
"Ini sudah berapa minggu berlalu, Baginda? Anda harus segera memberikan hukuman pada Ratu Eleanor dan keluarganya."
Sudah berapa minggu? Aku juga tidak tahu. Sudah berapa kali kami berkumpul seperti ini di ruang rapat dan masih belum juga menemukan titik terang? Aku jadi memahami kesulitan-kesulitan yang dialami ayahku selama ini. Ayahku semakin tua semakin banyak minum. Awalnya aku tidak mengerti, sekarang aku tahu betapa alkohol bisa menjadi pelarian terbaik.
Pernah suatu malam aku mendatanginya saat dia tidak sedang menemui salah satu selirnya dan sedang menyendiri di ruangannya dengan sebotol anggur di tangannya dan lusinan botol anggur yang sudah kosong di atas mejanya. Saat itu dia masih lumayan muda dan berbotol-botol anggur tidak akan menumbangkannya.
"Xavier, ibumu itu wanita kejam." Katanya sambil memandangi lukisan ibu yang dia pajang di ruang kerjanya. Tapi bahkan saat mengatakannya, tatapannya memuja. "Dia galak. Jahat. Tidak kenal ampun. Bodohnya, aku malah mencintainya."
Aku hanya diam saat itu. Aku sudah hafal ayahku sering meracau saat sedang mabuk. Aku hanya berharap kebiasaan itu tidak menurun padaku.
"Dia membenciku. Aku tahu itu." Dia menenggak anggur langsung dari botolnya. "Aku merenggut kebebasannya. Dia lebih suka berkuda dengan bebas di padang rumput di Schiereiland daripada mengenakan gaun cantik dan permata dan duduk anggun di singgasana bersamaku di sampingnya. Seharusnya aku tidak menikahinya. Tapi aku juga tidak punya pilihan. Keluarga Winterthur sangat kuat dan berpengaruh saat itu. Jika aku tidak menikahinya, aku tidak akan bisa mendapat dukungan mereka dan menjadi raja."
"Jadi ayah menikahinya karena terpaksa?" Saat tidak ada siapa pun, kami biasa berbicara lebih seperti ayah dan anak alih-alih seperti Raja dan pewarisnya.
"Benar. Aku terpaksa. Dia juga terpaksa. Kami sama-sama tidak ingin menikahi satu sama lain. Itu satu-satunya kesamaan di antara kami. Jadi kami bekerja sama. Kami berteman dan berpura-pura menjadi pasangan yang saling mencintai di depan umum."
"Semua orang tertipu?"
"Aktingku sangat bagus." ayah tertawa. "Tapi ibumu itu... Dia berbeda dari kebanyakan gadis di Utara. Tentu saja karena dia dibesarkan di Schiereiland. Dia tidak tertawa dengan anggun, dia tidak repot-repot menutupi tawanya. Dia tidak takut mengemukakan pendapatnya dalam rapat kenegaraan padahal umumnya wanita lebih malu-malu. Maklum saja, dia dulunya Jenderal yang memimpin ribuan pasukan pria di Schiereiland. Suaranya biasa didengar dan dia tidak suka saat ada orang yang mengabaikannya dan meremehkannya. Dia tidak bisa berhenti bicara. Sangat berisik, mengganggu dan menyebalkan. Tapi jika dia diam, aku jadi merasa kehilangan. Aku jadi merindukan suaranya yang berisik itu. Perlahan aku mulai bisa menerimanya dan mencintainya dengan sungguh-sungguh. Saat aku menyatakan perasaanku padanya, dia marah dan pergi dengan kudanya. Dia baru pulang saat malam keesokan harinya dan mulai bersikap dingin padaku. Meski begitu, paginya kami tetap bisa berakting menjadi pasangan Raja dan Ratu yang harmonis."
Kurasa, bakat aktingnya menurun padaku. Aku tidak tahu apakah harus bersyukur atau tidak akan hal itu.
"Dia istriku!" Aku menggebrak meja untuk menciptakan kesan dramatis. Jenderal Orthion dan Arianne tampak sangat terkejut. Sementara itu Tyros tampak tak peduli—dia selalu begitu. Elias hanya memutar bola mata. "Dan dia sedang mengandung putraku! Putra kami! Dan kau mau aku memberinya hukuman mati pada perbuatan yang belum tentu dia lakukan?" Tenggorokanku sakit, tapi aku harus berteriak. Agar meyakinkan.
Bagaimana pun, aku harus menyelamatkan Elle dan keluarganya dari hukuman mati. Oh, tentu saja Elle sebenarnya sedang berada di tempat yang aman dan nyaman. Mungkin sedang bersantai sambil membaca buku dan minum teh di salah satu mansion yang kumiliki. Tidak. Elle bukan tipe orang yang bisa duduk diam dan bersantai saat kerajaan kami sedang kacau balau dan terancam hancur. Terakhir yang kutahu, kemarin dia masih sibuk mencari cara untuk mengembalikan Leon. Dia merasa sangat bersalah padahal sudah kubilang itu bukan salahnya. Aku sudah berusaha menyuruhnya untuk tenang karena stres tidak baik untuk bayinya.
Agar aku terlihat seperti Raja yang menjunjung tinggi hukum negara, Elle menciptakan penggantinya dengan sihir ilusi sehingga yang orang-orang tahu, Ratu mereka masih dipenjara dan menunggu keputusan hukuman mati. Begitu pun dengan Grand Duke dan Grand Duchess. Elias masih dibiarkan menjadi pengawal Raja, tapi dia bukan lagi Jenderal sekarang. Aku sudah mengatakan bahwa kami harus menunggu Elle melahirkan ‘putra kami’ dengan selamat, tapi banyak yang tidak setuju. Aku hanya mengulur waktu sambil mencari cara menangkap pembunuh sebenarnya. Tapi bagaimana caranya? Aku sendiri masih meraba-raba jalan keluar untuk masalah satu ini, sedangkan ada banyak sekali masalah lainnya yang harus kuhadapi.
Cerita yang diketahui orang-orang sangat sederhana. Mirip seperti yang sudah pernah kukarang untuk diceritakan kepada Nick. Aku tidak mati. Aku jatuh ke jurang, terhanyut oleh aliran sungai deras dan ditemukan serta ditolong oleh Putri Anastasia. Aku sempat lupa ingatan, tapi kemudian, karena dirawat dengan sungguh-sungguh, aku mendapatkan ingatanku kembali. Dan begitulah Elias dan Pasukan Serigala akhirnya menemukanku setelah kematian ayahku. Dan sebagai ucapan terima kasih pada Putri yang telah menolongku, aku membebaskan Schiereiland.
Rakyat suka cerita drama. Jadi sebagai Raja yang baik, aku menyuguhkan drama itu. Sepertinya aku aktor yang baik sebagaimana ayahku, jadi semua orang percaya pada kisah itu.
"Baginda Ratu memberikan racun secara rutin pada mendiang Raja. Semua orang tahu itu." Orthion seolah peduli jika ayahku mati. Tidak. Orthion asli pasti peduli. Yang ini palsu. Kenapa aku masih belum mengusirnya? Karena lebih baik menjaga musuhmu tetap di dekatmu. Agar lebih mudah untuk diawasi.
"Dia seorang ahli pengobatan. Dari mana kau yakin yang dia berikan itu adalah racun, bukannya obat." Tantangku.
"Anda tidak ada di sini selama itu terjadi, jadi bagaimana Anda yakin bahwa Baginda Ratu tidak berniat meracuni mendiang ayah Anda, Paduka?"
"Aku memang tidak memiliki bukti, untuk saat ini. Tapi apakah kalian juga memiliki bukti?"
"Semua orang melihatnya. Kesaksian para pelayan dan pengawal adalah buktinya."
Pelayan dan pengawal yang sudah dia bayar untuk bersaksi, mungkin. Tapi aku juga mengira ada seseorang yang menyamar menjadi Elle dan memberi ayahku racun. Sulitnya mencari kebenaran di negara yang dipenuhi penyihir. Aku harusnya menyelesaikan masalah ini dengan Elle, dia mengerti seluk-beluk sihir. Tapi dia butuh istirahat jadi aku mengirimnya beserta Grand Duke dan Grand Duchess ke salah satu mansion ku yang letaknya tidak diketahui siapa pun, sejauh mungkin dari Istana beserta seluruh masalah yang ada di dalamnya. Aku tidak mau membebankannya dengan urusan yang harusnya dapat kuselesaikan sendiri. Dia sudah terlalu banyak membantuku selama ini.
"Kau meragukan loyalitas istriku yang telah mengabdi untuk kerajaan ini, untuk menjaga kerajaan ini selama aku tiada, hanya karena kesaksian para pelayan dan pengawal?" Aku sengaja menaikkan nada bicaraku. Ini semakin melelahkan.
"Sejak dulu keluarga Winterthur selalu berusaha merebut takhta, Paduka. Mereka bahkan mengambil kembali anak yang menjadi aib mereka, yang telah dibuang ke selatan, untuk dijadikan Ratu."
Cukup sudah! Dia membawa-bawa ibuku ke masalah pelik ini!
Kali ini bukan akting belaka. Aku sudah bosan bermain-main. Jadi aku mengeluarkan pedangku dan menghunuskannya ke depan mata Orthion. Aku tidak sengaja, mungkin karena emosi, apiku menjalari pedang itu. Semua yang ada di ruangan terkesiap. Bahkan Tyros tampak takut.
Aku bukan penyihir, jadi seharusnya aku tidak bisa mengeluarkan api begitu saja. Dan mereka semua, kecuali Elias—kuduga Tyros juga—tidak tahu siapa aku sebenarnya. Mereka tidak tahu aku bisa saja membakar habis Orient dengan apiku kalau aku mau. Tapi aku tidak mau.
Tidak. Jangan seperti ini. Aku tidak mau jadi raja yang ditakuti. Aku tidak mau menjadi tiran. Aku harus menahan diri.
Jadi aku mengingat Anna. Mengingat wajahnya. Senyumnya. Itu bisa mendamaikan perasaanku. Menenangkanku. Betapa aku sangat merindukannya. Padahal baru semalam aku terbang ke Istananya.
Api di pedangku menghilang secepat munculnya. Aku kembali duduk dengan tenang, masih memegang pedangku. "Jaga lidahmu sebelum aku memerintahkan algojo untuk memotongnya, Richterswill. Kau merendahkan ibuku!"
"Kau sudah keterlaluan, Orthion. Irene adalah Ratu kebanggaan rakyat." Kali ini Arianne ikut angkat bicara. Dia termasuk dalam kubu yang mendukung hukuman mati untuk Elle dan semua keluarga Winterthur, tapi itu dia lakukan semata-mata karena kesetiaannya pada ayahku. Dan Arianne jelas tidak suka kalau sahabatnya direndahkan seperti itu.
"Bisakah kita fokus pada satu permasalahan lainnya?" Tyros yang semula hanya diam menonton kini tampak jengkel. Dia jelas tidak suka berlama-lama di ruang rapat. "Alasan keberadaan kita semua di ruangan ini? Sekarang bukan saatnya kita mendebatkan perihal hukuman mati untuk Ratu yang belum tentu bersalah. Saat negeri kita sedang hancur dari dalam, saat para jenderalnya sedang berselisih dan berdebat, Orient mungkin sedang menajamkan panah mereka."
"Mungkin juga sudah. Kenapa kalian yakin sekali bahwa saudariku yang membunuh mendiang Raja dan pangeran Yi? Dia tidak bodoh." Kata Elias. Aku memang memintanya untuk angkat bicara saat situasinya mulai kacau. "Anggap lah dia memang jahat dan licik, kalau kalian mau. Anggap lah keluargaku memang busuk. Tapi membunuh Raja yang sudah lemah dan sekarat? Untuk apa dia melakukan itu?" Dia kemudian menoleh padaku, sikapnya formal sekali. "Maaf Baginda Raja, tapi Mendiang Raja memang sudah sekarat sedari awal dan saudari saya justru berniat mengobatinya. Saya yakin Baginda Raja percaya pada perkataan saya." Aku mengangguk dan mengisyaratkannya untuk melanjutkan. "Dan soal pangeran Yi... Dia pasti tahu apa yang terjadi jika dia membunuh putra kesayangan Kaisar itu dan dia juga pasti tahu lebih dari siapa pun negeri kita tidak akan siap berperang melawan Orient."
Aku paham maksudnya. Sementara aku menjauhkan Elle dari urusan kenegaraan ini agar dia bisa memulihkan diri, aku berdiskusi dengan Elias. Kami memang sudah membicarakan tentang kematian Pangeran Yi yang masih misterius. Dan kami sepakat bahwa Orient memang sudah merencanakan semuanya.
"Jelaskan maksudmu, Nak." Pinta Arianne.
"Tidakkah kalian pernah berpikir, bahwa Orient juga memiliki masalah internal sama seperti kita. Perebutan takhta, misalnya? Pangeran Yi memang memiliki pasukan yang besar, kekuatan militer yang bisa langsung menghancurkan negeri kita dengan satu lambaian tangannya. Tapi kakaknya yang konon lemah dan penyakitan itu lah yang menjadi Putra Mahkota. Tidakkah kalian pernah bertanya-tanya alasannya? Apa yang Kaisar Qin lihat dari putra pertamanya itu?"
"Kecerdasannya. Dia bajingan jenius." Tyros mengangguk mengerti.
"Cara berpikir Pangeran Haru lebih tajam daripada pedang Pangeran Yi. Menyingkirkan salah satu saingan, sekaligus melemparkan kesalahan itu pada seorang wanita tak bersalah dan menciptakan alasan untuk menyerang kerajaan kita tentu perkara mudah baginya."
Semua di ruangan itu terdiam, mencerna penjelasan dari Elias. Aku sengaja membiarkan Elias yang mengatakan semuanya dan diam saja. Aku ingin mereka memikirkan masalah ini dari sudut pandang mereka. Bahwa masalah ini adalah masalah mereka juga. Jika Orient merencanakan penyerangan terhadap kerajaan kami, maka para Jenderal juga harus bersiap, bukan hanya aku seorang.
Pintu terbuka. Seorang prajurit memasuki ruangan sambil membawa baki emas berisi sepucuk surat dengan simbol bunga mawar. Surat dari Schiereiland.
"Siapa?" Aku bertanya. Meski aku sudah tahu jawabannya. Hanya untuk memastikan.
"Mawar dari Selatan mengirimkan surat untuk Anda, Paduka."
Itu adalah kode yang digunakan oleh pasukanku jika ada surat dari kerajaan lain saat aku berada dalam rapat penting. Pemimpin monarki dan imperial diberi nama sesuai bunga yang merepresentasikan negara masing-masing. Qin adalah Lotus dari Timur. Eugene adalah Wisteria dari Barat. Alexis adalah Matahari dari Selatan, sedangkan kakaknya adalah Mawar dari Selatan.
Aku mengingatkan diri untuk tetap bersikap penuh wibawa layaknya seorang Raja. Aku menahan diri untuk tidak tersenyum seperti pemuda kasmaran yang telah lama menanti surat dari pujaan hatinya. Aku seorang raja. Aku seorang raja.
Kau sudah menerimanya? Saat suara itu terdengar di saluran kami, aku bukan lagi seorang raja. Aku hanya pria yang sedang jatuh cinta.
Kita bisa mengobrol kapan pun, tapi kau mengirim surat? Bukankah akan terlihat mencurigakan? Tanyaku. Sebenarnya, aku sangat senang menerima surat darinya. Aku ingin melompat dari jendela ruang rapat ini lalu terbang menuju Schiereiland saking senangnya.
Isinya hanya puisi. Aku menemukan satu puisi yang bagus saat sedang menghabiskan waktu di perpustakaan. Suaranya terdengar malu. Aku bisa membayangkan rona merah di wajahnya. Sebenarnya, pasti aku yang sedang merona saat ini. Jantungku yang kurang ajar berdetak kelewat kencang. Aku hanya bisa berharap para jenderalku tidak mendengarnya.
Puisi? Boleh aku mendengarnya langsung?
Baca saja lah!
Aku tertawa dalam hati. Tidak. Aku yakin aku terlihat sedang senyum-senyum sendiri saat ini. Padahal aku tahu itu bukan sekedar puisi. Anna pasti menyembunyikan pesan rahasia di balik puisi itu terkait info yang dia dapat dari mata-matanya di Orient. Tapi tetap saja, benakku yang mendambakannya, yang membayangkannya menulis puisi itu seorang diri di perpustakaan istananya membuatku ingin segera menemuinya. Aku harus fokus.
Kau tahu kan, jauh lebih mencurigakan kalau aku tidak terlihat seperti sedang mencari cara untuk berkomunikasi denganmu. Ingat, aku Putri yang tidak bisa bicara. Anna menambahkan. Aku tahu maksudnya.
Oh... Pintar.
Aku dan Anna bekerja sama, secara profesional tentu saja. Dia mengirimkan mata-mata ke Orient untuk mengawasi Pangeran Haru, Putra Mahkota Orient. Dan hasilnya akan dia infokan padaku melalui saluran kami. Lalu surat itu? Surat itu adalah jebakan untuk orang-orang usil yang ingin tahu. Kuduga ada mata-mata juga di Istana Schiereiland. Dan bukan hanya itu, Anna mengatakan Selena mengawasinya. Benar, ibu tiriku itu ternyata masih gigih menjatuhkanku.
Tidak ada yang tahu bahwa kami bisa berkomunikasi lewat saluran kami. Jadi Anna akan berpura-pura menyampaikan informasi yang diselipkan melalui puisi-puisi cinta. Sebagian hanya akan beranggapan bahwa Raja Nordhalbinsel memiliki hubungan rahasia dengan Putri dari Schiereiland. Sebagian lainnya akan mengamati isi surat-surat kami dan mendapat informasi rahasia yang diselipkan melalui kata-kata cinta di dalamnya. Padahal itu hanya informasi palsu. Dan puisi itu tentu saja hanya untuk memperlihatkan bahwa hubungan kami bukan kerja sama politik, melainkan romansa sungguhan. Betapa aku berharap hubungan kami memang seperti itu. Aku sendiri sebenarnya tidak tahu seperti apa hubungan kami. Tapi satu hal yang pasti, aku sangat mencintainya dan Anna tahu itu. Itu saja cukup bagiku untuk saat ini. Aku tidak berani mengharapkan lebih dari ini. Sebagian dari diriku masih takut dengan perkataan Dewi Langit. Tapi bagian lainnya ingin mengabaikan perkataan Dewi Langit, aku ingin bisa mencintainya tanpa perlu takut kehilangannya sekali lagi.
Sekarang giliranmu. Katanya, membuyarkan lamunanku.
"Rapat kita lanjutkan nanti." Aku mengumumkan pada semua jenderalku. Membuat perintah tersirat untuk mengusir semua orang. Semua tentu berpikir raja mereka hanya seorang pria yang menyukai gadis lain padahal sudah punya istri. Raja ternyata tidak berbeda jauh dari mendiang ayahnya. Mereka sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Tapi aku mengusir mereka agar kami bisa rapat dengan lebih tenang. Lagi pula kami akan terus berdebat dalam rapat itu. Dan Elias sudah menyampaikan poin utama dalam rapat kali ini. Biar mereka merenungkan kata-kata Elias tadi.
"Kita mungkin akan mendapatkan Putri dari Schiereiland sebagai Ratu yang baru." Celoteh Tyros sebelum pergi meninggalkan ruangan dengan kesal.
"Atau selir. Ingat berapa banyak selir yang dimiliki mendiang raja?" Orthion terkekeh. Aku ingin memenggal kepalanya. Tapi aku tidak boleh menjadi tiran sadis.
Semua sudah pergi?
Aku duduk lebih santai sekarang. Menanggalkan topeng raja dan kembali menjadi diri sendiri. Aku mengeluarkan sebotol anggur dari lemari penyimpanan dan mulai meminumnya. Aku tidak menyangka akan sangat menyukai anggur. Warnanya merah, seperti warna rambut Anna. Astaga! Aku harus fokus.
Ya. Kau mendapat kabar dari Naga Kembar? Tanyaku. Kami sudah sering berkomunikasi dengan Naga Kembar sekarang. Anna kini bisa menjangkau mereka, hal yang sebelumnya tidak bisa dia lakukan. Kami tidak bisa mengambil risiko kehilangan mereka sama seperti kami kehilangan Earithear. Jadi kami harus menjaga mereka sebaik mungkin.
Mereka sudah kembali ke Orient. Mereka aman di sana dengan penjagaan dari orang-orangku. Kau tahu, Elias benar. Pangeran Haru sepertinya merencanakan kudeta. Dan dia berencana menghancurkan kerajaanmu. Morta hanya salah satu dari lusinan cara yang akan mereka gunakan. Entah kejutan apa lagi yang sudah dia siapkan untukmu.
Dan siapakah gerangan yang memberitahumu semua itu? Sambil menanyakannya, aku membuka surat yang Anna kirimkan. Aku menyukai tulisan tangannya. Aku ingin membaca puisi itu sekarang juga, tapi kami masih di tengah rapat penting sekarang. Nanti aku tidak bisa fokus. Jadi aku hanya memandangi tulisan tangannya sebagai ganti ketiadaannya di ruangan ini.
Bukan hanya kau yang punya mata-mata.
Aku hanya punya seorang Elias Winterthur, bukan mata-mata.
Aku punya seorang kenalan. Seorang teman. Dia lah mata-mataku.
Kau sudah pernah bilang soal itu, tapi aku masih tidak tahu siapa orang ini? Siapa orang yang kau sebut sebagai temanmu itu? Kupikir temanmu hanya Jenderal Leon.
Sial. Aku harusnya tidak menyinggung soal Leon. Anna bisa jadi sangat sedih setiap kali kami membicarakan tentangnya.
Leon masih berada di bawah pengawasan Elle. Dia terjebak di dalam entah apa namanya. Elle bilang dia hanya mengurungnya dalam ruang rahasia di rumahnya untuk mengamankannya selama dia pergi membantu Anna. Tapi saat dia menemukannya, Leon sudah dalam keadaan tidak sadar dan kekuatan sihirnya meledak akibat berusaha keluar dari kurungan sihir Elle. Leon tanpa sengaja menggunakan sihirnya sendiri untuk pergi entah ke mana. Dia mungkin sedang bersama ibu kami di tempat lain yang tidak kumengerti. Aku tahu. Aku sudah tahu sejak Aletha memperlihatkanku semuanya. Sulit dipercaya memang, tapi Leon memang kakakku. Dan aku masih mencari cara dan waktu yang tepat untuk menceritakannya pada Anna.
Hati-hati sekali aku menambahkan dengan nada suara yang mudah-mudahan terdengar santai agar dia tidak kepikiran. Omong-omong, dia masih belum sadar, tapi kondisinya stabil. Maafkan aku, Anna. Aku akan terus berusaha mencari cara untuk membawanya kembali. Elle akan membantu dengan sihirnya juga. Dia pasti kembali.
Aku tahu... Dia pasti kembali. Dia bukan tipe orang yang akan kalah oleh sihir. Kau tidak perlu minta maaf. Terima kasih sudah berusaha...
Dia jelas masih mengkhawatirkan Leon tapi dia berusaha menyembunyikannya. Aku sudah mengajaknya untuk menemuinya, tapi dia bilang belum siap melihat Leon dalam keadaan tidak sadar. Terlebih setelah kematian ibunya.
Baiklah, aku harus mengalihkan topik sebelum Anna kembali kepikiran dan kembali bersedih. Jadi temanmu ini... Mata-matamu ini, siapa dia? Apa aku mengenalnya?
Tapi jawaban dari Anna sungguh di luar dugaanku... kuduga dia sedang tersenyum sombong sekarang di kamarnya.
Anak semata wayang dari Putri Seo-Hwa yang menghilang. Benar, Xavier. Aku menemukannya lebih dulu darimu maupun Elias.
...****************...