The Soldier's Eyes

The Soldier's Eyes
Terlalu menarik perhatian



Chapter 39


Di pasukan Shin, kini Shin hanya mempunyai 2 kapten dari pasukan penyerang biasa karena 3 lainnya merupakan kapten pasukan kavaleri.


Shin memberikan perintah kepada 2 kapten itu untuk bergerak bersamaan tapi dalam kelompok masing masing. Ia memberikan penjelasan bahwa kedua kaptennya jangan saling membantu dan fokus saja menyerang menerobos pasukan musuh.


Shin memberikan perintah agar kedua kapten itu teliti dalam melihat suasana di medan perang nantinya, ia harus ingat untuk mencari jalan keluar supaya tidak cepat mati. Shin memberikan perintah agar kedua kaptennya melakukan serangan seperti membentuk sebuah segitiga yang dimana kedua pasukan itu menyerang dari kedua sisi dan memfokuskan serangannya pada tengah pasukan yang akan mereka tuju.


Ia juga memberi tahu kepada kedua kaptennya jika mereka berhasil memfokuskan serangannya dan membentuk sebuah segitiga, ia akan memberikan pasukan bantuan yang dimana pasukan kavaleri akan membantu menyerang dan membersihkan kedua sisi dari bentukan segitiga itu agar pasukan penyerang biasa bisa fokus untuk terus menyerang dan tetap mempertahankan bentuk segitiga itu.


Disini serangan seperti bentuk segitiga yang Shin pinta adalah penyerangan dari arah luar dan masuk ke dalam seperti ini (/).


Para kapten dari pasukan penyerang biasa milik Shin jelas berbeda dengan pasukan Jendral lainnya, mereka bergerak sangat cepat karena mereka sudah terlatih dan dipantau oleh Huang dan Duan. Stamina dan fisik dari pasukan Shin juga berbeda dengan yang lain.


Shin memberikan perintah yang berbeda pada ke 4 Jendral, ia ingin ke 4 Jendral memberikan variasi serangan sesuai keinginan mereka. Shin hanya memberikan 1 ide saja yaitu serangan yang dibagi 2 kelompok dalam setiap lintasan.


Kini kedua kapten itu tengah menerobos pasukan musuh, hanya saja mereka masih belum bisa menembus lebih dalam untuk membuat fokus titik tengah yang runcing, mereka kesulitan karena jumlah pasukan musuh yang banyak. Walaupun mereka bergerak cepat, tetap saja pasukan musuh menerima perintah dari Jendralnya untuk mengisi ruang yang kosong dan merapatkannya, sehingga kedua kapten Shin kesulitan karena setiap mereka melihat celah kecil, celah kecil itu segera tertutup kembali.


Shin yang duduk di atas kudanya melihat pergerakan ke dua kaptennya yang kesusahan, ia hanya menggelengkan kepalanya karena tidak percaya musuh akan melakukan hal itu.


Ia merasa bahwa jika itu terus berlanjut, pasukannya akan kelelahan dan mati di dalam kerumunan itu. Segera Shin mencari ide untuk memberikan serangan kejutan yang dapat membuat mereka terpecah belah.


“Huang, Duan!” teriak Shin.


Huang dan Duan yang berada di depan sembari memimpin pasukannya mendengar suara kakaknya yang memanggil mereka, mereka berdua pun segera kebelakang dan menghampiri kakaknya.


“Ada apa kakak?” tanya Duan.


“Aku ingin salah satu dari kalian menghancurkan momentum musuh dan memberikan dampak yang besar supaya memberikan keringanan pada kedua kapten itu.


” Jelas Shin.


Mereka berdua pun kini berdiskusi tentang siapa yang akan melakukan serangan itu, pasalnya keduanya memiliki kehebatan yang sama walaupun umur Huang sedikit lebih tua 2 tahun dari Duan.


Akhirnya mereka pun memutuskan agar Duan yang menyerang dan memimpin pasukannya melaksanakan perintah Shin.


“Aku juga ingin kamu menyerang sisi paling kiri dan menerobos lurus kedalam, jangan berbelok untuk membantu membuat celah kedua kapten itu. Fokus saja! Jika pasukan musuh fokusnya sudah terbagi dan terpecah belah, kamu segera keluar dari kerumunan musuh dan kembali ke barisan!” pinta Shin.


Duan pun mengerti perintah kakaknya dan segera kembali ke pasukannya, Duan juga meminta 200 pasukan yang ingin ikut melakukan serangan dengan syarat mampu mengimbangi kecepatan menyerangnya.


Huang dan Duan memimpin pasukan utama milik Shin, pasukan Shin itu tidak mempermasalahkannya pasalnya mereka tau bahwa kekuatan kedua adiknya Jendral sangat hebat. Pasukan utama milik Shin semuanya memakai kuda, kuda dan zirah yang mereka kenakan juga berbeda dengan pasukan kavaleri biasa. Mereka mengenakan zirah pasukan utama Shin yang berwarna hitam dengan sedikit corak corak berwarna emas, sesuai dengan warna bendera pasukan Shin.


Duan dan 200 pasukannya kini tengah mengambil posisi bersiap, dan menunggu perintah kakaknya, Duan pun melihat ke arah kakaknya yang mengangguk, Duan yang mengerti pun langsung berteriak.


“SERANGGG!!” teriak Duan.


Duan dan 200 pasukannya bergerak di sisi paling kiri dan menyerang lurus ke arah paling kiri dari pasukan musuh. Duan dan 200 pasukannya bergerak cepat dan merangsek ke dalam. Pasukan pasukan dari kedua belah pihak yang melihat Duan dan 200 pasukannya tidak menyangka pasukan Shin mempunyai pasukan dengan kekuatan yang hebat.


Disana, disisi paling kiri dimana Duan berada. Duan menghempaskan setiap musuh dengan sekali serang, itu membuat 200 pasukannya lebih mudah dalam menyerang dan membunuuh pasukan musuh. Kini pasukan pasukan dari kedua belah pihak yang tidak ikut menyerang hanya bisa melongo melihat penyerangan dari bagian pasukan utama milik Shin.


Di sisi lain, di atas benteng dimana kedua Jendral musuh berada. Mereka yang asalnya sedang memperhatikan pasukan tengah mereka kini mengalihkan pandangannya ke arah kiri dimana pasukan Shin berada dan sedang mengacak ngacak pasukan sebelah kiri.


Mereka berdua terkejut, pasalnya pasukan Shin yang menyerang dan dipimpin oleh Duan itu tidak membantu pasukan penyerang biasa dan terus menyerang lebih dalam. Jendral Lu Ye yang pintar pun tersenyum dan mengerti maksud Shin.


“Jadi dia ingin membuat pasukan sebelah kiri terpecah belah sehingga membuat pasukan yang tengah menahan ke dua kapten itu goyah dan membuat celah untuk kedua kapten itu masuk lebih dalam?”


“MENARIK MENARIK!” ucap Lu Ye.


Lu Ye yang tengah memandang dan memerhatikan gerakan itu tidak mengambil tindakan berbeda dengan Ren Pa yang tidak mengerti maksud Shin dan malah emosi.


“Apakah itu pasukan dari Jendral muda itu?” tanya Ren Pa pada Lu Ye sembari emosi.


Lu Ye hanya mengangguk saja dan tersenyum, Ren Pa yang melihat senyuman Lu Ye sadar bahwa tebakannya terjawab benar. Ren Pa langsung mengalihkan pandangannya dan menatap Shin dari atas benteng.


“Sudah tenang, dia melakukan penyerangan itu hanya untuk membuat ke dua kapten itu membuat celah ditengahnya.” Ucap Lu Ye sambil menunjuk pada kedua kapten Shin yang sedang kesusahan membuat celah.


Ren Pa yang masih emosi pun tidak mendengarkan penjelasan Lu Ye dan langsung berteriak :


“Pasukan tengah bantu sedikit sisi kiri jangan biarkan itu diterobos terus!” teriaknya dari atas benteng.