The Soldier's Eyes

The Soldier's Eyes
Terulang kembali



Chapter 49


Jendral Lin yang masih terpengaruh oleh luka di lehernya tak sempat menghindari serangan vertikal Lu Ye yang mengarah ke arah bahunya. Ia terkena tebasan vertikal itu dan memegangi bahunya, ia tidak mempunyai kekuatan lagi untuk melancarkan serangan, ia hanya memegangi lukanya saja dengan satu tangan.


Lu Ye pun tak segan dan langsung menebas secara horizontal leher milik Jendral Lin. Kini tebasan itu berhasil dan memisahkan badan dengan kepala milik Jendral Lin.


Pasukan kerajaan Yan yang berada di lintasan milik Jendral Lin bersorak karena kemenangan Lu Ye, berbeda dengan pasukan kerajaan Ming mereka terdiam tidak percaya melihat Jendralnya mati begitu saja.


Pasukan milik Jendral Lin ingin menyerang Lu Ye namun segera dihentikan oleh Jendral Yong yang terlambat datang. Jendral Yong segera menarik pasukan sisa milik Jendral Lin, untungnya pasukan sisa milik Jendral Lin mengerti dan segera menarik diri dari pertarungan itu.


.


.


Di lintasan milik Jendral Mo, Shin sudah dekat dengan pertarungan itu hanya saja ia terhalangi oleh pasukan pasukan Jendral Mo. Akibatnya ia tidak bisa mendekati area pertarungan itu. Shin merasa semakin cemas.


“Kalian segera bersiap menerobos! Aku yakin Jendral Mo akan kalah oleh Ren Pa.” ucap Shin dengan yakin karena ia sudah tahu bahwa Ren Pa memang hebat dan Jendral yang berkualitas.


Para pasukan sisa milik Jendral Meng yang mengikuti Shin pun mengerti intruksi Shin. Tak lama setelah Shin memberi intruksi, sorakan terjadi didekat area pertarungan kedua Jendral itu. Sorakan itu berasal dari pasukan kerajaan Yan.


Shin yang mendengar itu langsung mencoba menerobos apa yang terjadi. Ia dikejutkan dengan keadaan Jendral Mo yang terbaring di tanah dengan penuh darah mengalir. Shin pun segera memberi intruksi pada pasukan yang mengikutinya untuk segera menyerang.


Para kapten itu mengerti dan segera melancarkan serangan, ia menerobos pasukan milik Jendral Mo dan langsung menuju pasukan utama milik Ren Pa.


Kekacauan terjadi di lintasan itu, area pertarungan menjadi ricuh karena adanya kekacauan. Ren Pa yang melihat kekacauan segera membersihkannya namun sayang ia ditahan oleh Shin.


“Kau lagi bocah!” ucapnya dengan emosi.


“Iya, mari lanjutkan yang kemarin.” Ucap Shin dengan santai.


Setelah mengucapkan itu, Shin langsung menerjang Ren Pa yang belum siap. Ren Pa yang sadar bahwa dirinya akan bertarung lagi langsung mengangkat senjatanya namun terlambat. Serangan Shin sudah mendarat di perut Ren Pa. Walaupun tebasan kecil, itu membuat zirah milik Ren Pa menjadi pecah dan berlubang.


Para pasukan yang mengikuti Shin tidak berhenti menyerang karena pasalnya itu bukan pertarungan Jendral asli mereka jadi mereka terus menyerang. Berbeda dengan pasukan sisa milik Jendral Mo yang masih memperhatikan pertarungan itu.


“Kenapa kalian disini?” ucap Shin yang melihat pasukan Jendral Mo masih diam.


“Kalian bantu saja pasukan sisa milik Jendral Meng untuk membersihkan pasukan utama Ren Pa. Ini biar aku yang urus. Kalian bukan pasukanku jadi kalian tidak perlu menontonku.” Ucap Shin dengan tegas.


Ren Pa yang mendengar itu terkekeh karena merasa Shin lucu.


“Haha, memang jika pasukan ku tidak ada aku akan menjadi lemah?” ucap Ren Pa dengan tenang.


Akhirnya mereka tidak bertarung, mereka hanya terus saling melontarkan provokasi terlebih dulu untuk melihat kelemahan masing masing. Siapa yang terprovokasi lebih dulu itu yang akan kalah menurut mereka berdua.


Lontaran provokasi terus di lontarkan, Shin masih dengan tenang walaupun dirinya terus dihina tidak tahu malu atau apalah oleh Ren Pa.


Berbeda dengan Shin, Ren Pa sudah emosi dan sudah memakai nada tinggi dalam setiap ucapannya.


Shin yang mendengar itu tersenyum lebar karena Ren Pa sudah emosi, namun Shin tidak langsung menyerang. Ia terus saja melontarkan provokasi agar Ren Pa benar benar emosi dan hilang ketenenangannya sampai menyerang duluan.


.


.


Pembersihan dua lintasan di bagian kiri berjalan lancar karena intruksi Shin yang memerintahkan ke dua adiknya untuk berhati hati. Mereka berdua akhirnya mengerti kenapa kakaknya memberi perintah untuk hati hati, mereka berdua mendapati jebakan jalan bercabang sama seperti lintasan lain.


Untung saja mereka berdua memimpin pasukannya secara pelan pelan dan tidak melakukan serangan cepat. Walaupun serangan yang normal para pasukan utama Shin bukan kaleng kaleng. Mereka sudah benar benar telatih dan kuat.


Jika dibandingkan, 1 orang pasukan utama milik Shin akan seimbang melawan 3 orang pasukan biasa. Kekuatan mereka benar benar menghancurkan formasi musuh, walaupun mereka sekarang masih membersihkan sisa sisanya, Huang dan Duan tetap memberikan intruksi untuk tetap berhati hati dan tetap bekerja sama supaya korban yang mati tidak banyak.


Lu Ye yang masih berada di bawah benteng tidak tau keadaan semua lintasan. Ia masih santai berada dibawah memperhatikan Jendral Yong yang akan segera pergi membawa sisa pasukan milik Jendral Lin. Ia tidak memerintahkan pasukannya untuk menyerang Jendral Yong dan pasukannya itu karena ia hanya berniat membunuh 2 Jendral.


Lu Ye merasa di atas angin karena rencana nya berjalan dengan mulus, sama halnya dengan Jendral Yong yang merasa bahwa rencana nya berjalan mulus membawa sisa pasukan milik Jendral Lin walaupun ia tidak beri intruksi oleh Shin untuk membawa pasukan itu.


Jendral Yong berpikir bahwa membawa pasukan sisa ini akan menguntungkan untuk pertarungan akhir nanti. Ia dan pasukannya yang sudah lolos dan berhasil keluar dari kerumunan itu segera melaju keluar lintasan itu dan menuju lintasan milik Jendral Mo dimana Shin berada.


Jendral Yong membawa sangat banyak pasukan dibelakangnya karena pasukan utamanya digabung dengan pasukan milik Jendral Lin. Ia tidak membuang waktu, ia memacu kudanya dengan cepat untuk melihat keadaan Jendal Mo.


.


Tak membutuhkan waktu lama bagi Jendral Yong dan pasukannya sampai di lintasan Jendral Mo. Ia dikejutkan karena kekacauan terjadi, ia segera semakin mendekat. Ia dikejutkan lagi dengan Shin yang berhadapan dengan Ren Pa.


Ia langsung menyimpulkan bahwa Jendral Mo sudah kalah dan mati di tangan Ren Pa. Ia tidak mengganggu dan melihat dengan seksama Shin dan Ren Pa.


Pertarungan antara Shin dan Ren Pa sudah terjadi karena Ren Pa sudah berada di puncak emosinya. Ia melancarkan serangan terlebih dulu pada Shin yang sudah ditunggu tunggu oleh Shin.


Shin tidak bermain main dengan Ren Pa, ia menghadapi Ren Pa dengan serius karena tau kekuatan Ren Pa apalagi ia sudah membuatnya emosi.


Shin tau jika seseorang sedang emosi kekuatannya akan meningkat tetapi otaknya akan seperti berhenti bekerja.


Kecerdasan otaknya seperti dikendalikan oleh emosi yang membuatnya berpikir lebih lambat.