The Soldier's Eyes

The Soldier's Eyes
Ren Pa yang menghilang



Chapter 41


Di lintasan Shin, Duan dan pasukannya sudah kembali berbaris dengan pasukan utama. Duan dan pasukannya hanya menderita sedikit kerugian, ia hanya kehilangan 40 prajurit kavaleri pasukan utama. Kerugian yang sedikit itu menjadi pembangkit moral dan semangat bagi pasukan Shin yang lainnya.


Sedangkan untuk pihak lawan, mereka menerima banyak kerugian karena serangan brutal dari Duan dan pasukannya. Mereka kehilangan lebih dari ribuan prajurit karena mereka kewalahan dengan serangan itu, mereka tidak bisa berbuat banyak karena brutalnya serangan itu.


Lu Ye yang sedari tadi memikirkan strategi pun kini tersenyum, ia akhirnya mempunyai strategi untuk menutupi kerugian itu. Lu Ye memberikan perintah agar pasukan pasukan yang berada di lintasan lain menyerang dan bukan bertahan.


Lu Ye lebih memilih menghancurkan ke 4 Jendral lainnya yang sedari tadi tidak mengambil tindakan lebih lanjut. Pasukan pasukan yang berada di lintasan lain kini semakin kuat dan tidak goyah sedikit pun, alhasil prajurit penyerang dari ke 4 Jendral dipukul mundur dan menyisakan beberapa ribu pasukan saja.


Melihat itu, Lu Ye tidak berhenti memberikan perintah. Ia memerintahkan pemanah yang ada di atas benteng untuk fokus menyerang ke lintasan lain dibanding menyerang lintasan Shin. Lu Ye ragu menyerang lintasan Shin karena Lu Ye melihat gerakan serangan di lintasan Shin sangat cepat dan tidak bergerombol yang membuatnya akan susah dibidik.


Pasukan pemanah yang ada di atas benteng langsung menjalankan perintahnya dan menembakan anak panah ke lintasan lain. Lu Ye senang karena di lintasan ke 4 Jendral pasukan musuh berhasil dikurangi dan sekarang semakin berkurang.


Shin yang dari kejauhan terus memantau keadaan medan perang terkejut dengan tindakan yang diambil Lu Ye. Ia langsung mengalihkan pandangannya pada ke 4 Jendral lainnya yang hanya diam dan tidak mengambil tindakan.


Shin pun memanggil Duan yang sudah kembali dan beristirajat didepan dengan pasukannya. Duan yang datang menggunakan kudanya pun bertanya pada kakaknya, ia menanyakan alasan kenapa kakaknya memanggilnya.


“Kakak ada apa?” tanya Duan.


“Beritahu kepada ke 4 Jendral untuk segera mengambil tindakan! Jika tidak lintaasan lain akan hancur dan merugikan semua pihak.” Pinta Shin dengan nada cemas.


Duan yang mendengar dan melihat raut wajah kakaknya pun langsung buru buru pergi ke lintasan lain untuk menemui ke 4 Jendral.


Di lintasan ke 4 Jendral, kini ke 4 Jendral itu hanya bisa diam dan tidak menemukan ide untuk melakukan serangan balasan. Mereka merasa bahwa umurnya sudah sangat kolot dan kehilangan fungsi otaknya dan tidak bisa berfikir dengan cepat dan cermat.


Tak butuh waktu lama bagi Duan untuk sampai di lintasan Jendral yang paling dekat. Ia pun langsung memberikan pesan kekhawatiran kakaknya. Setelah menjelaskan semuanya, ia pun langsung menuju ke lintasan berikutnya.


.


.


Ren Pa yang melihat Lu Ye mengambil alih pertarungan pun semakin menikmatinya dari atas benteng. Menurutnya, Lu Ye sangat bisa diandalkan jika keadaan sedang memburuk. Ren Pa pun terkekeh melihat tindakan yang di ambil Lu Ye.


Ia menjadi semakin bersemangat menghadapi peperangan yang terjadi ini.


“Lu Ye, apakah aku harus turun sekarang dan membunuh salah satu Jendral?” tanya Ren Pa yang telah berhenti terkekehnya dan memasang wajah serius.


“Haha, inilah rekanku. Silahkan turun dan biarkan aku yang mengurus pertahanan ini. Jika bisa jangan menyerang lintasan kiri, yang lain saja dulu! Sisakan 1 Jendral untukku.” Ucap Lu Ye yang masih tersenyum.


Ren Pa yang mendengar itu pun langsung melepaskan silangan tangannya itu dan segera menepuk bahu Lu Ye.


“Haha, tentu saja. Aku akan sisakan 1 Jendral untukmu. Hanya saja Jendral yang dikiri untukku, oke?” balas Ren Pa sembari meninggalkan Lu Ye.


Kini Ren Pa melangkah pergi dari atas benteng dan menuruni anak tangga, ia segera memerintahkan wakilnya untuk menyiapkan pasukan utama miliknya karena ia akan melakukan serangan.


Wakilnya pun segera menyiapkan pasukan yang masih berada di dalam benteng, mereka merupakan pasukan utama milik Jendral Ren Pa. Pasukan utama yang menggunakan zirah merah dengan kudanya yang besar dan gagah.


.


.


Duan yang sudah memberikan pesan pada semua Jendral kini dalam perjalanan menuju ke barisannya lagi. Ia memacu kudanya dengan santai sembari memantau medan perang setiap lintasan untuk di teliti.


Kembali pada Shin yang tengah duduk di atas kudanya dengan menyilangkan ke dua tangannya, ia terus menatap ke arah depan memantau lintasannya yang sudah sediikit bersih. Ia bangga dengan pasukan biasanya yang bisa menjalankan tugas dengan baik.


Shin yang puas dengan hasil prajuritnya mengalihkan perhatiannya pada lintasan lain yang masih berperang dan merugikan pihak kerajaan Ming. Ia pun ingin melihat lagi tindakan apa lagi yang akan diambil oleh Lu Ye, ia mengalihkan pandangannya ke atas benteng.


Betapa terkejutnya Shin ketika melihat ke atas benteng mendapati Lu Ye yang sendiri di atas benteng.


Ia pun langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh medan perang mencari keberadaan Ren Pa yang tiba tiba menghilang. Ia sebenarnya khawatir jika Ren Pa langsung turun dan menyerang lintasan lain karena itu akan sangat merugikan pihak kerajaan Ming.


Ia yang tengah mengedarkan pandangannya kecewa karena tidak menemukan Ren Pa di setiap lintasan medan perang. Ia pun kembali mengalihkan pandangannya pada Lu Ye yang tengah fokus memperhatikan peperangan dibawahnya.


Duan yang sudah kembali dan melaporkan pesannya itu menghampiri kakaknya bahwa pesan sudah di sampaikan, ia juga menjelaskan kegelisahan ke 4 Jendral yang belum bisa mengambil tindakan apa apa. Ia juga memberitahu kakaknya bahwa lintasan ke 4 Jendral lebih parah dari keliatannya.


Shin yang mendengar ucapan adiknya pun terkejut dan memilih diam tidak bersuara. Ia langsung memegang dagunya mengartikan ia sedang berpikir. Duan yang melihat kakaknya berpikir keras pun langsung meninggalkan kakaknya pergi dan menuju kembali kelintasannya.


Di dalam benteng ibu kota kerajaan Yan, Ren Pa dan pasukannya sudah bersiap dibelakang gerbang ibu kota yang tertutup rapat. Ia memerintahkan penjaga pintu itu untuk membuka pintunya karena dirinya dan pasukannya akan keluar dan melakukan serangan balasan.


Penjaga pintu yang mendengar ucapan Ren Pa itu langsung mematuhi perintahnya dan segera membuka pintunya. Pintu yang besar kini terbuka secara perlahan lahan, para pasukan yang sedang berperang tidak memperhatikan itu, mereka fokus dalam peperangan yang terjadi didepannya.


Pintu yang perlahan terbuka itu seperti akan mempersembahkan sebuah konser. Ketika pintu itu sudah terbuka sedikit lebar, Ren Pa yang berada paling depan itu keluar yang diikuti pasukan utamanya dengan zirah berwarna merah.