
Aku tidak tahu menjadi Raja akan sesulit ini. Untunglah para bangsawan berbaik hati membantuku menyesuaikan diri. Untunglah Luna ada di sisiku memberitahuku apa yang harus kulakukan.
Entah bagaimana kejadiannya, kupikir akan butuh perang besar, invasi besar-besaran, pertumpahan darah dan sebagainya, tapi Raja Xavier membebaskan negeri ini begitu saja dan menyerahkan takhta kepada pewaris sah segera setelah dia dimahkotai sebagai Raja. Aku bukan pewaris sah. Tapi mereka tetap memberiku mahkota dan menyebutku Raja.
Kalau pun mereka tahu tentang surat wasiat ayah yang dia buat di hari ulang tahun kakakku, yang dia buat sebelum dia mati, aku tidak yakin mereka akan menyerahkan takhta pada seorang putri yang sudah tidak bicara selama berminggu-minggu.
Anastasia menjadi semakin aneh saja. Seharian hanya mengurung diri di kamar. Aku sudah memerintahkan para pelayan untuk membujuknya agar mau makan, tapi dia tidak menyentuh makanan-makanan itu. Bahkan sup sayur keju yang sangat dia sukai tidak disentuh sama sekali. Macaron beraneka warna yang merupakan camilan manis kesukaannya hanya dia pandangi. Dia juga tidak mau bicara pada siapa pun, bahkan tidak padaku. Padahal aku butuh dukungan moral darinya di saat-saat seperti ini.
Mungkin karena kematian ibu kami. Aku juga sedih. Bukan hanya dia yang kehilangan ibu dan ayah. Aku juga. Dan kini aku juga harus kehilangan satu-satunya saudariku. Dia seperti mayat hidup yang bernafas dan hanya memandang ke luar jendela kamarnya. Memandangi mawar-mawarnya yang tak pernah layu.
Istana kami sudah diperbaiki berkat kemurahan hati Raja Xavier—atau begitulah kata orang-orang utara yang diutusnya. Dia memerintah para penyihir untuk bekerja keras mengembalikan kondisi istana kami seperti sedia kala. Bukan hanya istana, taman mawar kakakku yang semula sudah hangus terbakar kini sudah kembali dipenuhi mawar. Semua kerusakan-kerusakan yang ada di kerajaan kami, diperbaiki oleh para penyihir yang mengabdi pada Raja Xavier. Dia pikir aku tidak tahu. Dia melakukan semua itu karena sangat menyukai kakakku. Setiap kali kami bertemu untuk urusan kenegaraan, dia tidak pernah lupa menanyakan kabar kakakku. Aku yakin sebentar lagi akan muncul surat lamaran darinya untuk mempersunting kakakku. Padahal dia sudah punya istri. Oh, benar. Kudengar istrinya yang sedang hamil itu dikurung di penjara bawah tanah akibat tuduhan pembunuhan terhadap raja sebelumnya. Keluarga kerajaan Nordhalbinsel benar-benar kacau. Takkan kubiarkan kakakku menikah dengannya.
Katanya dia Naga Api Agung. Dan kurasa aku sudah tahu itu sejak awal dia menolong aku dan ibu di malam penyerangan. Aku jelas-jelas melihat kabut merah mengelilinginya sebagaimana aku melihat kabut hijau selalu mengelilingi ibuku. Lucunya, ayahnya pernah memerintahku untuk membunuhnya dan mengambil jantungnya. Mendiang raja sama sekali tidak tahu bahwa naga yang dia cari-cari selama ini adalah putranya sendiri. Dan aku hampir membunuhnya kalau bukan karena Luna. Sayang sekali kalau aku sampai membunuh orang yang akan menjadi raja yang tergila-gila pada kakakku. Aku bisa saja memanfaatkan Raja Xavier kalau aku mau. Dia bahkan terlihat seperti siap menyerahkan seluruh kerajaannya demi kakakku. Tidak juga. Aku tidak terlalu yakin soal itu. Dia kelihatannya pintar dan tidak mudah dipengaruhi. Pasti ada alasan kenapa diantara dua puluhan putra raja sebelumnya, dia yang dipilih menjadi Putra Mahkota. Dia jelas lebih unggul dari saudara-saudaranya. Bukan lawan yang mudah.
Luna memperingatkanku bahwa aku tidak perlu mengabdi pada Raja Utara. Aku tidak perlu membuat kesepakatan itu dengan Raja Vlad sejak awal karena aku punya kemampuan untuk merebut negeriku sendiri. Jadi kami bekerja sama. Penyihir muda paling berbakat yang pernah kukenal itu bersedia membantuku merebut kembali kerajaanku. Dia hanya meminta satu hal dariku. Menjadikannya ratuku.
Tanpa kesepakatan pun aku memang sudah jatuh hati padanya. Akan kujadikan dia Ratu Schiereiland.
Aku bertemu dengannya saat sedang mencari jantung naga. Dia tampak seusia denganku, bahkan terlihat lebih muda, tapi dia bilang usianya 17 tahun. Sedangkan aku hampir 16 tahun. Aku seorang pangeran yang negerinya direbut, sedangkan Luna adalah mantan pelayan istana yang diusir. Orang-orang sepertinya tidak tahu bahwa dia memiliki kekuatan sihir yang luar biasa. Dia dapat langsung menumbangkan seluruh prajurit Nordhalbinsel suruhan Raja Vlad yang mendampingiku dalam perjalananku mencari jantung naga. Kami kemudian mengumpulkan pasukan kami sendiri yang terdiri dari para penyihir dan prajurit yang didepak oleh Ratu Eleanor dari Istana.
Berbeda dengan siapa pun, Luna mendengarkanku. Dia memahamiku. Dia bilang aku mengingatkannya pada temannya, seorang pangeran baik hati yang dia kenal di Istana. Aku tidak tahu pangeran yang mana karena setahuku Raja Vlad punya banyak putra, dan aku tidak berminat menanyakan lebih lanjut. Tapi dia bersedia membantuku merebut kembali kerajaanku.
Aku akan menikahinya. Tapi ada adat di Istana bahwa anak yang lebih tua harus menikah lebih dahulu. Aku tidak boleh mengabaikan adat berusia ratusan tahun meski aku seorang Raja. Terlebih karena aku seorang Raja. Rakyat membenci Raja yang tidak mengikuti adat. Jadi aku harus segera menemukan calon pendamping untuk kakakku. Akan sangat sulit karena Anastasia tidak mau bertemu dengan siapa pun.
Andaikan saja ada Leon. Diantara kami bertiga, anak-anak Raja, Leon lah yang selalu bisa diandalkan. Dia kuat dan pintar. Semua orang menyukainya. Dia tidak perlu banyak bicara untuk mengambil hati rakyat maupun pejabat, aksi dan prestasinya sudah bicara mewakilinya. Jika saja dia anak kandung Raja dan Ratu, sudah pasti dia yang akan menjadi Raja sekarang, bukan aku.
Leon bisa saja menikahi kakakku seandainya dia masih hidup. Aku sebenarnya tidak tahu dia masih hidup atau sudah mati. Anastasia tidak mengatakan apa pun. Tidak ada yang tahu di mana Leon berada.
Nicholas, mantan tunangan kakakku, sayangnya sudah beristri. Aku tidak mau kakakku menjadi istri kedua. Dia berhak mendapatkan yang terbaik. Yang bisa membawanya sejauh mungkin dari Istana ini sebelum dia tahu tentang surat wasiat ayah. Tapi juga yang bisa membawa keuntungan untukku, untuk kerajaan kami. Pernikahan pada dasarnya adalah kata lain dari politik bagi kami para bangsawan.
Urusan mencari pendamping untuk kakakku benar-benar memusingkan. Tapi Luna yang cerdas memberiku ide yang luar biasa.
Ada seorang pangeran, yang menurut Luna berhak atas takhtanya melebihi Raja Xavier. Anak dari permaisuri yang diasingkan. Pangeran Ludwig. Jika kami membantunya merebut takhtanya dari Raja Xavier, dan menikahkannya dengan kakakku, maka kami bisa menguasai Nordhalbinsel juga. Jauh lebih efisien daripada membiarkan Raja Xavier yang sulit ditebak itu mendekati kakakku. Siapa yang tahu apa rencananya sebenarnya. Dia mungkin berpura-pura baik, berpura-pura membebaskan Schiereiland untuk mengambil hati rakyat dan mendekati kakakku hanya untuk merebut kembali kerajaan ini. Jika memang itu rencananya, maka aku harus mengakui dia sangat pintar. Dibanding ayahnya yang mengambil negeri kami dengan cara yang kejam, dia bisa mengambil negeri kami dengan cara yang halus.
Jadi pagi ini, aku buru-buru meninggalkan aula rapat pagi menuju kamar kakakku untuk memberitahunya tentang rencana kami. Aku akan segera mengenalkannya pada Pangeran Ludwig setelah Luna berhasil menemukan Si Pangeran Terbuang. Tapi langkahku terhenti saat aku mendengar suara-suara pelayan dari arah luar kamar kakakku.
"Kau tahu, Yang Mulia Putri membutuhkan makanan manis sore hari. Untuk dipandangi." Si pelayan baru itu berkata dengan ringan seolah tidak sedang membicarakan tentang Putri kerajaan ini.
"Putri Cangkang Kosong, maksudmu?" nada mengejek pelayan senior itu disertai tawa kawan-kawannya sesama pelayan.
Itulah sebutan kakakku saat ini. Putri Cangkang Kosong. Dari luar dia terlihat seperti seorang putri yang cantik dan sempurna. Tapi di dalamnya tidak ada apa pun. Kosong dan hampa. Dia tidak makan dan bicara. Jika aku tidak bersikap tegas pada para pelayan, aku yakin mereka sudah berlaku buruk pada kakakku. Mereka mungkin akan menyakitinya tanpa sepengetahuanku. Secantik apa pun, dia tidak bisa dinikahi jika memiliki banyak bekas luka. Dan itu akan menghancurkan semua rencana yang sudah kususun dengan Luna.
"Sssttt... Nanti Raja dengar." Si Pelayan baru itu bicara lebih pelan dan sopan. Aku akan menaikkan gajinya.
"Raja tahu kakaknya sama saja sudah tiada. Diajak bicara, dia diam saja. Sepanjang hari hanya menatap ke luar jendela. Makanan tidak pernah disentuh."
"Kasihan sekali..."
"Kudengar dia diculik oleh Raja Nordhalbinsel yang sekarang. Dia disiksa di sana, makanya dia jadi seperti itu."
"Kudengar Raja Xavier memenjarakan istrinya sendiri padahal istrinya sedang hamil."
"Dia gila!"
"Sudah jelas, kan. Ayahnya saja pembunuh berdarah dingin. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Raja Xavier pasti tidak jauh-jauh dari sosok psikopat!"
“Tapi bukankah dia yang membebaskan Schiereiland?” Tanya si pelayan baru.
“Dia membebaskan Schiereiland setelah pasukan kerajaan kita berhasil mengalahkan pasukannya. Ini semua berkat Raja Alexis.”
“Orang-orang utara memang kejam dan tidak berperasaan. Mereka membunuh mendiang Raja dan Ratu kita. Kasihan sekali Raja Alexis harus kehilangan orang tuanya di usia semuda itu.”
Aku yang menyebarkan rumor-rumor itu, tentu saja. Hanya segelintir orang yang tahu kisah aslinya. Mudah menggiring opini publik saat kau menjadi korban dan dikasihani.
"Sudah lah. Aku harus segera membujuk putri untuk memakan macaron-macaron ini. Meski aku yakin dia tidak akan menyentuh satu pun dan pada akhirnya aku yang akan menghabiskan semuanya."
Sebelum para penggosip itu bubar, aku berbalik, berjalan kembali ke ruanganku. Nanti saja aku menemui kakakku. Masih ada banyak waktu. Lagi pula dia tidak akan bisa menolak rencana pernikahan itu, bicara saja dia tidak bisa.
...****************...