The Soldier's Eyes

The Soldier's Eyes
Buruk!!



Chapter 44


Peperangan besar antara kerajaan Ming dan kerajaan Yan masih berada dalam bentrokan yang seimbang. Keduanya mempunyai kekuatan yang sama hebatnya, walaupun kerajaan Yan hanya dipimpin 2 Jendral.


Kepemimpinan mereka dalam memerintahkan pasukan sudah di pastikan sangat hebat karena bisa menahan ke 5 Jendral kerajaan Ming selama beberapa hari ini. Kepintaran dari Jendral Lu Ye di gunakan dengan sangat baik untuk memerintahkan pasukannya dalam mengatur formasi, sedangkan untuk Jendral Ren Pa, ia dengan kelicikann dan


keberaniannya berduel dengan salah satuu Jendral dari ke 5 Jendral kerajaan Ming.


Duel yang kini tengah terjadi itu masih seimbang dan dari masing masing pihak belum menemukan celah lawannya masing masing. Benturan demi benturan senjata terus terulang yang membuat para pasukan terpukau karena kekuatan yang dikeluarkan sangat hebat.


Bunyi dari benturan senjata itu terdengar sangat nyaring. Percikan percikan kecil yang keluar akibat goresan kedua senjata itu terus terjadi di setiap benturannya.


Jendral Meng yang terhempas oleh Ren Pa hanya bisa tersenyum kecut karena dirinya tidak menyangka bahwa Ren Pa mempunyai kekuatan yang sangat hebat. Ia pun mengayunkan senjatanya lagi yang membuat Ren Pa mau tak mau harus menahan serangan Jendral Meng.


Kekuatan yang dikeluarkan Jendral Meng di setiap serangan itu semuanya bukan main, ia tidak ingin mati sia sia karena seorang bocah yang ada didepannya. Ren Payang melihat keseriusan dari Jendral Meng hanya bisa tersenyum karena dirinya mengharapkan Jendral Meng yang serius supaya dirinya juga bisa mengeluarkan semua kekuatan yang dia punya.


Selama benturan benturan senjata tadi, Ren Pa hanya menggunakan 55% kekuatannya saja, hanya Jendral Meng tidak mengetahuinya. Ren Pa menunggu Jendral Meng serius supaya dirinya bisa mematahkan semangat pasukan Jendral Meng.


Shin yang melihat dari lintasan kiri kini menatap dengan tajam setiap gerakan Ren Pa. Menurutnya, Ren Pa tidak melakukan gerakan yang sia sia, Ren Pa melakukan semua gerakannya dengan baik. Hanya saja Shin tau bahwa dari awal Ren Pa belum mengeluarkan semua kekuatannyaa. Itulah yang membuat dirinya menatap tajam ke arah arena duel supaya dia mempunyai beberapa informasi tentang Ren Pa.


Ia khawatir jika Ren Pa berhasil membunuh Jendral Meng, Ren Pa tidak akan berhenti disitu dan akan segera melancarkan serangan ke lintasan Jendral lain.


.


.


Di atas gundukan berdiri seekor kuda dengan gagahnya yang di atasnya diduduki oleh seorang pria. Ia adalah atasan dari kerajaan Ming yang sedari tadi memaantau peperangan. Kini dirinya tengah memeperhatikan duel antara Jendral Meng dan Ren Pa.


Ia meyakini bahwa Jendral Meng bisa mengalahkan Ren Pa dengan mudah karena Jendral Meng mempunyai pengalama yang tidak sedikit. Ia memperhatikan pertandingan itu dengan fokus karena dirinya jarang melihat duel antar Jendral seperti ini.


Dirinya hanya lulusan dari sekolah bangsawan yang membuatnya bisa berada di kamp militer pusat karena prestasinya di sekolah. Ia juga merupakan seseorang yang berasal dari keluarga besar di kerajaan Ming.


.


.


Lu Ye terus memerintahkan pasukan dibawahnya agar segera membersihkan pihak lawannya tapi sayang karena berisik dan ramainya keadaan medan perang, setiap perintah Lu Ye juga ada yang tidak didengar oleh para pasukan.


Para pasukan itu terus saling mendorong, yang satu ingin menerobos yang satu ingin mengusir. Bentrokan kedua belah pihak itu memakan waktu yang panjang, Jendral Lu Ye yang berada di atas benteng seharusnya merasa diuntungkan karena bisa memerintahkan langsung pasukannya yang ada dibawah berbeda dengan ke 3 Jendral lain yang berada jauh di belakang pasukannya.


Ke 3 Jendral itu hanya bisa melirik ke arah pertarungan sedikit sedikit karena mereka juga harus fokus dalam lintasannya sebelum terjadi hal seperti Jendral Meng.


Kembali kepertarungan antar Jendral itu. Kini Jendral Meng sudah mendapatkan luka dari serangan yang dilancarkan oleh Ren Pa. Bagian perut kirinya yang memakai zirah itu tertembus oleh senjata dari Ren Pa yang mengakibatkan luka tusukan.


Kini darah dari perut kirinya keluar walaupun hanya sedikit. Jendral Meng hanya bisa menahan rasa sakit itu karena dirinya belum selesai berduel. Pertarungan juga dilanjutkan kembali setelah Jendral Meng memegangi perut kirinya dan melihat darahnya yang keluar.


Jendral Meng kini semakin emosi karena dirinya tidak menyangka akan mendapatkan luka tusukan dari serangan yang di lancarkan Ren Pa. Berbeda dengan Ren Pa, ia merasa senang karena Jendral Meng semakin emosi.


“Ini akan segera berakhir pak tua!” ucap Ren Pa yang kini tengah menahan serangan darii Jendral Meng.


Jendral Meng yang mendengar itu hanya bisa menambah sedikit kekuatan agar tekanan yang ia berikan semakin menyusahkan lawan, tapi sayang rencana Jendral Meng itu hanya membuat Ren Pa tersenyum.


“Pak tua, kekuatanmu sangat kecil. Kau ingin tau apa yang dinamakan kekuatan itu apa?” tanya Ren Pa yang sekarang sudah sedikit mengangkat tekanan dari serangan Jendral Meng.


Ren Pa mengangkat sedikit sedikit tekanan itu, hingga akhirnya tekanan itu sudah semakin terlepas. Ren Pa langsung mendorong tekanan itu menggunakan senjatanya dengan kekuatan yang sangat kuat. Ren Pa yang berhasil mendorong tekanan itu kini sudah terbebas dari tekanannya dan Jendral Meng terhempas dengan kudanya.


Ren Pa yang melihat bahwa Jendral Meng terhempas cukup jauh pun langsung memacu kudanya ke arah Jendral Meng. Ren Pa juga mengangkat senjatanya dengan kedua tangannya berniat melakukan serangan secara vertikal.


Jendral Meng yang baru saja berhasil menahan hempasan agar dirinya tidak terhempas semakin jauh pun belum siap akan serangan yang akan dilancarkan Ren Pa. Ia lalu segera mengeratkan kakinya ke tubuh kudanya berniat menahan serangan Ren Pa itu.


Ren Pa yang sudah dekat pun langsung menebaskan senjatanya secara vertikal tetapi sedikit menyamping, ia berniat menyerang bahu yang menuju dada musuh. Jendral Meng yang berada dalam posisi bertahan itu mengangkat senjatanya ke depan wajahnya dengan posisi senjatanya yang horizontal.


Tapi sayang, Ren Pa yang menebaskan senjatanya secara vertikal berhasil menembus pertahanan Jendral Meng yang bertahan dengan posisi horizontal itu. Ren Pa menggunakan semua kekuatannya sampai sampai senjata milik Jendral Meng terbelah dua karena kekuatan Ren Pa yang begitu besar.


Tebasan vertikal itu langsung menebas bahu kiri Jendral Meng, Ren Pa menekannya sampai membuat luka yang sangat lebar bagi Jendral Meng. Jendral Meng yang terkena tebasan itu dirinya tidak bisa melawan lagi karena senjatanya sudah hancur. Ia pun hanya bisa memegangi bahunya yang kini tengah mengeluarkan banyak darah.


Ren Pa yang tak ingin menunda waktu lebih lama langsung menebaskan senjatanya secara horizontal. Kini perut kanan Jendral Meng terkena tebasan dari serangan Ren Pa. Ren Pa langsung menarik senjatanya dan menancapkannya di tanah karena ia tahu bahwa Jendral Meng akan mati. Tak lama setelah senjata itu tertancap Jendral Meng terjatuh dari kudanya.