
Chapter 22
Mereka pun melaju dengan cepat dan saling menebaskan senjata mereka. Jendral musuh yang menggunakan tombak mempunyai keuntungan dalam jarak tapi sayang Shin yang mengetahui bahwa kelemahannya ada dalam jarak pun segera mendekat dan tidak memberikan ruang untuk musuhnya.
Dua senjata saling berbenturan terus menerus tanpa adanya yang terhempas. Para pasukan beserta kapten tidak percaya bahwa Jendral yang memimpinnya mempunyai kekuatan yang luar biasa di usia yang begitu muda.
Di atas benteng, Jendral yang melihat Shin bertarung dengan sangat baik pun tidak percaya bahwa kemampuan Shin sudah bertambah hebat lagi. Jendral yang melihat itupun memikirkan bagaimana karir dirinya.
Tebasan demi tebasan, goresan demi goresan itu terjadi pada senjata mereka dan tidak mengenai bagian tubuh mereka masing masing. Shin yang tenang pun merasa senang, karena jika ingin mengadu senjata tentunya senjata dirinya akan menang karena dibuat dari bahan yang sangat kuat.
Percikan percikan kecil yang berasal dari goresan senjata pun membuat para pasukan merinding. Mereka tak menyangka bahwa kekuatan seorang Jendral bisa sebesar itu. Aduan senjata terus terjadi sampai sampai terdengar sebuah suara :
Triiiiiiing..
Kraaak..
Suara itu berasal dari senjata Jendral musuh yang mulai patah karena aduan senjata yang terus terjadi. Apalagi kekuatan Shin terus menambah dari setiap tebasannya yang membuat sebuah celah pada senjata itu. Shin berniat mengakhiri pertarungan itu karena menurutnya ini terlalu lama. Shin lalu menebaskan pedangnya dan mengenai perut
Jendral musuh. Jendral musuh yang terkena serangan itu sekaligus terhempas pun tidak percaya. Menurutnya dia sedang berhadapan dengan seseorang yang sangat kuat. Dia juga melihat senjatanya sudah patah bagian ujungnya dan kini hanya tersisa pegangan dan sedikit bilah tombak yang dimana itu tidak akan berguna untuk pertarungan.
“Berikan senjatamu padaku!”ucap Jendral pada kapten dari pasukannya.
Kapten itu hanya bisa menuruti ucapan Jendralnya. Shin yang melihat itu tersenyum.
“Percuma saja kau mengganti senjata.”
“Aku ini dari tadi belum mengeluarkan semua kekuatanku dan hanya bermain main denganmu.”
Jendral musuh yang mendengar itu tidak percaya. Pasalnya kekuatan yang dia keluarkan sudah sangat besar, mana mungkin masih punya kekuatan yang lebih besar. Karena sifatnya yang bodoh dan emosian dia segera melaju lagi kedepan dengan cepat karena sudah mempunyai senjata baru. Shin yang melihatnya langsung mengikuti apa yang diinginkan musuh.
Kini tebasan demi tebasan terjadi lagi, tapi tetap Jendral musuh kewalahan karena dari setiap tebasan Shin menambah kekuatannya yang membuat Jendral musuh terhempas.
“Baiklah, mari kita akhiri! Aku sudah bosan, kukira kau kuat.”
Shin langsung melaju dengan cepat menerjang Jendral musuh. Jendral musuh yang tidak siap akan serangan cepat itu buru buru menahan serangan Shin menggunakan senjatanya.
Namun sayang, senjata yang dia pakai terbelah patah terbelah dua dan kini pedang Shin mengenai dadanya. Shin tidak berhenti disitu dia langsung mengayunkan lagi pedangnya dan segera menebas kepala Jendral musuh.
Jendral musuh yang tidak sempat menghindar pun kini hanya bisa pasrah bahwa dirinya akan mati. Shin tidak menarik senjata melihat musuhnya pasrah karena ini medan perang.
Kini sebuah kepala terlepas dari bagian tubuhnya. Kepala itu terlempar ke arah pasukan Jendral musuh. Pasukan musuh yang tidak percaya bahwa Jendral nya mati pun langsung berlari karena mereka tidak percaya bahwa dirinya akan menang.
Shin mengangkat pedangnya karena kemenangan dirinya. Shin langsung mengedarkan pandangannya dan melihat pasukan musuh yang kabur. Shin yang sedang mengangkat pedangnya langsung menunjuk ke arah pasukan musuh menggunakan pedangnya, pasukannya yang mengerti akan arti itu pun langsung menyerbu dipimpin para kaptennya.
Jendral yang melihat pertarungan telah selesai pun langsung turun dan segera menaiki kudanya untuk menghampiri Shin. Shin tidak ikut mengejar karena dia percaya bahwa pasukan dan kaptennya cukup untuk meratakan musuhnya.
“Aku tidak percaya nak.”
“Tidak percaya pada apa ayah?”
“Kekuatanmu yang selalu bertambah kuat dan kini kau sudah membunuh seorang Jendral kerajaan Yan lagi.”
“Haha itu karena aku rajin berlatih. Pasukan ku juga mereka berlatih dibawah pengawasan Huang dan Duan jadi mereka juga bertambah kuat.”
“Baik ayah.”
Shin dan Jendral yang merupakan ayah dari istrinya kini sedang masuk dan menuju ke kamp militer. Mereka disambut oleh para warga tapi sayang ada perbedaan yang terjadi dipenyambutan itu. Kini para warga tidak menyambut dijalanan, mereka menyambut dari rumah mereka dengan membuka jendelanya.
Shin mengerti keadaan itu dan tersenyum lalu melanjutkan perjalanannya menuju kekamp militer.
Dikota Shihua tepatnya di rumah Shin, kini istrinya tidak mengerti dengan sikap suaminya yang tiba tiba panik dan pergi menuju medan perang.
“Huang, Duan?”
“Jelaskan apa yang terjadi?”
“Itu sebenarnya ada perang yang terjadi tapi kakak ipar tidak perlu khawatir.”mencoba untuk tidak gugup.
“Perang dimana?”
“Dikota yang kemarin, bagian selatan.”ucapnya berbohong.
Hua yang merasa adanya kebohongan pun terus bertanya secara terus menerus dia mengharapkan sebuah kesalahan dari Duan dan Huang tapi sayang Hua tidak menemukan kesalahan itu. Tidak lama dari Hua yang sedang mengintrogasi, datang seseorang dari arah pintu dengan terburu buru.
“Lapor.”
Huang dan Duan segera beranjak dan segera membawa pembawa laporan itu pergi keluar, karena dia tahu itu pasti laporan dari kakaknya yang sedang berperang. Hua yang melihat reaksi itu diam diam mengikuti mereka.
“Lapor, Kini kota Shangwen sudah terbebas dari penyerangan. Jendal musuh sudah berhasil dikalahkan oleh Jendral Shin dan Jendral Fei selamat. Pasukan musuh yang berlari kabur pun sudah berhasil diratakan oleh para kapten dan pasukannya atas perintah Jendral.”
“Baiklah. Segera laporkan apabila ada laporan baru lagi!”
“Baik.”
Hua yang mendengar itu dari balik pintu itu sontak kaget karena dirinya tidak diberitahu bahwa kota yang dimana ayah dan ibunya berada diserang dan Shin sebagai suaminya berbohong padanya. Dia belum bisa berpikir jernih dan segera keluar untuk menanyakan itu pada Duan dan Huang.
“Huang, Duan?” sapa Hua dari belakang yang membuat keduanya kaget.
“Habis sudah.”gumam mereka.
“Ada apa kakak ipar?”
“Jelaskan!!”
“E-eeh ituu kakak ipar.” Mereka saling memandang satu sama lain karena bingung harus menjawab apa.
“Kenapa kau berbohong?”
“Ituu kakak ipar, kami disuruh kakak karena kakak tidak mau kakak ipar kepikiran dan drop juga membuat kandungan jadi tidak stabil.”
Hua yang masih emosi belum bisa menerima alasan itu karena dirinya dibohongi dan juga tidak diberitahu.
“Itu kakak ipar, sebenarnya kami sudah memberi tahu kakak supaya tidak berbohong pada kakak ipar tapi, kakak terus memaksa kami karena dia sangat mengkhawatirkan kakak dan kandungannya. Dia ingin kakak sehat dan tidak drop makanya dia turun tangan langsung kemedan perang untuk menyelamatkan ayah dan ibu kakak ipar.”