The Rose Of The South

The Rose Of The South
Chapter 8 : La Reine en Deuil



Saat larut malam, dan semua orang sudah tertidur di beberapa alas tidur tambahan yang dibeli oleh Louis tadi siang di pasar, Anna diam-diam keluar dari pondok kecil mereka. Dia ingin melihat Cahaya Utara sekali lagi sebelum mereka kembali ke Schiereiland. Dia merasa akan merindukan Cahaya Utara itu.


"Rasanya aku tidak mau pergi." Kata Anna, saat mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Tanpa perlu menoleh, dia tahu itu Leon. Anna menghafal irama langkah kaki itu.


Leon duduk di sampingnya, menyampirkan selimut bulu tebal ke punggung Anna. "Bukan kah kau harusnya senang karena akan segera kembali ke Schiereiland? Tidakkah kau merindukan Schiereiland beserta langit cerah dan suhu hangatnya, Yang Mulia?" Tanya Leon, sambil turut memandang langit malam Nordhalbinsel.


"Aku memang merindukannya." Anna mengakui. "Rasanya sudah lama sekali. Saat ini pasti bunga mawar di tamanku sedang bermekaran. Aku bisa mencium aroma wanginya yang masuk ke kamarku lewat jendela yang terbuka. Aku benar-benar merindukan saat-saat itu. Tapi aku juga takut pada apa yang akan kulihat di sana. Taman mawarku mungkin sudah hancur dan hangus terbakar." Anna menoleh ke arah Leon yang ternyata sedang memandanginya. Leon tidak mengalihkan pandangannya. "Dan aku juga tidak mau meninggalkan rumah ini. Kau membelikannya untukku."


Leon tertawa, "Kau masih memiliki Istana di Schiereiland, Yang Mulia. Begitu pun Istana musim panas di pinggir pantai Canaria. Serta vila kerajaan di wilayah Smirnoff, Kief, dan Rantsoff Timur."


"Dan Istana Anastasia di Eze, di Duchy Francis. Walaupun aku tidak pernah menggunakannya, itu tetap Istana milikku."


"Benar. Istana yang diberikan Nicholas, mantan tunanganmu. Jika dibandingkan dengan rumah ini—“


"Jika dibandingkan dengan rumah ini, Istana terlalu..."


"Besar? Mewah? Berkilauan?"


Anna menggeleng, "Bukan." Dia mencoba mencari kata yang tepat, "Terlalu... tidak sesuai untukku." Katanya. Istana memang tempat tinggalnya sejak dilahirkan. Tapi rumah ini adalah tempat tinggal yang dia impikan. Rumah yang pernah sangat ingin dia miliki untuk ditempati bersama Leon. "Aku lebih suka tinggal di rumah ini. Bersamamu."


"Yang Mulia..."


Anna menghela napas, "Kau masih akan terus memanggilku begitu?"


"Ya."


"Baiklah."


"Aku akan menjawabnya sekarang. Lamaranmu saat itu..." Kata Leon. Kali ini dia menatap Anna dengan serius.


Anna berdebar karenanya, tapi Anna tahu apa arti tatapan itu. Anna sudah terlalu mengenal Leon untuk tidak mengharapkan jawaban yang dia inginkan keluar dari mulut pria itu.


Anna mengalihkan pandangannya, tidak sanggup menatap Leon saat tahu apa yang akan dikatakannya, "Kau akan menolakku lagi kan? Apa kau tidak pernah melihatku sebagai wanita, walau cuma sesaat saja? Apa aku masih tampak seperti adik kecil yang perlu kau lindungi? Apa aku masih terlihat seperti putri manja yang hanya tahu hidup enak dan bahagia di Istana?"


"Tidak. Tidak terlalu." Jawab Leon langsung.


"Apa?"


"Aku menyukaimu. Sebagai adik perempuan. Sebagai Putri Schiereiland. Dan sebagai wanita."


Anna terdiam, tidak bisa berkata-kata. Rasanya tidak nyata. Ini tidak seperti apa yang dia bayangkan. Dia ingin berharap, tapi takut sendiri pada harapannya.


"Kalau begitu—“


"Aku minta maaf, Yang Mulia. Seharusnya aku tidak mengatakannya." Leon memotong perkataannya, berlutut di hadapannya.


Sekarang Anna bingung. Leon menyukainya. Tidak hanya sebagai adik atau Putri, tapi juga sebagai wanita. Tapi dia justru meminta maaf. "Apa maksudmu?"


"Kita tidak boleh seperti ini, Yang Mulia. Jadilah Putri Schiereiland yang kuat dan rebut lah kembali Schiereiland. Aku akan membantumu. Aku berjanji akan selalu berada di sisimu sebagai pedang dan perisaimu."


Sebagai pedang dan perisaiku, tapi bukan sebagai pendampingku. Apa yang kuharapkan?


Anna menelan emosinya. Tidak membiarkan suaranya bergetar. Mengenyahkan seluruh harapan yang hampir muncul itu.


Aku tidak boleh terlihat sedih dan kecewa. Sudah bagus dia mau jujur seperti itu. Lagi pula ini bukan pertama kalinya dia menolakku. Dalam hati Anna menyemangati dirinya sendiri.


"Baiklah. Aku mengerti maksudmu. Tidak apa-apa." Anna memaksakan seulas senyum, "Yang penting kau sudah berjanji untuk selalu ada di sisiku. Yang penting aku tahu kau juga bisa menyukaiku dan melihatku sebagai wanita. Tidak apa-apa kalau kau menolakku lagi asal kau menepati janjimu itu, Jenderal Leon."


"Ini tidak akan mengubah apa pun kan?"


Anna tertawa canggung, setengah berharap Leon tidak menyadarinya, "Tidak akan. Lagi pula aku sudah pernah ditolak sekali, penolakan kedua rasanya tidak terlalu menyakitkan. Aku mulai terbiasa." Katanya. Dia merapatkan selimut yang dibawa Leon tadi, mulai merasakan dinginnya malam. Anna menatap langit untuk memastikan. Cahaya Utara malam itu tidak datang, hanya ada langit gelap dan udara dingin. "Kalau begitu, aku akan masuk lebih dulu. Besok pagi-pagi sekali kita akan meninggalkan Negeri Es ini. Aku benci udara dingin ini. Selamat malam, Leon."


Malam itu Anna tidak bisa benar-benar terlelap. Penolakan kedua rasanya jauh lebih menyakitkan. Dia menyembunyikan kepalanya di balik selimut bulu dan menangis tanpa suara sepanjang malam.


...****************...


Hari Rapat Pengangkatan Putra Mahkota Nordhalbinsel...


Siang itu, Istana Utama dipenuhi oleh para petinggi negara yang akan mengikuti rapat penunjukan Putra Mahkota Nordhalbinsel. Suasana di ruangan itu sangat menegangkan setelah Putri Mahkota Eleanor Winterthur dan Pangeran Ludwig serta Permaisuri Selena memasuki ruangan. Bahkan sebelum rapat dimulai, para bangsawan yang hadir dalam rapat sudah terdiri atas dua kubu: mereka yang mendukung anak dari mendiang Putra Mahkota yang belum lahir, dan mereka yang mendukung Pangeran Ludwig.


"Di mana Elias?" Tanya Eleanor pada pengawalnya saat menyadari saudara kembarnya itu tidak ada di ruangan rapat. Dia berusaha untuk tidak terlihat panik.


Meski hari itu adalah hari rapat yang sangat penting baginya, Eleanor tetap mengenakan gaun hitam. Tradisi berkabung di Nordhalbinsel mengharuskan orang-orang di kerajaan harus mengenakan pakaian hitam selama tiga hari setelah kematian Putra Mahkota Xavier. Tapi sebagai pasangannya, Eleanor harus tetap mengenakan gaun hitam selama setahun penuh untuk menandakan dirinya masih dalam masa berkabung. Tradisi sekarang masih lebih baik daripada tradisi dulu yang menyatakan wanita yang ditinggal mati suaminya atau tunangannya harus mengenakan gaun hitam selama sisa hidupnya.


"Saya akan segera mencarinya, Yang Mulia." Kata pengawal itu.


"Tidak perlu. Kau harus berada di sini. Mereka akan curiga jika ada yang keluar saat rapat berlangsung."


Berita tentang kehamilan Putri Mahkota sudah diketahui oleh semua orang di rapat itu. Meski begitu, sebagian dari mereka yang merupakan pendukung Pangeran Ludwig meragukan kebenaran dari berita itu. Dokter yang menangani Eleanor pun dipanggil untuk memberikan kesaksian dan membuktikan bahwa Putri Mahkota memang sedang mengandung bayi laki-laki.


"Biarpun begitu, Putri Mahkota belum resmi menikah dengan mendiang Putra Mahkota. Bukankah ini agak memalukan dan tidak pantas." Kata Permaisuri Selena.


Perkataannya membuat para bangsawan yang hadir mulai berbisik-bisik. Grand Duke Winterthur tampak menahan amarahnya.


"Kami saling mencintai. Lagi pula kami seharusnya sudah menikah tiga tahun yang lalu." Kata Eleanor.


"Benar. Seharusnya begitu. Tapi itu terus tertunda, bukan? Mungkin Putra Mahkota tidak benar-benar ingin menikahimu, Yang Mulia Putri Mahkota."


"Bukan kemauan kami untuk terus menunda pernikahan, Yang Mulia Permaisuri Selena."


"Anak yang lahir di luar nikah tidak dapat menjadi penerus takhta." Ucap Selena, lagi-lagi berhasil membuat para bangsawan yang hadir di ruang rapat itu mulai ribut berbisik-bisik. "Itu pun kalau memang benar anak itu adalah anak mendiang Putra Mahkota." Dia tersenyum licik.


Selena tahu. Bagaimana Selena bisa tahu? Eleanor mulai panik.


"Apa maksud Anda, Yang Mulia?" Grand Duke Winterthur tampak tidak bisa lagi menahan amarahnya.


"Bawa masuk budak itu." Perintah Selena.


Beberapa orang pengawal Selena masuk membawa seseorang yang wajahnya ditutupi. Para pengawal itu kemudian membuka penutup wajah orang itu. Eleanor terkejut saat melihat wajahnya.


Mata biru laut itu sempat menatapnya sekilas, tapi pria itu langsung mengalihkan wajahnya seolah sedang menghindari tatapan Eleanor. Wajahnya dipenuhi luka. Bukan hanya wajahnya, kini Eleanor melihat ada bercak darah pada pakaiannya. Seseorang sudah menyiksanya. Eleanor menahan diri untuk tidak menghambur ke arahnya, memeluknya, mengobatinya dan menanyainya apa yang terjadi lalu menghukum siapa pun yang berani menyakiti pria itu. Dia menahan dirinya untuk tidak membiarkan emosinya mengalahkan akal sehatnya. Ini masih di ruang rapat. Situasinya tidak tepat.


"Namanya adalah Dylan. Dia adalah seorang budak dari Istana Utara yang kini tinggal di pedesaan. Kau mungkin mengenalnya, Yang Mulia Putri Mahkota?" Hardik Selena.


"Apa-apaan ini? Kenapa kau membawa masuk sembarang orang ke ruang rapat yang suci ini?" Tanya Grand Duke Winterthur. Dia jelas murka.


Selena terkikik, "Sembarang orang? Benarkah begitu, Yang Mulia Putri Mahkota? Kau yakin tidak mengenalnya? Bahkan meskipun seorang budak hina dia tetap memiliki paras yang tampan yang akan sulit dilupakan." Senyum Selena melebar di wajahnya. "Tidak seru kalau aku hanya bertanya pada Yang Mulia. Bagaimana, nak? Kau mau mengatakan sesuatu pada kekasihmu itu?" Tanya Selena pada Dylan.


Dylan menatap Eleanor, lalu berkata dengan nada datar, "Saya tidak tahu kenapa saya dibawa ke tempat ini. Saya tidak mengenalnya." Kemudian dia kembali menunduk, menatap lantai marmer Istana yang berkilauan di bawah kaki telanjangnya yang berdarah-darah.


Selena menarik sejumput rambutnya yang kelabu gelap sehingga Dylan mendongak ke depan, ke arah Eleanor. "Perhatikan baik-baik, nak. Dia itu penyihir, jadi dia mungkin merubah warna rambut dan warna matanya. Tapi mustahil kau tidak mengenalinya. Wajah seperti itu tidak bisa ditemukan di tempat lain." Kata-kata Selena penuh ancaman.


"Saya tidak mengenalnya. Tolong lepaskan saya. Permaisuri Selena mengatakan akan memberikan saya sejumlah uang jika saya mau berpura-pura menjadi kekasih simpanan Putri Mahkota. Saya sudah mengatakan tidak mau, tapi Permaisuri Selena justru menyiksa saya dan mengancam akan membunuh saya. Jika saya boleh jujur, saya sebenarnya tidak mengenal Yang Mulia Putri Mahkota sama sekali. Saya baru kali ini melihatnya."


Kembali terdengar bisik-bisik diantara para bangsawan saat mendengar kata-kata itu dari Dylan.


Grand Duke Winterthur menggebrak meja dan berdiri, "Permaisuri Selena. Ini merupakan penghinaan terhadap keluarga kami." Protes Grand Duke.


"Ibunda, tolong jangan seperti ini..." Bisik Ludwig, di sampingnya. Tapi Selena tidak menghiraukannya.


"Baiklah, kalau memang begitu." Kata Selena. Dia menjentikkan jarinya dan dalam sesaat, api menjalari seluruh tubuh Dylan. Dylan meraung kesakitan saat api itu melahap habis tubuhnya secara cepat. Dalam hitungan detik, tubuhnya hangus sepenuhnya dimakan api dan hanya tersisa abu di tempatnya tadi berdiri. Selena menyunggingkan senyum saat melihat ekspresi Eleanor yang sangat terkejut.


Terkejut adalah kata yang terlalu sederhana untuk menggambarkan apa yang Eleanor rasakan saat itu.


"Apa yang kau lakukan!" Raung Eleanor. Dia ingin segera berlari dan mencabik-cabik Selena, mengerahkan seluruh kekuatan sihirnya dan menyerang Selena saat itu juga. Dia ingin mengamuk, menghancurkan seisi ruangan dengan ledakan sihir dan membiarkan Selena tertimbun di dalamnya. Lebih dari semua itu, Eleanor ingin berlari ke tumpukkan abu kekasihnya itu dan mengumpulkannya, lalu mencari cara untuk menghidupkannya kembali. Tapi sisa-sisa akal sehat yang masih dimilikinya melarangnya untuk mengacaukan rapat ini. Dia menoleh ke samping kanannya dimana ayah dan ibunya sedang duduk dengan tegang. Nama keluarganya dipertaruhkan saat ini. Ayahnya, ibunya, Elias, semua akan mendapat hukuman mati kalau dia mengacau. Jika dia melakukan sedikit saja tindakan yang mencurigakan, maka seluruh rencananya akan gagal. Nyawa keluarganya lah taruhannya. Juga nyawa bayi yang dikandungnya. Anak dari pria yang kini sudah menjadi abu.


Eleanor sedih, marah, takut dan rasanya hilang arah. Pria yang dicintainya, satu-satunya tempat dimana dia bisa menjadi dirinya sendiri, ayah dari bayi yang dikandungnya, orang yang masih sangat dia cintai meski orang itu marah padanya karena dia merahasiakan jati dirinya selama ini, orang itu mati dibakar di depan matanya. Tapi Eleanor tidak dapat melakukan apa pun. Hatinya sakit. Dadanya terasa sesak. Dia ingin menangis, tapi dia menahan air mata itu.


Dingin seperti es, tajam seperti taring serigala, tak terpatahkan seperti pedang. Eleanor mengingat-ingat perkataan ayahnya. Winterthur tidak lemah. Winterthur tidak meneteskan air mata. Begitulah dirinya dididik sejak kecil.


Eleanor mencintai Dylan. Pria itu seperti oasis di tengah gurun pasir kehidupannya. Dan kini hanya tersisa gurun pasir tanpa akhir.


Selena tertawa, "Bukankah sudah jelas, Yang Mulia? Saya hanya memusnahkan orang yang akan memberikan keterangan palsu dalam rapat suci ini. Lagi pula, dia bukan siapa-siapa. Hanya budak Istana Utara yang hina yang tidak dikenali oleh siapa pun."


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka lebar. Elias Winterthur memasuki ruangan dengan sebuah peti kecil di tangannya.


"Maaf datang terlambat, tapi saya baru saja menemukan ini tersembunyi di kamar mendiang Putra Mahkota." Katanya.


Semua mata di ruangan itu kini tertuju padanya. Peti kecil itu diserahkan kepada para bangsawan yang masih berada di pihak netral. Mereka membukanya. Di dalam peti itu, terdapat beberapa surat yang masih dalam keadaan terlipat. Beberapa kertas sudah mulai menguning, namun ada juga kertas yang masih baru. Mereka mengambil surat yang letaknya paling atas, surat yang paling baru. Para bangsawan membaca isi surat itu dan mengamati tulisannya.


"Ini..."


"Surat pernyataan resmi pendaftaran pernikahan yang telah ditandatangani oleh mendiang Putra Mahkota sebelum beliau pergi hari itu." Kata Elias, menjelaskan. "Dan kertas lainnya pada peti itu adalah surat cinta dari mendiang Putra Mahkota untuk Putri Mahkota yang tidak pernah dia kirimkan. Selama ini mendiang Putra Mahkota selalu menulis surat yang dia sembunyikan untuk Putri Mahkota sebelum dia ditugaskan keluar Istana. Beliau selalu memberitahu padaku, bahwa beliau bisa saja mati dalam tugas dan ingin Putri Mahkota menemukan surat itu. Di bawah surat pendaftaran pernikahan itu adalah surat yang menyatakan bahwa beliau memang sudah tahu bahwa Putri Mahkota sedang mengandung saat dia akan pergi hari itu. Itulah sebabnya beliau menandatangani surat pendaftaran pernikahan itu sebelum pergi untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi padanya. Seperti yang kita semua ketahui, mendiang Putra Mahkota benar-benar mencintai saudari kembar saya." Mata biru es Elias tampak berkaca-kaca saat mengatakannya. "Dia telah secara resmi menikahinya dengan menandatangani surat itu."


Semua bangsawan yang ada di sana tampak tersentuh dengan kata-kata Elias dan isi surat-surat itu.


Tapi hanya Eleanor yang tahu, Elias sedang berbohong. Sejauh ini, itu adalah akting terbaiknya.


"Elias..." Eleanor menatap penuh makna ke arah saudara kembarnya itu. Ada banyak yang ingin dia tanyakan dan katakan, tapi belum saatnya.


Elias hanya mengangguk pada Eleanor, mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa Eleanor hanya perlu mempercayakan ini padanya.


Para bangsawan yang ada di ruangan itu sangat penasaran dan akhirnya satu-persatu membaca surat-surat itu. Surat-surat cinta yang selama ini dituliskan oleh Xavier, namun tidak pernah diberikan pada Eleanor. Mata mereka berkaca-kaca saat membaca surat-surat itu. Mereka dapat merasakan ketulusan dari kata-kata dalam surat-surat itu. Seisi ruangan kini membicarakan isi surat itu. Mereka sepenuhnya melupakan perkataan Selena sebelumnya. Mereka melupakan abu siapa yang masih ada di ruangan itu.


"Ini benar-benar tulisan tangan mendiang Putra Mahkota. Saya mengenali tulisan tangannya."


"Benar. Tulisan tangan ini mustahil untuk ditiru oleh siapa pun."


"Kata-katanya juga sangat indah, ini benar-benar kata-kata yang dituliskan sendiri oleh mendiang Putra Mahkota."


"Kalau begitu bukankah dengan surat ini saja, artinya mereka sudah resmi menikah?"


"Berarti bayi yang ada di kandungan Putri Mahkota memang benar Putra Kerajaan."


Saat semua bangsawan sedang sibuk membaca dan membicarakan isi surat yang menyentuh hati itu, Selena diam-diam beranjak dari tempat duduknya, hendak pergi meninggalkan ruang rapat. Elias segera menyadarinya.


"Ah, tunggu sebentar, tuan-tuan dan nyonya-nyonya. Ada seorang tamu terhormat yang ingin ikut hadir dalam rapat suci ini." Kata Elias. Dia bergegas ke arah pintu, sehingga Selena mengurungkan niatnya untuk pergi. Elias memerintahkan para pengawal untuk membuka pintu itu lebar-lebar. "Silahkan masuk, Baginda Ratu."


Semua orang menoleh ke arah pintu masuk untuk melihat siapa yang disebut Elias dengan Baginda Ratu.


Wanita itu memiliki kulit cokelat yang eksotis, rambutnya yang berwarna hitam panjang tampak halus tergerai di belakang punggungnya. Matanya yang berwarna biru seperti permata Sapphire menatap seluruh orang yang ada di sana dengan hangat. Senyuman manis dan anggun terlukis di wajahnya. Dia tampak sangat cantik dengan gaun berwarna hijau serta kalung permata emerald yang serentak mengingatkan mereka pada mata Putra Mahkota Xavier. Di sampingnya, sedang menggandeng tangannya, Pangeran Jeffrey.


Wanita itu adalah Ratu Eugene dari Westeria.


Serentak semua orang membungkuk padanya dengan penuh hormat.


"Salam hormat kami kepada Baginda Ratu Eugene dari Westeria dan Pangeran Jeffrey."


Ratu Eugene segera mengambil tempat duduk di sisi Eleanor. Eleanor sempat terkejut karena kedatangan Sang Ratu belia dari Westeria itu. Masih dalam keadaan setengah tak percaya, Eleanor mempersilahkannya untuk duduk. Ratu Eugene kemudian melemparkan pandangan kepada Elias, mengisyaratkan untuk menutup pintu, dan bahwa semua akan berjalan sesuai rencananya. Eleanor menangkap isyarat kecil itu diantara mereka. Kini Eleanor paham apa yang sedang terjadi.


Ratu Eugene mempersilahkan semua orang untuk duduk, lalu berkata dengan bahasa Nordhalbinsel dengan aksen bicara khas orang-orang utara, "Saya datang kemari untuk menyaksikan langsung rapat yang akan menentukan masa depan dari Nordhalbinsel, kerajaan yang memiliki hubungan baik dengan Westeria selama bertahun-tahun. Tapi perlu Anda semua ketahui, karena hubungan baik kedua kerajaan, Saya berharap rapat ini berlangsung dengan baik tanpa ada kecurangan. Saya akan mengawasi jalannya rapat hari ini."


...****************...


Rapat berjalan dengan lancar meski sempat terjadi perselisihan antara kedua kubu. Dengan hadirnya Ratu Eugene dari Westeria yang menunjukkan dukungan penuh terhadap Eleanor sebagai Ratu Tunggal Sementara Nordhalbinsel yang akan menjalankan urusan kenegaraan menggantikan Raja Vlad yang sedang sekarat dan bayi laki-laki yang dikandungnya sebagai Putra Mahkota Nordhalbinsel yang baru maka rapat itu berakhir. Dengan selisih suara yang sangat besar, Eleanor segera dinobatkan menjadi Ratu Nordhalbinsel.


Ratu Eleanor memberikan titah pertamanya, yaitu hukuman kepada Permaisuri Selena yang telah mencemarkan nama baik keluarganya dengan mendatangkan saksi palsu berupa hukuman pengasingan. Ratu Eleanor juga menyiapkan kekangan untuk Selena agar dia tidak dapat menggunakan sihirnya sama sekali.


Usai rapat itu, Eleanor langsung disibukkan dengan berbagai dokumen yang harus segera diperiksanya. Berbagai hal yang harus dikerjakannya karena keabsenan Raja Vlad dan Xavier selama ini. Serta berbagai keperluan untuk penobatannya yang akan segera dilaksanakan.


Eleanor masih mengingat dengan jelas saat api dari sihir Selena membakar Dylan di depan matanya. Kejadian itu terus terngiang-ngiang dalam benaknya tapi dia tidak boleh menunjukkan betapa hancurnya dirinya. Dia harus tetap terlihat kuat di hadapan orang-orang sambil terus melakukan tugasnya sebagai Ratu.


Aku seorang Ratu sekarang. Kalau aku terlihat lemah, maka kerajaanku akan ikut lemah.


Malam pun tiba, dan Eleanor kembali ke kamarnya di Istana Putra Mahkota. Dia enggan menempati Istana Utama maupun Istana Ratu. Orang-orang di Istana memakluminya dan beranggapan Ratu baru mereka masih berduka atas kematian Sang Putra Mahkota sehingga tidak mampu meninggalkan istana itu.


"Di mana dia?" Tanya Eleanor langsung saat Elias masuk ke kamarnya. Eleanor meminta orang-orang untuk membiarkan dia berbicara berdua saja dengan saudara kembarnya. "Di mana Xavier? Kenapa kau tidak membawanya ke sini?" Suaranya bergetar, masih menahan tangis.


"Elle, tenang lah. Aku tidak bisa menceritakan apa pun kalau kau seperti ini."


"Wanita itu membunuh Dylan tepat di depan mataku! Kau pikir aku bisa tenang?" Air matanya mulai tumpah. Semua yang dia tahan seharian ini dia keluarkan. Rasa marahnya terhadap Selena, rasa sedihnya karena melihat pria yang dicintainya dibunuh di hadapannya, serta rasa kecewa yang amat besar karena tahu Xavier yang merencanakan semua ini, tahu bahwa Xavier masih hidup, tapi memilih untuk tidak datang dan membiarkan Eleanor menghadapi semua ini sendirian tanpanya.


Elias segera memeluk Eleanor yang menumpahkan seluruh air mata yang sejak tadi ditahannya.


"Jika saja Xavier datang, kejadian hari ini mungkin tidak akan pernah terjadi. Aku mungkin bisa menyelamatkan Dylan. Dylan tidak harus mati. Sebenarnya ke mana dia pergi? Ini kerajaannya, kenapa dia meninggalkannya padaku?" Kata Eleanor sambil terus menangis. Dia menatap saudara kembarnya itu dan bertanya, "Surat itu... Kau pasti mendapatkannya langsung dari Xavier bukan? Dia merencanakan semua ini kan? Kedatangan Ratu Eugene juga. Tidak mungkin kau melakukan semuanya sendiri. Dia masih hidup. Benar kan?"


"Untuk sekarang kau harus menganggapnya sudah mati. Aku tidak bisa memberitahu apapun padamu. Sungguh, aku ingin memberitahumu semuanya, tapi kau tahu isi perjanjiannya. Aku tidak bisa... Yang terpenting sekarang adalah kau berhasil menjadi Ratu sesuai dengan rencanamu. Xavier menepati janjinya, dia menjadikanmu Ratu, jadi kita harus menepati janji kita."


Mendengar Elias menyebut soal perjanjian, Eleanor tahu bahwa itu artinya Xavier memang masih hidup. Xavier mungkin punya alasannya sendiri kenapa dia memberitahu Elias tapi merahasiakan semua hal darinya. Sejak dulu pun selalu begitu. Dan Eleanor mau tak mau harus menerimanya begitu saja.


"Dia masih hidup." Eleanor menyimpulkan. Tahu bahwa Elias tidak boleh mengatakannya, tapi Eleanor boleh menarik kesimpulan sendiri. "Ada di mana dia sekarang?"


Elias menggeleng, menolak memberitahu apa pun pada saudari kembarnya. "Bertahanlah sampai dia berhasil mendapatkan kepercayaan Jenderal Leon. Kau tahu kan, itu tujuannya selama ini. Memang agak berubah dari rencana awal karena adanya Putri Anastasia. Tapi kita tetap pada tujuan utama kita. Sampai saat itu, kau harus mempertahankan posisimu sebagai Ratu."


...****************...