The Soldier's Eyes

The Soldier's Eyes
Kehebatan Ren Pa



Chapter 42


Pintu yang perlahan terbuka itu seperti akan mempersembahkan sebuah konser. Ketika pintu itu sudah terbuka sedikit lebar, Ren Pa yang berada paling depan itu keluar yang diikuti pasukan utamanya dengan zirah berwarna merah.


Ren Pa tidak membuat kegaduhan karena fokus pasukan bukan ke arah Ren Pa, mereka fokus pada peperangan. Ren Pa pun mulai berjalan keluar dan mendapati sedikit ruang di lintasan tengah. Ia segera menuju ke ruang kosong itu yang sedikit diikuti pasukannya yang sudah keluar walaupun baru sebagian yang sudah keluar karena banyaknya pasukan utama.


.


.


Shin yang sedang memikirkan strategi sembari memegangi dagunya itu seketika terdiam karena jantungnya tiba tiba berdetak lebih kencang. Ia pun langsung memegangi tali kendali kudanya lebih kencang yang membuat kudanya menjadi sedikit berontak.


Setelah kudanya sedikit membrontak, Shin langsung sadar dan segera mendiamkan kudanya. Ia yang tengah duduk di atas kudanya itu tak henti hentinya jantungnya berdetak lebih kencang. Shin memikirkan sebuah firasat buruk yang akan terjadi di medan perang.


Ia pun memikirkan apa firasat buruk itu, seketika Shin teringat dengan yang ia lihat di atas benteng. Ia tidak menemukan Ren Pa di atas benteng. Ia pun langsung mengedarkan lagi pandangannya ke segala penjuru medan perang.


Betapa terkejutnya Shin ketika melihat pintu ibu kota tiba tiba terbuka, walaupun hanya sedikit terbuka, Shin sudah merasakan aura yang keluar dari balik pintu itu, detak jantungnya juga berdetak lebih kencang ketika dirinya menatap tajam ke arah pintu yang terbuka itu.


Shin yang memfokuskan pandangannya pada arah pintu itu tiba tiba benar dikejutkan dengan keluarnya Ren Pa. Ia langsung mengepalkan tangannya erat erat, ia cemas karena tidak tau Ren Pa akan menyerang lintasan yang mana.


Walaupun Shin lebih mengkhawatirkan Lu Ye, tapi sekarang kekhawatirannya berpindah pada Ren Pa yang sudah turun langsung ke medan perang dan mengeluarkan aura Jendralnya yang sudah ia dapatkan sedari lama.


Shin yang meraskan aura itu hanya menelan ludah karena ia merasakan tekanan yang begitu kuat dari aura Ren Pa. Ia juga membayangkan jika dirinya sedang berhadapan langsung dengan Ren Pa yang mengeluarkan aura menindas nya itu. Tak sadar, Shin pun menelan ludahnya lagi karena membayangkan betapa tertindasnya dirinya ketika berhadapan dengan Ren Pa.


Ia melihat Ren Pa bergerak lurus dari arah pintu itu, ia pun langsung memperhatikan lintasan tengah itu dimana Jendral Meng berada. Ia yang melihat Jendral Meng masih berdiam pun dan seperti tidak melihat kedatangan Ren Pa menjadi sedikit kesal pada Jendral Meng karena tidak memantau keadaan perang dengan teliti.


Shin langsung mengalihkan lagi pandangannya pada Ren Pa yang sudah memasuki tengah tengah peperangan yang terjadi. Disana Ren Pa mengayunkan tombak besarnya dan menghempaskan beberapa pasukan milik Jendral Meng.


Shin yang melihat itu melotot karena terkejut melihat kekuatan yang dikeluarkan Ren Pa.


‘Itu bukan kekuatan penuhnya!’ gumam Shin yang masih melotot dan tidak sadar ia menelan ludah lagi.


Shin langsung melihat lintasannya, dimana pasukannya masih menyerang. Ia memanggil beberapa pasukan utama yang berada disekitarnya.


“Kalian maju dan berikan pesan kepada 5 kapten itu untuk segera mundur. Tugasnya sudah selesai!” ucap Shin.


15 prajurit yang diberi perintah oleh Shin pun langsung maju dilintasannya dan menuju ke 5 kapten itu berada, ke 5 kapten itu tengah fokus melakukan penyerangan walaupun musuh di depannya tersisa sedikit.


.


.


Jendral Meng yang terkejut karena turunnya Ren Pa semakin bingung harus melakukan apa. Ia yang kini tengah berada dalam tekanan besar pun hanya bisa memberikan perintah pada pasukannya untuk memasang formasi bertahan.


Pasukan utamanya langsung memasang formasi bertahan diikuti beberapa pasukan kavaleri yang tengah bersiap juga.


Ren Pa dan pasukan utamanya kini tengah mengobrak abrik pasukan Jendral Meng.


Pasukan Meng yang melakukan penyerangan kini tengah di bayangi oleh malaikat pencabut nyawa. Mereka hanya tinggal menunggu kapan Ren Pa menebaskan tombaknya yang dapat langsung membunuh beberapa pasukan karena kekuatannya yang hebat.


Ren Pa kini terus mengurangi pasukan pasukan milik Jendral Meng yang menyerang lintasan tengahnya. Jendral Meng yang melihat dari kejauhan hanya bisa memasang wajah cemas, pasalnya jika pasukannya sudah dibersihkan, Ren Pa pasti akan langsung melakukan serangan balik padanya.


Tak membutuhkan waktu lama bagi Ren Pa dan pasukannya untuk membersihkan sisa pasukan Jendral Meng. Kini semua prajurit utama milik Ren Pa sudah berbaris rapi mengikuti Ren Pa yang sudah diam di depannya menunggangi kuda.


Ren Pa melihat ke arah belakang memastikan semua prajurit nya sudah berkumpul dan sudah siap untuk mengikuti dirinya yang akan menyerang balik. Pasukan utama Ren Pa yang merupakan pasukan kavaleri semua akan membuat penyerangan menjadi lebih mudah dibanding pasukan biasa yang tidak menunggangi kuda.


“SERANGGG!” teriak Ren Pa dengan keras yang membuat tanah di depannya bergetar dan berhasil menghembuskan angin yang begitu kencang. Kini Ren Pa maju ke depan menuju Jendral Meng berada diikuti dengan pasukannya.


Shin yang berada di lintasan kiri pun kaget dengan suara itu, ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah suara itu muncul. Ia melihat Ren Pa yang sudah maju diikuti pasukannya.


‘Cepat kembali!’ gumam Shin yang menunjukan perintah pada pasukannya. Ia ingin segera ke 5 kapten dan pasukannya kembali ke barisannya untuk berjaga jaga.


Ren Pa yang kini tengah memacu kudanya dengan cepat hanya butuh beberapa waktu untuk sampai didekat pasukan Jendral Meng.


“HANCURKAN!” teriak Ren Pa sembari menebaskan tombaknya yang berniat menghancurkan pertahanan milik Jendral Meng.


Benar saja, beberapa pasukan langsung terhempas dan langsung membuat celah yang begitu besar. Celah yang begitu besar langsung di manfaatkan oleh Ren Pa dan langsung memacu kudanya lebih cepat. Ia juga menebaskan kembali tombaknya yang membuat keadaan pertahanan milik Jendral Meng hancur lebih parah.


Ren Pa yang diikuti pasukannya benar benar memporak porandakan pertahanan milik Jendral Meng. Pasalnya Jendral Meng hanya memerintahkan untuk membuat formasi bertahan dan tidak memerintahkan untuk membuat variasi dalam formasinya yang membuat formasinya dapat dengan mudah ditembus oleh Ren Pa dan pasukannya.


Jendral Meng yang melihat pertahanannya di hancurkan dengan mudah hanya bisa terdiam sambil melongo dan mengeluarkan keringat dingin. Ia menggertakan giginya karena kesal tidak dapat membuat rencana apapun.