The Soldier's Eyes

The Soldier's Eyes
Rencana pensiun



Chapter 23


“Itu kakak ipar, sebenarnya kami sudah memberi tahu kakak supaya tidak berbohong pada kakak ipar tapi, kakak terus memaksa kami karena dia sangat mengkhawatirkan kakak dan kandungannya. Dia ingin kakak sehat dan tidak drop makanya dia turun tangan langsung kemedan perang untuk menyelamatkan ayah dan ibu kakak ipar.”


Hua yang mendengar itu mulai mereda emosinya dan dia mengatur nafasnya sambil mengelus ngelus perutnya. Hua langsung berjalan ke arah ruang utama dan segera duduk diikuti Huang dan Duan.


“Apakah benar kota Shangwen diserang?”


“Iya kakak ipar sesuai laporan tadi, tapi sekarang sudah aman.”


“Ohiya kakak ipar, tolong jangan bilang pada kakak bahwa kami telah memberi tahumu.”


“Iya aku mengerti karena kalian menjalankan tugas dari suamiku, aku akan berpura pura tidak tahu dan menunggu kejujuran dia juga.”


“Baik, terima kasih kakak ipar. Kalau begitu, kami tunggu diluar jika ada apa apa panggil kami!”


Hua pun mengangguk dibarengi Huang dan Duan yang segera berbalik badan dan menuju keluar rumah untuk menghirup udara segar sembari menunggu laporan selanjutnya.


“Untung saja.”ucap mereka berdua sambil menghela nafas.


Didalam ruangan utama dimana tempat Hua berada, dia sedang menyesap teh hangat agar membuat dirinya semakin tenang.


“Aku mengerti kekhawatiranmu tapi aku berharap kedepannya kamu tidak berbohong lagi.”gumamnya.


“Aku juga ingin mendukung semua keputusanmu walaupun itu bersangkutan dengan ayah dan ibuku. Tapi aku mengerti bahwa kekhawatiranmu itu untuk kesehatanku dan kandungan dari anakmu. Aku akan menunggumu pulang.”lanjutnya.


Disebuah ruangan dimana banyak meja dan orang orang didalamnya, terdapat dua orang yang sedang berdiri didepan meja meja tersebut sembari melaporkan hasil laporan mereka tentang yang terjadi di medan perang.


“Lapor, kini pasukan musuh sudah dibersihkan beserta Jendralnya. Ini berkat bantuan dari pasukan Shin yang membantu.” ucap atasan.


“Kami sungguh berterima kasih padamu Jendral Shin dan pasukanmu karena telah membantu kami. Kami juga tau bahwa jarak kota Shihua dan Shangwen dimana tempat yang kamu pimpin untuk menuju kesiini jauh dan kau datang dengan cepat setelah menerima pesan dari kami.” ucap atasan.


“Aku dan pasukanku melaju tanpa istirahat, untung saja pasukanku berlatih dengan rutin dan rajin dibawah pengawasan adik adikku jadi mereka juga telah bertambah kuat sehingga tidak banyak mengeluh. Aku juga awalnya tidak percaya pada stamina pasukanku, karena setelah sampai aku menyuruh mereka segera mengikutiku dengan cepat untuk menerobos pasukan musuh.” jelas Shin.


“Baiklah kami menghargai apa yang telah kami perbuat. Kami akan melaporkan ini pada pusat dan menunggu hadiah apa yang diberikan pada pihak pusat padamu, serta apa langkah selanjutnya. Nanti kami akan memberi tahumu.” ucap atasan.


“Baik.”jawab Shin.


Jendral Shin dan Jendral Fei segera pergi dari kamp mliter dan segera pulang karena hari sudah mulai larut malam. Shin juga akan menginap dan memberikan pesan pada pasukannya untuk membuat tenda didepan gerbang kota dan memberikan hak khusus pada prajurit yang memiliki keluarga di kota Shangwen untuk mengunjungi keluarganya karena nantinya mereka akan kembali kekota Shihua.


Sesampainya dikediaman Shin dan Ayahnya segera membersihkan diri karena mereka kotor dan berbau amis akibat darah darah yang menempel pada zirah mereka dan badan mereka. 45 menit berlalu, mereka kini berada diruang utama. Mereka telah menyelesaikan makan malam bersama dan kini di ruang utama terdapat 3 orang yang sedang duduk.


“Shin, sebelumnya aku berterima kasih karena telah menolong ayah.”


“Aku tidak menyangka kau kesini dengan kecepatan tinggi hanya untuk menolong pria tua yang sedang kesusahan. Aku awalnya sudah menyerah karena tidak percaya akan menang dalam peperangan tadi tapi berkatmu aku masih hidup dan menang.”


“Tidak usah dipikirkan ayah, bagaimanapun ini tugas karena aku sudah menerima pesan dan datang untuk membantu. Disisi pribadi kau ini ayah dari istriku, aku tidak mau istriku kesehatannya memburuk karena mendengar kabar buruk. Aku juga tadi berbohong pada istriku karena tidak mau membuatnya khawatir dan membuat dirinya beserta kandungannya drop.”


“Aku mengerti Shin.”


“Dia beserta kandungannya baik baik saja ibu, aku juga memerintahkan para pelayan untuk membuat makanan khusus untuk dirinya agar dia dan kandungannya sehat.”


“Baiklah terima kasih karena telah menjaga putriku dan cucuku.”


“Tidak usah berterima kasih ibu, itu sudah tugasku sebagai seorang suami dan seorang ayah.”balasnya.


“Kami akan berkunjung nanti setelah keadaan disini membaik.”


“Baik bu, Hua pasti senang mendengar kabar ini.”


“Shin, aku ingin mengobrol sesuatu yang penting.”potong ayahnya.


“Apa ayah?”


“Aku berniat pensiun, apakah pihak militer akan menerimanya?”


Shin terkejut karena tidak menyangka ayah dari istrinya yang seorang Jendral akan pensiun walaupun dia mengerti karena usia nya yang sudah tua dan juga keadaan yang baru terjadi membuatnya memikirkan hal itu.


“Kenapa ayah?”


“Aku sudah tidak seperti dulu, kini ada kamu yang akan menjadi andalanku untuk menggantikanku.”


“Kan aku sudah mempunyai sebuah kota ayah, mana mungkin aku meninggalkannya apalagi kini kota sudah mulai membaik.”


“Apaa?”terkejut karena tidak percaya bahwa kota yang awalnya dipenuhi dengan para berandalan yang membuat militer tidak mau ikut campur kini sudah membaik.


“Tidak usah terkejut ayah, aku membuat penawaran pada para pemimpin gang disana dan membuatnya bekerja dibawahku supaya kota aman dan makmur. Mereka juga mendapat keuntungan dan untungnya mereka menerima.”


“Aku juga butuh uang lebih makanya membangun kerja sama dengan mereka, serta kini aku membuat sebuah bangunan pelelangan yang akan diurus mereka untuk mendapatkan keuntungan lebih selain dari hasil peperangan.”


Mereka berdua terkejut karena suami dari anaknya benar benar pintar dan hebat bisa mengubah sebuah kota yang awalnya gelap kini sudah menjadi cerah.


“Jika ayah dan ibu kesana nanti, kalian pasti


tidak percaya dengan keadaan kota.”


“Haha baiklah nanti aku akan berkunjungkan jadi aku paasti melihatnya.”


“Tapi ayah, mari bahas yang tadi dulu.”


Shin dan ayahnya kini membahas tentang rencana pensiun ayahnya itu. Mereka juga mendapatkan sebuah titik temu yang menurut mereka pilihan terbaik. Mereka memilih untuk membuat ayahnya pensiun dan memberikan kota ini pada pihak militer untuk mengurusnya juga mereka memilih untuk pindah ke kota Shihua agar dekat dengan putri dan cucunya.


Tapi dalam pensiun ayahnya akan membuat kota Shangwen menjadi lemah dan pasukan milih ayahnya akan diambil oleh pihak militer.


Mereka tidak khawatir dan tidak takut tentang itu yang penting mereka hidup bahagia bersama cucunya karena sudah berumur. Kini mereka melanjutkan perbincangan yang membahas tentang nama cucunya yang dimana itu masih lama untuk kelahirannya, sampai sampai ibunya memotong dan meminta izin untuk tidur.