
Chapter 18
Keesokan harinya ketika pagi tiba, Shin membangunkan Hua dengan mencium ciumnya. Hua yang baru terbangun pun di terkam oleh Shin. Pagi hari yang penuh dengan gairah terjadi dikamar itu.
2 jam kemudian
Mereka sudah bersih bersih dan sudah sarapan, Hua hanya bisa melekat pada Shin. Shin menuju ruang utama menunggu laporan kapten yang diberi tugas olehnya kemarin. Tak menunggu waktu lama, kaptennya datang dan membawa seseorang.
“Lapor Jendral, ini orangnya.”
“Baiklah kamu tunggu diluar.”
“Pak tua, apakah kau pemimpin dari kelompok tukang itu?”
“Iya Tuan.”
“Hmm baiklah, aku ingin memperluas rumah ini.”
Shin pun menjelaskan semua keinginannya tentang mulai membangun halaman haalamannya yang masih kosong dengan bangunan bangunan yang berisi beberapa kamar, dia juga menjelaskan pembangunanannya jangan sampai menganggu keindahan rumah ini. Shin menjelaskan bahwa kelompok tukang itu akan bekerja dengan waktu yang panjang dan gaji yang lumayan.
Pak tua itu hanya mengangguk angguk mengerti semua ucapan yang dijelaskan Shin. Setelah itu Shin menyuruhnya keluar dan melaporkan bila butuh sesuatu.
“Akhirnya semua selesai, sekarang tinggal langkah selanjutnya.”ucap Shin.
Shin menatap Hua yang duduk disebelahnya.
“Mari kita jalan jalan, kita belum pernah jalan jalan dikota ini.”
“Hmm.” Mereka pun pergi dengan bergandengan tangan.
Huang dan Duan diberi tugas untuk melatih pasukannya yang berjumlah 10000 itu. Mereka berdua pun melaksanakan tugasnya dan melatihnya. Keempat serangkai yang sekarang dibawah pimpinan Shin juga sudah mulai bergerak dan Shin tinggal menunggu laporannya.
Dikediaman Fei, ayahnya belum menerima kabar dari anak anaknya dia khawatir dan ingin mengunjunginya tapi dia mengurungkan niatnya karena ingin tau bagaimana Shin menyelesaikan masalah kota itu.
Diperjalanan Hua dan Shin, mereka menikmati suasana kota yang bagus itu.
“Ini kota yang besar dan indah.”ucap Shin. Hua hanya diam dan tetap berjalan sambil memeluk lengan Shin.
“Hanya saja aturannya kurang mengikat.”
Shin menikmati suasana kota itu sambil memikirkan rencana rencana selanjutnya karena peperangan juga belum terjadi lagi.
“Dijual budak budak.”
“Harga murah harga murah.” Teriak sipenjual
Shin langsung mengedarkan pandangannya dan mencari arah suara itu, dia juga langsung menghampirinya ketika sudah melihat siapa yang berteriak. Dia melihat bahwa para budak itu kurus dan hampir mati karena tidak diberi makan. Shin yang melihat itu emosi tapi dia menahannya.
“Permisi, aku ingin membeli budak.”ucap Shin
“Oh silahkan dipilih tuan.”
Shin langsung menggunakan kekuatan matanya. Dia segera mencari orang orang yang dibutuhkannya. Shin berharap dapat banyak budak agar bisa meringankan pekerjaannya.
[Ling Chu]
[Pintar, jujur, dapat dipercaya]
[Lu Mei]
[Sopan, teliti, pintar]
[Chi Jing]
[Setia, jujur, mudah emosi]
“Apakah harga budak semuanya sama?”
“Sama Tuan.”
“Baiklah, berapa 1 nya?”
“1 nya 300 coin emasTuan.”
Shin menelan ludahnya karena merasa kemahalan, tapi dia tidak menyanggahnya dan langsung menunjukan budak budak yang akan dia beli. Dia menunjuk sekitar 15 budak untuk dibelinyaa dan memberikan uangnya, penjualnya pun mengambil uangnya langsung mengeluarkannya lalu memberikannya pada Shin tapi mereka ketakutan ketika melihat Shin.
“Jangan takut, aku tidak akan melakukan apapun.”
“Aku hanya ingin kalian bekerja dirumahku membantu istriku dan menjaga rumahku.”
“Aku akan membagi tugas tugas untuk kalian semua nanti dirumah, sekarang kalian ikuti aku pulang.” Lanjutnya Shin.
Diperjalanan pulang Shin dan para budak itu di perhatikan oleh banyak orang, Shin tidak memperdulikannya dan terus berjalan menuju rumahnya. Para warga itu malah memandang rendah kepada Shin karena membeli budak budak itu. Shin membeli budak juga bertujuan untuk membebaskannya dan memberikan pekerjaan itulah yang tidak mereka tau. Orang orang hanya bisa berpandangan negatif tanpa tau tentang tujuan dari orang yang dipandangnya.
Shin hanya membutuhkan waktu sebentar untuk sampai rumahnya. Rumah Shin terletak ditengah tengah kota dengan bangunan yang paling megah dan besar. Shin langsung masuk ke ruang utama diikuti oleh para budak itu.
“Siapa nama kalian? Sebutkan bergiliran dan sebutkan kemampuan apa yang kalian miliki supaya aku mudah mengaturnya. Tenang saja aku akan membayar kalian.”
Mereka pun menyebutkan nama nya bergiliran dengan kemampuannya masing masing dengan perkataan yang terbata bata. Shin tidak mempermasalahkannya karena tau mereka takut dan trauma. Setelah menyebutkan semuanya, Shin pun mulai mengatur orang per orangannya dengan pekerjaan yang sesuai supaya merek betah juga pekerjaan yang diselesaikan nantinya baik juga. Ketika sadar bahwa Shin memang benar menolongnya mereka pun akhirnya bisa tersenyum.
“Terima kasih telah menolong kami, membebaskan kami dan sekarang kami bisa hidup dengan bebas. Terima kasih juga telah memberikan pekerjaan serta membayarnya.”Ucap salah satu budak yang merasa dirinya sangat bahagia.
“Iya sama sama, kita saling membutuhkan dan menguntungkan jadi jalanilah seperti biasa saja. Sekarang kalian pilih kamar masing masing dan bersihkan diri kalian lalu mulailah bekerja.”
“Baik Tuan.”
Mereka pun pergi, sekarang di ruang utama hanya tersisa berdua. Shin menyuruh Hua untuk mendekatkan diri dengan mereka supaya punya teman. Shin menyuruh begitu karena akhir akhir ini Hua hanya berdiam diri terus, dia tidak punya teman tidak seperti ketika di kediaman Fei.
Waktu untuk pengambilan pedang tersisa 2 minggu lagi. Shin akan menyuruh Huang dan
Duan untuk mengambilnya, sekalian mereka membuat senjata. Shin sekarang hanya perlu memikirkan rencana pembangunan selanjutnya.
Shin menghitung uangnya, karena dia membutuhkan modal banyak untuk biaya pembangunannya. Setelah dihitung uang Shin hanya tersisa 32.500 coin emas. Shin juga belum menanyakan kira kira berapa biaya yang dibutuhkan para kelompok tukang itu. Dia juga perlu membeli tanah disekitar rumahnya.
Shin memutarbalikan rencananya dan akan uangnya akan dipakai untuk membeli tanah terlebih dahulu dan membangunan sebuah tempat usaha. Dia akan membuat sebuah bangunan pelelangan.
Shin langsung bangun dari duduknya dan pamit pada Hua ingin mengecek lokasi lalu pergi keluar. Diluar Shin melihat lihat sekitar untuk mencari startegis terlebih dahulu. Tujuan utama mencari tempat strategis supaya para pelanggan tau ada bangunan baru, juga jika ada orang dari luarkota dan ingin mengikuti pelelangan mereka tidak harus berputar putar mencari tempatnya.
Perjalanan mencari lokasi strategis ternyata sangat sulit, apalagi banyak tempat yang kuingikan tapi mereka tidak mau menjualnya.
Perjalanan itu tak berhenti sampai sore hari, Shin terus mencari lokasi strategis. Dia juga lupa makan dan melupakan istrinya, menurutnya ini lebih penting. Ini juga nantinya akan membuat Hua bahagia pikirnya.
Shin tak lelah nya mencari lokasi itu, sampai akhirnya malam sudah tiba dan Shin pun memutuskan untuk pulang dan melanjutkannya besok apalagi dia dari tadi menahan rasa laparnya.
Untuk para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur, mohon berikan sarannya dikolom komentar dan jika suka dengan cerita tolong di like, vote dan tekan tombol favorit supaya ketika saya update kalian tidak ketinggalan.
Saya meminta sarannya dikomen supaya saya bisa mengoreksi karya saya. Saya meminta like dan vote supaya saya tambah semangat dalam melanjutkan ceritanya.
Saya tidak bermaksud memaksa, hanya saja saya masih pemula yang masih memerlukan dukungan penuh kalian dalam memperbaiki diri.
Semoga para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur ini menikmati karya saya.
Maaf bila banyak kesalahan, nanti akan saya betulkan supaya enak dibaca lagi. Terima kasih juga buat kalian yang sudah mendukung karya saya.
Salam hormat.
-cain-