The Soldier's Eyes

The Soldier's Eyes
50 : 50



Chapter 43


Jarak Ren Pa dan Jendral Meng sudah semakin dekat. Mereka hanya terhalang oleh 8 lapis pasukan utama milik Jendral Meng. Dilihat dari manapun, Ren Pa sudah menerobos sangat dalam pertahanan milik Jendral Meng.


Jendral Meng yang sudah tidak tahan dengan kehancuran pertahanannya pun langsung memutar mutarkan tombaknya. Ia layak seperti seorang super hero yang dengan mudahnya memutar mutar tombak yang begitu besar dan berat.


Setelah memutar mutarkan senjatanya, Jendral Meng menggerakan kudanya agar maju dengan pelan pelan. Ren Pa yang merasakan aura dari depannya seketika berhenti menyerang. Ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah dimana aura yang ia rasakan keluar.


Disana Ren Pa mendapati Jendal Meng yang maju dengan perlahan lahan dengan menunggangi kudanya. Ren Pa pun terkekeh melihat Jendral Meng yang maju. Ia mengerti maksud dari tingkah Jendral Meng.


Ren Pa menancapkan senjatanya pada tanah dan langsung melebarkan tangannya, pasukannya yang mengerti langsung bergerak dan segera membuat setengah lingkaran.


Pasukan milik Jendral Meng juga mengerti arti dari Ren Pa. Mereka pun bergerak dan membuat setengah lingkaran. Mereka juga menyisakan sedikit celah untuk Jendral Meng masuk dalam lingkaran yang dibuat oleh kedua pasukan.


Tidak lama setelah membuat setengah lingkaran dan membuat sedikit celah, Jendral Meng masuk ke dalam lingkaran itu dan kini sudah berhadapan dengan Ren Pa dan saling menatap dengan tajam.


Dari kejauhan Shin melihat aksi itu ia kagum dengan kepekaan pasukan milik Ren Pa. Ia memfokuskan pandangannya pada dua orang yang sedang berada dalam lingkaran pasukan itu. Berbeda dengan 3 Jendral lainnya, mereka fokus pada lintasannya karena takut terjadi hal yang sama pada lintasannya.


Sebenarnya jika dilihat dari manapun, pihak kerajaan Ming dirugikan jika melakukan sebuah duel seperti ini. Pasalnya mereka mempunyai 5 Jendral dan musuhnya hanya 2 Jendral. Tapi tidak ada yang tau apa yang akan terjadi dalam peperangan.


Kecerdasan, kekuatan, ketelitian, dan insting akan mempengaruhi keadaan peperangan dan jika seorang Jendral bisa mempunyai semua poin itu atau mempunyai beberapa dari ke 4 poin itu mereka bisa dikategorikan sebagai Jendral yang hebat, juga bisa dipastikan merubah keadaan perang yang asalnya merugikan pihaknya menjadi keuntungan bagi pihaknya.


Di dalam lingkaran yang dibuat oleh kedua pasukan kini ke dua Jendral saling menatap dengan tajam. Ren Pa yang tadinya menancapkan senjatanya, kini ia menarik lagi senjatanya dan dengan karakternya yang berani, ia memutar mutarkan senjatanya seperti Jendral Meng lakukan tadi.


“Haha akhirnya kau keluar juga pak tua.” Ucap Ren Pa berniat memprovokasi.


Jendral Meng yang tidak tau karakter Ren Pa yang licik pun membalas ucapan provokasi Ren Pa.


“Kau sungguh berani menyerang kesini, bocah.” Balas Jendral Meng.


Ren Pa memiliki umur 38 tahun dengan banyak nya kontribusi yang ia berikan pada kerajaan Yan, ia diangkat menjadi seorang Jendral kerajaan Yan. Dengan karakternya yang berani, licik, dan mudah emosi ia mencapai puncak kehidupannya dan menjadi salah satu pilar kerajaan Yan.


Jendral Meng yang memiliki umur 58 tahun sudah termasuk sebagai seorang pria tua.


Dilihat dari umur dan kekuatan fisik, Ren Pa lebih unggul hanya saja pengalaman yang dimiliki berbeda jauh dengan Jendral Meng.


Sebelum duel dilakukan, mereka masih dinilai 50:50 apalagi dilihat dari ke dua poin tadi. Jendral Meng yang sudah menjawab pertanyaan Ren Pa tadi langsung memfokuskan auranya kepada Ren Pa berniat untuk menekan Ren Pa.


Ren Pa yang merasakan aura tekanan dari Jendral Meng bisa lepas dengan mudahnya karena karakter yang ia miliki.


“Apa yang kau bicarakan pak tua? Sudah jelas kau paling lemah diantara ke 4 Jendral lainnya.” Memprovokasi lagi.


Jendral Meng yang mendengar itu merasa di rendahkan oleh Ren Pa ia pun menggertakan giginya dan menggenggam erat erat senjatanya yang berada di tangan kirinya.


“Kau bocah bermulut busuk!” ucap Jendral Meng dengan penuh emosi.


Ren Pa yang melihat Jendral Meng sudah emosi pun menambahkan sedikit lagi bumbu bumbu provokasi yang akan membuat Jendral Meng membludak marah.


“Kau sudah bau tanah, bersihkan lehermu itu aku akan menebasnya sekarang.” Ucapnya dengan senyuman lebar di wajahnya.


Jendral Meng yang mendengar itu sungguh sungguh emosi, ia sudah tidak tahan dengan semua ucapan Ren Pa yang merendahkan dan memprovokasinya. Ia pun tak membalas perkataan Ren Pa dan langsung memacu kudanya agar bergerak maju kedepan.


Ren Pa yang sudah tau apa yang akan dilakukan Jendral Meng pun terkekeh dan langsung memasang posisi bertahaan. Ia juga tidak tau seberapa kuat kekuatan Jendral Meng, ia hanya merasakan auranya saja dan tidak melihat kehebatannya.


Jendral Meng yang sedang memegang senjatanya sembari maju ke arah Ren Pa pun mengangkat senjatanya, ia berniat menyerang secara vertikal agar serangannya memberikan tekanan yang lebih pada Ren Pa.


Ren Pa yang melihat gerakan itu langsung memasangkan senjatanya secara horizontal agar bisa menahan serangan Jendral Meng. Hanya saja ia tidak tahu seberapa kuat serangan vertikal itu menyerangnya.


Benturan senjata terjadi, Ren Pa yang dalam posisi bertahan dikagetkan dengan kekuatan yang dilancarkan Jendral Meng secara vertikal. Ia menggertakan giginya karena benar benar kaget, kekuatan yang dikeluarkan Jendral Meng benar benar menekan Ren Pa yang tadi bersifat sombong.


Ren Pa yang tertekan pun berusaha bertahan dari serangan itu walaupun senjata miliknya sudah menempel dengan badannya. Ia sudah berada dalam posisi yang tidak tegak lagi karena tekanan serangan itu. Ren Pa kini berusaha keras agar bisa membalikan serangan itu, ia berhasil melonggarkan sedikit tekanan itu.


Ia menggunakan kedua tangannya untuk membantunya melonggarkan tekanan itu, ia sedikit sedikit berhasil mengangkat senjata nya dan mendorong kembali senjata milik Jendral Meng. Tidak hanya begitu saja, Ren Pa melancarkan serangannya secara horizontal karena posisi senjatanya yang sudah berada dalam posisi horizontal.


Jendral Meng melihat gerakan itu pun memasangkan senjatanya untuk menahan serangan Ren Pa. Benturan senjata kembali terjadi, kini percikan percikan kecil keluar dari benturan senjata itu karena kekuatan serangan yang dikeluarkan Ren Pa sungguh kuat.


Jendral Meng berusaha keras menahan serangan milik Ren Pa. Ia juga dan kudanya sedikit terdorong mundur. Pasukan Jendral Meng yang melihat kemunduran kuda Jendral Meng merasa cemas dengan Jendralnya yang sedang tertekan karena serangan Ren Pa.