
"Jadi sekarang kau ini apa? Raja Westeria?"
"Bukan." Dia tertawa santai menanggapi. Tapi hatiku sakit mendengarnya. "Westeria tidak punya Raja. Westeria hanya memiliki Ratu dan pasangan Ratu. Aku tetap pangeran Nordhalbinsel."
Aku seharusnya langsung masuk dan menyapa tamuku bukannya berdiri sejenak di depan pintu dan menguping pembicaraan antara tamuku dengan suamiku. Tapi aku belum siap untuk bertemu dengan orang yang mendapat julukan Serigala Gila dari Utara itu.
Jenderal Elias adalah saudara kembar Ratu Eleanor. Aku pernah bertemu dengannya sebelumnya saat dia menjemputku untuk turut serta dalam acara penentuan pewaris takhta Nordhalbinsel untuk mendukung saudari kembarnya atas permintaan Raja Xavier. Aku pernah bicara dengannya. Tapi sepertinya aku tidak akan pernah bisa terbiasa berhadapan dengannya.
Kurasa itu wajar. Aku adalah Ratu Westeria, negeri damai tanpa perang. Kami orang-orang Westeria sebisa mungkin menghindari konflik dengan negara lain. Sejak kepemimpinan pendahuluku, Ratu Elizabeth, dan bahkan sebelumnya, Westeria tidak pernah berkonflik dengan negara mana pun. Dan kini aku memegang tanggung jawab untuk mempertahankan perdamaian itu. Tapi Jenderal Elias adalah orang yang akrab dengan peperangan, pertumpahan darah, dan kedatangannya adalah sebuah pertanda tidak baik bagi kerajaanku.
Aku berhutang budi pada Raja Xavier, dia adalah temanku sekaligus kakak Jeffrey. Aku juga sering berkirim surat dengan Ratu Eleanor belakangan ini, beliau adalah orang yang sangat ramah. Hubungan kerajaan kami dengan kerajaan mereka bisa dibilang seperti hubungan persaudaraan. Dan aku tidak berniat memutuskan hubungan persaudaraan itu. Bersekutu dengan kerajaan yang memiliki militer kuat dan penuh dengan penyihir berbakat adalah sebuah keuntungan untuk kami, itu tidak diragukan lagi. Tapi jika bisa, aku ingin negeri kami dijauhkan dari peperangan. Padahal yang kudengar Orient sedang bersiap menyerang Nordhalbinsel karena kematian Pangeran Yi yang diduga dibunuh oleh Ratu Eleanor. Bukannya aku percaya pada rumor aneh itu. Ratu Eleanor bukan orang seperti itu.
Tapi aku yakin sekali kedatangan Jenderal Elias ke Istana kami pagi ini adalah untuk membicarakan masalah itu.
Saat aku memasuki ruangan, serentak tamuku dan suamiku berdiri dan membungkuk penuh hormat padaku. Aku tidak akan pernah bisa terbiasa dengan pemandangan ini. Melihat suamiku sendiri membungkuk penuh hormat di hadapanku. Kurasa aku paham kenapa Elizabeth tidak pernah menikah selama dia menjadi Ratu. Dia pasti tidak tahan melihat pria yang dicintainya berlaku seperti itu. Sayangnya, aku tidak bisa menjadikan suamiku sebagai Raja. Sudah peraturannya seperti itu di negara ini.
"Apa aku membuatmu menunggu lama, Jenderal?" Tanyaku dengan bahasa Nordhalbinsel yang sempurna. Terkadang, saking seringnya aku bicara dengan suamiku menggunakan bahasa ibunya, aku tanpa sengaja bicara bahasa Nordhalbinsel dengan orang-orang Westeria. Padahal seorang Ratu tidak boleh melupakan bahasanya sendiri.
Jenderal Elias, seperti kebanyakan pria utara, memiliki tata krama tak bercela. "Tentu saja tidak, Baginda Ratu."
Aku memberi isyarat pada para dayang dan pengawalku untuk pergi meninggalkan kami. Aku tahu pembicaraan ini akan membutuhkan privasi. Tapi aku tetap mempertahankan Jeffrey di sisiku. Aku membutuhkannya.
Jeffrey masih berduka atas kematian ayahnya. Dia mengaku tidak pernah dekat dengan ayahnya, bahkan jarang mengobrol dengannya, tapi dia tetap sangat sedih saat mendapat kabar itu dari ibunya. Kami sempat menghadiri acara pemakaman ayahnya sekaligus menghadiri acara penobatan Raja Xavier. Jeffrey tampak baik-baik saja saat itu. Tapi begitu kami kembali ke Istana, dia menangis. Dia bilang mendiang Raja bukan lah Raja yang sempurna karena tidak ada Raja yang sempurna. Tapi dia seorang pria yang berusaha keras untuk menjadi seorang Raja untuk rakyat-rakyatnya, seorang suami untuk para istrinya dan seorang ayah untuk anak-anaknya. Kurasa aku paham maksudnya. Sebesar apa pun usaha kami para pemimpin, kami tidak bisa menjadi yang terbaik di mata semua orang. Kami tidak sempurna karena kami hanya lah pemimpin suatu negara, bukan dewa.
Aku belum genap berusia dua puluh tahun. Ulang tahunku masih tujuh bulan lagi. Belum ada satu tahun aku menjadi Ratu. Aku masih sangat baru dalam hal ini. Masih sangat muda. Sedangkan di hadapanku saat ini adalah seorang Jenderal yang kalau informasi dari Theana tidak salah, usianya sudah dua puluh enam tahun, dan sudah berpengalaman dalam bidangnya selama bertahun-tahun. Dia adalah tangan kanan Raja Xavier sekaligus saudara kembar Ratu Eleanor. Dan dia akan menjadi Grand Duke Winterthur kelak. Bagaimana aku harus bersikap?
Aku terus mengingat kata-kata Jeffrey setiap kali dihadapkan pada situasi seperti ini, "Tunjukkan bahwa kau lah Ratunya."
Aku adalah Ratu Westeria.
Tapi tepat sebelum aku membuka pembicaraan, Sang Jenderal sudah terlebih dahulu berlutut di hadapanku. Jenderal Elias Winterthur, Pemimpin Pasukan Serigala, berlutut di hadapanku.
"Baginda Ratu, saya membutuhkan bantuan Anda." Ucapnya dengan nada memohon. Orang-orang utara dengan aksen khasnya yang selalu terdengar angkuh sangat tidak sesuai dengan nada memohon seperti itu. "Tolong, izinkan saya dan pasukan saya memasuki Westeria dan mencari seseorang."
"Pasukanmu? Kau mau membawa ratusan Serigala memasuki kerajaanku?" Aku tanpa sengaja menaikkan nada suaraku saking terkejutnya. Kami mungkin dapat menerima kehadiran satu Serigala. Tapi tidak dengan ratusan Serigala pemangsa yang bisa menewaskan seisi kota dalam sekejap. "Siapakah gerangan yang kau cari hingga membutuhkan pasukan serigalamu memasuki wilayahku?"
Jeffrey sudah berdiri di sampingku. Aku segera menggenggam tangannya, menautkan jemari kami. Aku membutuhkannya.
"Putri Seo-Hwa dari Orient. Kami harus menemukannya segera. Perintah dari Raja Xavier."
Jenderal Elias tahu betapa aku sangat menghormati Raja Xavier. Jadi dia sengaja mengucapkan kalimat itu di akhir agar aku tidak dapat menolaknya.
Aku kembali bertanya dengan suara yang mudah-mudahan terdengar tenang dan berwibawa layaknya seorang Ratu. "Dan apa yang membuatmu yakin bahwa Putri Seo-Hwa ada di Westeria?" Aku tidak boleh serta merta memberinya izin hanya karena itu adalah perintah dari Raja Xavier. Aku tahu, aku tidak akan pernah mendapatkan mahkotaku jika bukan karena bantuan dari Raja Xavier. Tapi ini adalah negaraku dan hanya aku yang memimpin di sini. Bukan Raja Xavier. Bukan pula Serigala Winterthur di hadapanku.
"Aromanya..." Saat Sang Jenderal mengatakan hal itu, aku bersumpah dapat melihat wujud serigalanya dibalik wajah sempurnanya. "Saya mencium aromanya di wilayah Anda."
Memangnya dia anjing pelacak? Tapi aku tidak mengatakannya. Karena kemungkinan besar itu memang benar.
"Untuk apa? Kenapa kau ingin mencarinya?" Suaraku sama sekali tidak bergetar. Aku adalah Ratu Westeria. Aku tidak tunduk pada siapa pun.
Tapi kali ini, dia tidak lagi bicara sebagai tamuku yang sedang memohon meminta izin. Kali ini dia adalah Jenderal dari Utara. Serigala Gila dari Utara. Aku diingatkan bahwa selama ratusan tahun, secara turun-temurun, keluarganya adalah pemburu penyihir hitam—para penyihir yang menggunakan sihir terlarang untuk hal-hal buruk. Mereka berubah menjadi serigala dan memburu penyihir serta mengoyak tubuh buruannya itu dengan taring mereka. Taring itulah yang kini kulihat. Seolah siap untuk menerkam. Matanya yang berwarna biru es tampak berkilat berbahaya di bawah sinar lampu kristal. Jeffrey mengeratkan genggamannya padaku agar aku tidak takut.
"Karena Putri Seo-Hwa dapat menyelamatkan kerajaan kami dari ancaman serangan Orient. Dan itu berarti menyelamatkan kerajaan Anda dari ancaman serangan Orient juga."
...****************...