
Chapter 32
“Hei, apakah Jendral kita memang sekuat itu?”
“Tak tau, aku juga baru gabung dengan pasukan Jendral Shin sekarang.”
“Mereka berempat sudah duluan, pasti tau.” Menunjuk ke 4 kapten yang sudah lama bergabung dengan Shin.
Para pasukan yang baru bergabung, mereka kaget dengan kekuatan Jendral mereka. Mereka tidak mengira bahwa Shin yang masih muda mempunyai kekuatan yang begitu hebat.
“Baiklah mari kita akhiri disini.” Ucap Shin.
Shin mengeratkan kakinya ke kuda yang dia tunggangi, dia menggenggam erat erat pedangnya. Dia mengalirkan kekuatannya ke lengan sebelah kanan, dimana pedangnya berada. Musuhnya yang melihat gerakan Shin berbeda, dia juga mulai bersiap untuk mengeluarkan semuanya dipertarungan akhir ini.
“Kuharap aku tak mati ditangan bocah itu.” Gumam Jendral musuh.
Shin langsung menerjang kedepan tepat dimana musuh berada. Pedang Shin membentur senjata musuh lagi karena musuh memasang pondasi bertahan. Shin menambah kekuatannya ketika menekan berupaya menghancurkan senjatanya. Tapi sayang, senjata milik musuh lumayan kuat. Senjatanya hanya retak saja.
“Senjatamu lumayan bagus, tapi kali ini senjatamu akan hancur.”
Shin langsung menyerang lagi, kali ini dia tidak menyerang secara horizontal, Shin kini menyerag secara vertikal berniat membelah kepalanya. Musuh yang bertahan dengan cara horizontal itu tertipu oleh teknik Shin yang melakukan serangan secara vertikal. Shin menebas kepala musuhnya tapi sayang dia masih hidup.
Shin menarik kembali pedangnya dan menusuk dadanya. Musuhnya yang masih melamun karena terkena tebasan dikepala pun tak sempat menepis serangan tusukan Shin. Shin menarik kembali pedangnya dan menebas kepalanya tapi sayang masih tertahan walaupun senjata milik musuh sudah tertekan oleh senjata Shin dan kini senjatanya sudah mencapai leher. Shin perlu tambahan sedikit kekuatan supaya bisa menebas lehernya.
Swiiiish.
Lesatan anak panah dari pasukan musuh menganggu pertarungan antar Jendral.
“Sungguh tak tahu malu.” Ucap Shin.
Shin yang telat menghindar tergores di pipi kanannya. Lesatan anak panah itu mengarah lurus pada kepalanya Shin.
“Huang, Duan?” panggil Shin.
“Iya kakak?” jawab mereka.
“Bantai saja semuanya! Tak usah pedulikan pertarungan ini.” Perintah Shin.
“Baik kakak.”
Huang dan Duan yang diberi perintah pun langsung melesat. Para pasukan yang melihat mereka berdua menghilang langsung cemas karena tidak diketahui kemana perginya mereka berdua.
“Argggh.”
“Arhhhh.”
Teriakan para pasukan musuh yang dibunuh oleh Huang dan Duan terdengar jelas di telinga semua pasukan yang ada disana.
“Sudah kubilang aku memilih duel, tapi ada saja penganggu. Sungguh tak terhormat perbuatanmu pasukan Kerajaan YAN!” Shin menegaskan kata katanya.
Shin marah karena pertarungannya di ganggu. Para pasukannya yang melihat Shin marah adalah pertama kali mereka melihatnya.
“Aku takkan segan segan lagi, Jendral. Salahkan prajuritmu.” Ucap Shin.
Shin langsung menerjang Jendral musuh yang masih belum bersiap. Shin benar benar marah karena dirinya hampir saja mati akibat lesatan anak panah tadi. Shin langsung menebaskan pedangnya secara horizontal ke arah leher musuh. Musuh yang masih belum bersiap itu menundukan kepalanya menghindari tebasan Shin. Shin langsung melompat dari kudanya mengarah ke arah musuh, dia melayang di udara lalau membuang pedangnya dan menggantinya dengan dagger.
Shin yang sudah mengganti senjata dengan dagger, langsung cepat cepat menyerang. Dia menyerang bergantian antara kanan kiri, yang membuat musuh tidak tau serangan mana yang harus dia tahan. Jendral musuh kini mukanya terdapat banyak luka.
Shin melompat lagi dan menendang Jendral itu dari kudanya. Melihat tendangannya berhasil, Shin langsung berlari ke arah musuh yang baru saja terjatuh. Shin langsung melakukan serangan secara membati buta dengan daggernya. Musuh yang masih duduk ditanah itu tidak leluasa menahan serangan acak Shin.
1 dagger Shin dilemparkan, musuh yang tidak mengira akan serangan lemparan itu pun tak sempat menghindar. Dagger itu menancap di dadanya, Shin kemudia berlari ke arah musuh itu dan mencabut daggernya. Lalu menusukkannya di kepala.
Musuh yang sudah kehilangan banyak darah pun tak bisa apa apa, dia sudah kehilangan kesadaran. Shin langsung menendang perut musuhnya supaya dia jatuh. Dagger yang sudah diambil pun, dia simpan kembali di tempatnya yang berada dikiri kanan pinggangnya.
Shin berjalan ke arah pedangnya yang tadi dia buang. Dia menebaskan pedangnya ke arah leher musuh. Kini di udara ada 1 kepala yang melayang. Para pasukan yang melihat itu merasa ngeri.
“Aku takkan pernah membuat Jendral marah.” Ucapnya.
“Aku juga, baru kali ini aku melihat Jendral marah.” Balasnya.
Berbeda dengan pasukan yang baru, mereka melihat Shin malah kagum tapi ada juga rasa ngeri. Mereka kagum ketika Shin menggunakan daggernya. Mereka tidak tau Jendralnya menggunakan senjata apa.
“Huang, Duan sudah beres?” teriak Shin.
“Sudah kak, sisa sedikit.”
“Sisakan untuk pasukan lain saja. Kalian jaga kedepan gerbang!”
“Baik kakak.”
“Jika ada sesuatu langsung laporkan.”
Huang dan Duan bergegas ke arah gerbang kota menaiki kudanya. Shin mendekati mayat Jendral musuh dan membawanya.
“Bawa mayat ini!” ucap Shin menyuruh salah satu pasukannya.
“Baik Jendral.”
Ketika para pasukan Shin membersihkan sisa pasukan yang lain, Shin langsung menaiki kudanya dan berniat ke gerbang kota.
“KAKAK!” teriak Duan.
“Ada apa?”
“Ini ada pembawa pesan.”
“Laporkan!”
“Baik Jendral.”
“Jendral yang lain kini sudah dalam perjalanan menuju ibukota. Jendral memberi pesan untuk Jendral Shin segera menuju ibukota.”
“Baik, katakan padanya aku sekarang juga akan berangkat.”
“Baik Jendral.”
“Kalau begitu saya pergi dulu.”
Shin hanya mengusirnya dengan kode tangan.
“Sudah bersih?” teriak Shin pada parsukannya.
“Sudah Jendral.”
“Bersiaplah, kita ke ibukota sekarang.”
Para pasukan langsung bersiap dan berbaris kembali bersama para kaptennya. Shin langsung berjalan keluar gerbang dimana Huang sudah menunggu. Duan tidak digerbang karena dia tadi mengantar pembawa pesan untuk masuk kedalam.
Para warga kerajaan Yan yang melihat pasukan musuh menang merasa khawatir, mereka memasang muka penuh harap yang berarti ‘jangan bunuh aku’. Shin yang melihat itu hanya tersenyum dan membungkukkan badannya tanda memberi hormat dan meminta maaf.
Para warga langsung tersenyum melihat Jendral Shin yang berlaku baik pada mereka.
“Aku takkan membunuh kalian, sebaiknya kalian keluar dan bersihkan mayat mayat itu. Kubur mereka atau bakar saja. Kota ini sekarang milik kerajaan Ming!” teriak Shin.
Para warga yang mendengar itu mereka langsung senang.
“Terima kasih Jendral muda.”
“Anda sangat baik.”
“Anda penolong kami.”
Shin yang mendengar ucapan penolong langsung melongo karena bingung.
“Hah penolong?” teriaknya.
“Iya Jendral anda telah menolong kami.”
“Kami disini para warga yang mempunyai anak gadis mereka harus diberikan kekamp militer, mereka merusak anak gadis kami. Setelah merusaknya mereka mengirimnya ke ibukota untuk dijadikan wanita malam.” Ucap mereka dengan nada sedih dan ada juga yang menangis. Mereka yang menangis adalah korban dari anaknya yang dibawa.
“Brengsek!!”ucap Shin.
“Kalau begitu, kalian keluar saja dan bakar mayat mayat itu! Jangan beri penghormatan untuk mereka yang bersikap buruk!”
“Terima kasih Jendral.” Ucap para warga bersemangat.
Shin pun langsung pergi dan melambaikan tangannya.
**Untuk para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur, mohon berikan sarannya dikolom komentar dan jika suka dengan cerita tolong di like, vote dan tekan tombol favorit supaya ketika saya update kalian tidak ketinggalan.
Saya meminta sarannya dikomen supaya saya bisa mengoreksi karya saya. Saya meminta like dan vote supaya saya tambah semangat dalam melanjutkan ceritanya.
Saya tidak bermaksud memaksa, hanya saja saya masih pemula yang masih memerlukan dukungan penuh kalian dalam memperbaiki diri.
Semoga para pembaca yang terhormat dan berbudi luhur ini menikmati karya saya.
Maaf bila banyak kesalahan, nanti akan saya betulkan supaya enak dibaca lagi. Terima kasih juga buat kalian yang sudah mendukung karya saya.
Salam hormat.
-cain**-