The Soldier's Eyes

The Soldier's Eyes
H-1 Pernikahan



Chapter 12


“Oh baiklah, semoga dia berbakat.”ucapnya


“Tentuu.” Dengan bangga karena Duan memang berbakat.


Shin pun langsung pergi menuju kamarnya yang berada didekat taman itu. Ketika sudah dekat dengan kamarnya, dia melihat seorang pria yang sedang berlatih.


“Huang, kau sedang berlatih?”


“Iyaa kapten, aku harus segera menyusul ketertinggalanku.”


“Baiklah, tolong awasi dia. Dia akan menjadi adikmu nanti. Ajarkan juga dia apa yang ku ajarkan padamu.”


“Baik kapten, kapten tenang saja.”


“Yasudah aku masuk dulu, nanti aku menyusul kalian berlatih.”


Shin menuju kamarnya dan merbahkan badannya dikasur. Dia menatap langit langit kamarnya dan tersenyum.


“Bagaimana nantinya ketika aku menikah?”


“Apakah aku akan mempunyai anak?”


“Apakah aku siap?”


Setelah mengucapkan beberapa kalimat, Shin langsung menggelengkan kepalanya. Shin langsung bangun dan duduk. Lalu dia membuka tas kecil yang dirampas dari para bandit itu. Shin ingat bahwa ada buku buku skill.


Shin membuka kertas itu dan langsung melihatnya, tiba tiba Shin terkejut dengan teknik pedang yang hebat itu. Shin langsung memperagakannya.


Setelah 5 menit Shin duduk lagi dan membuka lembaran kertas yang lain, disana menunjukan skill pernafasan yang dapat membangun energi dalam. Shin yang melihat itupun tersenyum. Lalu dia mencobanya.


Benar benar teknik pernafasan yang bagus, akan kujadikan latihanku setiap hari. Setelah aku bisa menguasainya akan kuberikan pada Huang dan Duan.


Ditempat lain, tepatnya dikamar Hua. Hua sedang senyum senyum sendiri membayangkan dirinya dan Shin mempunyai anak. Dipintu kamar, ada sang ayah yang sedang memperhatikan putrinya tersenyum senyum sendiri seperti orang gila.


“Aheemmm.”


Hua langsung menatap ke arah suara itu berasal.


“Ayaaah, sedang apa dikamarku?”


“Sedang memperhatikanmu.”


“Sejak kapan?”


“Sejak kau senyum senyum sendiri.”


“Ahhh Ayahh.”


“Ada apa? Cerita pada ayah!”


“Takuut.”


“Tak usah takut.”


“Baiklah, tapi janji jangan beri tau yang lain termasuk ibu.”


“Hmmm.”


“Aku sekarang berpacaran dengan Shin.”


“Dia juga akan menikahiku nanti, kalau dia sudah punya kekuatan yang cukup, kekuasaan yang cukup, dan keuangan yang cukup supaya tidak membuat keluarga kita malu katanya.”


Jendral yang mendengar itu tersenyum karena akhirnya putri satu satunya sudah akan menikah. Jendral pun memikirkan sebuah rencana.


“Bagaimana kalo menikah secepatnya?”


“Aku sih ingin ayah, tapi Shin?”


“Mudah, biar ayah yang urus.”


“Benar?”


“Iyaa nanti ayah urus secepatnya.”


“Janji ya ayah.” Hua tersenyum girang dan tertawa tawa. Melihat putrinya bahagia Jendral hanya bisa ikut bahagia, sekarang giliran dirinya yang berpikir dan bekerja supaya pernikahan putrinya cepat diselenggarakan.


Jendral Fei pun pergi menuju ruang utama dan menghampiri istrinya.


“Anakmu tuuhh.”ucap Jendral menyapa istrinya.


“Kenapa dengan anakku?”


“Dia ingin menikah.”sambil tersenyum senang.


“Benarkah? Dengan siapa?”


“Benar. Siapa lagi?”


“Memang tak apa menikahkan putri kita dengan pria yang tidak diketahui asal usulnya?”


“Tak apa, aku percaya pada pemuda itu. Dia bisa menjaga putri kita nantinya.”


“Aku juga tak mau membuat putriku sedih dan menunggu pria lain yang tak tau kapan datangnya.”


“Benar. Terus kau mau apa sekarang?”


“Aku mau meminta bantuanmu supaya pernikahan cepat diselenggarakan.”


“Kenapa tidak besok saja?”


“Putriku tadi bilang bahwa Shin akan menikahinya ketika dida mempunyai kekuatan, kekuasaan dan keuangan yang cukup, dia tak mau membuat keluarga kita malu.”


“Ah apa apaan? Sudah cepat panggil pemuda bernama Shin itu.”


Jendral hanya bisa menuruti perkataan istrinya. Diluar Jendral seperti seorang harimau tapi didalam rumah dia seperti kucing bila berhadapan dengan istirinya.


Jendral pun pergi menuju kekamar Shin, dia melihat 2 pemuda sedang berlatih lalu dia menyapanya.


“Bagus, bagus. Begitulah seharusnya anak muda.”


“Eh? Jendral? Ada keperluan apa datang kesini?”


“Aku mencari Shin, tolong panggilkan!”


Huang pun bergegas masuk kekamar dan melihat Shin sedang berlatih teknik pernafasan.


“Kapten?” sapa Huang.


Shin pun menghentikan pelatihan pernafasannya dan melihat ke arah pintu yang dimana ada Huang sedang berdiri.


“Ada apa Huang?”


“Jendral memanggilmu sepertinya penting.”


“Ohh, okee aku kesana.”


Shin pun pergi keluar dan menghampiri Jendral.


“Ada apa Jendral?”


“Mari ikuti aku!”


Shin bingung dengan sikap Jendral, apakah dia ketauan sudah berpacaran dengan putrinya atau dia sudah tau kalau aku sudah berciuman dengan putrinya. Shin berpikir keras, dia pun takut jika nantinya ini akan jadi masalah besar.


Tapi apa daya, Shin terus mengikutinya walaupun dia tidak tau apa yang akan terjadi nantinya.


Sesampainya di ruang utama, Ibunya Hua sudah menunggu dan duduk sambil menyesap teh hangat. Shin yang melihat suasana ini pun jadi kepikiran tentang apa yang tadi dia perkirakan.


“Duduklah!”Ucap Jendral.


“Baik Jendral.”


“Apakah kau sedang berpacaran dengan putriku?”


Deggh


“I-iya Jendral. Maaf.”


“Tak apa, aku senang.”


“Hah?”


“Tak apa bila kau berpacaran dengan putriku.”


“Terus Jendral tidak marah?”


“Kau ingin aku marah?”


“..”


“Jika aku memarahimu, nanti putriku akan marah balik padaku.” Shin hanya tersenyum mendengar ucapan Jendral.


“Kau akan menikahinya?”


Deggh


“T-tentu Jendral.”


“Kapan?”


“Ketika aku sudah mempunyai kekuatan,


kekuasaan, dan keuangan yang cukup.”


“Berapa lama itu akan terjadi?”


“Tidak tau Jendral.”


“Menikahlah besok!”


“HAHHH?” Shin teriak karena kaget.


“Menikah besok dengan putriku. Aku tak mau putriku melajang terlalu lama. Aku juga ingin segera punya cucu.”


“T-tapi Jendral.”


“Tidak ada tapi tapian, kau tak usah malu dan tak usah memikirkan apapun. Kau hanya harus menjaga putriku dan membahagiakannya juga memberi kami cucu yang lucu!”


“Apa tidak apa apa terburu buru Jendral?”


“Tak apa.”


“Besok pernikahan akan diselenggarakan, kau jangan kabur!”


“Baik Jendral. Terima kasih karena telah merestuinya. Aku akan mengingat pesan Jendral.”


“Baiklah, kau boleh kembali!”


Shin lalu berdiri dan membalikkan badannya ke arah pintu keluar. Disisi lain disebuah kamar yang dekat dengan ruang utama. Hua mendengar semua perkataan orang tuanya dengan Shin. Dia tersenyum bahagia. Shin yang tidak sadar itu kamarnya Hua pun langsung saja keluar.


Diluar dalam perjalanan menuju kamarnya, Shin merasa bingung dengan situasinya walaupun dia juga bahagia.


“Ah gimana besok sajalah.”


Sesampainya dihalaman dekat kamarnya, Shin lalu menghampiri 2 anak buahnya.


“Kau beli baju yang bagus untuk kalian pakai besok! Ini uangnya.”


“Huang malam ini kau menginap saja disini!”


“Baik Kapten”


Huang hanya menuruti setiap perintah dari Shin, karena dia sekarang bawahannya. Dia juga tidak merasa keberatan karena dia tau bahwa Shin sosok yang hebat. Huang dan Duan pun pergi dan mengakhiri latihannya. Mereka segera menjalankan tugasnya untuk membeli 2 set pakaian yang bagus. Melihat Huang dan Duan pergi, Shin masuk kekamarnya dan melanjutkan latihan pernafasannya. Dia tidak memikirkan banyak tentang apa yang terjadi tadi di ruang utama.


Untuk para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur, mohon berikan sarannya dikolom komentar dan jika suka dengan cerita tolong di like, vote dan tekan tombol favorit supaya ketika saya update kalian tidak ketinggalan.


Saya meminta sarannya dikomen supaya saya bisa mengoreksi karya saya. Saya meminta like dan vote supaya saya tambah semangat dalam melanjutkan ceritanya.


Saya tidak bermaksud memaksa, hanya saja saya masih pemula yang masih memerlukan dukungan penuh kalian dalam memperbaiki diri.


Semoga para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur ini menikmati karya saya.


Maaf bila banyak kesalahan, nanti akan saya betulkan supaya enak dibaca lagi. Terima kasih juga buat kalian yang sudah mendukung karya saya.


Salam hormat.


-cain-