The Rose Of The South

The Rose Of The South
Chapter 19 : Le Dragon Jumeau



Di Perairan Utara, Samudra Tygriss, Wilayah Perairan Nordhalbinsel...


Hari sudah hampir pagi. Semburat cahaya fajar kemerahan menghiasi langit yang cenderung mendung di wilayah utara. Namun hampir semua orang masih tertidur, teler akibat pesta minum semalaman yang diadakan oleh Pangeran Yi atas perayaan mereka berhasil mendapat izin untuk masuk ke perairan Nordhalbinsel. Kemarin, Ratu Eleanor memberikan jawaban pada surat yang dikirimkan oleh Pangeran Yi yang isinya mengizinkan Pangeran Yi untuk mengunjungi Istana untuk mengucapkan selamat atas penobatannya sebagai Ratu yang baru. Semua awak kapal berpesta berbahagia bersama Sang Pangeran.


Tapi tidak semua. Dua remaja di bawah umur yang masih belum boleh minum minuman beralkohol tidak turut merayakannya. Lagi pula Sang Pangeran tidak ingin dua senjata rahasianya mabuk alkohol. Jadi kini hanya mereka yang sudah terbangun sementara orang lain masih tertidur pulas, termasuk Sang Pangeran Kedua kesayangan Kaisar itu.


Angin utara berhembus, membekukan kulit mereka. Dua orang remaja itu duduk bersebelahan di bibir kapal, menatap ke sebuah negeri yang tampak terbuat dari es dan salju tidak jauh di hadapan mereka. Bahkan pagi hari di tempat itu tampak terlalu gelap. Jauh dari terangnya cahaya matahari di Kekaisaran Orient, tempat mereka dilahirkan oleh orang tua fana mereka masing-masing di kehidupan saat ini.


"Shuu, kau merasakan sesuatu?" Suara si anak perempuan bergema dalam kepalanya, berhembus seperti angin. Anak perempuan itu merapatkan mantel bulu tebalnya yang dihiasi bordir naga pada permukaannya. Tubuh kecilnya tampak tenggelam dalam mantel bulu itu. Saat dia menghembuskan napas, angin datang menerbangkan layar-layar pada kapal mereka.


Shuu menoleh ke arah anak perempuan itu, "Tidak. Ini aneh. Sampai beberapa minggu yang lalu aku yakin sekali merasakan keberadaan kekuatan Raja kita dari arah utara." Suaranya lembut dan jernih seperti air. Mantel bulu yang dia kenakan berwarna biru dan berlukis gelombang laut. Ombak menderu-deru di bawah kakinya seirama dengan tiap detak jantungnya.


"Aku juga. Bahkan terkadang aku memimpikan Sang Ratu. Aku penasaran apakah mereka sudah bertemu atau belum. Apakah mereka dapat saling mengenali di kehidupan yang ini. Atau lebih bagus lagi, mungkin mereka sudah menikah sekarang. Bagaimana kalau ternyata mereka sudah memiliki anak-anak yang lucu seperti Zuidlijk dan Nordlijk kecil kita yang menggemaskan? Ah, aku jadi semakin ingin cepat-cepat bertemu mereka." Anak perempuan itu tersenyum, pipinya bersemu kemerahan.


"Kalau mereka benar-benar sudah menikah, mungkin itu bukan hal yang bagus, Kaze. Kau lupa apa yang dikatakan Dewi Langit? Kau lupa pada sumpah Raja kita pada Sang Dewi? Mungkin juga mereka sudah tewas sekarang."


"Tidak mungkin!” Kata-kata itu bergema, membuat angin berhembus lebih kencang dan mendatangkan petir di langit pagi yang gelap itu. "Kalau Ratu kita mati, niscaya Raja kita juga mati. Dan jika Raja kita mati, maka kita semua, para naga pasti akan ikut binasa." Dengan mata berkaca-kaca, dia menambahkan, "Kalau mereka mati secepat itu, maka pengorbanan Raja akan jadi sia-sia."


"Aku juga berharap perjalanan kita ke Utara tidak akan percuma. Kita sudah hampir sampai. Tapi aku sebenarnya tidak mau menyerang kerajaan tempat dimana Raja dan Ratu kita mungkin berada saat ini."


Kaze tampak murung, "Aku juga tidak mau. Kita hanya perlu berpura-pura menyerang tanpa melukai siapa pun. Sejenis pamer kekuatan Naga Kembar di hadapan tentara mereka. Raja kita akan muncul untuk menghentikan kita jika dia benar-benar ada di sana. Jadi kita bisa bertemu dengannya." Binar di matanya serupa bintang-bintang pada langit malam kelabu.


"Aku tahu. Dan saat Raja kita muncul, mustahil pasukan Yi akan berani menyerang. Mereka menyembah Naga seperti menyembah Dewa. Tidak mungkin mereka berani melawan Naga Api Agung, kan?"


Kaze mengangguk, "Benar. Bagaimana dengan kakak perempuan kita?"


"Dia selalu pandai menyembunyikan dirinya, jadi aku tidak heran kalau aku tidak dapat merasakan keberadaannya. Dia mungkin lagi-lagi mengurung diri di gua tersembunyi."


Kaze menyandarkan kepalanya di bahu Shuu, "Aku ingin kita cepat-cepat berkumpul lagi seperti dulu, Shuu. Aku lelah berpura-pura patuh pada Kaisar Palsu. Dia bahkan bukan keturunan asli Kaisar sebelumnya."


"Jangan keras-keras! Pangeran bisa mendengarmu."


Kaze memutar bola matanya yang kelabu, "Kita bahkan tidak menggerakkan bibir, bodoh! Kita bertelepati. Mana mungkin dia bisa dengar."


...****************...


Saat Anna terbangun, Leon tidak ada di mana pun.


"Jenderal Leon mengatakan aku tidak boleh memberitahu siapa pun tentang ke mana dia pergi." Jawab Xavier saat Anna bertanya padanya.


Xavier sudah bersiap jika Anna akan menyalahkannya, memakinya atau mungkin memenggalnya tapi Anna hanya diam. Setelah mendengar jawaban itu, dia tidak mengatakan apa pun lagi. Xavier dapat merasakan kesedihan luar biasa dari Anna, dia merasa perih dan jantungnya seperti dicabik-cabik oleh cakar tak kasat mata, tapi gadis itu tidak meneteskan air mata sama sekali. Justru hal itu jauh lebih menyiksanya. Leon benar tentang Anna yang akan membuatnya menderita. Anna hanya berpaling, kembali ke tendanya dan membereskan barang-barangnya untuk bersiap melanjutkan perjalanan dalam diamnya yang meresahkan.


Ratu Isabella turut mengkhawatirkan kepergian putra angkatnya itu, tapi Sang Ratu tahu bahwa Leon selalu melakukan segala sesuatu halnya karena alasan yang baik. Ratu Isabella yakin kepergiannya kali ini pun bukan karena hal yang buruk. Jadi Sang Ratu memutuskan agar mereka tetap menjalankan rencana awal mereka dan melanjutkan perjalanan menuju Duchy Francis.


Louis yang sudah mulai mahir berkuda, menaiki Onyx—kuda Leon yang merupakan pemberian dari Ratu Eugene. Mereka berempat berkuda menyusuri hutan-hutan dan pemukiman penduduk sambil terus menyembunyikan wajah dibalik tudung jubah mereka.


Anna hanya diam selama perjalanan. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Saat mereka berhenti sejenak untuk makan, Anna bahkan tidak repot-repot melirik makanannya dan pergi bersama busur panahnya untuk berlatih. Saat mereka mengobrol, Anna lebih sering diam dengan tatapan kosong seolah dia tidak ada di sana. Saat Xavier berusaha mengajaknya bicara terkait kepergian Leon, Anna sebisa mungkin menghindarinya.


Anna sudah tahu. Itulah sebabnya dia hanya diam. Anna tahu Xavier tidak akan memberitahunya, tapi Anna sudah tahu bahwa Leon pergi kembali ke Istana Nordhalbinsel. Dia diam bukan karena marah pada Xavier. Dia diam karena marah pada dirinya sendiri yang telah gagal meyakinkan Leon untuk tidak pergi.


Anna mengingat pembicaraan mereka sesaat setelah Anna berhasil menembak apel merah saat itu...


"Leon, kita perlu bicara." Tuntut Anna. Dia membawa Leon ke tempat yang jauh dari yang lain untuk bicara empat mata.


"Ada apa, Yang Mulia?"


"Aku sudah tahu dari Xavier. Aku tahu semuanya. Jangan pergi." Tahu bahwa perkataannya terdengar seperti perintah, dia menambahkan, "Kumohon..."


"Yang Mulia—“


"Kumohon." Kata Anna lagi. Matanya berkaca-kaca. "Aku tidak apa-apa saat—aku berusaha baik-baik saja saat kau menolak lamaranku karena kau berjanji akan selalu berada di sisiku. Kau sudah berjanji." Anna menahan air matanya. Dia tidak mau menangis lagi. Tapi matanya perih.


"Maafkan aku, Yang Mulia. Aku harus pergi. Aku memang sudah berniat untuk pergi setelah kalian sampai di Schiereiland dengan aman. Kediaman Duke Francis pasti aman dari orang-orang Utara. Nicholas Francis beserta para pengawalnya bisa menjagamu selama di Schiereiland. Aku yakin kau akan baik-baik saja."


"Ini bukan tentangku. Aku mungkin akan baik-baik saja, tapi kau—itu bisa saja hanya jebakan. Kau bisa saja mati. Kau belum pernah berhadapan dengan sihir."


"Kau terlalu meremehkan kematian!" Anna meninggikan nada suaranya, kesal karena Leon tampak santai sementara dia mengkhawatirkannya.


"Dengar, Yang Mulia. Aku menganggap ini sebagai kesempatan. Kita tidak pernah tahu apa yang direncanakan Xavier dan Si Kembar Winterthur. Tapi kalau aku pergi ke Istana Nordhalbinsel, aku bisa mengawasi Ratu Nordhalbinsel dan Si Serigala dari dekat. Aku bisa tahu lebih dulu jika mereka berniat melukaimu atau jika mereka merencanakan penyerangan terhadap Schiereiland. Aku juga bisa tahu jika Ratu baru mereka akan mengobrak-abrik negara kita. Satu hal yang pasti, Xavier tidak akan melukaimu. Dia mungkin saja menyulut perang, menghancurkan sebuah negara, atau hal yang lebih buruk lainnya tapi dia tidak akan bisa melukaimu. Kau adalah Ratunya dahulu."


Anna bertanya-tanya sejak kapan Leon menyadari hal itu. Seingatnya, Anna tidak pernah mengatakan pada siapa pun selain Xavier bahwa dia adalah Ratu Agung Zhera. Tapi ternyata Leon sudah tahu. Dan Ratu Isabella serta Louis pun kini sudah tahu. Mungkinkah sejak di gua, karena dia mengatakan dia mengenal gua itu? Atau mungkin karena dia tiba-tiba bisa memanah? Mungkin juga jauh sebelum itu. Anna jadi berpikir bahwa mungkin Leon menolaknya karena alasan itu. Tapi kemudian Anna berpikir lagi bahwa apa pun yang dia lakukan, siapa pun dirinya di masa lalu, Leon tetap akan menolak lamarannya. Karena dia Putri Schiereiland, karena dia putri dari Raja yang terlalu dihormatinya.


"Sekarang bukan." Kata Anna. "Aku bukan Ratunya. Aku bukan Ratu bagi siapa pun."


"Baiklah. Aku mengerti, tapi kau harus percaya padaku. Aku akan pergi ke Nordhalbinsel, dan membantu Xavier sambil mengawasi Si Kembar Winterthur. Jika ini berhasil, Selena dapat dikalahkan. Schiereiland dapat bebas."


"Itu ide gila. Bagaimana aku bisa tahu kalau kau akan baik-baik saja?"


"Kita akan menemukan caranya. Dan aku pasti baik-baik saja selama kau baik-baik saja, Yang Mulia."


...****************...


Mereka sampai di Duchy Francis setelah seharian penuh mereka berkuda. Hari sudah sangat larut dan mereka semua sangat lelah. Tapi jalanan tampak ramai dengan hiasan bunga mawar putih dimana-mana, lentera-lentera yang menyala di sepanjang jalan dan beberapa orang masih sibuk menghias kota seolah akan ada perayaan besar atau sebuah festival. Anna mengingat-ingat ada hari raya apa yang dia lupakan. Tapi tidak ada yang dia ingat. Dan hiasan bunga mawar putih di Schiereiland hanya memiliki satu makna.


Pernikahan.


"Maaf, bisa kau ulangi Louis? Sepertinya aku salah dengar." Tanya Anna setelah sekian lama dia enggan bersuara semenjak kepergian Leon. Saat itu mereka semua berkumpul di salah satu kamar di penginapan. Penginapan itu tidak lebih bagus dari penginapan mereka sebelumnya. Tapi paling tidak ada kasur untuk berbaring daripada harus berbaring di tenda lagi padahal badan mereka sudah pegal-pegal.


Louis baru saja kembali dari tugasnya, mencari tahu apa yang sedang terjadi di kota sambil membeli makan malam.


"Duke Francis menikahi kekasihnya. Rume... Rumel... Maaf, saya lupa nama mempelai wanitanya, Yang Mulia."


"Rumelle Isadora Rochelle. Putri bungsu Baron Rochelle." Kata Anna. Mengingat kembali sosok gadis berambut cokelat kemerahan yang menjadi alasan pertunangannya dengan Nicholas Francis dibatalkan.


"Nick menikah?" Xavier tampak lebih terkejut lagi.


Ratu Isabella tampak bingung setelah mendengar Xavier menyebut Duke Francis dengan hanya 'Nick'. Jadi Anna menjelaskan pada ibunya, "Mereka teman dekat. Kurasa."


"Pesta pernikahannya besok?" Tanya Ratu Isabella pada Louis. Sang Ratu berkali-kali melirik ke arah putrinya, memastikan bahwa Anna baik-baik saja setelah mendengar berita mengejutkan itu. Terlebih lagi belakangan ini putrinya itu tampak tidak punya semangat hidup.


Louis mengangguk. "Tapi mereka sudah meresmikan pernikahannya tadi pagi." Tatapannya terpaut pada Anna seolah dia turut prihatin. Bukan hanya Ratu Isabella dan Louis, kini Xavier pun melakukan hal yang sama.


"Kalian ini kenapa? Aku hanya terkejut."


"Tentu saja. Kau mantan tunangannya." Kata Xavier, terdengar prihatin.


"Bukan karena itu." Anna menghela napas. Dia menoleh pada Xavier, "Jika kau kembali ke Nordhalbinsel setelah sekian lama, bersiap pergi ke Istanamu lalu kau melihat Istana sudah dihias meriah dan kau mendapat kabar bahwa Ratu Eleanor menikah besok, bagaimana perasaanmu?"


"Elle? Menikah?" Xavier tertawa. Kemudian tawanya berubah menjadi sedikit gugup. Bukan karena memikirkan siapa yang menikah atau dengan siapa, tapi karena wacana pernikahan itu sendiri. Terlebih lagi jika pernikahan yang dimaksud diadakan di tempat yang akan dituju. "Terkejut. Tentu saja. Baiklah, aku mengerti maksudmu. Terlepas dari subjeknya, itu memang berita yang mengejutkan."


"Persis seperti itu."


"Baiklah, terlepas dari semua hal itu, kita punya masalah." Kata Ratu Isabella. Tapi bahkan saat mengatakan bahwa mereka punya masalah, Sang Ratu tampak tenang, terkesan lega. Secercah harapan kembali memenuhinya karena Anna sudah mulai aktif ikut serta dalam percakapan mereka. Dia melanjutkan, "Jika Duke Francis merayakan pesta pernikahan besok, itu artinya kediamannya akan sangat ramai. Akan sangat sulit untuk menemuinya."


"Terlalu berisiko. Semua orang akan mengenali Ibu." Kata Anna.


"Tapi besok adalah pesta khusus untuk warga Duchy Francis. Pesta dengan para bangsawan sudah diadakan tadi sore." Kata Louis. "Mungkin besok akan lebih aman."


"Tetap tidak akan aman untuk ibu. Hampir semua orang mengenali wajah Ratu mereka."


"Tapi mereka tidak mengenali wajahmu. Kau putri yang tidak pernah meninggalkan Istana. Tidak banyak rakyat biasa yang tahu wajah Putri dari Schiereiland." Kata Xavier.


"Benar." Kata Anna. Lalu dia melihat Xavier tampak menatap udara kosong setengah melamun, tak berkedip untuk waktu yang lumayan lama. Dia sedang menyusun rencana. "Apa yang kau rencanakan, Xavier?"


Xavier akhirnya berkedip, memperhatikan mereka semua yang masih menunggunya memberitahu rencananya. Xavier menoleh pada Anna. "Kau perlu gaun baru. Kita berdua harus mendatangi pesta pernikahan mantan tunanganmu besok."


...****************...