
Chapter 51
Di tengah obrolan Shin dan Lu Ye, Jendral Yong memberikan perintah pada beberapa prajurit nya untuk pergi ke arah dimana 2 wakilnya Jendral Shin berada. Ia juga memberikan perintah itu agar prajurit dengan cepat menyampaikan pesannya agar tidak membuang banyak waktu.
Ketika prajurit yang diberi perintah pergi, Jendral Yong segera membawa pasukannya untuk membersihkan pasukan musuh yang berada di area luar. Ia menuruti semua perkataan Shin demi kemenangan kerajaan juga demi dirinya sendiri dan pasukannya agar terbebas dari jurang kematian yang sedari kemarin telah membayangi mereka ketika mereka melakukan penyerangan di ibu kota.
.
.
Seseorang yang sedang duduk santai di atas kudanya kini tengah menerima informasi bahwa pesan yang terakhir sudah di sampaikan. Ia sudah memantau peperangan hari ini, ia awalnya di buat kecewa karena ke dua Jendral kerajaannya mati, tapi itu tak berselang lama karena ia melihat bahwa 1 Jendral musuh sudah mati.
“Berikan informasi pada kamp pusat bahwa peperangan akan berakhir hari ini. Beritahu juga bahwa 2 Jendral sudah mati. Sekarang hanya tersisa 2 Jendral lagi!” ucapnya.
Ia adalah seorang atasan yang sudah beberapa hari terus memantau peperangan ini. Ia juga ketika malam membuat tenda dan kadang kadang ia menghampiri para Jendral untuk menanyakan informasi dan rencana rencana yang di buat oleh para Jendralnya.
Kembali lagi pada Shin yang kini tengah bertarung, mereka akhirnya memutuskan untuk saling bertarung dan tidak saling melontarkan basa basa lagi. Mereka tidak ingin membuang waktu lebih lama, apalagi Shin. Shin harus segera menyelesaikan pertarungan dengan Lu Ye.
Pertarungan antara Shin dan Lu Ye terjadi dengan sengit. Hanya sedikit pasukan yang menonton pertarungan itu. Pasukan milik Jendral Mo dan Jendral Meng juga sebagian berhenti karena mereka telah menghabisi sebagian pasukan utama milik Ren Pa.
Kini mereka menghormati Shin sebagai Jendral. Pertarungan itu tak henti hentinya saling membenturkan senjata mereka. Walaupun Lu Ye tidak sekuat Ren Pa, tapi ia memiliki kecerdasan dan teliti dalam menilai arah serangan akan berlabuh kemana.
Shin juga tau bahwa Lu Ye masih menahan diri dan tidak mengeluarkan semuanya karena ingin menguras stamina Shin, tapi sayang stamina Shin sudah terlatih jadi ia tidak akan mudah lelah karena hanya terus dipermainkan.
Shin yang mengetahui itu pun segera menambahkan sedikit kekuatan di setiap serangannya, itupun berbeda setiap kekuatanya. Setiap serangan Shin menambahkan 2% kekuatan miliknya. Ia kini tengah mengeluarkan kekuatan sebesar 59%.
Lu Ye yang tidak tau bahwa Shin sudah mengetahui rencananya pun masih santai dalam menahan dan menghadapi serangan Shin. Shin yang melihat bahwa Lu Ye masih santai pun menambahkan lagi kekuatannya.
Sekarang Shin tidak kira kira menambah kekuatannya, ia menambah 10% kekuatannya karena ia ingin melihat reaksi Lu Ye.
Shin yang melakukan serangan itu kini menghempas Lu Ye bersama kudanya. Shin tak berhenti disitu, ia langsung menyerang lagi dengan kekuatan yang ditabah 1% hingga total kini kekuatan yang dikeluarkan Shin sudah mencapai 70%.
Serangan itu membuat Lu Ye tertekan kebawah, badannya yang sudah mulai membungkuk dan kepalanya sudah membantu kedua tangannya untuk menahan senjata miliknya. Ia tidak menyangka bahwa Shin sangat kuat.
Kini bahu Lu Ye sudah terluka dan zirahnya bersimbah darah. Shin tak menghentikan serangannya. Ia juga mengeluarkan daggernya guna mempercepat serangannya. Pedangnya akan digunakan untuk menangkis serangan lawan dan daggernya akan ia gunakan untuk menyerang.
Walaupuun daggernya kecil tapi ketajamannya jangan di remehkan. Shin terus menyerang secara teratur. Kadang ia menyerang dengan pedangnya juga guna menekan Lu Ye yang bertahan terus. Shin juga melakukan serangannya secara bergantian.
Pedang dan daggernya terus menebas Lu Ye, walaupun luka kecil tapi itu akan sangat berefek karena darah yang keluar terus menerus. Shin terus menerus melakukan sampai sampai Lu Ye tertekan. Kadang Shin juga menghempaskannya dan melemparkan daggernya 1 lagi agar Lu Ye tidak siap untuk melakukan pertahanan.
Shin yang melihat luka Lu Ye sudah banyak pun berniat mengakhirinya.
‘Aku tak menyangka bocah ini kuat’ gumamnya Lu Ye.
Lu Ye yang sedari tadi tertekan sudah mengeluarkan semua kekuatannya, hanya saja kecepatan Shin dalam menyerang membuat Lu Ye tidak bisa melancarkan 1 serangann pun. Lu Ye yang berharap bisa mendaratkan 1 serangan pun berteriak dengan keras dan menebaskan tombaknya.
Shin yang teralihkan karena suara teriakan Lu Ye pun tak siap menahan serangan itu, kini tebasan tombak Lu Ye mendarat di perut Shin. Zirah yang Shin pakai kini berlubang dan mengeluarkan darah dari bagian dalamnya.
Lu Ye yang merasa di atas angin karena momentumnya telah kembali pun merasa senang. Berbeda dengan Shin yang kini tengah mengangkat pedangnya di tangan kanannya karena ia tidak mau terkena serangan lagi.
Shin kini mengangkat pedangnya yang berniat melakukan serangan menyilang dari atas kebawah, Lu Ye yang masih lengah itu pun tak sempat menghindari serangan menyilang milik Shin, alhasil bahu milik Lu Ye terkena tebasan dan zirah yang ia pakai robek sampai ke dadanya.
Melihat Lu Ye yang masih berada di atas kudanya, Shin tidak berhenti menyerang. Ia langsung mengangkat lagi pedangnya berniat melakukan serangan yang sama, namun saat pedangnya akan mengenai bahu milik Lu Ye, Lu Ye terjatuh dari kudanya.
Shin yang melihat itu segera menarik lagi pedangnya dan melihat kebawah, tepat dimana Lu Ye terjatuh. Ia melihat Lu Ye yang terlentang sembari mata yang menatap ke atas, pandangannya kosong. Shin yang melihat itu langsung mengangkat pedangnya tinggi tinggi. Ia tau bahwa Lu Ye sudah mati.
Sorakan terjadi di antara pasukan sisa milik Jendral Mo dan Jendral Meng yang sudah selesai menghabisi sebagian pasukan utama milik Ren Pa. Mendengar suara sorakan pasukan lawannya, pasukan kerajaan Yan segera melarikan diri karena mereka takut dibantai.
Para pasukan kerajaan Yan melarikan diri ke arah hutan dan bukan ke arah ibu kota. Shin yang melihat itu tidak memerintahkan pasukan untuk mengejarnya melainkan memerintahkan untuk segera menghabisi pasukan yang masih tersisa di area luar benteng kota.
Para pasukan memenuhi perintah yang diberikan oleh Shin, mereka tidak lagi peduli siapa yang memimpin mereka atau memerintah mereka yang terpenting bagi mereka adalah kemenangan telah mereka raih.
Jendral Yong dan pasukannya yang sudah hampir beres membersihkan pasukan musuh yang tersisa mendengar suara sorakan tadi pun langsung mempercepat pembersihannya, ia tidak tahu suara sorakan itu berasal dari mana. Maka dari itu ia buru buru agar mengetahui siapa yang memenangkan pertarungan Shin dan Lu Ye.