The Soldier's Eyes

The Soldier's Eyes
Emosi



Chapter 45


Shin yang berada di lintasan kiri bersama semua pasukannya termasuk ke 5 kapten itu tengah memperhatikan lintasan tengah dimana pertarungan kedua Jendral terjadi. Shin yang sedan memperhatikan pertarungan itu tiba tiba melotot karena tidak percaya, ia melihat Jendral Meng terkena tebasan dan terjatuh dari kudanya.


Shin pun segera memacu kudanya ke lintasan tengah dengan cepat sendirian. Kedua adiknya yang melihat itu segera memberikan perintah pada semua pasukan untuk diam di barisan dan jangan mengikutinya.


Kedua adiknya itu segera menyusul kakaknya karena mereka berdua tidak tau apa yang akan dilakukan kakaknya. Shin yang memacu kudanya dengan cepat itu melewati salah satu Jendral lainnya dengan datar yang membuat Jendral itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah tujuan Shin memacu kudanya.


Shin yang sudah semakin dekat itu menebaskan pedangnya ke arah kumpulan musuh berniat memasuki pertarungan dan melihat keadaan Jendral Meng. Shin menebaskan pedangnya terus menerus dengan cepat yang membuat dirinya kini sudah semakin dekat dengan keberadaan Jendral Meng.


Tak butuh waktu lama bagi Shin untuk menerobos pasukan yang tersisa didepannya, kini dirinya sudah berada dalam lingkaran duel itu dan melihat Jendral Meng yang terkapar di tanah. Ia pun segera mendekatinya dan melihat darah yang terus keluar dari tubuhnya Jendral Meng.


Ia yang melihat itu pun langsung memerintahkan pasukan Jendral Meng untuk membawa mayatnya. Shin mengucapkan itu karena dirinya sudah tidak merasakan nafas atau kehadiran Jendral Meng lagi. Beberapa pasukan Jendral Meng langsung menuju kedepan dan segera membawa mayatnya.


Tapi sayang, Ren Pa tiba tiba mengucapkan beberapa kalimat yang membuat semua pasukan yang ada disana termasuk Shin menjadi emosi.


“Kenapa kalian mengambilnya? Itu merupakan hasil usahaku dan akan kuhadiahkan ke kerajaan agar aku juga mendapat hadiah.” Ucapnya dengan pennuh kelicikan dan provokasi.


“Kau sudah membunuhnya kan? Biarkan kami membawanya dan menguburkannya.” Balas Shin.


“Tak bisa, itu akan ku kirimkan ke kerajaan, dan biar kerajaan yang memutuskan mau diapakan mayat itu.” Ucapnya Ren Pa.


Shin yang mendengar itu semakin emosi, ia lupa diri dan lupa karakter Ren Pa. Shin pun segera membalas perkataan Ren Pa lagi.


“Dengarkan perkataanku barusan! Aku mengingatkanmu!” ucap Shin dengan nada tinggi dan menatap tajam pada Ren Pa.


Kini Shin benar benar sudah termakan provokasi Ren Pa, ia menjadi lupa diri dan semakin emosi. Ia tahu tujuan Ren Pa mengirimkan mayat Jendral Meng untuk dijadikan apa.


“HAHA, kau sungguh berani bocah!” ucap Ren Pa yang membalas tatapan Shin dengan tajam.


Shin pun tak takut dengan Ren Pa karena dirinya sudah emosi. Kedua adiknya yang melihat kakaknya emosi itu tau bahwa kejadian buruk akan terjadi, mereka sebenarnya ingin menghentikan kakaknya tapi mereka takut kakaknya akan semakin emosi dan marah pada mereka.


“Baiklah jika itu yang kamu inginkan.” Ucap Shin sembari mengeratkan kedua kakinya pada tubuh kudanya.


Shin pun langsung maju ke arah Ren Pa yang tidak siap, Shin langsung menebaskan pedangnya secara vertikal dan mengenai bahu Ren Pa yang kiri.


Ren Pa yang terkena serangan itu langsung menarik senjatanya yang menancap di tanah dan segera melakukan serangan balasan namun sayang, Shin tau hal itu dan segera mengelakan kepalanya. Ia juga langsung menebaskan pedangnya lagi namun berhasil di tahan dengan baik oleh Ren Pa.


“HAHA, ini baru menarik bocah. Baiklah mari serius!” ucap Ren Pa dengan nada tinggi sembari tersenyum.


Mereka pun kini berduel dan saling menyerang dan bertahan karena pertarungan yang sengit langsung terjadi di awal awal pertarungan. Tebasan demi tebasan dari senjata masing masing mengeluarkan suara angin yang berhembus mengartikan bahwa mereka menggunakan semua kekuatannya masing masing.


.


.


Jendral kerajaan Ming yang tadi di lewati oleh Shin kini memperhatikan pertarungan Shin. Ia juga melupakan lintasannya karena dia tau kenapa Shin bertarung. Ia memikirkan bahwa Jendral Meng sudah mati dan Shin langsung melawannya.


Ia tak pikir panjang dan segera mengerahkan semua pasukannya untuk menyerang benteng musuh karena ia percaya bahwa Shin akan memenangkan duel itu. Jendral itu bernama Jendral Yong, kini Jendral Yong dan pasukannya sedang memacu kudanya menuju benteng musuh.


Lu Ye yang berada di atas benteng langsung mengalihkan pandangannya pada pergerakan Jendral Yong karena ia merasa ada pergerakan yang di luar perhitungannya. Lu Ye terkejut karena ia tak menyangka Jendral lain akan melakukan penyerangan ke bentengnya yang kini sudah dalam keadaan menang karena berhasil menyingkirkan musuhnya.


Berbeda dengan 2 Jendral lainnya, mereka lebih memperhatikan pertarungan antar Jendral itu. Mereka juga meninggalkan lintasannya dan menuju ke arah lingkaran pertarungan. Mereka berdua ingin melihat mayat Jendral Meng sekalian melihat pertarungan Shin.


Pertarungan antar Jendral itu adalah sebuah kehormatan dan kebanggan, jika ada Jendral yang meminta bantuan agar membuat musuhnya terpojok, mereka akan kehilangan kerhormatan dan kebanggannya sebagai Jendral.


Shin dan Ren Pa kini tengah bertarung dengan sengit, mereka tidak mau mengalah satu sama lain. Mereka bergantian saling menghempaskan lawannya bersama kudannya, tapi belum ada yang mendapatkan luka fatal hanya goresan goresan kecil pada zirah mereka.


.


.


Atasan yang dari tadi memantau pertarungan duel itu dirinya tidak percaya bahwa Jendral Meng kalah dan mati. Ia juga meminta bawahannya yang berada didekatnya itu untuk mengirimkan pesan pada cabang supaya cabang bisa mengantarkan pesan pada pusat tentang informasi ini. Ia tidak ingin menunda laporan pentingnya.


Kembali kepada Jendral Yong yang kini tengah memporak porandakan pasukan musuh yang berada di luar gerbang. Ia dan pasukan utamanya membersihkan musuhnya dengan rapi walaupun tidak cepat karena sudah tua tetapi ia yakin bahwa dirinya akan berhasil menembus pertahanan benteng lawan jika Jendral Lu Ye masih tidak turun.


Di atas benteng, Lu Ye hanya bisa tersenyum melihat Jendral Yong yang memporak porandakan pasukan dibawahnya. Ia langsung memerintahkan pasukannya untuk mengepung pasukan utama Jendral Yong dengan Jendral Yong. Jendral Lu Ye ingin membunuh Yong yang menyerang benteng sendirian.


Kini di lintasan lain pasukan kerajaan Ming dari pasukan kedua Jendral itu sudah dibersihkan oleh pasukan kerajaan Yan yang berada di lintasan yang sama. Itu karena kedua Jendral yang tidak memberi arahan atau perintah lanjut dan meninggalkan lintasannya.


Pasukan yang mati sia sia karena kebodohan Jendralnya yang tidak bisa memberi perintah dan tidak tanggung jawab pada tugasnya sendiri. Mereka merupakan Jendral tua yang panik akan keselamatan mereka sendiri.