The Soldier's Eyes

The Soldier's Eyes
Kematian Ren Pa



Chapter 50


Pertarungan antara Shin dan Ren Pa kini tengah terjadi. Mereka saling menyerang dengan senjata masing masing. Ren Pa di untungkan karena mempunyai berupa tombak, ia mempunyai keunggulan dalam jarak serangnya.


Meski begitu, Shin bisa menutupi kekurangannya dengan bergerak lebih cepat agar tidak terkena serangan tombak lawan yang panjang. Tak lupa Shin juga kadang kadang menggunakan 1 daggernya ketika dia sudah sangat dekat dengan lawannya.


Ren Pa tidak percaya bahwa dirinya akan di tekan oleh seorang pemuda, walaupun Ren Pa emosi, ia tahu bahwa ia sedang tertekan oleh musuhnya karena ia tidak bisa melancarkan 1 pun serangan kepada Shin.


Shin tidak menghentikan serangannya karena ia takut jika memberikan sedikit celah Ren Pa akan langsung melancarkan serangannya dan itu tidak mungkin serangan yang biasa saja.


Jendral Yong dan pasukannya kini tengah memperhatikan pertarungan itu, Jendral Yong yang tidak pernah melihat Shin bertarung 1 lawan 1 sangat terkejut karena ia tidak percaya bahwa pemuda yang didepannya sungguh sungguh hebat.


Pasukan yang dibawa oleh Jendral Yong sama terkejutnya, pasalnya mereka juga pertama kali melihatnya. Mereka tahu bahwa Jendral Meng dan Jendral Mo sangat kuat tapi tetap bisa dibunuh oleh Ren Pa, tapi yang mereka lihat sekarang adalah Ren Pa yang membunuh 2 Jendral itu kini sedang di tekan oleh seorang pemuda.


‘Apakah Jendral Shin lebih kuat dari Jendral Mo dan Jendral Meng?’gumam seorang prajurit.


Gumaman itu tidak hanya berasal dari 1 prajurit saja, melainkan hampir semua pasukan yang melihat itu termasuk Jendral Yong sendiri.


Shin yang tengah diperhatikan dan di tonton tidak merasakan gangguan, ia tetap fokus untuk segera membunuh Ren Pa. Ia tidak ingin memberi Ren Pa kesempatan untuk menyerangnya apalagi memberikan luka yang akan berdampak sangat besar baginya nanti.


.


Lu Ye yang sudah membiarkan kepergian Jendral Yong pun segera kembali ke atas benteng, namun ia terhenti di depan gerbang kota karena melihat kekacauan yang terjadi. Ia tidak tahu apa yang terjadi di medan perang sekarang karena dirinya meninggalkan pos yang biasa ia tempati yaitu atas benteng.


Ia pun segera menghampiri dan betapa terkejutnya ia melihat pasukan utama Ren Pa dibantai oleh 2 pasukan utama yang memiliki warna zirah berbeda. Mereka adalah pasukan utama milik Jendral Meng dan Jendral Mo.


Lu Ye yang sadar akan keberadaan 2 pasukann utama itu langsung berpikir bahwa Ren Pa sudah mengalahkan Jendral Mo, hanya saja ia bingung dengan keberadaan Ren Pa yang tidak ada disekitar kekacauaan itu.


Lu Ye pun ingin segera menghentikan kekacauan yang terjadi itu namun perhatiannya teralihkan oleh sebuah suara hantaman pedang yang terdengar lebih nyaring dan keras disusul oleh suara sorakan pasukan.


Ia tidak mengetahui identitas sorakan pasukan itu, ia langsung saja mendekat ke arah sorakan itu. Lu Ye yang sudah mendekat pun dikejutkan dengan Ren Pa yang tersungkur di tanah dengan keadaan yang menyedihkan.


Badan yang tidak memiliki kepala tersungkur di tanah, darah terus keluar di bagian leher itu. Lu Ye yang melihat itu pun segera mengalihkan perhatiannya ke sekitar, ia ingin tahu siapa yang membunuh Ren Pa.


Lu Ye yang mendapati Shin yang dengan gagah duduk di atas kudanya sembari memegang pedang di tangan kanannya dan 1 dagger di tangan kirinya. Ia pun menjadi emosi, dan segera menghampirinya.


“Kau kah yang membunuh Ren Pa?” tanya Lu Ye tiba tiba.


Shin yang mendengar itu langsung mengalihkan pandangannya pada arah suara itu. “Iya, aku yang membunuhnya.” Balas Shin dengan datar dan menatap tajam pada Lu Ye.


“Jendral Yong,” sapa Shin.


“Ah-“ kaget Jendral Yong.


“Ada apa Jendral Shin?” tanya Jendral Yong yang sekarang sudah menghormati Shin.


“Aku mempunyai firasat bahwa peperangan akan segera selesai. Lu Ye sudah datang. Aku ingin Jendral Yong membantai habis pasukan yang tersisa di luar ini dengan pasukan yang Jendral bawa.”


“Tapi sebelum itu, aku ingin Jendral memerintahkan beberapa orang untuk pergi ke arah 2 wakilku yang sedang membersihkan pasukan dilintasanku. Beri tahu mereka untuk segera membersihkan musuh dengan cepat dan masuk ke dalam kota.”


“Suruh mereka berdua dan pasukannya untuk menyeret Raja Yan keluar dari singgasana nya. Ketika 2 wakilku masuk Jendral Yong akan membersihkan pasukan musuh yang tersisa di luar dan aku akan menahan Lu Ye.” Ucap Shin terus terang dengan rencananya.


Jendral Yong yang mendengar itu terkejut lagi karena akhirnya peperangan ini akan segera selesai, ia sudah tidak bisa menahan rasa bahagia itu karena ia sudah terlalu lama pergi berperang walaupun di hatinya masih merasakan sakit karena kepergian 3 Jendral seniornya.


“Baik Jendral Shin semoga rencana ini berjalan lancar.” Ucap Jendral Yong dengan semangat.


Shin pun segera membalikkan badan dan melihat Lu Ye yang masih memandangi rekannya yaitu Ren Pa terbunuh dengan kepala yang terpisah dari badannya.


“Heh, apakah kau akan terus memandanginya?” ucap Shin tiba tiba.


“Tenang saja, kau juga akan seperti itu.” Lanjut Shin.


Lu Ye yang mendengar itu segera mengalihkan pandangannya pada arah suara itu berasal. Ia langsung menatap tajam Shin karena telah membunuh rekannya apalagi Shin sudah mengatakan kata kata yang membuatnya tersinggung.


“Jangan menatapku seperti itu! Sebenarnya dari awal aku datang ke ibukota, aku sangat mengkhawatirkan kehadiranmu. Aku sebenarnya tidak ingin berhadapan denganmu tetapi takdir berkata lain, aku harus berhadapan denganmu.” Ucap Shin memutus keheningan.


Lu Ye yang mendengar itu segera menghela nafas, ia segera mencerna perkataan Shin. Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk mencerna perkataan Shin. Ia langsung tersenyum karena mengerti maksud ucapan Shin.


Lu Ye berpikir bahwa kehadirannya adalah sebuah ancaman untuk Shin. Ia pun segera berkata. “Haha, ternyata kau takut padaku.” Ucap Lu Ye.


“Ya asalnya aku takut dengan kehadiranmu, aku juga tau semua strategi perang ini kau yang buat. Aku tidak menyangka kau sangat hebat.” Balas Shin dengan tenang.


“Tapi itu tidak akan merubah bahwa kau takut padaku kan?” ucap Lu Ye percaya diri.


“Tidak, sekarang aku sudah tidak takut padamu karena ternyata kamu sangat ceroboh dalam membuat strategi.” Ucap Shin dengan datar dan dengan nada merendahkan.


Lu Ye yang mendengar itu emosi tapi ia segera menarik nafas panjang dan terdiam. Ia memikirkan ucapan Shin tentang strateginya.