The Soldier's Eyes

The Soldier's Eyes
Formasi bertahan Lu Ye



Chapter 47


Malam telah terlewati, kini matahari sudah terbit dari arah timur. Pasukan dari kedua belah pihak juga sudah siap di setiap lintasan masing masing.


Shin yang berada di tengah tengah pasukannya menatap tajam ke arah pasukan musuh. Ia memperhatikan setiap celah yang berada di pihak musuh. Ia mendapati ke anehan yang terbentuk dari formasi musuh tapi ia tidak melihat lebih dalam karena jarak yang jauh.


Di atas benteng, Lu Ye berdiri seorang diri. Ia kini tengah menatap formasinya dan tersenyum. Menurutnya, ini akan menjadi formasi yang hebat untuk melawan pasuukan musuh. Ia memperkirakan bahwa keempat Jendral musuhnya akan langsung menyerang.


.


.


Di sisi lain, kedua Jendral yang kemarin membuat banyak kesalahan karena tidak memberikan perintah lebih lanjut dan kurangnya aksi, mereka sekarang terlihat sangat bersemangat.


Mereka adalah Jendral Mo dan Jendral Lin. Mereka sudah memutuskan untuk menyerang musuh dengan semua pasukannya untuk menebus kesalahan kemarin.


Tanpa menunggu lama, mereka berdua langsung menyerang bersama yang diikuti semua pasukannya dari belakang. Mereka tidak berniat menunda peperangan lebih lama.


Shin yang melihat dari sisi paling kanan terkejut karena ia tidak tahu rencana dari kedua Jendral itu. Shin merasa aneh dengan Jendral


Mo dan Jendral Lin yang melakukan penyerangan tanpa memberi tahu rencana pada Jendral lainnya.


Shin langsung menghampiri Jendral Yong yang berada di lintasan paling dekat dengannya. Ia ingin bertanya apakah Jendral Yong mendapat rencana dari ke dua Jendral itu atau tidak.


Tak membutuhkan waktu laama bagi Shin berada di lintasan Jendral Yong karena jaraknya yang dekat. “Jendral, apakah kamu tau rencana dari Jendral Mo dan Lin?” tanya Shin tanpa basa basi.


Jendral Yong yang tidak memperhatikan pergerakan lintasan lain terkejut dengan pertanyaan Shin. Ia pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah lintasan kedua Jendal lain. Betapa terkejutnya ia karena melihat ke dua Jendral itu sudah bergerak dan memacu kudanya dengan cepat.


“Aku tidak tau, aku juga kaget dan baru tau saat kau memberi tahuku.” Jawabnya.


Shin yang mendengar merasa semakin aneh dengan perbuatan ke dua Jendral itu. Shin khawatir bila terjadi apa apa pada kedua Jendral itu maka penyerangan ini akan semakin berat dan susah.


“Baiklah, aku tau Jendral akan segera melakukan penyerangan, tapi aku minta untuk tahan dulu sebentar. Aku merasakan ada yang aneh dengan formasi bertahan musuh. Aku ingin Jendral memperhatikan lintasan itu terlebih dulu, jika ada yang aneh aku minta tolong pada Jendral untuk memberi tahu aku!” jelas Shin.


Jendral Yong mengerti dan mengucapkan terima kasih karena sudah memberi tahu informasinya. Shin pun pergi dari pandangan Jendral Yong, Jendral Yong langsung memperhatikan lintasannya dan melihat formasi lawan. Ia penasaran dengan apa yang diucapkan Shin. Tak berselang lama setelah ia memperhatikan formasi lawan, ia mengerti dengan ucapan Shin. Ia menemukan sebuah keanehan dari lemahnya pertahanan depan musuh tapi sama dengan Shin, ia tidak bisa melihat lebih dalam formasi itu.


Jendral Yong langsung mengalihkan pandangannya ke lintasan lain dimana ke dua Jendral lainnya melakukan penyerangan. Ia memperhatikan dengan seksama karena di lintasan lain juga ia merasa bahwa formasinya sama dengan lintasannya.


.


.


Disisi penyerangan kini bentrokan sudah terjadi, Jendral Mo dan Jendral Lin memimpin pasukan dengan cepat dan menerobos dengan mudahnya pertahanan depan musuh. Mereka terus saja menyerang ke depan dan tidak memperhatikan sekeliling.


Mereka tidak terlalu memikirkan gumamannya itu, mereka terus saja menyerang secara membabi buta yang diikuti pasukannya.


Kini mereka sudah berhasil pertahanan terakhir karena menorobos dengan cepat menggunakan kudanya. Betapa terkejutnya mereka berdua ketika mereka telah berhasil menerobos pasukan lapisan terakhir.


Mereka menemukan jalan bercabang yang dibuat oleh beberapa pasukan. Di setiap lintasan kini terdapat 3 jalan bercabang yang dibuat oleh formasi bertahan musuh.


Karena kecepatan kuda yang melaju dengan cepat, ke dua Jendral beserta pasukannya tidak bisa berhenti mendadak dan langsung membelokkan kudanya ke arah yang berbeda beda. Kini kedua Jendral beserta pasukannya sudah terpecah belah.


Lu Ye yang berada di atas benteng tersenyum melihat formasi yang ia rencanakan berhasil dengan mulus. Ia juga sangat berterima kasih pada 2 Jendral lain yang tidak menyerang.


Pasalnya jika mereka berempat menyerang langsung seperti kedua Jendral lainnya, mereka akan susah untuk melakukan pertarungan.


‘Akhirnya kau masuk jebakan.’ Gumam Lu Ye dari atas benteng sembari tersenyum.


Lu Ye pun menyuruh wakilnya untuk menyiapkan kudanya. Lu Ye yang berada di atas masih memperhatikan dua lintasan itu karena ia ingin tahu siapa yang akan di lawannya.


Di bawah benteng, di lintasan Jendral Mo berada. Kini ia terus menyerang walaupun sudah terpisah dengan pasukannya. Walaupun ia panik, ia tidak memperlihatkan rasa paniknya karena ia tidak mau membuat beberapa pasukan yang mengikutinya cemas.


Di tengah tengah pembantaian yang dilakukan Jendral Mo, seseorang duduk di atas kudanya dengan gagah dan memperhatikan Jendral Mo yang sedang membantai.


“Sungguh hebat, apakah kau sudah siap?” tanya seseorang yang duduk di atas kudanya.


Jendral Mo yang mendengar itu segera berhenti menyerang dan mengalihkan pandangannya ke arah depan dimana suara itu berasal. Betapa terkejutnya ia melihat Ren Pa yang berada di depannya sudah menunggu.


“Baiklah mari mulai! Aku tidak mau membuang banyak waktuku dengan pak tua sepertimu.” Ucap Ren Pa memprovokasi sembari mengibaskan tombaknya.


Mendengar itu, Jendral Mo langsung melaju cepat dengan kudanya. Ia merasa bahwa tidak ada pilihan selain melakukan duel pertarungan. Ren Pa yang melihat itu pun segera memacu kudanya ke arah musuh untuk melakukan serangan juga.


Benturan senjata terjadi di lintasan itu yang membuat semua pasukan berhenti dan langsung memperhatikan Jendral nya masing masing melakukan duel.


Dari kejauhan, Jendral Yong yang memperhatikan dengan seksama akhirnya menemukan ke anehan yang di ucapkan oleh Shin. Ia melihat jalan bercabang yang dibuat oleh formasi musuh. Segera Jendral Yong memacu kudanya menuju ke tempat Shin.


Jendral Yong memacu kudanya dengan cepat agar semakin memperpendek waktu untuk merencanakan strategi dan tidak terjadi hal buruk apapun.


Tak butuh waktu lama, akhirnya Jendral sampai di depan Shin. “Ada apa Jendral?” tanya Shin.


“Aku sudah mengetahui ke anehan dari formasi musuh. Jalan bercabang yang dibuat dari formasi musuh.”


Shin mengerti dengan ucapannya, ia sekarang sedang mengkhawatirkan apa yang akan terjadi kedepannya. “Jendral melihat keanehan lain?” tanya Shin.


“Tidak, hanya saja lintasan Jendral Mo sedikit berdiam seperti terjadi pertarungan Jendral.” Ucapnya.