
Naga Api Agung membawa Anna terbang jauh dari tebing. Saat melihat ke bawah, Anna dapat melihat hamparan luas pepohonan yang tertutup salju. Semua daratan di Nordhalbinsel adalah salju putih bersih, membaur dengan awan putih di bawah kaki Anna. Dan semua perairan seperti danau dan sungainya beku membentuk hamparan es yang memantulkan sinar matahari menyilaukan, hampir membutakan. Anna melihat pemandangan keseluruhan Nordhalbinsel di bawah kakinya. Kerajaan yang besar itu, Kerajaan yang telah mengambil alih Kerajaannya itu, tampak kecil jika dia melihatnya dari langit. Nordhalbinsel tampak seperti kapas kecil yang putih dan bersinar terkena pantulan sinar matahari.
Naga Api Agung membawanya terbang jauh ke atas, ke puncak sebuah gunung yang sangat tinggi. Saking tingginya gunung itu, puncaknya tak dapat dilihat karena tertutup oleh awan. Mereka terbang terus tinggi hingga melewati—menghindari—kumpulan awan hingga akhirnya puncak gunung itu terlihat. Naga Api Agung mendarat di puncak gunung dan menurunkan Anna.
Anna mundur beberapa langkah untuk melihat sosok di hadapannya. Naga itu masih sama seperti yang terakhir kali Anna lihat. Tapi kali ini tidak ada bekas luka satu pun di tubuhnya. Naga itu memandangi Anna dengan matanya yang semerah kobaran api. Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun yang bergerak atau pun bicara. Hingga akhirnya Anna memutuskan untuk menyentuh Naga Api Agung. Kulitnya yang tebal dan bersisik terasa hangat. Tidak membakar, tapi hangat. Anna yang kedinginan berada di puncak gunung tertinggi di Nordhalbinsel itu, mendekat ke arah Sang Naga untuk menghangatkan diri. Tapi Naga itu mendengus kesal mengeluarkan kepulan asap yang hangat. Anna tidak bisa menahan senyumannya karena Naga itu, seberapa pun kesalnya dia sekarang, nyatanya mampu membuat tubuhnya lebih hangat.
“Aku akan sangat berterima kasih kalau kau mengizinkanku untuk lebih dekat denganmu. Di atas sini terlalu dingin. Aku bisa mati membeku.” Ucap Anna sambil menggigil. Napasnya mengepulkan uap.
Tapi Naga itu mundur beberapa langkah. Saat Anna mendekatinya lagi, Naga itu mundur kembali beberapa langkah. Hingga akhirnya Anna menyerah. Anna hanya berdiri diam menatap Naga itu dari jarak yang cukup jauh.
"Kalau begitu, ayo bicara Xavier."
Cahaya yang sangat terang bersinar di sekitar Sang Naga. Tak lama kemudian, sosok Naga itu hilang digantikan dengan Xavier.
“Itu tadi sangat berbahaya! Kenapa kau sampai senekat itu?” Kata Xavier. Napasnya terengah. Dia masih terkejut dengan aksi Anna tadi. “Jantungku rasanya hampir berhenti berdetak tadi.”
"Jadi aku benar selama ini. Kau adalah Naga Api Agung." Kata Anna, masih memperhatikan Xavier dengan takjub. "Matamu... merah." Warna mata Xavier masih belum kembali menjadi Emerald, masih semerah api. Persis seperti yang ada di ingatan Anna.
Xavier memejamkan matanya, menghindari tatapan Anna dan berusaha mengatur napasnya serta ritme detak jantungnya. Agak sulit karena Anna masih menatapnya. Dia mengerjap beberapa kali setelah napasnya kembali teratur, mata Emerald nya kembali meski jantungnya masih berdetak lebih kencang dari biasanya. Tapi Xavier sudah terbiasa akan hal itu.
"Kalau begitu, aku..." Anna berhenti sesaat, tidak yakin apakah dia harus mengatakannya atau tidak. Ini agak memalukan jika dugaannya salah. Tapi Anna yakin dia tidak salah. Dia jelas mengingatnya. "Aku adalah Ratu Agung Zhera. Benar kan?
“Sejak kapan kau mulai tahu?" Tanya Xavier. Dia mengalihkan wajahnya, sebisa mungkin menghindari tatapan Anna.
"Tahu tentang apa? Bahwa kau adalah Naga Api Agung atau bahwa aku adalah Ratu Agung Zhera?"
"Dua-duanya."
"Belakangan ini aku selalu bermimpi tentang mereka—tentang kita di masa lalu." Anna langsung mengoreksi. "Aku juga mengingat hal-hal yang seharusnya tidak dapat aku ingat. Kenangan dari masa seribu tahun yang lalu. Itu sangat aneh... Tapi aku tahu semua kenangan itu adalah milikku. Aku dapat merasakannya."
"Merasakan apa?"
Kali ini Anna yang mengalihkan wajahnya yang memerah malu, "Dulu, aku mencintaimu. Maksudku, aku yang dulu. Seribu tahun yang lalu. Bukan sekarang."
"Jadi kau mengingatnya juga... Kupikir hanya aku yang mengingatnya." Sadar atau tidak, Xavier tersenyum senang saat mengatakannya.
"Sebenarnya, aku sudah mulai curiga sejak melihat bekas luka itu di tubuhmu. Tapi sepertinya semua bekas luka itu sekarang sudah hilang entah bagaimana."
"Kau yang menghilangkannya."
"Aku?" Pupil mata Anna melebar, "Bagaimana caranya?"
“Atau mungkin aku yang menghilangkannya. Sebenarnya aku masih belum tahu. Tapi sepertinya aku mulai sedikit mengerti. Buktinya itu berhasil juga pada lukamu.”
“Apa maksudmu?”
"Kenapa itu begitu penting? Aku masih tak habis pikir bisa-bisanya kau terjun seperti tadi padahal kau bisa saja mati."
"Tapi aku tidak mati. Kau langsung menangkapku."
"Bagaimana jika aku tidak melakukannya? Bagaimana jika Jenderal Leon benar bahwa aku akan membunuhmu seperti ayahku membunuh ayahmu?"
"Kau tidak seperti itu. Kau tidak akan melukaiku." Kata Anna. Meski Anna masih belum dapat mempercayai Xavier sepenuhnya, tapi dia meyakini hal itu. Xavier mungkin memang merencanakan sesuatu, ada yang tidak diceritakannya kepada Anna, tapi membunuh Anna atau pun melukai Anna tidak termasuk bagian dari rencananya. Itulah yang Anna yakini. Karena kini dia tahu siapa dirinya sebenarnya. Jika sejarah itu benar, jika mimpinya dan ingatannya memang benar, mereka berdua adalah pasangan yang saling mencintai seribu tahun yang lalu. Xavier tidak akan mungkin melukainya.
Xavier tidak mengatakan apa pun. Dia hanya berusaha menghindari tatapan Anna dan sebisa mungkin menjauh beberapa langkah darinya.
"Benar kan? Kau tidak akan melukaiku." Anna memastikan kembali asumsinya. Tapi Xavier tidak langsung menjawabnya.
Xavier memberanikan diri menatap Anna. Tatapan itu seolah membawanya kembali ke masa seribu tahun yang lalu dimana mereka hidup bahagia bersama sebagai pasangan Raja dan Ratu. Belakangan ini, potongan-potongan ingatan dari masa seribu tahun yang lalu selalu menyerangnya di saat yang tidak diharapkan. Ingatan masa lalu itu terasa begitu jelas seolah baru terjadi kemarin. Xavier tidak dapat lagi melihat Anna sebagai pengawal pribadinya atau pun sebagai Putri dari Kerajaan lain. Anna adalah alasannya turun ke bumi dan menjalani hidup seperti manusia, lalu Anna menjadi alasannya untuk mati dan menunggu kelahiran mereka kembali. Menunggu dipertemukan kembali.
...****************...
"Kau tidak akan meninggalkanku. Benar kan?"
Naga Api Agung menatap Zhera yang sedang tersenyum untuk menutupi kekhawatirannya di hadapannya. Wanita itu selalu berusaha terlihat kuat seolah bisa menahan ribuan anak panah untuknya. Tapi dia tahu betapa rapuhnya Zhera. Wanita itu memang dapat memimpin perang, mengalahkan pasukan musuh, dan hal menakjubkan lainnya yang pernah dia saksikan. Tapi Zhera terlihat sangat hancur saat melihat kematian suaminya yang dulu. Dan itu membuatnya sangat takut merasakan kembali kehilangan orang yang dicintainya.
Zhera kuat, tapi hatinya rapuh dan pernah retak.
"Mana mungkin aku sanggup meninggalkanmu? Aku bahkan akan kesulitan bernapas jika kau jauh dariku, Zhera."
...****************...
"Mana mungkin aku sanggup melukaimu?" Ucap Xavier. Tatapannya sendu. "Aku bahkan merasa tersiksa saat kau kesakitan." Tapi suaranya lebih seperti bisikan saat mengatakan hal itu. Jadi dia yakin Anna yang berdiri cukup jauh darinya tidak dapat mendengarnya saat itu.
"Apa?"
"Kau kedinginan." Ucapnya langsung.
"Tentu saja! Kita ada di puncak gunung bersalju. Apa kau tidak bisa memilih tempat yang sedikit lebih hangat untuk bicara? Kenapa harus di—“
Xavier mengulurkan tangannya, memegang tangan Anna yang sejak tadi gemetar karena kedinginan.
Anna sempat terkejut, tapi membiarkannya. Dalam sekejap mata, Anna tidak lagi merasa kedinginan. Seolah ada api di dekatnya. "Hangat." Kata Anna. "Bagaimana caramu melakukannya? Apa ini juga sihir?"
"Bukan. Aku juga masih belum sepenuhnya mengerti." Kata Xavier. Matanya tidak dapat lepas dari Anna. "Maaf, aku hanya bisa memikirkan tempat ini karena tempat lain yang lebih rendah terlalu berisiko. Paling tidak di atas sini tidak akan ada orang yang bisa melihat kita."
"Karena tidak akan ada yang bisa naik sampai ke atas sini tanpa membeku." Kata Anna. "Tapi, terima kasih, Xavier. Paling tidak kau tidak membiarkanku mati membeku. Aku seharusnya tidak mengatakan ini, tapi, tolong jangan lepaskan." Anna merasa malu karena mengatakannya. Tapi dia merasa akan membeku jika Xavier melepaskan tangannya. Ini demi bertahan hidup, bukan karena masa lalu mereka.
Xavier tersenyum, "Tidak akan kulepas." Dia mengamati kedua pipi Anna bersemu merah. Jantungnya berdebar kencang saat melihatnya. Dia segera mengalihkan tatapannya ke tumpukkan salju di bawah kakinya. "Anna, kau tahu di mana Alexis berada?" Tanya Xavier, mengalihkan topik pembicaraan.
"Bukankah seharusnya aku yang menanyakannya padamu?" Kening Anna berkerut serius kali ini. "Di mana kau menyembunyikan adikku?"
...****************...
Melihat kedatangan mereka, Leon segera menghampiri Anna. Mengamati jika ada tanda-tanda dirinya terluka selama pergi dengan Xavier.
"Tenang lah. Aku baik-baik saja. Di mana Louis?" Tanya Anna.
"Dia sedang pergi ke kota untuk membeli pakaian, beberapa bahan makanan dan mencari informasi." Kata Leon. Dia mengalihkan pandangan ke leher Anna. Tidak ada kalung mawar di sana. "Kau sudah menemukan kalungmu, Yang Mulia?" Tanya Leon sambil melirik penuh curiga pada Xavier yang berdiri di belakang Anna.
Anna merogoh sakunya dan mengeluarkan kalung dengan liontin bunga mawar dari sana. "Ketemu di sakuku."
"Sejak awal kalung itu tidak hilang. Dan aku tidak melakukan apa pun yang bisa membuatmu pantas menatapku seperti itu. Kau harus mulai berhenti mencurigaiku, Jenderal Leon. Aku bukan penjahat." Kata Xavier.
"Putriku, kau sudah pulang rupanya." Ratu Isabella keluar dari dalam pondok, menyambut kedatangan putrinya dan memeluknya seolah mereka sudah berpisah lama sekali. "Syukurlah kalian sudah kembali dengan selamat. Hari sudah hampir gelap. Sebaiknya kita segera masuk ke dalam."
Mereka semua menuruti perkataan Sang Ratu dan masuk ke dalam pondok itu. Tak lama kemudian, sebelum hari benar-benar gelap dan matahari benar-benar tenggelam, Louis pulang. Anak laki-laki itu membawa beberapa pakaian rakyat jelata untuk mereka pakai, sekantung penuh bahan makanan dan berita menggemparkan.
"Tunggu sebentar, Louis. Kau mengatakannya terlalu cepat." Kata Xavier, memotong perkataan Louis yang baru saja selesai menceritakan apa saja yang didengarnya dari Kota. "Jadi maksudmu, pihak Istana sudah mengumumkan bahwa aku sudah mati tanpa benar-benar berusaha menemukan mayatku? Padahal aku baru menghilang selama seminggu."
Louis mengangguk cepat.
"Lalu Putri Mahkota Eleanor sedang mengandung?"
Louis kembali mengangguk dengan cepat.
"Dan rapat penunjukan Putra Mahkota Nordhalbinsel yang baru akan segera diadakan tiga hari lagi?"
"Benar, Yang Mulia." Sahut Louis.
"Wah, ini benar-benar gawat." Kata Xavier. Keningnya berkerut, alisnya bertaut, pertanda dia sedang berpikir keras.
Empat pasang mata di ruangan itu hanya tertuju pada Xavier yang tampak jelas sedang menanggung beban pikiran yang besar setelah mendengar berita itu.
"Sepertinya kau harus segera kembali untuk menyelamatkan takhtamu, nak." Ratu Isabella yang pertama angkat bicara.
"Maaf menyela, Baginda Ratu. Tapi kita sebaiknya tidak membiarkannya pergi sebelum dia memberitahu di mana dia menyembunyikan Putra Mahkota Alexis." Kata Leon.
"Sudah kubilang, aku tidak menyembunyikannya. Putra Mahkota Alexis benar-benar menghilang dan aku tidak tahu dimana dia berada sekarang. Tapi aku tidak akan kabur begitu saja tanpa membantu kalian semua untuk menemukannya. Lagi pula aku sudah berjanji." Kata Xavier sambil melirik ke arah Anna yang sejak tadi memperhatikannya.
Sebenarnya Anna ingin mencari tahu di mana adiknya berada. Dan meski Xavier sudah mengatakan bahwa dia tidak tahu, tapi Anna yakin ada banyak hal yang belum diceritakan Xavier padanya. Pria itu jelas masih menyembunyikan banyak hal dari Anna. Anna sendiri sudah berusaha menuntut semua penjelasannya saat di atas gunung tadi, tapi Xavier mengatakan akan menjelaskannya kepada mereka semua saat mereka kembali ke Pondok. Anna tidak pernah menyangka ada hal yang lebih besar lagi yang sedang menanti mereka setibanya mereka di Pondok.
"Ludwig..." Anna bergumam.
"Apa?" Tanya Xavier.
"Adikmu. Pangeran Kedua. Putra pertama Permaisuri Selena. Pangeran Ludwig. Bukankah dia yang akan segera naik takhta menjadi Putra Mahkota jika kau tidak segera kembali ke Istana dan membuktikan bahwa kau belum mati?"
Xavier mengangguk. "Benar. Dia adalah kandidat terkuat untuk saat ini."
"Orang yang membuatku berhasil menemukan Ibuku adalah Pangeran Ludwig."
"Mungkinkah dia sudah merencanakan semua ini?" Tanya Leon. "Pangeran Ludwig membuat Putri membebaskan Ratu. Dengan begitu Putra Mahkota Xavier ditugaskan untuk mencari mereka. Lalu—“
"Penyerangan oleh Black Mamba juga bagian dari rencananya." Anna melanjutkan. "Kalau begitu sejak awal Pangeran Ludwig sudah tahu semuanya. Mungkinkah dia tahu di mana keberadaan Alexis?" Anna bertanya memastikan kepada Xavier.
"Mungkin juga tidak." Kata Xavier. Dia terdengar sangat yakin.
"Apa maksudmu? Sekarang kau mau membela saudaramu?" Tanya Leon.
"Saudara? Yang benar saja." Xavier tertawa getir. "Aku hanya berkata seperti itu karena aku sudah mengenalnya sejak kecil. Dia tidak menginginkan takhta. Dia hanya menuruti perkataan ibunya. Semua ini pasti rencana Selena. Dia akan menjadi Ratu jika putranya naik takhta menjadi Putra Mahkota. Dan Selena sudah lama mengincar posisi Ratu."
"Ini tidak boleh dibiarkan." Kata Anna, yang sudah mengetahui betapa liciknya Sang Permaisuri hingga pernah hampir membunuhnya dan Xavier beberapa malam lalu di Trivone.
"Kalau begitu bukankah seharusnya Yang Mulia Putra Mahkota segera kembali ke Istana?" Tanya Louis.
"Tidak. Belum saatnya." Kata Anna. "Xavier, Kau tidak boleh kembali sebelum memberitahu kami semua tentang apa yang kau rahasiakan dari kami. Itu termasuk tentang asumsimu terkait keberadaan Alexis." Kali ini kalimatnya ditunjukkan pada Xavier.
"Aku tahu." Kata Xavier, menghela napas, masih memikirkan cara agar dapat menyelesaikan urusan Kerajaannya sekaligus membantu Anna menemukan Putra Mahkota Alexis.
Semua terdiam. Benak mereka penuh dengan beragam hal yang memusingkan. Cara menemukan Alexis. Cara kembali ke Schiereiland. Dan cara mendapatkan kembali Schiereiland.
Xavier memikirkan semua itu, sama seperti empat orang lainnya. Tapi di saat yang sama, dia juga harus memikirkan tentang semua masalah di kerajaannya akibat kepergiannya. Dan Eleanor.
Xavier memang sudah mengetahui tentang hubungan Eleanor dan kekasih simpanannya. Tapi berita mengenai kehamilan Eleanor yang bahkan sampai diketahui oleh semua orang benar-benar tak disangkanya. Dan jika semua orang tahu tentang ayah kandung dari bayi yang dikandung oleh Sang Putri Mahkota, seluruh keluarga Winterthur akan berada dalam bahaya.
Lalu tiba-tiba Xavier teringat sesuatu. "Bolehkan aku memanggil seorang teman?" Tanyanya pada empat orang Schiereiland di hadapannya. "Aku berjanji dia bisa dipercaya dan tidak akan memberitahu lokasi kita." Kata Xavier akhirnya, kali ini meminta izin pada Ratu Isabella dan Anna. Dia tidak mau meminta izin pada Leon karena dia tahu akan lebih sulit mendapatkan kepercayaan Leon daripada mendapatkan persetujuan dari Ratu Isabella dan Anna.
"Silahka—“ Ratu Isabella baru akan memberikan izinnya, tapi Leon segera menyela.
"Siapa teman yang kau maksud ini? Dari mana kau bisa yakin dia tidak akan berkhianat?" Tanya Leon dengan penuh kecurigaan.
"Aku berani menjaminnya dengan nyawaku. Dia tidak akan berkhianat." Kata Xavier, bersungguh-sungguh.
"Baiklah, kau boleh memanggilnya." Kata Anna.
"Terima kasih." Xavier kemudian mundur beberapa langkah, menyediakan tempat di depannya untuk temannya yang akan dia panggil, kemudian berbisik kecil sehingga orang lain yang ada di ruangan itu mungkin tidak dapat mendengarnya. Xavier menyebut nama itu.
"Elias..."
...****************...