
Tiga hari sebelum Hari Rapat Penunjukan Putra Mahkota Nordhalbinsel
"Aku sudah sehat. Kemarin aku sudah beristirahat seharian penuh. Lagi pula aku memiliki pedangku, apa lagi yang perlu kutakutkan?"
Keesokan harinya, Anna menyadari bahwa kalung bunga mawarnya hilang. Dia meminta izin kepada Ratu Isabella untuk mencari kalung itu. Karena jika jatuh ke tangan orang lain, mereka mungkin akan berusaha melacak keberadaan Anna dan akhirnya membahayakan mereka semua. Tapi tentu saja tidak semudah itu bagi Anna untuk mendapatkan izin, baik dari Ratu Isabella maupun dari Leon dan Louis yang masih mencemaskan kondisi kesehatannya meski Anna sudah mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
Awalnya Ratu Isabella tidak mengizinkan putrinya pergi, tapi saat Anna mengatakan bahwa Xavier akan ikut bersamanya, Ratu mengizinkannya.
“Aku percaya kau bukan orang jahat. Aku bisa mempercayaimu kan?” Kata Sang Ratu pada Xavier.
“Ya, Baginda Ratu. Saya akan menjaganya.”
"Putra Mahkota Nordhalbinsel itu bisa saja berniat membunuhmu." Kata Leon pada Anna, tapi sengaja mengeraskan suaranya agar Xavier dapat mendengarnya.
"Jika aku memang ingin membunuhnya, untuk apa aku menyelamatkannya dan membawanya ke sini?" Protes Xavier.
"Yang Mulia, biarkan aku ikut denganmu. Aku akan menebas kepalanya langsung jika dia membuatmu terluka lagi." Kata Leon, tanpa memedulikan Xavier.
"Kau harus menunggu di sini sesuai rencana, Leon. Aku membutuhkanmu untuk menjaga Ibu dan rumah kita. Kau harus mempercayaiku. Aku cukup kuat untuk melawannya jika dia memang berniat melukaiku."
Leon terdiam. Anna memintanya untuk mempercayainya, dan tentu saja Leon percaya padanya. Leon percaya Anna dapat menjaga dirinya sendiri. Kemampuan berpedangnya sudah sangat meningkat sejak terakhir kali dia mengajarinya. Tapi bukan itu yang dia permasalahkan. Leon hanya tidak suka Anna pergi hanya berdua dengan Xavier. Tapi saat melihat sorot mata Anna yang memohon, Leon tidak dapat menolaknya.
“Baiklah, Yang Mulia. Tapi jika sesuatu terjadi padamu—“
"Aku akan baik-baik saja. Aku janji tidak akan lama."
...****************...
Setelah Anna dan Xavier pergi, Leon dan Ratu Isabella berbincang-bincang sambil menikmati teh hangat di pondok kecil mereka. Sementara itu, Louis, sebagai satu-satunya orang yang keberadaannya tidak akan dicurigai oleh siapa pun, mendapat tugas untuk berbelanja keperluan sehari-hari di pasar dan mencari berita yang mungkin dapat membantu mereka.
"Kau masih memikirkannya?" Tanya Ratu Isabella pada Leon sambil meminum teh dari cangkirnya. Itu memang bukan cangkir keramik yang biasa digunakan oleh Sang Ratu untuk jamuan teh kerajaan di Istana Schiereiland dahulu, tapi Ratu Isabella tetap dapat menikmati tehnya dengan cara yang anggun.
"Saya percaya pada Yang Mulia Putri." Jawab Leon, singkat.
Tapi Ratu Isabella tahu masih ada sesuatu yang dipikirkan oleh Leon. Jadi dia menyesap tehnya dan bertanya sekali lagi, "Kau masih menolaknya?"
Leon hampir tersedak saat mendengar pertanyaan itu. "Apa maksud—“
"Leon..." Ratu Isabella menatap Leon dengan serius. "Jika suatu saat aku pergi jauh, atau pergi untuk selamanya, aku ingin ada orang yang dapat menjaga dan menyayangi putriku lebih baik dariku. Aku sudah lama mengenalmu. Aku jauh lebih mengenalmu daripada dirimu sendiri. Dan kurasa kau bisa melakukannya."
"Baginda Ratu, Saya tidak—“
"Ibunda. Berapa kali lagi aku harus mengoreksimu? Dan juga, aku belum selesai bicara. Tolong dengarkan dulu." Ratu Isabella langsung menyela, sebelum Leon meneruskan kalimat penolakannya yang sudah sering didengarnya setiap kali Sang Ratu berusaha membahas tentang hal itu. "Saat ini aku bisa melihat, ada dua jalan yang terbuka untuk putriku. Dan aku tak yakin jalan mana yang akan ditempuhnya."
Leon mendengarkan.
"Jalan yang satu adalah jalan yang penuh kedamaian, kebahagiaannya mutlak di jalan itu. Dan itu adalah jalan yang mudah ditempuh. Dia hanya perlu melepaskan dan merelakan semuanya, melupakan bahwa dirinya adalah seorang Putri Kerajaan, kemudian hidup dengan bahagia tanpa perlu menoleh kembali ke belakang. Dan kau, putraku, kau adalah kunci untuk jalan itu." Kata Ratu Isabella.
"Lalu bagaimana dengan jalan yang lain, Ibunda?"
"Aku sebenarnya tidak ingin Anastasia mengambil jalan yang lainnya. Kuharap hanya ada satu jalan dan hanya ada satu kunci. Tapi kini situasinya berubah. Jalan itu sudah mulai terbentuk. Dan itu adalah jalan yang sulit dan penuh liku. Penuh rintangan dan bahaya. Jalan ini hanya akan diambilnya jika dia memiliki ambisi yang cukup besar untuk itu."
"Ambisi?" ulang Leon.
Ratu Isabella mengangguk. "Berbeda dengan Alexis yang sejak awal dibesarkan untuk menjadi penerus takhta, Anastasia tidak memiliki ambisi. Dia hidup mengikuti arus. Paling tidak, begitulah yang terjadi selama ini. Tapi semenjak Schiereiland jatuh, dan dia tidak punya pilihan lain selain menghadapi kenyataan, kurasa dia mulai memiliki ambisi itu."
"Maksud Anda..." Leon tidak meneruskan kalimatnya, menyadari apa yang dimaksud oleh Ratu Isabella.
"Menurutmu, apa yang terjadi setelah kita berhasil menemukan Alexis? Apakah Schiereiland akan kembali semudah itu? Bagaimana jika Nordhalbinsel menolak menyerahkan kembali Schiereiland pada kita? Atau bagaimana jika kita tidak pernah bisa menemukan Alexis? Apakah Anastasia akan diam saja dan menerima semuanya lalu menyerah? Pergi meninggalkan kehidupannya sebagai Putri dari Schiereiland dan menjalani hidup yang baru? Atau dia akan melawan dan balas dendam pada mereka?"
Leon terdiam sesaat, memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan Ratu Isabella.
"Yang Mulia Putri yang dulu mungkin akan menyerah. Dan Saya yang dulu pasti akan mendukung keputusannya serta menjaganya, menjauh dari kemungkinan dia terlibat dalam perang." Jawab Leon. "Tapi Saya sendiri bahkan bisa melihatnya. Yang Mulia Putri telah berubah. Dia mungkin tidak akan balas dendam pada siapa pun karena hatinya yang sangat lembut, tapi dia akan melawan dan memperjuangkan Schiereiland. Dia akan melakukan apa pun untuk merebut kembali Schiereiland dari Nordhalbinsel."
Ratu Isabella mengangguk menyetujui. "Itulah jalan kedua yang kumaksud. Jalan itu, yang kemungkinan besar akan dia ambil, adalah jalan yang penuh bahaya. Aku sebenarnya tidak ingin dia mengambil jalan itu. Aku lebih suka dia pergi bersamamu, menikah denganmu, dan menjauh dari kehidupan lamanya sebagai Putri Schiereiland agar dapat hidup dengan aman dan damai. Pergilah, Leon. Bawa dia, dan amankan dia."
"Maafkan saya, Ibunda. Saya tidak akan membiarkan Putri Anastasia mengambil jalan yang pertama. Kebahagiaan mutlak yang Ibunda sebutkan yang dapat diperoleh Putri dengan mengambil jalan pertama itu, bukanlah kebahagiaan yang sesungguhnya. Putri Anastasia akan jauh lebih bahagia jika dia telah berhasil merebut kembali Schiereiland dari Nordhalbinsel dan kembali ke kehidupannya di Istana. Dan saya sendiri yang akan membantu Putri melewati jalan kedua. Meskipun itu akan sangat sulit baginya, dan bagi kita semua."
Ratu Isabella tersenyum mendengar kata-kata Leon yang meyakinkannya, tapi di saat yang bersamaan muncul rasa takut dalam dirinya. Hanya ada dua kemungkinan. Mereka bisa berhasil melewati jalan itu, atau mati.
"Jadi... Saya akan tetap menolak lamaran Yang Mulia Putri." Jawab Leon.
...****************...
Matahari sudah tinggi saat Anna dan Xavier sampai di dekat tebing tempat para anggota Black Mamba menyerang mereka beberapa hari yang lalu. Anna mengingat-ingat kembali kejadian saat itu, tapi sulit untuk mengingat detailnya. Dia ingat mengayunkan pedangnya melawan semua anggota Black Mamba. Dia ingat banyak pasukan yang mati dalam penyerangan itu. Tapi kejadian setelahnya tidak banyak yang dia ingat. Padahal Anna berpikir dengan kembali ke tempat kejadian, dia akan ingat bagaimana cara Xavier menyelamatkan mereka berdua.
Meski begitu, Anna memang mencurigai Xavier. Bukan karena hal buruk. Bukan untuk hal yang buruk. Anna tahu Xavier tidak pernah benar-benar memiliki niat untuk melukai Anna. Justru sepanjang yang dia ingat, sejak awal menjadi pengawal pribadinya hingga saat ini, semua yang dilakukan Xavier adalah melindungi dan menyelamatkan Anna hingga membuat Anna semakin mencurigainya. Jika Leon melindunginya, itu adalah hal yang wajar karena itu memang sudah tugasnya dan Anna tahu betapa Leon sangat menyayanginya seperti saudarinya sendiri. Tapi semakin Anna memikirkannya, dia tidak dapat menemukan alasan kenapa Xavier melakukan semua itu untuk Anna.
Anna sudah memikirkan hal ini sejak kemarin, sejak dia membuka matanya setelah mimpi yang cukup aneh itu. Anna jelas mendengar Xavier menyebutnya sebagai Ratu Zhera. Setelah tidak dapat tidur semalaman akibat memikirkan mimpinya itu, Anna menanyakan banyak hal kepada Ratu Isabella terkait sejarah Kerajaan mereka yang tidak dapat Anna temukan di buku. Salah satunya dia menanyakan tentang Raja Zuidlijk dan Raja Nordlijk yang mana keduanya merupakan putra dari Ratu Zhera.
"Raja Zuidlijk adalah Putra Pertama Ratu Zhera dengan pasangan sahnya yang namanya tidak disebutkan dalam sejarah. Tapi yang kutahu, pasangannya itu adalah satu-satunya ksatria yang mendukungnya sejak masa pemerintahan ayahnya. Dia mati dibunuh oleh Kaisar saat Zhera masih mengandung Raja Zuidlijk. Setelah Raja Zuidlijk berusia tiga tahun, setelah dirinya diangkat menjadi Ratu, Ratu Zhera menikah lagi dengan Raja Para Naga, Naga Api Agung, salah satu dari empat Naga yang membantunya mengalahkan Kaisar. Menurut sejarah, Raja Nordlijk adalah putra dari Naga Api Agung itu."
Perkataan Ratu Isabella itu terus diingatnya. Anna merasa mimpinya itu seolah sedang memberitahukannya sesuatu. Karena mimpinya itu terasa sangat nyata dan sangat sesuai dengan sejarah yang diberitahukan ibunya. Meski Anna tidak sepenuhnya yakin, tapi semua bukti yang dia kumpulkan selama ini sesuai.
“Xavier." Panggil Anna akhirnya.
Xavier yang masih sibuk mengamati tempat di sekitar mereka untuk menemukan kalung itu, segera menghampiri Anna. "Ada apa, Putri Anastasia? Kau sudah menemukannya?"
"Aneh rasanya kau memanggilku Putri Anastasia." Kata Anna, canggung. "Kau boleh tetap memanggilku Anna. Bukankah aku juga tidak memanggilmu dengan formal. Lebih mudah, dan orang-orang di sekitar tidak akan curiga. Juga agar tidak terdengar canggung."
"Baiklah... Anna."
Xavier sendiri merasa canggung memanggil Anna dengan nama itu meski sebelumnya dia sudah sering memanggilnya seperti itu. Tapi memanggilnya dengan sebutan Putri Anastasia juga terasa canggung. Terlebih karena Kerajaan Schiereiland sudah diambil alih oleh Nordhalbinsel. Sebagai putra dari Raja yang telah menjajah kerajaannya dan membuat Anna kehilangan gelarnya sebagai Putri suatu Kerajaan, membuat Xavier merasa bersalah setiap kali memanggil Anna dengan sebutan Putri Anastasia karena itu mengingatkan Xavier pada apa yang telah dilakukan Nordhalbinsel terhadap Schiereiland. Dan akan terasa jauh lebih canggung lagi jika dirinya memanggil Anna dengan nama aslinya saja, Anastasia. Jadi Xavier merasa cukup lega saat Anna mengizinkannya memanggilnya dengan nama Anna. Xavier sendiri merasa senang saat Anna mulai memanggilnya dengan namanya tanpa gelarnya. Seolah itu membuat mereka menjadi lebih dekat dari sebelumnya.
"Aku hanya penasaran. Kau masih belum memberitahuku bagaimana kau menyelamatkanku saat kita jatuh dari tebing ini. Bukankah ini sangat tinggi. Bahkan jika kita tidak dalam kondisi terluka, jatuh dari ketinggian ini saja kita sudah pasti mati, kan?”
Xavier mengikuti arah pandangan Anna. Melihat kembali jauh ke bawah ke tempat mereka berdua jatuh sebelumnya. Tebing itu memang sangat tinggi. Jurang yang sangat dalam seolah tidak ada dasarnya. Tapi tentu saja mereka tidak jatuh sampai ke dasar jurang saat itu. Xavier berhasil merubah dirinya menjadi Naga dan membawa Anna sebelum mereka berdua benar-benar jatuh.
"Kau tidak perlu tahu. Itu tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah kau masih hidup. Kita berdua masih hidup."
"Benarkah? Menurutmu itu tidak penting?" Tanya Anna. Dia berjalan mundur beberapa langkah menjauh dari Xavier dan lebih dekat dengan ujung tebing.
"Anna, apa yang kau lakukan?”
"Aku perlu memastikan sesuatu."
Saat mengatakan itu, Anna sudah berada di ujung tebing. Jika dia mundur ke belakang lagi, dia akan segera jatuh ke jurang tanpa dasar itu. Bahkan mungkin dengan tertiup angin saja Anna bisa jatuh dari tebing. Xavier menahan napas saat melihat apa yang sedang coba dilakukan oleh Anna.
"Memastikan apa? Kau mau terjun dari tebing ini?"
"Katakan padaku, siapa kau sebenarnya? Siapa aku sebenarnya? Siapa kita?"
"Apa maksudmu? Cepat menjauh dari ujung tebing. Terlalu berbaha—“
Sebelum Xavier menyelesaikan kalimatnya, Anna terjatuh. Tidak. Lebih tepatnya dia menjatuhkan dirinya. Jatuh jauh ke bawah menuju jurang yang seperti tanpa dasar itu. Meski begitu, Anna tidak merasa ragu sedikit pun saat memutuskan untuk jatuh. Dia tahu apa yang dia lakukan. Dia jatuh untuk mendapatkan jawabannya. Jawaban yang tidak akan mudah dia dapatkan dari Xavier.
Kejadian itu berlangsung sangat cepat, karena tidak sampai satu detik setelah Anna terjatuh, sepasang sayap yang sangat lebar terbentang sehingga menutupi langit di atas Anna. Anna terperangah saat melihat makhluk itu. Sangat besar dan agung. Ksatria paling berani pun pasti akan gemetar jika melihatnya. Tapi Anna tersenyum puas saat melihat makhluk itu. Alih-alih rasa takut, perasaan lega sekaligus senang memenuhi benaknya. Dugaannya selama ini benar. Rasa penasaran itu kini terjawab. Dengan cepat makhluk besar bersayap itu menangkap Anna dengan cakarnya. Makhluk itu adalah Naga Api Agung. Akhirnya Anna mengetahui bahwa Xavier adalah Naga Api Agung, Raja dari semua Naga.
Saat menyadari hal itu, mendadak potongan-potongan ingatan bermunculan dalam benaknya. Tapi ingatan-ingatan itu adalah kenangan dari masa yang sudah terlampau lama. Bukan ingatan dari kehidupannya saat ini. Itu adalah ingatan yang sudah terkubur selama seribu tahun.
...****************...
Dalam ingatannya itu, Anna melihat dirinya sendiri berdiri tanpa alas kaki dan gaun yang sudah terbakar di beberapa bagian. Tapi Anna merasa dirinya tampak berbeda. Dia tampak lebih kurus dan lebih rapuh, mungkin juga lebih muda. Kulitnya lebih pucat dan transparan seperti sedang sakit. Dan matanya, yang tampak seperti habis menangis itu berwarna merah cerah.
“Siapa kau? Kenapa kau menyelamatkanku? Seharusnya kau biarkan aku mati!” Dia berteriak penuh amarah pada seseorang di hadapannya. Anna menyadari bahwa dia tidak menggunakan bahasanya. Itu adalah bahasa kuno yang telah lama terlupakan. Tidak ada lagi orang yang menggunakan bahasa itu di jaman sekarang.
Orang itu, tampak seperti Xavier, tapi memiliki mata yang juga berwarna merah api. Dia menunduk hormat padanya, “Maaf karena harus membuatmu menunggu lama. Aku adalah jawaban atas doa-doamu kepada para Dewa dan Dewi. Aku lah yang akan menolongmu.”
“Kenapa kau baru datang sekarang? Bukankah semuanya sudah terlalu terlambat? Sudah terlalu banyak orang yang mati di tangan Ayahku. Aku juga kehilangan suamiku, satu-satunya orang yang kucintai.”
“Selama kau masih hidup, kami belum terlambat, Zhera.”
“Kami?”
“Bukan hanya aku, tiga Naga lainnya dalam perjalanan ke sini. Mungkin juga mereka sudah sampai entah di belahan bumi yang mana. Mereka juga mencarimu. Mereka adalah Earithear Sang Naga Bumi, adik perempuanku. Dan ada juga adik kembarku, Aquinier Sang Naga Air dan Aerinear Sang Naga Angin. Kami akan melakukan apa pun yang kau perintahkan. Mulai sekarang, kau adalah Ratu kami, Zhera.”
...****************...