
Berhentilah menangis, Anna. Matamu bisa bengkak.
Anna mendengar suara itu di saluran mereka. Suara yang sudah tiga hari ini dia tunggu-tunggu. Dia buru-buru menghapus air matanya dan menatap Xavier di hadapannya yang masih diam dan memejamkan mata. Tidak bergerak. Pucat seperti mayat.
"Dokter!" Dia segera berteriak memanggil dokter yang tadi sudah memberi Xavier penawar racun. Bukan penawar racun yang tepat untuk racun jenis tersebut karena racun itu tidak ada penawarnya. Tapi paling tidak, penawar racunnya memperlambat kinerja racun mematikan itu.
Syukurlah... Syukurlah... Anna terus mengucapkannya. Terima kasih Dewi Langit... Terima kasih...
Aku belum mati. Tenang lah.
Kau bisa saja mati!
Nyatanya belum.
Tiga hari, Xavier! Aku menunggumu selama tiga hari! Kupikir kau benar-benar akan mati. Bisa-bisanya kau menanggapi sesantai itu.
Aku juga menunggumu tiga hari waktu itu. Kita impas.
Tiga hari, dan aku langsung membuka mata! Kau bahkan belum benar-benar sadar sekarang.
Dokter dan Ratu Isabella memasuki ruangan itu dengan terburu-buru. Dokter memeriksa kondisi Xavier. Tidak ada tanda-tanda kesadaran. Tapi Anna bisa merasakan detak jantungnya lewat cincin permata ruby. Detak jantungnya sudah mulai kembali cepat seperti biasa.
"Kondisinya masih sama, meski detak jantungnya sudah kembali cepat. Kita harus memberinya penawar racun lagi."
Jangan! Rasanya mengerikan.
Anna tidak memedulikannya. Dia segera mengambilkan penawar racun itu dan membantu dokter meminumkannya pada Xavier.
Cepat bangun kalau kau tidak mau merasakannya lagi.
Kejamnya...
Setelah memastikan penawar racunnya mulai bekerja, Dokter melakukan pemeriksaan vital, kemudian memberikan beberapa obat dan penawar racun pada Anna.
"Tolong pastikan pasien meminum semuanya, Yang Mulia." Pesan Dokter. Anna mengangguk patuh.
Dokter itu adalah Dokter keluarga Francis yang didatangkan Duchess segera atas permintaan Anna. Nicholas mengatakan mereka bisa memercayai dokter tersebut, tapi mereka tetap tidak memberitahu bahwa pasiennya itu adalah Putra Mahkota Nordhalbinsel yang seharusnya sudah mati. Mereka hanya menyebut Xavier sebagai kerabat jauh keluarga kerajaan Schiereiland yang lahir dan tumbuh besar di Nordhalbinsel.
"Putriku, ayo turun dan makan malam bersama." Pinta Ratu Isabella setelah Dokter pergi dari ruangan itu.
Anna menggeleng, "Aku makan di sini saja, bu."
Kenapa? Turun lah. Kau mau membiarkan Ibumu makan sendirian?
Ibu akan makan bersama Constanza dan beberapa anggota keluarga bangsawan yang berhasil dia kumpulkan selama ini. Aku tidak terlalu mengenal mereka. Pasti canggung.
Ratu sudah berhasil rupanya... Baguslah. Kalau begitu segera lanjutkan rencana.
Ratu Isabella tampaknya mengerti perasaan putrinya itu, jadi dia mengangguk, "Baiklah. Ibu akan memintakan pelayan membawakan makananmu."
"Terima kasih banyak, bu."
Setelahnya, Anna menceritakan semuanya pada Xavier, apa saja yang terjadi selama tiga hari terakhir itu.
Anna sudah menceritakan semua kejadian sebenarnya secara garis besar pada Constanza. Dia menceritakan tentang Leon yang membawanya pergi bersembunyi di hutan. Tentang dirinya yang menjadi pengawal pribadi Xavier untuk menyelamatkan ibu dan adiknya. Tentang Ibunya yang berhasil diselamatkan namun adiknya masih belum ditemukan. Dan tentang Xavier yang bersedia membantunya. Tapi dia tidak menjelaskan tentang siapa dirinya dan Xavier serta apa hubungan mereka di masa lalu. Constanza tidak perlu tahu.
Lalu Constanza menceritakan tentang perbudakan yang terjadi di Schiereiland dan para wanita muda yang dibawa ke Nordhalbinsel.
Anna menceritakan semua itu pada Xavier melalui saluran mereka. Juga tentang orang tua Constanza yang dibunuh dan adik-adiknya yang masih belum ditemukan. Tapi dia tidak bercerita tentang surat yang dia kirimkan pada Eleanor Winterthur. Juga tentang surat balasan yang langsung dia terima satu jam setelah dia mengirimkannya. Serta surat-surat lainnya yang saling mereka kirimkan satu sama lain untuk membuat rencana bersama. Aliansi rahasianya dengan Ratu Nordhalbinsel tidak dia ceritakan pada siapa pun.
Selama tiga hari ini, mereka melanjutkan rencana mereka tanpa Xavier. Ratu Isabella berhasil menghubungi para bangsawan dan kini mereka telah berkumpul di Istana Anastasia. Prajurit rahasia dikerahkan untuk mencari keberadaan bangsawan lainnya. Sebagian Pasukan Ratu dikerahkan untuk pergi ke Schere untuk menjalankan rencana mereka selanjutnya. Nicholas sudah kembali ke kediamannya setelah memberi tahu tentang keberadaan Alexis di Schere. Louis kemarin mengirimkan surat yang menyatakan bahwa ada bagian perpustakaan Istana yang tidak terbakar. Mereka sudah bisa melanjutkan tahap selanjutnya segera.
Kau mendengarkan? Tanya Anna. Karena sejak tadi Xavier hanya diam. Dan Anna hampir berpikir bahwa kondisinya kembali memburuk. Tapi kemudian Anna mengamati gerakan nafasnya masih stabil dan denyut kecil di cincin permata ruby yang juga masih stabil.
Ya. Aku hanya... Aku diam karena aku tidak tahu harus berkata apa. Meskipun bukan aku yang melakukan semua perbuatan mengerikan itu padamu—pada rakyatmu terlebih pada keluarga Smirnoff, aku benar-benar merasa bersalah. Apakah aku bahkan diperbolehkan memohon ampunan padamu dan semua rakyatmu?
Kau sudah berkali-kali minta maaf padaku. Kau hanya perlu berjuang bersama kami untuk mendapat ampunan dari rakyatku. Kembalikan keadaan seperti semula.
Tentu saja. Akan kulakukan segera setelah sembuh.
Cepat lah sembuh.
Akan ku usahakan.
Lukamu tidak menutup. Semakin hari semakin buruk.
Aku tahu. Aku bisa merasakannya.
Tapi kau tidak melihatnya. Racunnya sudah benar-benar menyebar. Apakah rasanya sakit sekali? Apakah masih terasa sakit?
Xavier tidak menjawabnya. Luka tusuknya mungkin sudah tidak terlalu sakit setelah tiga hari, mungkin juga masih sakit namun bisa ditahannya. Tapi Anna yakin luka yang diakibatkan oleh racun Morta di dalam tubuhnya, yang memperlambat detak jantungnya dan menghancurkan tulang-tulangnya serta organ tubuh bagian dalamnya dengan perlahan, pasti terasa sangat menyakitkan. Dengan melihat garis-garis pembuluh darahnya yang berwarna hitam kelam seperti goresan tinta pada tubuhnya saja Anna tahu bahwa racun itu bisa benar-benar membuatnya tewas. Penawar racun yang diberikan oleh dokter hanya menunda kematiannya, bukan menyembuhkannya. Obat-obatan yang dibawa oleh dokter tersebut bahkan tidak bisa menghilangkan rasa sakit yang mungkin dirasakan oleh Xavier saat racun itu menghancurkannya perlahan dari dalam.
Apa terlihat seburuk itu? Aku jadi malu kau harus melihatku dalam keadaan seperti ini.
Apakah sakit?
Tidak sesakit saat melihatmu menangis.
Pasti sakit sekali... Kau... Kenapa kau tidak sembuh dengan cepat? Apa yang salah? Padahal waktu di Trivone... dan waktu penyerangan di tebing... Apa tidak ada yang bisa kulakukan... Aku ingin kau cepat sembuh...
Anna mendekatkan wajahnya. Sadar sepenuhnya pada apa yang akan dilakukannya. Dia bukannya tidak tahu apa yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkannya. Dia tahu. Dia selama ini menunggu suara Xavier di salurannya. Meminta persetujuan darinya. Tentu saja dia tetap akan melakukannya jika Xavier benar-benar tidak bisa diselamatkan dengan cara lain.
Xavier terpejam, jadi tidak dapat melihatnya. Tapi denyutan pada cincin permata ruby terasa semakin kencang. Begitu pun dengan detak jantungnya sendiri. Napas Anna terasa hangat di wajah Xavier. Bibirnya hanya berjarak beberapa senti dari bibir Xavier. Hingga...
Anna berhenti. Apa?
Aku memang tidak bisa membaca pikiranmu, aku juga tidak melihatmu, tapi aku kurang lebih tahu apa yang kau pikir akan kau lakukan sekarang. Anna... Aku bisa sembuh meski butuh waktu lebih lama. Hanya sedikit lebih lama. Sambil menunggu, kau bisa kembali melanjutkan rencananya. Aku pasti sembuh dan kita bisa pergi ke Schere bersama.
Anna kembali duduk dengan tegak. Merasa sedikit kesal. Tidak. Dia sangat kesal. Tangannya terkepal di atas lututnya. Emosinya memuncak.
Kenapa? Kalau bisa lebih cepat sembuh, kenapa harus menunggu?
Simpan itu untuk nanti. Saat kau benar-benar ingin menciumku karena memang menginginkannya. Karena menginginkanku. Bukan sekedar untuk menyembuhkanku. Ini bukan hal yang serius. Aku tidak sekarat atau apa. Hanya luka kecil—
Ini bukan luka kecil! Dan kau memang sekarat sekarang! Kau tidak tahu bagaimana rasanya melihatmu mati perlahan di depan mataku sendiri selama tiga hari! Kau tidak tahu seburuk apa kondisimu saat ini. Aku sudah bersabar dan menunggu, Xavier. Aku menunggu suaramu di kepalaku setiap hari dan setiap malam tapi tidak pernah terdengar.
Anna...
Diam. Aku belum selesai. Aku hanya ingin menyembuhkanmu. Apakah itu keinginan yang terlalu berlebihan? Aku tidak bisa menghabiskan satu hari lagi melihatmu sekarat di depan mataku. Bagaimana denganmu sendiri? Sudah berapa kali kau menyembuhkanku dan menyelamatkan nyawaku? Kau melarangku, tapi kau sendiri melakukannya untukku! Kau berulang kali menyelamatkanku! Egois! Aku juga ingin kau segera sembuh! Aku juga ingin menyelamatkanmu!
Hening.
Anna menghela napas. Menyesal karena emosinya tiba-tiba tidak terkendali entah kenapa. Tidak. Dia tahu kenapa. Dia belum beristirahat dengan benar selama tiga hari. Dia tidak merasa ingin makan apa pun. Dia dihantui perasaan bersalah karena Xavier terluka karena rencananya menemukan Red Queen. Dia bertanya-tanya bagaimana Xavier bisa tahan menunggunya terbangun selama tiga hari saat itu karena dia merasa seperti bom waktu yang akan meledak dan hancur berkeping-keping.
Anna menunduk. Maaf... Aku benar-benar minta maaf. Aku hanya... Aku takut. Karena kau sepertinya bisa benar-benar mati kali ini dan itu salahku. Aku tidak bisa membayangkan kalau kau benar-benar mati. Itu terlalu mengerikan. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri karena aku yang merencanakan kepergian kita mencari Red Queen. Aku... Aku tidak seharusnya—
Dua. Xavier menjawab, memotong perkataannya.
Anna mendongak menatapnya seolah Xavier benar-benar sedang bicara secara langsung padanya. "Apa—“
Kau tadi bertanya. Aku menciummu dua kali. Dan aku melakukannya karena aku memang menginginkannya. Egois. Benar. Serakah juga. Padahal awalnya aku hanya ingin melihatmu hidup kembali. Melihatmu bernafas dan bahagia. Sekarang aku menginginkan lebih dari sekedar melihatmu hidup. Aku menginginkanmu. Memang aku juga awalnya hanya ingin menyembuhkanmu. Baik dari luka traumatis akibat penyerangan malam itu, maupun luka yang hampir merenggut nyawamu akibat serangan Black Mamba. Tapi belakangan ini aku sadar, aku melakukannya karena aku mencintaimu. Karena perasaanku terhadapmu masih sama seperti seribu tahun yang lalu. Karena aku takut kehilanganmu sekali lagi. Saat kakimu terluka, aku benar-benar tergoda ingin menciummu dan menyembuhkanmu. Aku benci melihatmu menderita dan kesakitan seperti itu. Aku hampir melakukannya. Tapi aku tahu, saat itu jika aku menciummu itu bukan hanya karena aku ingin menyembuhkanmu tapi karena aku benar-benar menginginkanmu. Dan aku membenci diriku sendiri untuk hal itu. Aku terus memikirkanmu dan terus memimpikanmu sampai rasanya aku bisa gila. Aku tahu. Aku tidak pantas. Aku tahu seberapa buruk diriku di matamu. Ayahku membunuh ayahmu dan menghancurkan hidupmu—dan hidup rakyat-rakyatmu. Aku bahkan bukan siapa-siapa untukmu. Kita belum benar-benar saling mengenal di kehidupan ini. Tapi aku selalu merasa sakit setiap kau merasa sakit. Aku juga merasa sakit tiap melihatmu menangis. Sakit akibat racun yang kurasakan saat ini bukan apa-apa dibanding semua itu. Terlebih saat Leon menolakmu atau saat Leon pergi, aku juga turut merasakan sakit yang kau rasakan, juga sakit yang kurasakan sendiri karena kau sangat mencintainya. Karena bukan aku yang kau cintai. Karena aku tahu kau tidak akan pernah mencintaiku seperti itu. Karena aku tidak berhak dan tidak pantas.
Anna mematung. Kata-kata itu diucapkan dengan lantang di saluran mereka. Di dalam kepalanya. Kata-kata itu tidak ditujukan untuk orang lain selain dirinya. Selama beberapa menit, tidak ada yang bicara di saluran itu. Anna sendiri tidak tahu harus berkata apa. Tapi Anna tahu harus mengatakan sesuatu.
Hanya terdengar suara nafas teratur dari keduanya. Lalu,
Xavier...
Hening.
"Xavier..." Anna mencoba lagi, kali ini dengan suaranya sendiri.
Tapi tidak ada reaksi apa pun. Xavier sudah pergi dari saluran itu. Atau mungkin kesadarannya yang sudah pergi.
...****************...
Keesokan paginya, Xavier masih belum pulih. Dokter keluarga Francis yang kembali memeriksa keadaan Xavier mengatakan kondisinya semakin memburuk. Anna dapat melihatnya. Jalur hitam pembuluh darah yang penuh dengan Morta sudah mencapai tangan dan kakinya juga lehernya—hampir menjamah wajah rupawannya. Hampir seluruh pembuluh darahnya kini berisi racun.
Saluran itu masih hening. Tidak ada suara. Harapan yang tersisa kini mulai terkikis habis.
Kita perlu bicara... Anna mencoba, tapi tidak ada balasan.
Kalau kau tidak mau mengatakan apa pun, aku akan membuatmu meminum penawar racun yang rasanya mengerikan itu. Anna mengancamnya. Dan tetap hening. Tapi Anna memang harus meminumkan penawar racun itu pada Xavier, jadi dia tetap melakukannya. Tapi kali ini, bukan hanya penawar racun dari dokter, Anna juga memberi Xavier ramuan dari Eleanor. Setelah saling berkirim surat, Eleanor membuatkan ramuan yang dia racik sendiri yang pernah dia berikan untuk mantan Ratu Westeria, Ratu Elizabeth. Anna hanya bisa berharap bahwa ramuan itu paling tidak akan membuat kondisi Xavier membaik.
Akhirnya pagi itu, Anna memutuskan untuk ikut sarapan bersama Ratu, Constanza dan para bangsawan. Tapi Louis masih berada di Schere, dia tidak akan kembali sampai mereka menyelesaikan urusan di Eze. Louis akan menunggu mereka di Schere dan melanjutkan rencana jika saatnya telah tiba.
Hari itu, Anna dan Constanza sudah sepakat untuk pergi ke Menara Schere, begitulah mereka menyebutnya untuk membedakannya dengan Menara di Nordhalbinsel. Mereka pergi bersama anggota Red Queen lainnya. Anna turut memakai jubah merah dan topeng perak. Busur panahnya—yang Leon belikan untuknya saat mereka di Nordhalbinsel—dibawa di punggungnya. Dia juga memasang pisau belati milik Xavier dan pedang Nordhalbinsel di sabuk senjata di pinggangnya.
Sebelum pergi, Anna mampir ke kamar Xavier. Melepas cincin permata ruby yang selama ini dia kalungkan dan memasangkan cincin itu di jari Xavier. Ikrar itu terucap dari bibirnya. Ikrar yang tidak boleh sembarangan diucapkan kecuali oleh mereka yang bersungguh-sungguh.
"Pour l'amour de Dieu et l'aube de demain,"
Demi berkah langit dan fajar esok hari,
"Pour les étoiles qui guident le chemin du retour,"
Demi bintang-bintang yang memandu jalan kembali,
"Et pour le temps qui ne s'arrête jamais."
Dan demi waktu yang tak pernah terhenti.
"A toi je jure et promets."
Kepadamu aku bersumpah dan berjanji.
"Aku akan kembali dengan selamat, dan kau akan baik-baik saja selama aku pergi. Aku akan menepati janji itu bagaimana pun caranya dan kita akan bertemu kembali." Bisiknya, lalu Anna beranjak pergi.
Ikrar itu memang tidak seperti lazimnya ikrar permata ruby yang biasanya diucapkan oleh pasangan yang menikah di Schiereiland. Itu juga bukan seperti perjanjian Grimoire yang mengikat dan ada hukuman bagi pelanggarnya. Ikrar itu adalah janjinya yang akan dia tepati bahkan jika takdir berkata lain.
Dia menoleh ke belakang, ke arah Xavier yang masih diam dan terpejam, sebelum menutup pintu kamar itu.
Aku akan pergi. Ibuku ada di Istana ini. Kalau terjadi sesuatu... Tidak. Tidak akan terjadi sesuatu. Aku akan kembali.
Masih tidak ada suara. Tidak ada reaksi apa pun. Saluran itu hening. Bahkan setelah dia menutup pintu kamar itu dan mengambil beberapa langkah menjauh.
Keheningan itu mengusiknya hingga langkahnya terasa berat.
Jadi Anna kembali masuk ke dalam kamar Xavier, dan mengecup bibirnya. Dengan perlahan, dengan lembut dan penuh perasaan. Seolah itu adalah ciuman pertama mereka.
Seolah itu adalah ciuman terakhir mereka.
"Kau boleh protes kalau kau sudah bangun, Pangeran Tidur." Bisiknya lagi, sebelum pergi.
...****************...