
Chapter 29
1 minggu kemudian
Hari dimana peperangan akan terjadi, Shin bangun sangat pagi karena harus latihan terlebih dahulu dan menyiapkan barang barangnya. Dia seperti biasa ditemani kedua adiknya, kedua adiknya juga sekarang sudah mempunyai senjata yang bagus karena mereka memesan dari penempa yang sama dengan
Shin walaupun bahannya berbeda.
Diruang makan mereka bertiga sudah ditunggu oleh anggota keluarga lainnya untuk sarapan, mereka bangun lebih pagi agar bisa sarapan bersama.
“Shin kau sudah siap kah?”
“Sudah ayah.”
“Baiklah mari makan dulu.”
Kini ruangan makan hening karena mereka sedang menyantap sarapannya. Shin yang sudah selesai sarapannya duluan, langsung kekamar dan segera memakai zirahnya disusul oleh Huang dan Duan yang kembali kekamarnya bertujuan sama dengan Shin.
10 menit kemudian
Diruangan utama, Shin dan kedua adik laki lakinya datang dengan pakaian yang lengkap. Mereka sudah ditunggu oleh keluarga dan para pelayannya di ruang utama.
“Baiklah, Huang dan Duan kalian keluar dan siapkan pasukann terlebih dahulu supaya aku keluar langsung berangkat.”
“Baik kakak.”
…
“Shin kuharap kau menjaga dirimu baik baik dipeperangan nanti. Jangan sampai kau kehilangan nyawamu. Ingat, istrimu sekarang sedang mengandung anakmu. Jangan membuatnya menjadi janda beranak 1.”
“Baik ayah aku akan mengingatnya.”
Shin lalu mengalihkan pandangannya pada Hua yang kini tengah khawatir akan suaminya yang akan pergi berperang.
“Sayang jangan memasang wajah begitu.”
“A-aku tak mau kamu pergi tapi aku tau ini tugas dan perintah, hiiks hikss.”
Hua tak kuat menahan tangisnya karena akan ditinggalkan suaminya berperang yang tidak tau kapan suaminya pulang, apalagi sekarang peperangan besar yang akan merebut sebuha kerajaan. Itu akan menjadi peperangan panjang.
“Jangan khawatir, aku akan kembali dengan keadaan utuh.”
“Aku mencintaimu.” Lanjut Shin sambil mengecup keningnya.
“Aku juga mencintaimu, cepatlah kembali!” Hua langsung menyosor Shin dan mencium bibirnya didepan banyak anggota keluarganya. Bagi mereka itu adalah hal yang wajar karena mereka adalah sepasang suami istri.
“Ibu, ayah aku titip Hua, calon anakku dan adikku Yue.”
“Kakak kakak?” Ucap yue sambil menahan tangis.
“Ada apa Yue kecil?”
“Kakak harus kembali kerumah ya?”
“Iya tentu, nanti kakak sekalian bawakan mainan untuk Yue ya?”
“Hmmm.”
“Kakak Shin, pasukan sudah siap!”Teriak Duan dari luar.
“Baiklah kalau begitu aku pamit, jaga diri kalian ya dan sehat sehat semuanya.”
Shin pun membungkukan badannya pada ayah dan ibunya mengartikan meminta izin setelah itu dia langsung membalikan badannya dan pergi keluar. Mereka yang melihat punggung Shin seketika tersenyum karena merasa bahwa dia akan baik baik saja.
“Tenang saja putriku, Suamimu akan baik baik saja dan memberikan kontribusi yang besar bagi kerajaan.”
“Iya ayahh.”
Shin yang sudah sampai diluar melihat pasukannya sudah bersiap, yang berada didepan rumah Shin hanya sebagian karena tidak muatnya jumlah pasukan. Sisanya mereka menunggu diluar gerbang kota. Shin pun tidak banyak berbicara karena pasukannya belum berkumpul semua.
Diperjalanan menuju keluar kota mereka di sambut para warga yang memberi semangat untuk Shin dan pasukannya dan mendoakan mereka.
Tak butuh waktu lama bagi Shin dan pasukannya sampai di luar gerbang kota. Shin melihat banyak sekali pasukan yang berbaris rapi didepan kota. Shin pun berjalan dengan kudanya ke depan sendirian, kedua adiknya berhenti karena dia mengerti bahwa kakaknya akan mengucapkan beberapa patah kata.
“BAIKLAH PASUKANKU, AKU BERHARAP KITA MERAIH KEMENANGAN. KITA AKAN BERPERANG DAN KITA TIDAK TAU KAPAN ITU AKAN SELESAI.”
“AKU BERHARAP KETIKA PERANG SELESAI NANTI, AKU BISA MELIHAT WAJAH WAJAH PASUKANKU.”
“BAIKLAH MARI BERANGKAT!”
“WOOOOOHH” teriakan semua pasukan Shin yang berjumlah 45 ribu menggetarkan tanah sampai terdengar kedalam kota dan juga sampai terdengar sampai kediaman Shin.
Disana ayahnya tersenyum karena dia merasakan getaran semangat dari para pasukan.
Mereka pun pergi menuju Selatan karena perbatasan kerajaan Yan dan Ming berada disebelah sana. Dia juga sudah mendapat kabar bahwa Jendral yang lain sudah ada yang melakukan serangan pembuka. Shin dan pasukannya mereka berjalan dan tidak mamacu kuda kudanya dengan cepat karena takut pasukannya akan kehilangan banyak stamina.
Diperjalanan mereka tidak istirahat karena mereka harus mengejar ketertinggalan dari Jendral lain yang sudah berada di tempat. Itu hal wajar karena perjalanan Shin sangat jauh. Perjalanan terjadi seperti biasanya dan tidak ada kendala, Shin mengobrol dengan para pasukannya yang berada didepan.
…
Shin sampai diperbatasan sore hari dan belum melakukan penyerangan dia berniat melakukan penyerangan besok karena kondisi hari yang sudah sore dan kondisi para pasukan yang pastinya kelelahan karena perjalanan tanpa istirahat.
Ketika Shin mengistirahatkan pasukannya. Shin mencari tenda para Jendral untuk berdiskusi.
Shin masuk kedalam tenda itu ketika sudah menemukannya. Dia dikejutkan karena semua Jendral sudah ada.
“Maaf senior aku terlambat karena harus memberi perintah pasukanku untuk istirahat terlebih dulu.”
“Tidak apa apa, mari sekarang fokus pada ini.”
Mereka melihat ke atas meja yang dimana diatas meja tersebut terdapat sebuah denah kota kota yang ada di kota kerajaan Yan.
Mereka mendiskusikan bagian mana saja yang akan diserang terlebih dahulu dan pembagian Jendral mana yang akan menyerang kota mana.
Shin melihat ada sebuah kota dengan pintu masuk 1 dan juga benteng yang kecil di denah itu, ia langsung memilih itu tapi Shin ditolak permintaannya karena medan disana sangat tidak bagus.
Shin langsung melihat lihat lagi, tak butuh waktu lama dia menemukan sebuah kota besar yang berada dekat dengan ibukota Kerajaan Yan. Dia langsung memilih kota itu yang membuat para Jendral kaget.
“Kenapa kau memilih kota itu?”
“Menurutku ini lebih baik Jendral, karena kota yang berdekatan dengan ibukota. Aku akan menguras stamina mereka dan membuat mereka meminta bantuan dari ibukota. Sedangkan kalian akan dengan cepat
menghabisi kota kota lainnya agar bisa segera menyerang Ibukota dari sisi lain.”
Sontak para Jendral yang lain terkejut dengan rencana Shin yang ingin menjadikan dirinya sendiri umpan.
“Jangan khawatir, aku tau kapasitas diriku dan pasukanku. Kalau aku sudah tidak kuat, aku akan menarik pasukanku.”
“Baiklah jika begitu, besok berarti kau harus berangkat kedekat kota itu.”
“Tidak Jendral. Aku akan pergi sekarang, supaya pasukan musuh kaget dengan kedatangan pasukanku ketika besok pagi.”
“HAHH? Pasukanmu akan kelelahan kalau begitu.”
“Tidak Jendral, mereka kuat percaya saja padaku.”
“Aku akan memberi Jendral lain waktu 3 hari untuk meratakan kota kota disana aku akan menahan 2 kota itu.”
“Semoga beruntung dan selamat Jendral. Mari bertemu di ibukota nanti.” Ucap Shin sambil tersenyum lalu membalikkan badannya dan pergi keluar. Sedangkan para Jendral lain mereka masih ternganga dengan keputusan Shin barusan.
“Apakah bocah itu gila?”
“Haha menarik, biarkan saja dia. Kalau begitu kita harus dengan cepat meratakan kota lainnya.”
**Untuk para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur, mohon berikan sarannya dikolom komentar dan jika suka dengan cerita tolong di like, vote dan tekan tombol favorit supaya ketika saya update kalian tidak ketinggalan.
Saya meminta sarannya dikomen supaya saya bisa mengoreksi karya saya. Saya meminta like dan vote supaya saya tambah semangat dalam melanjutkan ceritanya.
Saya tidak bermaksud memaksa, hanya saja saya masih pemula yang masih memerlukan dukungan penuh kalian dalam memperbaiki diri.
Semoga para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur ini menikmati karya saya.
Maaf bila banyak kesalahan, nanti akan saya betulkan supaya enak dibaca lagi. Terima kasih juga buat kalian yang sudah mendukung karya saya.
Salam hormat.
-cain**-