
Chapter 48
Shin yang mendengar itu mengerti bahwa yang sedang direncanakan Lu Ye adalah mengurangi Jendral yang memimpin peperangan ini. Ia langsung mengalihkan perhatian pada atas benteng untuk melihat pergerakan Lu Ye.
Tepat ketika Shin mengarahkan pandangannya ke atas benteng, Lu Ye segera berbalik badan dan turun untuk menghadapi Jendral Lin karena kudanya sudah disiapkan oleh wakilnya.
Shin yang melihat itu pun segera “Jendral, aku minta tolong padamu untuk pergi ke lintasan Jendral Lin dan tinggalkan lintasanmu sendiri.
Aku akan ke lintasan Jendral Mo. Aku curiga mereka berniat membunuh para Jendral agar moral para pasukan semakin turun.” Ucap Shin.
Jendral Yong yang mendengar itu pun terkejut, ia tak menyangka bahwa rencana Jendral musuh adalah mengurangi moral pasukan dengan membunuh Jendral musuh.
Jendral Yong pun segera pergi dari pandangan Shin dan menuju pasukannya. Ia tidak ingin membuang waktu karena ini akan berbahaya kedepannya.
Setelah kepergian Jendral Yong, Shin memanggil Huang dan Duan. Ia ingin memerintahkan Huang dan Duan untuk memimpin pasukan utama nya membersihkan lintasan Shin dan Jendral Yong.
“Ada apa kakak?” tanya Huang yang sudah datang.
“Aku ingin kalian berdua memimpin pasukan utama dan pasukan biasa untuk membersihkan lintasan ini dan lintasan Jendral Yong. Kalian bagi dua untuk pasukan utamanya. Pokoknya bersihkan ke dua lintasan ini!” ucap Shin.
“Kakak menuju Jendral Mo sendiri?” tanya Duan.
“Tidak, aku akan memimpin pasukan Jendral Meng yang tersisa untuk membalaskan dendam Jendralnya. Aku yakin mereka akan membabi buta jika mendengar Ren Pa.” ucap Shin percaya diri.
“Aku harap kalian berhati hati setelah menerobos formasi pasukan depan musuh.” lanjut Shin.
Mereka pun akhirnya mengerti dan segera membagi dua pasukan utama Shin ditambah beberapa pasukan biasa. Para pasukan tidak protes karena mereka tau ini perintah Jendralnya dan juga mereka tau kualitas Duan dan Huang.
Shin langsung menuju ke lintasan tengah dimana disana tidak ada pemimpin hanya ada beberapa kapten. Mereka tidak melakukan penyerangan karena tidak ada perintah apapun.
.
.
Sesampainya Shin dilintasan tengah, para prajurit sisa pasukan Meng yang masih berjumlah puluhan ribu itu memandang Shin dengan tatapan tajam.
“Aku datang kesini dengan 1 niatan. Aku ingin setengah dari kalian mengikutiku dan setengahnya lagi menyerang lintasan ini. Hanya saja kalian cukup menyerang formasi depan musuh saja karena dibelakang formasi depan musuh ada jebakan.” ucap Shin.
“Aku tau kalian sangat marah jadi aku ingin kalian lampiaskan itu pada musuh yang ada didepan. Aku sendiri akan membantu Jendral Mo yang sedang berhadapan dengan Ren Pa. Aku membawa setengah pasukannya karena aku ingin setelah kematian Ren Pa nanti, kalian menghabisi pasukan utama Ren Pa.”
“Ku harap kalian mengerti permintaanku.” Lanjut Shin.
Para pasukan Jendral Meng terdiam dan mencoba mencerna ucapan Shin, berbeda dengan para kapten yang tersisa. Mereka langsung bertanya kepaada Shin.
“Aku akan berusaha, setidaknya itu bisa memperbaik keadaan medan perang dari pada kalian hanya menonton disini kan?” Shin berbalik menanya.
Mereka akhirnya terdiam dan saling menatap sama lain. Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka setuju, beberapa kapten memimpin setengah pasukan untuk membersihkan lintasan, dan beberapa kapten dipimpin oleh Shin sendiri menuju ke lintasan Jendral Mo yang sedang berhadapan dengan Ren Pa.
.
.
Kini semua lintasan terjadi bentrokan, sebelah kiri ada Huang dan Duan yang memimpin pasukan utama sedang membersihkan 2 lintasan, lintasan tengah di pimpin oleh beberapa kapten sisa pasukan Jendral Meng yang mengikuti intruksi Shin.
Disisi lain, Lu Ye yang sudah berhadapan dengan Jendral Lin tengah bertarung. Mereka bertarung secara imbang, hanya saja Jendral Lin tidak tau bahwa dirinya sedang dipermainkan oleh Lu Ye.
“Hanya segini?” ucap Lu Ye memprovokasi.
Mendengar itu Jendral Lin langsung menerjang Lu Ye karena emosi. Benturan terjadi lagi, kedua senjata saling menggores dan memunculkan percikan. Jendral Lin walaupun sudah tua ia masih memiliki kekuatan yang hebat sama seperti Jendral Meng, hanya saja lawan yang ia hadapi adalah Lu Ye yang pintar.
Lu Ye disini masih bermain main dan menguras stamina Jendral Lin. Lu Ye juga merupakan Jendral yang sepantaran dan seangkatan dengan Ren Pa. Dibekali kecerdasan, umur yang masih belum menginjak kepala empat membuatnya percaya diri menghadapi seorang pria tua berumur 55 tahun.
Hantaman senjata terus terjadi, Lu Ye terhempas oleh serangan Jendral Lin hanya saja tidak terluka apapun karena serangannya di tahan oleh senjatanya. Ia terhempas karena kekuatan serangan Jendral Lin bukan main.
Jendral Lin yang sudah mengeluarkan banyak kekuatan di setiap serangannya merasa kelelahan, fisik dan stamina nya sudah menurun dan tidak sama seperti ketika ia masih muda. Jendral Lin merasa bahwa ini akhir untuknya.
Sebelum menyerang, Jendral Lin mengucapkan beberapa patah kata pada Lu Ye. “Kau Jendral yang cerdas dan berbakat, hanya saja kau ada di kerajaan Yan. Jika kau bisa menyerah kau akan menjadi Jendral kerajaan Ming dan akan memimpin ekspansi kedepannya. Aku tidak masalah mati di tanganmu jika memang harusnya.” Ucapnya dengan nada serius tapi nada rendah karena kelelahan.
Lu Ye yang mendengar itu kaget karena ia baru tahu bahwa kerajaan Ming akan melakukan ekspansi kedepannya.
“Aku mengerti saranmu hanya saja aku Jendral kerajaan Yan.” Balasnya.
Jendral Lin yang mendengar itu segera mengeratkan pegangan senjatanya dan mengeratkan kedua kakinya untuk mengapit badan kuda agar tidak mudah jatuh. Ia langsung menerjang ke depan dimana musuh berada.
Jendral Lin mengangkat senjatanya dengan kedua tangannya, ia berniat melakukan serangan vertikal. Lu Ye yang melihat itu tidak tinggal diam, ia langsung mengangkat tombaknya mengikuti gerakan Lu Ye.
Benturan senjata kembali terjadi, hanya saja disini Lu Ye terhempas lagi. Jendral Lin yang menghempaskan Lu Ye segera menerjang lagi ke arah Lu Ye berhenti terhempas. Ia menggunakan serangan yang sama yaitu melakukan serangan secara vertikal lagi.
Lu Ye yang baru saja berhenti terhempas terkejut dengan kedatangan Jendral Lin yang begitu cepat. Ia juga panik karena Jendral Lin sudah akan menyerang dengan cara yang sama, Lu Ye segera menghindarkan badan dan kepalanya ke arah pinggir supaya menghindari serangan Jendral Lin.
Senjata Jendral Lin yang menyerang Lu Ye secara vertikal itu dihindari dengan baik oleh Lu Ye. Jendral Lin pun segera menarik senjatanya lagi namun sayang Lu Ye sudah melancarkan serangan balik dengan tebasan vertikal satu tangan.
Tebasan vertikal milik Lu Ye mengenai leher dari Jendral Lin, namun sayang itu belum berhasil memisahkan antara kepala dan badan milik Jendral Lin. Lu Ye pun segera melancarkan serangannya lagi ke arah bahu milik Jendral Lin dengan serangan vertikal.