The Soldier's Eyes

The Soldier's Eyes
Kembali



Chapter 46


Pembawa informasi merupakan pekerjaan yang sangat penting, mereka tidak boleh terlambat untuk menyampaikan pesan. Mereka juga dianjurkan untuk mengirimkan pesan secara berkalah setiap beberapa jam.


Seorang pembawa pesan yang ditugaskan oleh atasan tadi sedang dalam perjalanan menuju cabang terdekat, ia memacu kudanya dengan sangat cepat. Ia tidak ingin keterlambatannya menjadi sebuah ancaman yang akan membahayakan kerajaan.


.


.


Jendral Lu Ye yang berada di atas benteng itu kini akan melanjutkan penyerangan namun sayang dia tidak jadi melancarkan serangannya karena langit yang yang kini sudah menguning. Ia pun dan pasukannya kembali ke tempatnya berasal tadi.


Lu Ye yang berada di atas pun menyayangkan hal itu, pasalnya ia sudah membuat strategi untuk membuat Yong Le mati dalam kepungan pasukannya.


Lu Ye pun langsung mengalihkan perhtiannya pada pertarungan yang masih terjadi karena dirinya sudah terbebas dari tekanan yang mengharuskan dirinya terus berpikir untuk membuat rencana dan strategi tadi.


Betapa terkejutnya dia melihat rekannya kini tengah bertarung melawan Shin yang sangat ia inginkan untuk dilawan. Tapi dia juga tidak bodoh karena ini peperangan jadi dia mempercayakan pada rekannya, hanya saja ia tidak tau temannya atau mati.


Kembali pada Shin yang kini tengah dalam pertarungan. Dirinya kini sudah berhenti menyerang karena Ren Pa juga sudah berhenti duluan menyerang. Shin yang emosi dan tidak sadar itu masih ingin bertarung, namun Ren Pa mengacungkan senjatanya ke atas langit yang menunjukan bahwa hari sudah sore dan harus diakhiri.


Shin yang masih dan tidak sadar itu masih menatap tajam Ren Pa dan tidak menggubris perbuatan Ren Pa itu.


“Kau ini bodoh ya bocah? Liat sekarang sudah sore, jadi hentika disini dan lanjutkan besok!” ucapnya dengan nada tinggi.


Shin yang mendengar itu pun segera mengedarkan pandangannya seperti baru sadar dari kesurupan. Ia tidak sadar bahwa sekarang sudah sore. Ia pun segera menundukan kepalanya.


‘Apa yang terjadi padaku?’ gumam Shin keheranan.


“Baiklah kita lanjutkan besok ya bocah, bersihkan lehermu!” ucap Ren Pa.


Shin tidak mendengar itu karena sedang dalam pemulihan dan ketenangan. Ia melakukan itu karena ia ingin mengetahu apa yang terjadi pada dirinya tadi sampai sampai lupa diri dan emosi.


Ren Pa yang merasa bahwa omongannya tidak di gubris pun segera meninggalkan daerah itu dan kembali ke dalam benteng. Bersamaan dengan Ren Pa yang kembali, kedua adiknya itu menghampiri kakaknya yang terdiam menunduk.


“Kakak tidak apa apa?” tanya keduanya.


Shin tidak mendengar itu dan terus menunduk karena sangat penasaran dengan dirinya. Kedua adiknya yang melihat kakaknya itu segera menepuk bahu kakaknya untuk menyadarkan kakaknya. Seketika Shin tiba tiba terkejut dan segera memandang ke dua adiknya itu.


“Ada apa?” tanya Shin bingung.


“Kamu yang kenapa kakak? Kamu sangat aneh tadi.” Ucap Huang.


Shin yang mendengar itu segera mengajak kedua adiknya untuk pergi dan kembali ke camp yang berada di lintasannya. Ia juga meminta kedua adiknya untuk menceritakan hal yang terjadi barusan. Kedua adiknya juga setuju dan menceritakan itu di perjalanan menuju camp waalauoun lumayan dekat tapi mereka berdua menceritakannya dengan singkat dan jelas yang membuat Shin mengerti keadaan tadi.


Setelah Shin mendengar penjelasan kedua adiknya, ia langsung teringat bahwa dirinya tiba tiba emosi karena Ren Pa. Shin langsung mengingat ngingat karakter Ren Pa yang sudah diliat oleh kekuatan matanya. TIba tiba ia teringat dan langsung menghela nafas.


‘Aku benar benar bodoh bisa termakan provokasinya itu.’ Gumam Shin.


Shin dan kedua adiknya yang dalam perjalanan itu kini melewati pasukan Jendral Yong yang sudah kembali dari penyerangannya tadi. Jendral Yong yang melihat Shin langsung saja memanggilnya.


“Bagaimana pertarungan tadi?”


Shin mendengar itu hanya menundukan kepalanya, ia tidak tahu harus menjelaskan apa.


“Aku turut berduka pada Jendral Meng.” Ucap Shin tiba tiba.


“Aku mengerti nak Shin. Kau jangan terlalu terbawa suasana seperti tadi. Itu akan bahaya untukmu dan pasukanmu!” ucap Jendral Yong yang mengingatkan Shin karena dia mengetahui apa yang terjadi dengan Shin.


Walaupun Jendral Yong terbilang tidak terlalu tua, ia bisa merasakan apa yang dirasakan Shin.


Shin hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Jendral Yong lalu meninggalkannya pergi. Shin melanjutkan perjalanannya untuk kembali ke kampnya yang dimana pasukannya sudah menunggu.


.


Sesampainya Shin di kamp, pasukannya tidak bertanya tentang apa yang terjadi, mereka hanya diam menunggu Jendralnya untuk bercerita atau berbicara sendiri. Sebenarnya kekhawatiran mereka terhadap Jendral nya sudah seperti menganggap Jendralnya itu seorang kepala keluarga yang sangat penting bagi mereka.


Para pasukannya juga mengerti bahwa Shin masih muda dan mudah emosi, mereka tidak ingin Jendralnya yang masih muda dan berbakat itu mati muda. Apalagi para pasukannya yang sudah lama bergabung tau bahwa Shin akan menjadi seorang ayah juga.


“Aku tau kalian ingin bertanya apa yang terjadi, aku akan memberitahu sedikit saja tapi aku ingin kalian tetap semangat dan mengikutiku sampai akhir nanti.” Ucap Shin tiba tiba.


“Jendral Meng kalah dan mati oleh Ren Pa. Tadi aku emosi dan bertarung melawannya tetapi belum ada hasil pemenangnya. Mungkin besok akan menjadi peperangan yang lebih berat dari hari ini.”


“Aku ingin kalian tidak membebani pikiran kalian tentang ini dan jangan khawatir tentang esok. Aku akan semaksimal mungkin memikirkan rencana agar kita bisa menang besok.” Ucap Shin.


“Tenang saja Jendral, kami percaya padamu.” Ucap salah satu kapten yang diikuti dengan anggukan oleh para pasukan lain.


“Terima kasih untuk kalian karena mempercayaiku, sekarang kalian istirahat dan kita keluarkan semuanya besok.” Ucap Shin.


Semua pasukan Shin mengangguk dengan perintah Shin, mereka pun langsung membubarkan diri dan kembali ke tenda nya.


Shin juga segera masuk ke tendanya yang diikuti oleh kedua adiknya karena kedua adiknya tidak ingin kakaknya terlalu banyak pikiran.


“Kenapa kalian ikut kesini?” tanya Shin yang sadar kedua adiknya mengikuti.


“Kak, kami ingin memastikan kakak baik baik saja.” Ucap Duan disetujui dengan anggukan Huang.


“Aku sudah tidak apa apa tenang saja.” Balas


Shin.


“Iyaa, kalau kakak butuh apa apa atau ingin bercerita dan mengobrol panggil kami!” pinta mereka pada Shin.


Shin hanya mengangguk mengerti, ia juga tidak tau harus mengobroll dan bercerita ke siapa selain ke kedua adiknya itu. Mereka berduaa pun keluar dari tenda Shin dan Shin langsung duduk untuk menenangkan pikiran dan tuubuhnya.


‘Besok akan menjadi peperangan yang berat, aku harus memikirkan rencana yang baik.’ Gumam Shin.


Ia tidak ingin mengecewakan rasa percaya pasukannya yang telah semakin bertambah.