The Soldier's Eyes

The Soldier's Eyes
Pertarungan melawan Jendral



Chapter 15


Tak jauh dari kota yang sedang dihancurkan, Jendral Fei berhenti dan memanggil ke 4 kaptennya.


“Aku ingin kalian menyerang dari 4 sisi. Keunggulan kota ini adalah memiliki 4 pintu masuk berbeda dengan kota lainnya. Ini menguntungkan kita dari pengepungan. Jadi lakukanlah!”


“Baik Jendral.”


Para kapten itu berembuk terlebih dahulu karena mereka ingin menentukan siapa yang menyerang pintu depan. Melihat dari kekuatan pasukan yang dipilih tadi, mereka bertiga memilih menyerang pintu depan, sisi kanan dan kiri dan sisanya yaitu pintu belakang akan diserang oleh Shin. Jendral Fei akan memantau dari kejauhan dengan pasukan utamanya.


Mereka pun bergegas pergi ke pintu masing masing. Mereka tidak langsung menyerang karena menunggu signal yang dikirim oleh ke 4 kapten. Signal nya yaitu melemparkan panah api ke atas, jika ke 4 nya sudah menembakan panah api itu mereka akan langsung memulai penyerangan. Seketika 4 panah api bersamaan meluncur ke atas awan.


“SERAANGG!!!”


Ke 4 pintu diserang secara bersamaan. Musuh tidak tau akan hal datangnya bala bantuan, mereka disibukkan dengan pembantaian para warga. Ketika sedang asik membantai para warga, tiba tiba terdengar suara yang keras dengan kepulan asap dari ke 4 sisi pintu masuk. Para pasukan musuh yang melihat itu langsung berlarian karena mereka sadar bahwa mereka sedang dikepung dari 4 sisi.


Pengepungan itu berjalan lancar selama 1 jam kurang, kecepatan penyerangan itu di dasari dari kepintaran dan ketegasan para kapten yang memimpin pasukannya.


Setelah proses pengepungan selesai, para pasukan diberi tugas oleh para kaptennya untuk merawat dan mengobati para warga yang masih hidup sedangkan untuk para kaptennya mereka pergi ke Jendral untuk melapor.


Dikejauhan sekitar 300m, Jendral melihat 4 orang keluar dari pintu depan dengan menunggangi kudanya. Dia pun menunggu mereka menghampirinya, sesampainya disana 4 kapten langsung melaporkan hasilnya dan akhirnya mereka pun semuanya masuk kedalam kota itu. Jendral Fei pun tak lupa memberikan perintah pada 4 kaptennya untuk membawa pasukannya keluar karena dia ingin biar pasukan utama saja yang mengobati warga dan pasukan dari para kapten mengikutinya untuk menjaga pintu dari 4 sisinya, supaya tidak terjadi pembalasan pengepungan. Para kapten pun mengerti dan segera menjalankan tugasnya.


Sekitar 30 menit berlalu, pasukan bala bantuan musuh datang. Mereka sebenarnya bukan bala bantuan melainkan pasukan invasi yang akan mengisi kotanya agar terjaga aman dan tidak diambil kembali tapi sayang prajuritnya sudah dibantai dan kotanya sudah diambil alih kembali.


Pasukan musuh itu datang dari arah pintu depan. Kapten yang menjaga pintu depan langsung melaporkan hal itu pada Jendral.


Setelah mengetahui laporan itu, Jendral memberikan perintah kepada prajuritnya untuk menyampaikan pesan kepada 3 kapten lainnya untuk membantu pintu depan.


Disisi lain, Shin merasa bosan karena hanya menunggu pintu.


“Haiish, apakah mereka akan menyerang balik?”tanya Shin pada pasukannya.


Pasukannya hanya diam karena berpikir bahwa kaptennya sedang mengobrol sendiri, tak lama ada 1 prajurit datang dari dalam kota menuju pintu belakang dan melaporkan pesan yang diperintahkan Jendral.


“Ohhh membantu kedepan ya? Baiklah, terima kasih pesannya.”


Shin langsung tersenyum dan segera membawa pasukannya pergi. Shin membawa pasukannya ke arah lain dan tidak ke pintu depan. Disisi lain 3 kapten itu sedang menahan gempuran dari pasukan musuh.


“Kemana kapten 1 nya lagi? Apakah dia takut?” teriak salah satu kapten.”


“AHHH kapten itu bodoh malah diam dan tidak menjalankan perintahnya.”


“Jika aku bertahan hidup sekarang dan bisa bertemu dengannya lagi akan kuhajar.”


Ketiga kapten itu saling berteriak karena merasa kesal dengan Shin dan pasukannya. Disisi Shin, Shin sedang memutar kearah belakang mereka agar bisa menyerbu dari belakang walaupun butuh waktu untuk memutar. Mereka menghabiskan waktu 10 menit untuk memutar.


“SERAANGGG!”teriak Shin kepada pasukannya agar mereka segera menyeerbu kedepan, Shin dan pasukannya menyerang dari belakang. Ke 3 kapten yang melihat adanya kerusuhan di belakang langsung tersenyum.


“Ternyata dia memutar.”


“Baiklah, akan kubantu kau.”


“Aku akan segera membersihkan yang disini dan segera kesana.”


Ucap ketiga kapten ketika mengetahhui bahwa itu pasukan kapten Shin. Pasukan musuh dipimpin oleh Jendralnya makanya mereka berjumlah banyak berbeda dengan yang didalam kota yang sedang melakukan pembantaian.


Jendral Fei melihat peperangan itu dari atas benteng kota ditemani wakilnya dan beberapa pasukan. Jendral Fei yang melihat kerusuhan dibelakang terkejut karena tidak menyangka bahwa Shin akan melakukan perintah nya dengan memakai taktiknya sendiri.


“Anakku memang hebat dan pintar”gumamnya.


“Apakah pasukan musuh dipimpin oleh Jendral atau para kapten biasaa?”tanya Jendral pada wakilnya.


“J-jendral D-dia Jendral. Jendral itu memmimpin langsung.”


“Jendral siapa?”


“Jendral Hong, Jendral terkuat kerajaan Yan.”


Mendengar itu Jendral Fei segera turun dari atas benteng kota dan segera menaiki kudanya. Melihat Jendral nya terburu buru, beberapa pasukannya langsung mengikuti nya dengan cepat.


Shin yang sedang menyerang dari belakang sudah sampai dititik tengah, dimana Jendral musuh berada. Jendral musuh belum menyerang, dia hanya duduk santai di atas kudanya. Shin menggunakan kekuatan matanya.


[Hong Yu]


[Pemberani, gagah, mudah emosi]


Shin yang melihat sifat sang Jendral terkejut karena sifatnya yang berani dan gagah tapi Shin pun tersenyum karena dia memiliki kelemahan yaitu di sifatnya yang mudah emosi. Jadi dia akan memprovokasinya supaya dia lengah dan menunjukan celahnya.


“WOII KEPALA BOTAK”teriak Shin.


Jendral yang mendengar itu merasa tersindir


dan mengedarkan pandangannya, dia baru menyadari bahwa yang berteriak adalah kapten yang memimpin penyerangan dari belakang.


Jendral Hong memakai senjata berupa gada yang berbentuk bulat.


Jendral pun memasang wajah nya yang kesal itu sambil menatap tajam ke arah Shin.


“HEI BOCAH, KAU KAH YANG BERTERIAK TADI?” teriaknya dengan geram.


“IYA AKU, KEMARILAH PAK TUA BOTAK”


Mendengar itu Jendral merasa sangat emosi karena di sindir oleh seorang bocah. Dia pun membalikkan kudanya dan menghampiri Shin. Mereka kini berjarak sekitar 15 meter. Mereka sama sama duduk diatas kudanya.


“Botak, kau kah yang memimpin pasukan ini?”


“Iya, aku seorang Jendral.”


“Ohoho jadi Jendral saja sombong.”


Jendral tak kuat menahan emosi dan kesalnya, dia memegang erat gadanya.


“Wajar jika aku sombong, karena aku Jendral terkuat kerajaan Yan.”balasnya


“Baiklah mari kita lihat seberapa kuat kau.”ucap Shin.


Mereka bersamaan melaju menggunakan kudanya. Mereka pun saling menghantamkan senjatanya masing masing. Hantaman demi hantaman terus terjadi tidak ada yang terhempas diantara mereka apalagi yang terluka.


Untuk para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur, mohon berikan sarannya dikolom komentar dan jika suka dengan cerita tolong di like, vote dan tekan tombol favorit supaya ketika saya update kalian tidak ketinggalan.


Saya meminta sarannya dikomen supaya saya bisa mengoreksi karya saya. Saya meminta like dan vote supaya saya tambah semangat dalam melanjutkan ceritanya.


Saya tidak bermaksud memaksa, hanya saja saya masih pemula yang masih memerlukan dukungan penuh kalian dalam memperbaiki diri.


Semoga para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur ini menikmati karya saya.


Maaf bila banyak kesalahan, nanti akan saya betulkan supaya enak dibaca lagi. Terima kasih juga buat kalian yang sudah mendukung karya saya.


Salam hormat.


-cain-