada ke 4 Jendral tua itu. Ia juga duduk dengan santai, dimana lengan kirinya yang memegangi tali kendali kuda dan tangan kanannya memainkan janggutnya.
.
.
Di sisi lain, di atas benteng. Kini Jendral Lu Ye sedang berpikir dengan keras, ia juga tidak mempedulikan Ren Pa yang berdiri disampingnya. Jendral Lu Ye berpikir keras untuk menemukan sebuah strategi agar bisa mengurangi kerusakan di sisi kiri.
Ren Pa yang berada disamping Lu Ye, kini tengah memperhatikan peperangan berbeda dengan Lu Ye yang berpikir keras. Ren Pa hanya menyilangkan kedua tangannya dan berdiri dengan gagah, ia menikmati peperangan yang kini tengah terjadi.