The Soldier's Eyes

The Soldier's Eyes
Menngetarkan langit dan bumi



Chapter 34


Di bawah luasnya langit yang biru dan indah itu terdapat sebuah lapangan berwarna coklat dengan debu debu yang beterbangan, di lapangan yang coklat itu kini berkumpul banyak pasukan dari kedua sisi. Dilihat dari manapun meraka akan melakukan peperangan besar.


Shin dan pasukannya berada di sebelah kanan paling ujung. Shin melihat para Jendral bersiap memulai peperangan. Ketika ia memandang para Jendral, Jendral lainnya malah berbalik memandangi Shin. Ia kaget dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah depan lagi.


Ketika Shin sedang menikmati semilir angin, tiba tiba pembawa pesan datang dan memerintahkan dirinya untuk memulai pengumuman peperangan ini.


Shin yang mendengar pesan itu bingung harus bagaimana, ia tidak tau apa yang harus dibicarakan. Tapi karena dirinya sudah diberi tugas dan dipercaya oleh Jendral lainnya, Shin langsung maju beberapa langkah kedepan menaiki kudanya.


Shin menarik nafas nafas dalam lalu :


“Pesan untuk semua pasukan Ming dari Jendral muda Shin!” teriak Shin dengan suara yang keras dan lantang.


“Kita pasukan Ming telah diberi hak untuk memulai perang ini!”


“Dengan perang ini, Yan akan lenyap!”


“Jangan sampai membuat kesalahan.”


“Perang ini akan dicatat di dalam sejarah kita!”


Shin lalu berhenti sejenak karena ingin mengambil nafas lagi. Semua pasukan yang ada di medan perang itu entah pihak kerajaan Ming atau Yan, mereka terkejut dengan suara Shin yang begitu keras dan lantang. Suara yang mampu mencapi seluruh sudut pasukan, suara yang mampu menggetarkan tanah dan menghempaskan angin.


Shin melanjutkan lagi dengan berkata :


“Sekarang, orang terhormat yang akan memulai peperangan ini adalah Jendral Meng Yi!”


Seketika semua pandangan beralih yang asalnya dari Shin menjadi kepada Jendral Meng Yi, yang dimana Jendral Meng berada ditengah tengah dari para Jendral lainnya.


Jendral Meng tersenyum ke arah Shin dan langsung kembali kebarisannya.


Jendral Meng yang telah mendapat perintah untuk memulai peperangan pun langsung menyuruh pasukan bersiap. Ia kini menujukan tangannya ke arah depan yang mengartikan untuk menyerang. Kini 30 ribu pasukan Jendral Meng menyerbu kedepan, Jendral Meng dan 10 ribu pasukan sisanya berdiam ditempat memperhatikan peperangan yang terjadi.


….


Serangan yang dilancarkan pasukan Jendral Meng begitu monoton yang membuat 3 Jendral lainnya memutuskan untuk melancarkan serangan lanjutan. Kini 90 ribu pasukan menyerang kedepan dengan berbagai lintasan.


Shin hanya melihat dan belum mengambil tindakan apapun. Ia berpikir bahwa akan ada kesempatan nantinya.


Kini hari mulai masuk ke sore hari, peperangan terus terjadi dan pasukan belum tertembus.


Kedua pihak menelan banyak korban. Kedua pihak juga meminta untuk melanjutkan peperangannya besok. Dari 120 ribu pasukan yang menyerang kini hanya tersisa 85 ribu pasukan. Pasukan musuh juga berkurangan banyak dari 200 ribu pasukan kini hanya tersisa 170 ribu pasukan.


Selisih kedua pihak hanya berpaut 15 ribu saja. Pasukan kerajaan Ming menderita kerugian yang cukup lumayan.



Keesokannya peperangan terjadi lagi seperti biasa. Shin hari ini belum bertindak juga, tapi 1 Jendral sudah mulai ikut turun kelapangan karena peperangan harus ada kemajuan menurutnya. Melihat 1 Jendral turun langsung, pasukan menjadi lebih berhati hati dan semakin merapatkan barisannya.


Jendral yang menyerang itu kini memimpin semua pasukannya menyerbu ke arah pasukan musuh, walaupun sudah tua tapi ia memiliki kekuatan yang sangat kuat dan hebat.


Pengalaman dalam berperang tentu di pakai oleh Jendral itu, ia kini tidak hanya menerobos kedepan saja. Ia melihat bahwa pasukan musuh merapikan dan merapatkann barisan pun langsung berbelok ke arah sisi karena jika dipaksakan masuk kedalam akan menimbulkan keriguan baginya.


Penyerangan yang di dampingi Jendral juga kini tetap monoton walaupun ada beberapa kejadian yang menarik yang membuat Shin tersenyum.


Kini pasukan yang awalnya berjumlah 155 ribu hanya berkurang 20 ribu saja dan menjadi 135 ribu.


Peperangan ini menjadi semakin menarik karena selisih jumlah pasukan yang semakin sedikit. Shin sudah 2 hari belum bertindak, dia menunggu momen yang tepat untuk melakukan penyerangan.



Keesokannya, pasukan dipimpin oleh 2 Jendral lainnya, Jendral yang kemarin memutuskan untuk tidak mengikuti penyerangan.


Penyerangan yang akan dipimpin langsung oleh 2 Jendral membuat pasukan musuh menjadi cemas. Pasalnya Jendral musuh hanya diam di atas benteng.


Pasukan langsung menyerang dengan 2 lintasan yang dimana dipimpin 2 Jendral itu.


Mereka membagi serangannya supaya jumlah musuh berkurang sangat banyak. Pasukan yang menyerang itu kini tengah mengikuti Jendralnya melaju dengan cepat yang sudah mulai menerobos pasukan musuh.


Kekuatan yang sangat hebat bisa menghempaskan puluhan prajurit. Pasukan musuh yang berada dilintasan lain menjadi cemas karena pasukannya sedang di obrak abrik oleh 2 Jendral. Mereka ingin membantu tapi Jendralnya menyuruh untuk tetap diam dibarisan.


Dari kejauhan, Shin melihat kegilaan 2 Jendral tua itu. Walaupun sudah tua tetapi masih saja kekuatannya sangat besar. Shin yang menatap kedepan dengan tajam dan fokus pun teringat bahwa dirinya belum mengidentifikasi karakter musuh.


Ia langsung mencari keberadaan 2 Jendral musuh itu. Tak butuh waktu lama baginya menemukan mereka karena mereka sangat mencolok. Badan yang besar, zirah yang berbeda dengan pasukannya. Itulah perbedaan yang menjadi sebuah patokan bagi Shin untuk menemukan keduanya.


[Lu Ye]


[Penyabar, pintar, berani]


[Ren pa]


[Berani, licik, emosian]


Selesai mengidentifikasi, Shin hanya bisa menghela nafas karena musuhnya benar benar kuat apalagi mereka mempunyai karakter yang begitu hebat. Kini ia hanya memandangi Jendral yang bernama Lu Ye, ia merasa bahwa dirinya tidak akan bisa menang melawannya.


Badan yang begitu besar dan tinggi memegangi sebuah tombak yang panjang dan besar. Shin hanya bisa menelan ludah setelah memandang lama Jendral Lu Ye itu. Tapi melihat bahwa ini peperangan, ia juga tidak terlalu memikirkannya karena masih ada 4 Jendral lainnya yang pasti akan mengurus Jendral musuh.


Peperangan yang terjadi di depan sudah mulai mencapai batasnya, apalai hari sudah mulai sore lagi. Pasukan penyerang yang dipimpin oleh 2 Jendral itu kembali dengan sisa sisa pasukannya. Shin dan Jendral lainnya juga belum mengakumulasikan kerugian yang diterima. Tapi yang pasti dan Shin percaya, kerugian musuh akan lebih besar dari pada pasukan kerajaan Ming.


Para Jendral kembali ke tenda nya, mereka


memilih untuk berkumpul di tenda miliknya


Shin untuk membahas penyerangan selanjutnya. Kini Shin hanya bisa menyetujui Jendral lainnya saja.


**Untuk para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur, mohon berikan sarannya dikolom komentar dan jika suka dengan cerita tolong di like, vote dan tekan tombol favorit supaya ketika saya update kalian tidak ketinggalan.


Saya meminta sarannya dikomen supaya saya bisa mengoreksi karya saya. Saya meminta like dan vote supaya saya tambah semangat dalam melanjutkan ceritanya.


Saya tidak bermaksud memaksa, hanya saja saya masih pemula yang masih memerlukan dukungan penuh kalian dalam memperbaiki diri.


Semoga para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur ini menikmati karya saya.


Maaf bila banyak kesalahan, nanti akan saya betulkan supaya enak dibaca lagi. Terima kasih juga buat kalian yang sudah mendukung karya saya.


Salam hormat.


-cain**-