
Chapter 24
Keesekokkan harinya, Shin sudah bersiap untuk pulang ke kota Shihua bersama pasukannya karena urusan disini sudah selesai. Dia juga diberi perintah dari kamp militer untuk menunggu hadiah nya dan langkah selanjutnya, itu akan dilaporkan langsung kekota Shihua.
“Shin, apa kau akan berangkat sekarang?”
“Iya ibu, aku tidak pulang takutnya Hua khawatir karena dia tidak tahu keaslian dari apa yang terjadi kemarin karena aku berbohong.”
“Baiklah, bawa bekal ini untuk Hua.”
“Baik ibu.”
“Kalau begitu, sampaikan pada ayah aku pulang karena sudah terlalu lama pergi. Kami tunggu kedatangan ibu dan ayah disana.”ucap Shin sambil menaiki kudanya lalu melambaikan tangannya dan segera melaju ke arah gerbang kota.
Tak butuh waktu lama untuk Shin sampai di gerbang kota, dia mendapati pasukannya sudah bersiap dan berbaris dengan rapi dipimpin oleh para kaptennya.
“Baiklah, semua sudah siap?”
“Prajurit yang menemui keluarganya sudah hadir?”
“Sudah Jendral.”
“Baiklah, kita pulang sekarang. Tidak usah terburu buru diperjalanannya kita santai saja sambil mengobrol untuk mengakrabkan diri.”
“Baik Jendral.”
Para pasukan senang dan berterima kasih pada Jendralnya karena sudah sangat baik pada pasukannya. Shin menghiraukan itu karena itu sebuah keharusan dalam keluarga, Shin bilang pada mereka bahwa mereka adalah keluarganya. Mereka yang mendengar itu merasa senang, mereka juga banyak tertawa karena obrolannya bersama Jendral bisa selancar itu. Mereka membuat janji dalam hatinya bahwa mereka akan mengabdi pada
Jendralnya walaupun harus mati karena keramahan hatinya yang membuat pasukan luluh.
Ditempat lain, disebuah ruangan besar yang terdapat banyak meja dan orang mereka dibuat terkejut karena sebuah laporan yang baru diterima.
“APAA?”terkejut salah satu petinggi tidak percaya akan laporannya.
“Benar Tuan, ini laporan yang dikirim dari kota Shangwen.”
“Mereka juga meminta pihak pusat untuk memberikan hadiah pada Jendral Shin atas kontribusinya yang luar biasa.”
“Baiklah akan kupikirkan nanti, dan untuk langkah selanjutnya sepertinya kita harus memberitahukan ketua atas ini karena ini menyangkut kesejahteraan kerajaan nantinya.”
“Baiklah laporan diterima, kamu keluarlah.”lanjutnya.
Setelah pemberi laporan itu keluar, mereka membahas hadiah apa yang akan diberikan pada Jendral Shin. Mereka sebenarnya tidak percaya dengan kontribusi Shin tapi karena mereka senang bahwa kerajaannya memiliki
Jendral muda yang berprestasi pun menghilangkan rasa ketidak percayaan mereka dan memilih untuk percaya.
“Bagaimana kalau hadiahnya kita berikan pasukan yang banyak agar dia semakin berkembang dan membawa banyak keuntungan pada kerajaan? Juga berikan dia sejumlah uang yang banyak untuk pembangunan pasukannya?”
“Baiklah itu saja, kalian segera temui ketua! Aku akan mengurus pemberian hadiah pada Jendral Shin.”
“Baiklah.”
Diperjalanan Shin dan pasukannya tengah bersantai diatas kudanya masing masing sambil mengobrolkan banyak hal. Shin meminta para prajuritnya untuk menceritakan kisah hidup mereka supaya para pasukannya merasakan apa yang di rasakan prajurit lainnya.
Tak terasa perjalanan begitu singkat, kini mereka sudah sampai di depan benteng yang sangat besar. Itu adalah benteng kota Shihua.
“BUKA GERBANGNYA!”teriak Shin.
Para penjaga yang ditinggalkan Shin untuk tetap bertugas menjaga benteng pun terkejut karena Jendralnya sudah kembali. Dia segera memberikan perintah untuk orang yang dibawah agar segera membuka gerbangnya karena Jendral sudah kembali.
Didalam kota, salah satu warga yang melihat ke arah gerbang kota dan melihat Jendral dan pasukannya kembali pun berteriak ditengah kota.
“Jendral dan pasukannya telah kembali mereka meraih kemenangan.”
Seketika suasana kota jadi hening karena teriakan orang itu, mereka segera mengosongkan jalan dan segera menyambut Jendral dan pasukannya.
“Selamat Jendral atas kemenangannya.”
Ucapan selamat tak henti hentinya terdengar di telinga Shin dan para pasukannya mereka hanya melambaikan tangannya dan tersenyum.
Mereka melakukan itu karena diperintah Shin untuk tetap bangga pada hasil yang mereka raih tapi jangan terlalu sombong karena itu akan menjatuhkan mereka.
Diperjalanan menuju rumahnya, Shin tak henti hentinya disambut oleh para warga, bahkan seorang penjual dan para pengunjung restoran yang sedang makan menghentikan aktivitas mereka dan memberikan ucapan selamat.
Sesampainya di kediaman Shin dikejutkan dengan istrinya yang menunggu didepan pintu sembari mengelus ngelus perutnya ditemani Huang dan Duan dibelakangnya. Shin lalu turun dari kudanya dan memberikan kudanya kepada salah satu kapten itu untuk memasukkannya kekandang dan memberikan makan.
“Aku kembali.”ucap Shin.
“Ya selamat datang sayang.”balas Hua. Shin segera melangkah mendekat dan segera memeluk nya dan mengecup keningnya.
“Baiklah mari kedalam terlebih dulu. Huang, Duan kalian urus para pasukannya!”
“Baik kakak.”
Mereka akhirnya pergi berlawanan arah, Shin dan Hua yang masuk kedalam sedangkan Huang dan Duan mereka keluar untuk melakukan tugas dari kakaknya. Shin dan Hua menuju ruang utama, para pelayan yang melihat kedatangan Tuannya mengucapkan selamat datang dan selamat atas kemenangannya. Shin lalu menyuruh para pelayan untuk menyiapkan makan siang dimeja makan dan memberikan bekal yang diberikan ibunya disiapkan dimeja makan.
Shin dan Hua kini berada di ruang utama, kini mereka mengobrol sambil menunggu makan siang siap disajikan.
“Apakah kau akan mengatakan sesuatu?”ucap Hua dengan wajahnya yang penuh harapan akan kejujuran Shin yang berbohong. Shin tidak mengerti tujuan dari Hua apa tapi dia segera memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Aku membantu ayah dikota Shangwen yang diserang musuh. Aku berbohong padamu karena aku takut kamu khawatir dan membuat kondisimu tidak sehat.”
“Aku minta maaf.”lanjut Shin dengan wajah tulus meminta maaf.
“Baiklah aku terima maafmu, tapi selanjutnya kau harus jujur tentang apa yang terjadi walaupun itu menyangkut ibu dan ayahku.”
“Iyaa sayang.”balas Shin dengan singkat. Hua tidak memberi tahu Shin bahwa dirinya sudah tau, dia hanya ingin kejujuran dari Shin saja.
Mereka pun melanjutkan obrolannya tentang ayah dan ibunya yang akan datang berkunjung. Itu membuat Hua merasa senang, Shin juga menceritakan tentang Shin dan kedua orang tuanya membahas nama untuk anaknya. Shin juga menceritakan bahwa ayahnya akan pensiun dan pindah kekota ini. Hua yang mendengar itu awalnya sedih karena ayahnya pensiun tapi seketika berubah menjadi senang karena ayahnya akan pindah kekota ini. Shin yang melihat kesenangan Hua pun ikut bahagia, tapi disisi lain dia segera memikirkan bagaimana cara perluasan rumahnya agar cepat diurus karena kini anggota keluarga mereka akan bertambah. Shin langsung menghilangkan pikirannya itu karena dia teringat bahwa dirinya akan menerima hadiah dari pihak pusat atas kontribusinya. Dia tidak berharap banyak tentang pertambahan pasukan, dia hanya berharap agar uang yang diberiakan sebagai hadiah sangat banyak.