The Soldier's Eyes

The Soldier's Eyes
Penyerangan pertama



Chapter 30


Penyerangan ini terdapat 5 Jendral yang dimana 4 Jendral lainnya sudah tua dan hanya Shin sendiri yang masih muda. Shin yang sudah keluar dari tenda langsung menghampiri pasukannya yang sedang beristirahat.


“Apakah kalian lelah?”


“Tidak Jendral.”


“Baguslah, berdiri kita akan berangkat malam ini kesebalah sana kekota yang dekat dengan ibukota. Kita akan mengagetkan mereka besok pagi. Jadi aku harap kalian tidak ketinggalan supaya kalian bisa beristirahat ketika sudah sampai sana.”


“Baik Jendral.”


Para pasukan dan kaptennya tidak banyak protes karena mereka percaya dengan keputusan Jendralnya. Kini dipasukan Shin terdapat 8 kapten yang dimana mereka memimpin 2 ribu pasukan. Yang berarti mereka berdelapan saja sudah ada 16 ribu pasukan.


Sisanya Shin meminta Huang dan Duan memimpin masing masing 7 ribu pasukan dan sisanya Shin yang memimpin 15 ribu pasukan utama. Mereka kini langsung berangkat karena takut nanti ketika sampai matahari sudah terbit.


Shin berharap tengah malam mereka sudah sampai disana.


Kuda terus dipacu dengan kecepatan sedang, para pasukan tidak ada yang berhenti mereka mengikuti kecepatan Jendralnya. Kini para kapten memegang bendera yang berwarna hitam polos dengan gambar naga berwarna emas di kainnya. Itu adalah simbol dari pasukan Jendral Shin. Shin sudah menyiapkan bendera bendera itu ketika dia mendapat hadiah penambahan pasukan. Shin membuat bendera karena ingin pasukannya dikenal dan disegani.


Sesuai harapan Shin, mereka sampai tengah malam dan kini mereka langsung berbaris dilahan kosong yang luas. Shin juga meminta untuk pasukannya tidak bersisik supaaya tidak ketahuan oleh penjaga gerbang. Mereka pun mengikuti arahan Jendralnya. Mereka kini beristirahat.



Keesokan paginya,


Ketika Shin sudah duduk diatas kudanya dengan gagah diikuti pasukannya yang sudah siap. Shin meminta pasukannya untuk tetap berbaris rapi dengan dipimpin para kapten didepannya. Shin sekarang berada ditengah tengah pasukannya yang besar, mengartikan bahwa dia adalah pemimpin yang akan memimpin perang ini.


Penjaga yang sedang berganti jadwal pun kaget karena dia melihat banyaknyab pasukan yang sedang berdiri diluar benteng. Pasukan itu tidak mengeecek ketika malam hari karena mereka tidur dengan duduk yang dimana mereka tidak bisa melihat kedatangan pasukan Shin. Shin juga sebelumnya memberikan perintah untuk tidak berisik supaya rencananya sukses.


“PENYERANGAN PENYERANGAAN!” teriak penjaga itu diatas benteng ketika sudah melihat pasukan Shin.


Shin yang melihat itu tersenyum, dia memberikan perintah kepada pasukan utamanya untuk kembali dan mencari beberapa pohon kecil dengan akar yang kecil. 100 pasukan pergi untuk menjalankan perintah Shin. Shin langsung menghadap kembali kedepan. Melihat mereka belum siap, dan langsung menutup gerbang. Shin meminta pasukan pemanah untuk menembak terlebih dahulu.


Beribu ribu panah melesat ke atas benteng itu untuk menyerang para penjaga yang ada diatas itu. Beberapa mati dan beberapa hanya terkena lesatan saja. Shin yang melihat pasukannn musuh belum berkumpul semuanya memerintahkan pasukan penyerang tanpa kuda untuk menyerang maju kedepan ke arah pintu dan dobrak pintunya.


Pasukan yang berjumlah 8 ribu dipimpin 4 kapten langsung menerjang ke arah pintu itu.


Sebagian dari mereka memasangkan tangga tangga panjang yang bertujuan untuk naik melewati benteng.


Shin yang melihat itu hanya tersenyum, dia tidak ikut turun langsung karena kini dia mempunyai banyak pasukan dan tidak boleh ceroboh.


Para pasukan kini bersusah payah mencoba mendobrak sebagian juga ada yang mati karena ditembaki dari atas benteng. Shin langsung menyuruh pasukan pemanah untuk membunuh pemanah yang ada di atas benteng supaya bisa melindungi pasukan yang ada dibawah.


10 menit kemudian pintu itu masih belum terbuka. Shin yang melihat itu kecewa karena pasukannya belum menjadi kuat semuanya. Shin menyuruh pasukannya untuk mundur terlebih dahulu karena dia memiliki rencana lain. Shin menyuruh pasukan pemanah untuk mengganti panahnya dengan panah yang dilapisi api dan tembakan ke atas benteng sebagian dan sebagiannya lagi tembak ke arah pintu supaya terbakar.


Sebelum penembakan panah kepintu, Shin menyuruh 10 orang untuk melemparkan minyak ke pintu tersebut supaya mudah terbakar. Ketika minyak sudah dilemparkan kepintu:


“TEMBAKKK!”


Para pemanah langsung menembakan panahnya, pihak musuh dibuat kocar kacir karena panahnya dilapisi api. Para pasukan tidak percaya karena Jendralnya memiliki rencana yang begitu hebat untuk menghancurkan pintu itu. Ketika pintu itu terbakar, Shin tidak menghentikan serangannya. Shin menyuruh untuk menembak pintu itu lagi agar terlihat rapuh supaya bisa hancur ketika diserang nanti.


Ketika akan menembak, pasukan musuh sudah mulai muncul. Mereka sekarang sudah banyak berkumpul diatas benteng.


“SIAPA YANG BERANI MENYERANG KOTA DIBAWAH KEPEMIMPINANKU?” teriak Jendral musuh.


Shin tidak menanggapinya dan menyuruh pasukannya untuk terus menembak saja.


“TEMBAK” teriak Shin.


Ribuan panah melesat ke arah musuh, Jendral musuh yang melihat itu geram dan berteriak lagi.


Shin yang melihat Jendral itu kesal, langsung menggunakan kekuatan matanya untuk melihat kepribadiannya.


[Yu Jia]


[Pintar, tak sabaran, mudah emosi]


Shin langsung tersenyum karena kepribadian musuhnya yang sesuai dengan rencana Shin.


“TEMBAK!!”


“TEMBAK!!”


Ribuan panah terus menyerbu pasukan musuh yang ada dibenteng, sebagian juga menukik ke dalam. Shin juga tau bahwa dibawah benteng banyak pasukann.


“Pasukan penyerang tadi, hancurkan pintu nya!”


Para pasukan itu langsung berlari ke arah pintu, sebagian juga memasangkan tangganya lagi yang tadi sempat dijatuhkan oleh musuh.


Pintu sudah mulai hancur tapi sayang didalamnya banyak pasukan yang menunggu.


Shin memikirkan sebuah rencana apa yang harus ia jalankan.


Ketika Shin memikirkan rencana itu, pasukan yang 100 orang diperintah oleh Shin mencari pohon dan akar itu datang.


“Ikat akar itu ke pohon itu dan ujung akarnya yang lain ikatkan ke ekor kuda itu. Ketika sudah selesai kalian maju dengan cepat lalu ketika sudah dekat benteng kalian putar balik dan balik dengan cepat!”


“Siap Jendral”


100 kuda yang ditumpangi kini melaju dengan cepat dan membawa sebuah pohon kecil dibelakang nya membuat kepulan asap yang sangat pekat. Melihat itu, Shin tersenyum dan menyuruh pasukannya untuk menempelkan tangga yang banyak dan para pasukan kavaleri untuk segera maju kedepan pintu untuk menerobos.


Para pasukan langsung menjalankan perintah Jendralnya. Kini mereka sedang menunggu baliknya 100 kuda itu agar tidak bertabrakan.


Ketika 100 kuda sudah kembali, pasukan yang diperintahkan itu langsung menjalankan tugasnya.


Disisi lain, di atas benteng tempat dimana Jendral itu berada.


“Apa apaan ini?”


“Hei kalian bersiap, aku tidak tau apa yang akan terjadi.”


Para pasukan musuh yang mendengar Jendralnya memberi perintah pun mereka langsung bersiap dan siap untuk menebas musuh musuh yang datang.


Shin yang berada dibawah mendengar kepanikan tersebut dan tersenyum lalu menyuruh pasukan pemanah menembakan panah biasa ke atas benteng tersebut. Ketika ribuan panah melesat ke arah musuh terdengar banyak suara yang merintih kesakitan.


Untuk para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur, mohon berikan sarannya dikolom komentar dan jika suka dengan cerita tolong di like, vote dan tekan tombol favorit supaya ketika saya update kalian tidak ketinggalan.


Saya meminta sarannya dikomen supaya saya bisa mengoreksi karya saya. Saya meminta like dan vote supaya saya tambah semangat dalam melanjutkan ceritanya.


Saya tidak bermaksud memaksa, hanya saja saya masih pemula yang masih memerlukan dukungan penuh kalian dalam memperbaiki diri.


Semoga para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur ini menikmati karya saya.


Maaf bila banyak kesalahan, nanti akan saya betulkan supaya enak dibaca lagi. Terima kasih juga buat kalian yang sudah mendukung karya saya.


Salam hormat.


-cain-