
Chapter 52
Kemenangan yang telah di raih oleh Shin melawan Lu Ye membuat moral dan semangat para pasukan menjadi semakin tinggi, akibatnya para pasukan musuh yang tersisa di luar gerbang di habisi dalam waktu kurang dari 1 jam lebih.
1 Jam merupakan waktu yang sangat cepat mengingat pasukan musuh yang tersisa masih lumayan dan juga mental pasukan musuh yang sudah menurun karena kehilangan 2 Jendral yang memimpin mereka selama peperangan.
Jendral Yong juga sudah mengetahui jika Shin memenangkan pertarungan, Ia dan pasukannya merupakan yang tercepat dalam menghabisi sisa pasukan musuh. Shin juga tak menyangka jika Jendral Yong bisa mengatur pasukan yang sangat banyak itu dengan baik.
Sekarang di luar gerbang hanya tinggal menunggu kedatangan Huang, Duan dan pasukan utama milik Shin yang diberi perintah oleh Shin untuk membawa Raja kerajaan Yan agar di bawa ke kerajaan Ming. Shin tahu bahwa dirinya tidak berhak membunuh Raja, ia akan menyerahkan tugasnya pada kamp militer dan menunggu keputusan dari Istana.
.
.
Membutuhkan waktu 15 menit untuk
menunggu kedatangan Huang Duan dan pasukannya di luar benteng. Kini beberapa pasukan biasa telah memegangi Raja dan beberapa anggota keluarganya.
“Kerja bagus. Baik mari kita persiapkan perjalanan pulang karena hari masih sore. Kita akan berisitirahat di perjalanan nanti.” Ucap Shin.
Sebelum mereka melangkahkan kepergiannya dari benteng kota, seorang pejabatt militer yang selalu memantau peperangan datang menghampiri Shin dan yang lainnya.
“Jendral Shin, terima kasih atas kerja kerasnya. Sekarang mari kembali dan laporkan hasilnya.” Ucap pejabat militer dengan rraut wajah yang senang.
“Tuan, tolong jika bisa Tuan lebih baik pulang duluan dan melaporkan hasilnya. Supaya pihak pusat bisa melaporkan kepada istana langkah apa yang akan diambil.” Ucap Shin.
Shin ingin agar kepulangannya berjalan lancar, ia tidak ingin ada pertemuan terlebih dulu dalam waktu dekatnya. Ia ingin menyelesaikan semuanya besok harinya. Ia ingin segera pulang dan bertemu istri dan keluarganya.
“Oh baiklah Jendral Shin, saya akan terlebih dulu dan menyiapkan semua sambutan untuk kepulangan Jendral Shin dan Jendral Yong beserta pasukannya diibu kota.” Ucapnya dengan tersenyum.
Pejabat militer itu langsung membalikkan kudanya dan langsung memacu kudanya, pasalnya jika ia bergerak dengan cepat dalam perjalanannya, ia bisa sampai ibu kota pada tengah malam nanti. Shin dan pasukannya sebenarnya bisa bergerak dengan cepat namun melihat ada banyak pasukan lain yang tersisa ia tidak mungkin bergerak dengan cepat.
Mereka semua pergi dari medan perang dan menuju ke arah kerajaan Ming. Para warga kerajaan Yan yang melihat dari atas benteng atau luar benteng merasa lega karena pasukan musuhnya tidak melakukan pembantaian masal.
.
.
Tengah malam, Pejabat yang dimintai tolong oleh Shin untuk pulang terlebih dulu kini sudah sampai di gerbang ibu kota kerajaan Ming. Dia meminta agar penjaga membukakan gerbangnya, penjaga yang tau bahwa yang meminta membukakan gerbang adalah pejabat militer, mereka langsung membukakan gerbangnya.
Ketika gerbang terbuka, pejabat langsung memacu kudanya dengan cepat menuju kamp militer. Ia seperti sebuah cahaya yang melesat di kegelapan.
Tak membutuhkan waktu lama untuknya sampai di kamp militer. Para pejabat lain yang masih ada di dalam ruangan terkejut dengan kedatangan seseorang dengan terburu buru.
Para pejabat lain yang berada di dalam ruangan hening karena tidak tau siapa yang menanyakan ketua nya, ketika orang yang bertanya itu melangkahkan kakinya lebih dalam, sontak para pejabat lain yang ada di dalam ruangan terkejut melihat orang itu dengan wajah terburu buru.
“Ada apa? Bukannya kamu ditugaskan oleh ketua untuk memantau peperangan?” tanya seseorang.
“Ya makanya mana ketua, aku akan melaporkan ini langsung.” Jawabnya.
Dengan banyak nya perbincangan tidak penting, akhirnya seseorang memutuskan untuk memanggil ketua agar segera datang ke kamp pusat.
15 menit kemudian, Ketua datang ke ruangan kamp tersebut. Dengan tubuh yang besar dan aura yang mendominasi ia seperti singa yang siap menerkam mangsanya. Walaupun sudah tua namun tubuhnya tetap terjaga dengan baik.
“Laporkan!” ucap Ketua.
“Jendral Shin meminta saya untuk pulang lebih dulu karena kemenangan sudah kita raih, Jendral Shin dan Jendral Yong kini sedang dalam perjalanan pulang membawa Raja kerajaan Yan dan anggota keluarganya. Jendral Shin meminta saya untuk melaporkan hal ini agar kamp militer bisa mengambil langkah selanjutnya.” Ucap pejabat itu.
Ketua yang mendengar itu sejenak terdiam mencoba mencerna ucapan yang diucapkan oleh bawahannya, tiba tiba ia tersenyum sembari tangannya yang mengelus ngelus janggut.
“Haha, baiklah. Kalian siapkan sebaik mungkin untuk penyambutan dan saya akan pergi ke istana untuk melaporkan ini pada Raja.” Ucap Ketua.
Suasana didalam ruangan langsung ramai dengan keributan para pejabat yang merayakan kemenangan, namun seketika mereka sadar bahwa ketua masih ada di dalam ruangan dan segera menghentikan perayaannya.
Mereka langsung bubar untuk menyiapkan penyambutan hari esok.
.
.
Esok harinya, saat matahari terbit dari timur. Ibu kota kerajaan Ming ramai oleh para warga yang berkumpul, mereka juga menerima kabar bahwa peperangan yang terjadi selama 2 minggu ini telah dimenangkan oleh pihak kerajaan Ming.
Shin dan Jendral Yong beserta pasukannya masih di perjalanan, mereka masih membawa Raja dan keluarganya. Shin dan yang lainnya masih membutuhkan waktu sekitar 30 menitan untuk sampai diibu kota.
Semalam Shin dan yang lainnya hanya beristirahat 1 jam lebih beberapa menit karena Shin dan Jendral Yong telah memutuskan untuk pulang lebih cepat.
Jika mereka memperlambat perjalanan, mereka akan tiba di ibu kota pada siang hari. Dalam perjalanan, Shin dan Jendral Yong berada di depan mengobrol untuk lebih mengakrabkan diri mereka, pasukan lain yang tidak bertugas untuk memegangi tali pengikat pada Raja dan keluarganya pun ikut mengakrabkan diri nya dengan pasukan lain.
30 menit kemudian, Shin dan Jendral Yong beserta pasukannya sudah melihat benteng ibu kota kerajaan Ming. Mereka akhirnya bernafas lega karena semua penderitaan yang mereka jalani dan alami di medan perang kini telah terlepaas.
Mereka menganggap bahwa sekarang mereka seperti terlahir kembali dengan kebebasan yang mutlak. Pasalnya, ketika beberapa hari berada di medang perang, mereka merasa bahwa dewa kematian berada di bawah bayangan mereka yang siap mengambil nyawa mereka kapan saja.
Walaupun itu adalah sebuah hal wajar bagi semua prajurit namun mereka benar benar tidak ingin mati cepat karena masih harus mengurus keluarganya dan lain lain. Sebenarnya mereka bangga bisa mati di medan perang, hanya saja jika tidak bertemu keluarga sebelum kematian mereka merasa ada yang mengganjal di hatinya.